Selasa, 16 Februari 2016

Menelisik Fenomena Gerhana Matahari Total Dua Dasawarsa Silam: Antara Agama, Fisika dan Wisata


“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari” (QS. Ash-Shams:1)

11 Januari 2016, saya melakukan perjalanan ke Bandung dan berkunjung ke Observatorium Bosscha untuk pertama kalinya. Hal ini tak pelak karena saya sangat terinspirasi dari film Petualangan Sherina yang meninggalkan kenangan tersendiri di masa kanak-kanak saya hingga kini. Setelah belasan tahun lamanya barulah berkesempatan menginjakkan kaki di  Observatorium kenamaan milik Institut Teknologi Bandung (ITB) tercapai. Sayangnya waktu itu hari Senin dan ternyata berdasarkan aturan baru bahwa pengunjung individu hanya bisa melakukan kunjungan di hari sabtu (Sedih!). Maka saya urungkan niat untuk meneropong dan kembali mengatur agenda kunjungan. Tapi, ada satu hal yang cukup menghibur lara hati karena tanpa sengaja membaca di papan pengumuman bahwa akan ada Gerhana Matahari Total di beberapa daerah di Indonesia lengkap dengan jadwal lokasi dan waktunya. Dan ternyata, Bosscha Observatory telah mengunggah video berjudul “Solar Eclipse 2016” di laman Youtube semenjak 14 April 2014 silam.  Dijelaskan bahwa pada peristiwa Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016, bayangan bulan yang jatuh dipermukaan bumi akan melintasi kawasan Asia Tenggara, sebagian besar wilayah Australia, Mikronesia, serta berakhir di wilayah Samudera Pasifik. Video ini berisikan informasi mengenai waktu-waktu terjadi gerhana serta jenis gerhana yang dapat diamati di beberapa titik lokasi di kota-kota di Indonesia. Indonesia menjadi lokasi yang sangat baik untuk mengamati gerhana karena beberapa lokasi dilewati oleh jalur pusat gerhana total. Berikut tayangannya:

Solar Eclipse 2016 (Sumber: Youtube)

Tanggal 9 Maret 2016 menjadi momen yang ditunggu-tunggu. Bukan hanya karena pada tanggal tersebut tepat 74 tahun silam merupakan kegembiraan bangsa Indonesia karena Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Melainkan juga karena akan adanya Fenomena Gerhana Matahari Total yang merupakan momen yang sangat spesial dan sayang untuk dilewatkan begitu saja. Hal ini tentu saja menarik perhatian. Pasalnya, Gerhana Matahari Total terakhir kali melintasi Indonesia pada 24 Oktober 1995 (21 tahun yang lalu), tepat 13 hari setelah ulang tahun saya yang ke – 6. Gerhana Matahari tersebut menjadi awal mula Gerhana Matahari jenis Total di abad ke-20. Gerhana Matahari Total tersebut melintasi Provinsi Sulawesi Utara, Kabupaten Bolaang Mongondow. Saat itu kali pertama saya mengalami peristiwa Gerhana Matahari Total yaitu sewaktu saya duduk di bangku Sekolah Dasar. Saat itu siang hari, saya masih berada di sekolah. Saya ingat betul saat itu jam istirahat kelas, saya dan teman-teman sedang asik-asiknya bermain di luar kelas. Kami semua memenuhi lapangan olahraga. Tetiba, suasana menjadi gelap gulita. Padahal sebelumnya langit cerah dan panas terik. Tentu saja kami kaget bukan kepalang. Saya berlari ke kantin sekolah mencari ibu yang selalu setia menunggui saya di sekolah. Saya lihat teman-teman lainnya berhamburan ke dalam kelas. Ibu dan Bapak/Ibu guru menenangkan kami. Lantas mereka dengan sigapnya mengambil ember, diisi air lalu diletakkan di tengah lapangan. Kami pun beramai-ramai mengamati apa yang tengah dilakukan Bapak/Ibu guru kami. Mereka meminta kami mendekat dan memang saking penasarannya tanpa disadari saya sudah berada di tengah kerumumunan orang banyak yang sama penasarannya. Kami mengelilingi ember-ember di tengah lapangan. Ternyata Bapak/Ibu guru mengajak kami melihat pantulan bayangan matahari melalui air dalam ember tersebut. Berdasarkan alasan medis, kami tidak diperbolehkan melihat gerhana matahari secara langsung. Sungguh pengalaman yang berharga dan tidak akan terlupa.


Sekarang ini saat kembali mengingat peristiwa Gerhana Matahari Total dua dasawarsa silam, maka dapat ditelisik sejarah Gerhana Matahari di tanah air yang diawali semenjak Mei 1901, sebagaimana dilansir oleh National Aeronautics and Space Administration (NASA). Lantas, tepat pada tanggal 24 Oktober 1995 terjadilah Gerhana Matahari Total. Fenomena ini merupakan awal mula Gerhana Matahari pada abad ke – 20. Selanjutnya daftar kejadian Gerhana Matahari untuk abad ke – 21 diantaranya yaitu Gerhana Matahari Total yang terjadi pada tanggal 4 Desember 2002, Gerhana Matahari Cincin pada tanggal 15 Januari 2010 (dan fenomena ini disinyalir merupakan gerhana matahari terlama, yaitu dengan durasi 11 menit 8 detik!) serta In Shaa Allah Gerhana Matahari Total yang akan terjadi pada tanggal 9 Maret 2016 yang diprediksi akan berlangsung selama 4 menit 9 detik.


Waktu Jalur Gerhana di Beberapa Wilayah di Indonesia (Sumber: newsdetik.com)

Terkait peristiwa ajaib ini, saya dapat beropini dari sudut pandang pribadi untuk menyikapi fenomena alam ini dengan tawadhu’. Pada tanggal 9 Maret 2016 mendatang juga bertepatan dengan Hari Raya Keagaaman, Nyepi (Saka New Year 1938). Oleh karenanya unsur spiritual dan religi sekiranya dapat dimaknai secara mendalam. Berdasarkan hadist dan kepercayaan sebagai umat yang beragama, perlu dipahami bahwa gerhana bukanlah sekedar fenomena alam biasa tapi merupakan fenomena alam yang memang Allah SWT kehendaki sebagai salah satu ayat (tanda) kebesaran-Nya. Sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Suci Al Qur’an bahwa “Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan” (QS. Ar-Rahman:5). Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat gerhana tersebut, maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah(HR. Bukhari no. 1044)

Pasca mengalami Gerhana Matahari Total di masa kanak-kanak semenjak dua dekade silam, pada tahun 2005 saya berkesempatan mengikuti Olimpiade Fisika. Peristiwa yang dialami di masa lampau sangat membekas dan menimbulkan rasa ingin tahu mendalam terhadap ilmu fisika dan astronomi. Peristiwa dan fenomena ini dapat dimaknai secara akademis melalui ilmu pengetahuan. Peristiwa langka ini terjadi ketika bulan berada di antara matahari dan bumi sehingga bayang-bayang bulan akan jatuh ke permukaan bumi. Peristiwa terhalangnya sinar Matahari oleh Bulan sehingga sebagian tempat di Bumi tidak memperoleh cahaya Matahari. Gerhana Matahari terjadi apabila Matahari – Bulan – Bumi berada dalam satu garis lurus. Gerhana Matahari terjadi pada siang hari dan pada saat Bulan berada pada fase Bulan Baru.

Gerhana Matahari (Sumber: fisikazone.com)

Di satu sisi, pada awal tahun 2016 ini Indonesia diperhadapkan dengan kondisi ekonomi Masyarakat Ekonomi ASEAN. Hal ini dapat menjadi sebuah keuntungan tersendiri bagi Negara Indonesia. Salah satunya melalui sektor pariwisata, hal ini disebabkan karena Indonesia dilewati Gerhana Matahari Total. Peristiwa ini sangat langka terjadi. Beberapa daerah di Indonesia perlu sigap dan siap untuk memanfaatkan peluang yang ada diantaranya dengan menyiapkan tempat khusus untuk para wisatawan agar dapat  melihat Gerhana Matahari Total yang akan melintasi jalur (sebagian area) diantaranya yaitu: Lubuk linggau, Palembang, Toboali, Koba, Manggar, Tanjung pandan, Palangkaraya, Balikpapan, Sampit, Palu, Poso, Ternate, Tidore, Sofifi, Jailolo, Kao dan Maba. Berikut adalah peta jalur Gerhana Matahari Total tanggal 9 Maret 2016 mendatang yang dikutip dari laman NASA:

Jalur Gerhana Matahari Total yang melewati Indonesia (Sumber: NASA)

Jalur Gerhana Matahari Total yang melewati Belitung (Sumber: NASA)

Berdasarkan data World Economic Forum, Travel and Tourism Competitiveness Report (2015) tentang Daya Saing Pariwisata Beberapa Negara ASEAN diperoleh informasi bahwa Indonesia menduduki Ranking 50 dari 141 Negara ASEAN. Kita masih di bawah Malaysia (25) dan Thailand (35). Tapi, setidaknya bersyukur karena kita masih di atas Sri Lanka (63), Philippines (74), Vietnam (75) dan Cambodia (105).  

Pariwisata dewasa ini sudah menjadi industri terbesar di dunia dengan perkembangan yang sangat pesat. Pengembangan destinasi dan industri pariwisata perlu diarahkan untuk meningkatkan daya tarik daerah tujuan wisata sehingga berdaya saing di dalam negeri dan di luar negeri. Pengembangan pemasaran pariwisata perlu diarahkan untuk mendatangkan sebanyak mungkin wisatawan baik mancanegara maupun domestik untuk mendorong peningkatan wisatawan melalui promosi. Kita bisa memperkenalkan genre perjalanan (travel) wisata keajaiban alam atau wisata fenomena alam (maybe!). Yang terpenting adalah kita perlu meningkatkan citra kepariwisataan kita!

Saya siap menjadi saksi peristiwa bersejarah dan menjadi laskar Gerhana Matahari Total! Ayo, meNYEPI ke Belitung :) 

Nb: Tulisan ini diikusertakan dalam lomba blog yang bertemakan "Fenomena Gerhana Matahari di Indonesia" yang diselenggarakan oleh www.detik.com melalui kanalnya blogdetik




Tidak ada komentar:

Posting Komentar