Selasa, 16 Februari 2016

Mendukung Pembangunan Ekowisata Berkelanjutan melalui Taman Nasional Kerinci Seblat di Provinsi Sumatera Selatan

Pertama-tama saya ingin mengucapkan Terimakasih banyak kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan yang telah menggelar Blog Contest Wonderful Sriwijaya ini. Sebagaimana diamanatkan dalam Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia, sektor pariwisata dewasa ini sudah menjadi industri terbesar di dunia dengan perkembangan yang sangat pesat. Pengembangan destinasi dan industri pariwisata diarahkan untuk meningkatkan daya tarik daerah tujuan wisata sehingga berdaya saing di dalam dan di luar negeri, salah satunya melalui peningkatan citra kepariwisataan.

Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Sumber: BPS, diolah)

Indeks Pembangunan Manusia (Sumber: BPS, diolah)

Proyeksi Penduduk 2010-2035 (Sumber: BPS, diolah)

Indikator makroekonomi di atas yang tercermin dari grafik Produk Domestik Regional Bruto (PDRB Harga Konstan Tahun 2000), Indeks Pembangunan Manusia (Metode Baru) dan Proyeksi Penduduk (2010-2035) di Provinsi Sumatera Selatan menujukkan tren yang meningkat. Hal ini tentu saja mengindikasikan peluang yang baik bila dapat dimanfaatkan dengan baik pula tentunya. Misalnya, PDRB yang merupakan proksi dari pertumbuhan ekonomi, tidak sekedar meningkat tapi juga harus merata sehingga terciptalah pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Selain itu, proyeksi penduduk hingga tahun 2035, yang akan bertepatan dengan puncak Bonus Demografi, bila tidak dimanfaatkan dengan baik akan menyebabkan terjadinya Bencana Kependudukan! 

Pengembangan pemasaran pariwisata diarahkan untuk mendatangkan sebanyak mungkin wisatawan melalui promosi yang mencakup wisata alam, wisata budaya dan wisata ciptaan. Pengembangan regulasi dan kelembagaan kepariwisataan diarahkan untuk membangun Sumber Daya Manusia pariwisata serta organisasi kepariwisataan nasional. Gambar grafik di bawah menunjukkan adanya tren peningkatan terhadap jumlah tamu Indonesia dan asing pada hotel berbintang, hal ini tentu saja menggembirakan sektor jasa perhotelan. Hal sebaliknya terjadi pada jumlah tamu baik domestik maupun mancanegara pada hotel non bintang yang menunjukkan tren meningkat tapi mengalami penurunan di tahun 2014.

Jumlah Tamu Indonesia Hotel Berbintang (Sumber: BPS, diolah)

Jumlah Tamu Asing Hotel Berbintang (Sumber: BPS, diolah)

Jujur saja, saya belum pernah ke Provinsi Sumatera Selatan. Tapi, dengan demikian saya berkesempatan berandai-andai mau apa, kemana dan bebas beralasan kenapa saya harus mengunjungi Provinsi Sumatera Selatan (Yah, selain alasan karena saya belum pernah kesana!)

Berdasarkan data dari Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal tahun 2009 (sekarang diambil alih oleh Kemendesa), tentang Profil 199 Kabupaten Tertinggal di Indonesia, disebutkan bahwa Kabupaten Musi Rawas merupakan salah satu dari tujuh Kabupaten tertinggal di Provinsi Sumatera Selatan selain Kabupaten Banyuasin, Oku Selatan, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, Empat Lawang dan Lahat.

Kendati Musi Rawas merupakan Kabupaten tertinggal di Provinsi Sumatera Selatan, hal ini tidak menyurutkan niat saya untuk berkunjung ke Provinsi Sumatera Selatan. Malah, saya semakin penasaran dan berkeinginan untuk mengunjungi wilayah ini. Tanya kenapa?

Bidang disiplin keilmuan saya ialah Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan (Sosial Ekonomi). Saya berkeinginan untuk mengimplementasikan keilmuan saya di lapang, dan Kabupaten Musi Rawas menjadi salah satu destinasi yang tepat untuk mewujudkan semua itu. Adapun alasan saya kenapa harus berkunjung ke Provinsi Sumatera Selatan, khususnya ke Kabupaten (yang katanya) tertinggal yaitu Kabupaten Musi Rawas:

Kabupaten Musi Rawas beribukota di Lubuk Linggau.  Di sektor pariwisata, terdapat wisata agropolitan yang terdiri dari Agropolitan Distrik Nibung, Agropolitan Sp. Semambang, dan Agropolitan Center. Kabupaten Musi Rawas termasuk ke dalam Wilayah Pengembangan Provinsi Sumatera Selatan Bagian Barat yang berfungsi sebagai lumbung pangan, pengembangan sektor perkebunan, pengembangan sektor energi dan sebagai daerah penyangga (buffer) Provinsi Sumatera Selatan, karena di wilayah ini terdapat Kawasan Lindung Taman Nasional Kerinci Seblat. Taman Nasional Kerinci Seblat telah dijadikan program pembangunan dan konservasi terpadu.

Nah, inilah tempat impian yang ingin saya kunjungi di Provinsi Sumatera Selatan: Taman Nasional Kerinci Seblat!

Profil Taman Nasional Kerinci Seblat (Sumber: Youtube)

Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan hujan dataran rendah hingga ekosistem sub aplin serta ekosistem yang khas antara lain rawa gambut, rawa air tawar dan danau.

Nugroho (2011) dalam bukunya “Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan” melansir bahwa hutan di Taman Nasional Kerinci Seblat memiliki sekitar 4000 jenis tumbuhan. Tumbuhan langka dan endemik meliputi pinus kerinci, kayu pacat, bunga raflesia, dan bunga bangkai. Taman Nasional Kerinci Seblat memiliki sekitar 37 jenis mamalia, 10 jenis reptilian, 6 jenis amfibia, 8 jenis primata dan 139 jenis burung.

Potensi lainnya yang menarik perhatian, seperti suara burung rangkong dan julang serta suara tawa histeri burung gading. Selain itu ada kucing emas yang sangat misterius serta misteri tentang sejenis satwa primata berjalan tegak dan cepat sekali menghilang di antara pohon, dimana masyarakat setempat menamakannya “orang pendek”!
Tidak hanya unggul di sektor pariwisata, sektor pertanian Kabupaten Musi Rawas juga merupakan salah satu lumbung padi bagi Provinsi Sumatera Selatan. Perlu diketahui bahwa Kabupaten Musi Rawas sejak tahun 1981 telah ber swasembada beras!

Pembangunan di sub sektor peternakan pun tidak kalah hebatnya. Melalui berbagai program dan kegiatan diantaranya intensifikasi, pengadaan bibit unggul, inseminasi buatan, peningkatan keterampilan dan penguasaan teknologi tepat guna serta pembinaan hijauan makanan ternak dan kesehatan hewan. Sedangkan pada sub sektor perkebunan, komoditi unggulannya yaitu karet, kelapa sawit dan kopi.  Sektor pertambangan terdiri dari batu bara, bijih besi, emas, seng, timah hitam, marmer, phosfat dan bentonit merupakan potensi bahan galian yang terdapat di Kabupaten Musi Rawas.

Di masa yang akan datang, wilayah ini diharapkan mampu berperan sebagai penggerak perekonomian Provinsi Sumatera Selatan bagian barat yang berbasis sektor pertanian (tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan), pertambangan dan penggalian serta sektor lain yang mulai berkembang di daerah ini.

Tantangan utama pembangunan ke depan adalah memanfaatkan secara optimal potensi kekayaan dan keragaman baik budaya maupun alam dan Sumber Daya Alam untuk meningkatkan sumbangan ekonomi dari sektor kepariwisataan.

Upaya pembangunan yang telah dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Musi Rawas semakin menunjukkan adanya kemajuan. Namun, dalam upaya pembangunan tersebut tentunya masih terdapat kendala dalam menghadapi sosial ekonomi masyarakat diakibatkan kemampuan dan peran serta yang masih terbatas. Untuk itu, perlu ada perhatian dan bantuan khusus serta berbagai kemudahan dari pemerintah pusat terutamanya terkait percepatan pembangunan daerah tertinggal dengan mendorong dan memberikan pihak swasta porsi yang lebih luas dalam pembangunan. 

nb: Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Contest Wonderful Sriwijaya yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar