Rabu, 21 Desember 2016

#MahakaryaUntukAyahIbu, Tentang Janji Masa Kanak-Kanak

Awalnya saya ragu menuliskannya, berhari-hari menjelang deadline saya berpikir keras apa yang mesti saya tuliskan. I have no idea! Mata saya nanar menatap laptop sedari tadi. Revisian dari dosen pembimbing masih enggan saya sentuh. “Mending online, ah!” pikir saya ketika itu. Saya lantas memulai browsing dan membuka media sosial. Facebook dengan perhatiannya memperlihatkan status kenangan di masa lampau pada laman timeline-nya. 

dok: pribadi
Hmm, sebuah foto hitam putih yang menampakkan saya semasa kecil bersama Ibu. Beliau memeluk saya dengan hangat. Tampaknya nyaman sekali. Saya ingat kisah dibalik foto ini sebagaimana yang diceritakan oleh Ibu dahulu bahwa saya sedang belajar berjalan menggunakan sebilah kayu yang dibentuk menyerupai huruf A. Pada akhirnya kayu yang berjasa tersebut dinamakan “Letter A”.

Saya lantas mengalihkan pandangan dan menatap kalender di meja belajar. Mencoba menghitung hari demi hari tersisa menjelang akhir tahun dan menyadari bahwa sebentar lagi pergantian tahun. Saya perlu menentukan resolusi tahun 2017 guna melakukan checklist atas apa yang telah, sedang dan akan saya lakukan kedepannya.

Tetiba mata saya menangkap tanggal 22 Desember yang tepat jatuh pada hari kamis. Hari Ibu! Pekik saya dalam hati. Ya ampun, dada saya seketika berdegup kencang, mata saya terasa sembab. Rasanya seperti ada yang mau keluar tapi saya tahan. Rasa rindu saya lantas membuncah. Mama, rindu...

Saya lalu membiarkan diri terjatuh di meja belajar seraya menangis sesenggukan. Suatu ritual yang sepertinya sudah lama saya tinggalkan. Saya bahkan sudah lupa kapan terakhir kali saya melakukan hal ini. 
“Ma, nanti kalo Yesi udah besar dan bisa nyetir sendiri. Yesi antar mama ke pasar neh”
“Betul kak? Asyik. Makasi neh”, ucap Ibu riang sembari menyuapi makanan ke mulut saya
Celetukan masa kecil ketika itu pastinya cukup membuat Ibu senang. Tampak dari raut wajahnya yang sumringah. Saya yakin ada kebanggaan tersendiri bagi beliau terhadap anak-anaknya yang telah memiliki keinginan dan harapan semenjak kecil untuk masa depannya , kendati hal itu sepele.

Ibu adalah sosok yang lembut hatinya, meski dari luar tampak tegas. Tiada barang sedetik pun saya pernah terpisah dengan Ibu sedari kecil. Beliau benar-benar mengabdikan dirinya untuk keluarga. Hidupnya ialah untuk anak-anak dan keluarganya. 

Saya teringat masa-masa ketika lulus sekolah dasar. Ketika itu saya bersama teman sekelas sedang menyanyi didepan kelas mempersembahkan lagu ungkapan terimakasih sebagai penanda perpisahan dengan guru-guru kami. Dari kejauhan saya melihat Ibu yang duduk di bangku paling belakang sedang menangis tersedu-sedu. Semenjak itu ayah tidak pernah lagi mengijinkan Ibu menghadiri acara kelulusan saya. Ayah kemudian mengambil alih tugas tersebut. Sebenarnya Ayah hanya tidak ingin Ibu “terusik” hatinya

Berbicara tentang sosok Ayah, beliau merupakan cinta pertama saya. Sama halnya dengan anak gadis kebanyakan, beliau memberikan contoh protoype standar ukuran sosok pria yang pantas mendampingi saya kelak. Saya teringat semasa kanak-kanak beliau kerap membelikan saya bando. Ibarat mahkota, beliau selalu memilihkan dan meletakkan bando terbaik di kepala saya.

Hmph, saya terlalu lelah menangis hingga tertidur. Waktu ternyata telah cukup larut. Saya bergegas beranjak dari meja belajar untuk mencuci muka dan kembali melanjutkan proses menulis. Saya lantas terjaga dari tidur.

Pada akhirnya, jika saya bisa memutar balik waktu, mahakarya yang ingin saya persembahkan untuk Ayah dan Ibu ialah: memenuhi janji masa kanak-kanak. Saya merasa patut untuk melakukannya mengingat doa yang dipanjatkan keduanya sangat luar biasa dan seakan kokoh tak tertandingi. Hingga mampu menembus langit ke tujuh dan didukung penuh oleh semesta :)

Saya menyadari betul bahwa apapun yang saya perbuat tidak akan pernah terlepas dari hasil jerih payah keduanya. Saya merasa tidak pantas (dan sepertinya tidak akan pernah pantas) untuk mengklaim diri bahwa saya telah mampu mempersembahkan sebuah mahakarya dari hasil jerih payah sendiri. Saya meyakini bahwa dalam setiap usaha perbuatan saya terselip doa kedua orang tua yang dipanjatkan tiada henti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Saya hanya bisa berucap: Terimakasih banyak, mama dan papa.

Salam,

gadis kecil kepunyaan kalian yang tak akan pernah sudi mendewasa diri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar