Jumat, 21 Oktober 2016

Terpapar Pesona Jateng Gayeng dalam Radius 2.709,9 Km

Siapa yang akan menyangka bahwa awal mula keterpesonaan saya terhadap Provinsi Jawa Tengah bermula dari sebuah Pameran yang diadakan di Kota “Bumi Nyiur Melambai” Manado, Provinsi Sulawesi Utara?

Pada September 2010 silam, Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara yang berlokasi di Kota Manado mengadakan sebuah Pameran Nasional bertajuk “Gebyar Kain Nusantara”. Saya menghadiri pameran tersebut dan menyaksikan ragam kain yang dipamerkan dari seluruh penjuru Tanah Air, termasuk Jawa Tengah.

Ibarat “Dari mata turun ke hati”, tetiba saya langsung jatuh hati pada kain yang dipamerkan oleh Disbudpar Jawa Tengah dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kala itu. Pesona Jawa Tengah yang berjarak 2.709,9 Km dari kediaman saya tersebut telah berhasil membuat saya: meleleh. 

Kain khas Jawa Tengah oleh Provinsi Jateng (dok: pribadi)

Kain Khas Jawa Tengah oleh Disbudpar Jateng (dok: pribadi)
Hingga dua tahun kemudian, tepat pada bulan Juni 2012 saya berkesempatan mengunjungi Provinsi Jawa Tengah tepatnya ke Banjarnegara dan Jepara. Minggu pagi tanggal 10 Juni, saya bertolak dari Bandar Udara Sam Ratulangi Kota Manado pada pukul 06.15 WITA menggunakan maskapai penerbangan Lion Air 737-900ER dengan tujuan Jakarta, saya tiba di Bandar Udara Soekarno Hatta pada pukul 08.15 WIB (dengan perbedaan waktu 1 jam antara Jakarta dengan Manado). Setibanya di Jakarta saya berkumpul dan bersilaturahmi dengan keluarga terlebih dahulu, lalu esoknya langsung menuju Terminal Lebak Bulus dan membeli tiket bus Sinar Jaya jurusan Jakarta – Banjarnegara seharga Rp 85.000. Akhirnya, bus Sinar Jaya dengan plat nomor kendaraan 7034 nomor kursi 21 membawa saya menuju Banjarnegara selama kurang lebih 12 jam perjalanan.

Banjarnegara, dengan ragam pesonanya sungguh memikat hati, rasanya tidak jemu untuk digali dan dikenang hingga kini. Wilayah Kabupaten Banjarnegara merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Tengah. Banjarnegara gilar-gilar biasa disebutnya, kendati memiliki luas wilayah yang relatif kecil dengan jumlah penduduk yang relatif sedikit, tapi memiliki sumber daya alam yang beragam dan potensial untuk dikembangkan.

Sebut saja budidaya ikan air tawar yang berkembang dengan pesat. Luasan areal budidaya air tawarnya hampir mencapai ratusan hektar. Terutama budidaya ikan air tawar kolam pembenihan rakyat yang cukup menonjol. Setiap tahunnya kolam pembenihan rakyat rata-rata menghasilkan sekitar puluhan juta ekor benih. Hal ini sekaligus mengangkat pamor daerah ini sebagai salah satu penghasil benih ikan terutama gurami yang terbesar di Pulau Jawa bahkan terbesar di Indonesia!

Memelihara ikan semacam telah menjadi bagian hidup penduduk (livelihood). Sawah dan ladang di desa banyak beralih fungsi menjadi empang untuk budidaya ikan air tawar. Potensi inilah yang terus dikembangkan. Di Kota Banjarnegara sendiri kini dibangun pasar khusus salak. Petani dan pedagang salak dapat bertransaksi tanpa dicampuri tengkulak. Salak pondoh menjadi salah satu komoditas yang menghidupi ribuan keluarga petani. 

Rasanya belum lengkap bila berkunjung ke Banjarnegara tanpa mengunjungi alun-alun Kota. Di tengah lapangan terdapat dua pohon beringin yang kokoh menjulang. Di sekitar alun-alun dapat dijumpai gudeg Bu Jeki Khas Temanggung yang seporsinya dihargai Rp 8500. Selepas olahraga mengelilingi alun-alun alangkah nikmatnya sarapan gudeg yang mengenyangkan.

Pohon beringin tampak dekat (dok: pribadi)

Pohon beringin di tengah alun-alun kota Banjarnegara (dok: pribadi)
Masih di sekitaran alun-alun, terdapat Patung Dawet Ayu dan Prasasti. Dawet ayu memang menjadi ikon kuliner Banjarnegara. Minuman ini dipercaya dapat membuat awet muda. 

Patung Dawet Ayu (dok: pribadi)
Akhirnya, saya mengunjungi langsung kios Dawet Ayu legendaris di Banjarnegara yaitu Dawet Ayu Bu Hj. Munardjo Rejasa Banjarnegara (eks terminal lama). Harga per gelasnya Rp 3000. Penjualnya masih tetap mempertahankan ciri khas tradisional sehingga hal ini menjadi keunikan tersendiri.

Es Dawet Ayu (dok: pribadi)

Dawet Ayu Bu Hj. Munardjo (dok: pribadi)

dok: pribadi
Selanjutnya ada yang menarik, bila selama ini cendol dalam es dawet ayu yang dikenal berwarna hijau, maka berbeda dengan Es Dawet Ireng Khas Butuh Pak Wanto dimana cendol dalam es dawetnya berwarna ireng alias hitam. Harga es dawet ayu ireng per mangkoknya ialah Rp 2500. Sepintas tidak ada yang berbeda baik melalui citarasa, hanya saja tampilannya yang berbeda lain dari biasanya.

Es Dawet Ayu Ireng (dok: pribadi)
dok: pribadi
Selain es dawet ayu, Banjarnegara juga terkenal dengan hidangan kuliner berupa Mie Ongklok dan Soto Daging Sapi. Mie ongklok merupakan makanan khas Wonosobo berupa perpaduan mie berserat halus, tipis dan kuah yang kental serta campuran sayur sejenis kol dan sawi serta udang kecil. Mie ongklok ini bisa ditemukan di depan Taman BIMBA dekat lampu merah. Selain itu ada Soto Daging Sapi Khas Krandegan Banjarnegara Pak Sukisno yang terletak di Jalan MT Haryono. Sepintas mirip dengan soto kebanyakan, hanya saja soto daging ini memiliki kuah khas lengkap dengan daging dan tauge. Seporsi dihargai Rp 10.500. 

Soto Daging Sapi Khas Banjarnegara (dok: pribadi)
dok: pribadi
Minggu, 17 Juni 2012, akhirnya saya tiba di Dieng. Dieng merupakan salah satu potensi wisata yang dapat dikembangkan dan menjadi salah satu tujuan wisata baik domestik maupun mancanegara. Panorama alamnya sungguh menakjubkan! Membuat siapa saja yang menikmatinya enggan berkedip. Eksotis.

Hawa dingin terasa (dok: pribadi)

Sistem pertanian terasering (dok: pribadi)

Menuju Dieng, puncak kehidupan abadi (dok: pribadi)
Menuju Dieng seakan menuju puncak kehidupan abadi. Damai terasa. Jalan yang menanjak dan berkelok, tebing yang menjulang tinggi serta hawa yang dingin terutama ketika melewati Karangkobar seakan menjadi penegasan keagungan Tuhan Yang Maha Esa. Dieng laksana kota di atas awan, kotanya para Dewa. 


Di dalam Kawasan Candi Dieng terdapat Museum Kailasa. Museum ini menyajikan pemutaran film selama kurang lebih 10 menit dengan tiket masuk (HTM) seharga Rp 5000, tapi film akan diputar bila terkumpul minimal 10 orang. Sekitar museum terdapat beberapa kios yang menjual beraneka macam dagangan. Semisal, manisan carica seharga Rp 10.000, dan bunga edelweis seharga Rp 10.000. Saya juga menjumpai ragam candi diantaranya Candi Puntadewa, Candi Sembadra, Candi Srikandi, Candi Arjuna, dan Candi Semar. 

Selain Dieng, Sumur Jalatunda juga menjadi primadona karena unsur mistis yang dikandungnya. Sumur Jalatunda terletak dalam kawasan wisata. Tarif masuknya seharga Rp 5000 per orang dewasa. Ragam kepercayaan dianut para pengunjung maupun masyarakat setempat bahwasanya Sumur Jalatunda merupakan pintu masuk menuju kediaman Ratu Pantai Selatan. Saya pun tak luput dari ritual melempar batu. Konon, dipercaya bila batu yang dilempar mencapai seberang maka permintaan kita akan terkabul. Sayangnya, belum pernah ada yang berhasil melempar batu hingga ke seberang.

Sumur Jalatunda (dok: pribadi)
Kawah Sleri juga menjadi salah satu tujuan wisata. Kawah yang masih aktif ini kerap dikunjungi wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Konon, asal kata Sleri sendiri dikarenakan kepulan asapnya serupa dengan air cucian beras. 

Kawah Sleri (dok: pribadi)
Setelah puas dengan panorama alam pegunungan, kini saatnya menuju wilayah pesisir. Perjalananan pun dilanjutkan ke Kota Ukir-Ukiran Jepara, tempat kelahiran tokoh emansipasi wanita, RA Kartini. Saya berkesempatan mengunjungi Museum RA Kartini dan melihat benda-benda peninggalannya yang bersejarah. Semisal, Ruang Meditasi yang dilengkapi dengan kayu khas ukiran Jepara, dupa dan beberapa kendi. Pas pintu masuk museum dapat dijumpai penjelasan:
Tempat Kelahiran Kartini  
RA Kartini dilahirkan pada tanggal 21 April 1879 (JW. 28 Rabiul Akhir 1808) di Mayong Jepara. Pada waktu itu Ayah Kartini, RM Sosroningrat menjadi Kepala Distrik Mayong (sekarang Wedana)

Patung RA Kartini di pelataran Museum RA Kartini (dok: pribadi)

Ruang meditasi (dok: pribadi)

Perabotan dalam kamar RA Kartini (dok: pribadi)

Meja kursi RA Kartini (dok: pribadi)
Museum RA Kartini juga dilengkapi dengan benda-benda khas sumber daya alam bawah laut di Jepara. Semisal, batu mutiara asal Pulau Parang Karimun Jawa. Serta kerangka ikan raksasa purba yang telah diawetkan. Selain sumber daya alam laut, museum ini juga dilengkapi dengan benda-benda tradisional yang kerap digunakan para nelayan untuk melaut.


Ukiran khas Jepara (dok: pribadi)

Alat tradisional untuk melaut oleh para nelayan (dok: pribadi)

Rangka ikan purba raksasa (dok: pribadi)


Batu mutiara asal Pulau Parang Karimun Jawa (dok: pribadi)
Jangan kaget bila ternyata ada "Kura-Kura Raksasa" di Jepara! Ya, bangunan kura-kura raksasa ini mirip sea world yang terletak dalam kawasan Pantai Kartini. Pengunjung bebas menikmati keindahan alam laut di tempat ini. 


Pantai Kartini (dok: pribadi)
Kura-kura raksasa ala Jepara (dok: pribadi)
Sea world-nya Jepara (dok: pribadi)
Jepara memang terkenal dengan panorama alam lautnya, Karimun Jawa merupakan salah satu potensi ekowisata di daerah ini. Taman Nasional Karimun Jawa terdiri dari gugusan 27 buah pulau dimana lima pulau diantaranya telah berpenghuni. Salah satunya ialah Pulau Karimun Jawa yang menjadi pusat kecamatan dan berjarak sekitar 83 km dari Jepara. Yang menarik, di sekitar kepulauan terdapat bangkai kapal Panama INDONO yang tenggelam pada tahun 1955 dan bangkai itu menjadi habitat ikan karang dan cocok untuk lokasi penyelaman. Nama Karimun Jawa sendiri berasal dari zaman Sunan Muria yaitu salah satu tokoh penyebar Agama Islam. Sunan Muria melihat pulau-pulau di Karimun Jawa sangat samar dari Pulau Jawa (alias kremun-kremun soko Jowo). Sehingga tercetuslah nama "Karimun Jawa" tersebut. Musim kunjungan terbaik ke pulau ini yaitu pada bulan April hingga Oktober.


Banjarnegara dan Jepara, bagi saya telah mewakili pesona Jawa Tengah. Laksana kenikmatan Tuhan yang tiada mampu untuk didustakan. Saya bersyukur pernah menikmatinya. Semoga saya berkesempatan kembali untuk mencicipinya sekali lagi. Aamiin. 

Cat: Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah (www.twitter.com/visitjawatengah);

1 komentar:

  1. Pinjaman untuk semua jenis tujuan
    Kami menawarkan jumlah minimum 5.000,00 euro sampai 10.000,00 euro sampai 20 juta euro
    Dengan suku bunga pinjaman 2% rendah
    Periode: sampai 25 tahun tergantung jumlah pinjaman yang Anda butuhkan.
    Pelanggan harus
    lebih dari 18 tahun
    Transaksi ini 100% aman untuk semua pelanggan
    Untuk informasi lebih lanjut tentang kredit, silahkan hubungi kami via e-mail:
    (leonardodorafinance@gmail.com)

    BalasHapus