Jumat, 10 Juni 2016

PMI, Dimanapun untuk Siapapun: Atas Nama Kemanusiaan

Semenjak SMA saya tergabung dalam keorganisasian Palang Merah Remaja (PMR). Setiap akhir pekan kami berkumpul di sekolah dan mensosialisasikan tentang kepalangmerahan kepada adik-adik kelas kami. Berbekal pengalaman yang belum seberapa, kami berupaya melakukan pengkaderan. Lantas, dari sinilah kali pertama saya mengenal sosok Jean Henri Dunant, sang aktivis sosial dan pendiri Palang Merah hingga diganjar Nobel Perdamaian pada 1901 silam.

Seiring berjalannya waktu, saya merasa ini merupakan tugas yang mulia…dan keren! Pasalnya, tiap upacara kami harus berjaga-jaga di barisan paling belakang. Siaga mengamati para murid yang kemungkinan kecapaian berdiri di bawah terik matahari dan dengan sigapnya mengeluarkan mereka dari barisan tanpa menimbulkan kegaduhan dan serta merta memberikan pertolongan untuk segera dibawa ke UKS. Sederhana memang, tapi kami seakan merasa menjadi seseorang yang hadir “Dimanapun untuk Siapapun”

Berangkat dari pengalaman lapang singkat seperti ini maka tak ayal kami perlu membekali diri dengan stamina yang prima. Bukankah kita perlu menjadi pribadi yang sehat untuk menolong mereka yang sakit? Jadi, secara tak langsung kami telah berupaya melatih kedisiplinan diri melalui pola hidup sehat. 

Pada 2014, saya berkesempatan terlibat dalam proyek penelitian yang bergerak di bidang platform pendidikan berbasis online bekerja sama dengan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi DKI Jakarta. Saya dan tim peneliti/narasumber ahli bertugas membuat satu materi yang berkaitan dengan masalah kesehatan masyarakat dan kami pun melakukan studi lapang ke kantor Palang Merah Indonesia di bilangan Jakarta. Banyak hal baru dan menarik yang kami temui. Kami berharap output yang dihasilkan akan memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat Jakarta khususnya. 

Palang Merah Indonesia (PMI) dikenal sebagai organisasi independen dan netral di Indonesia yang kegiatannya bergerak di bidang sosial kemanusiaan. PMI benar menjadi garda terdepan menghadapi bencana dan permasalahan sosial lainnya. Bila ditelusur kesejarahannya maka pada pertengahan September 1945 PMI didirikan dan dipimpin oleh Drs. Mohammad Hatta selaku Wakil Presiden. PMI berkiprah semenjak kemerdekaan Indonesia, sepak terjangnya tentu tidak diragukan lagi. 


PMI berproses dan ber-progress. Aksi kemanusiaan yang dilakukan tidak lagi sebatas pendonoran darah melainkan melalui bentuk relawan pelayanan kesehatan, respon bencana, relawan kesiapsiagaan bencana, relawan lingkungan hidup dan lainnya. Tentu belum lekang dari ingatan tentang kisah Tsunami yang meluluhlantahkan Bumi Serambi Mekah, Aceh. Ada peran Palang Merah yang begitu besar didalamnya.


Selain itu, PMI pun semakin kreatif guna menegaskan keberadaannya agar tetap dan lebih dikenal khalayak melalui pelbagai bentuk dukungan dan kecintaan terhadap organisasi kemanusiaan tertua tanah air ini. Sebut saja, sebagaimana ulasan di laman jabar.pojoksatu.id bahwa PMI Kab. Sukabumi telah meluncurkan games kesiapsiagaan bencana (setelah sebelumnya telah diluncurkan secara nasional). 


Games ini bermuatan edukasi agar supaya PMI tetap dan semakin dikenal terutama oleh para anak muda. Aplikasi games bernuansa petualangan ini diantaranya menjelaskan pembelajaran tentang kiat menghadapi banjir, cara mengurangi risiko banjir dan menghindari sengatan listrik hingga ancaman binatang liar. Dengan mudahnya dapat ditemui dalam aplikasi games Sai Fah.

dok: pribadi

Adapula aplikasi games Tanah yang memberikan tantangan dalam menyelesaikan misi siaga menghadapi bencana gempa bumi dan tsunami. PMI telah berupaya sekreatif mungkin agar tetap eksis dan menempati tempat tersendiri di hati para relawan dan masyarakat Indonesia. 



dok: pribadi

Adapun satu sosok aktivis yang sangat saya gandrungi, Kak Opo saya menyebutnya. Pemilik nama lengkap Irwan Lalegit ini merupakan sosok yang vokal menyuarakan pergerakan. Terkait pengesahan RUU Kepalangmerahan, misalnya. Sosok seperti Kak Opo inilah yang diharapkan semakin banyak menghiasi belantika kepalangmerahan Indonesia. Sosok yang peduli dan benar rela berkontribusi, berpartisipasi dan memberi sumbangsih kepada Negara melalui bentuk kesatuan aksi, the power of volunteering

dok: https://www.facebook.com/irwan.lalegit?fref=ts 

Akhir kata, PMI tentu telah menjadi satu lembaga yang para peminatnya berada dimanapun dan siap siaga untuk siapapun. Bagaimanapun juga, PMI tentu akan terus berupaya bertransformasi agar tidak lumpuh oleh apapun jua. Jangan tanya kenapa? Karena, PMI ada memang untuk membantu menolong sesama, atas nama kemanusiaan

Referensi: 



Cat: Penulis merupakan Mahasiswa Pascasarjana IPB. Penulis pernah menjadi anggota Palang Merah Remaja ketika SMA. Penulis juga pernah menjadi peneliti/narasumber ahli dalam proyek penelitian Jakarta Learning Center bekerjasama dengan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi DKI Jakarta serta pernah menjadi Tenaga Ahli Anggota Dewan DPR RI.

Nb: Tulisan diikutsertakan dalam Lomba Blogger “PMI, Dimanapun untuk Siapapun” dalam Rangka Memperingati Hari Palang Merah dan Bulan Sabit Merah se-Dunia 8 Mei 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar