Sabtu, 28 Januari 2017

Serba Serbi Perayaan Imlek di 10 Kota Paling Intoleran di Indonesia

Katadata (2015) melansir bahwa ada 10 kota paling intoleran di Indonesia yaitu Bogor, Bekasi, Banda Aceh, Tangerang, Depok, Bandung, Sukabumi, Mataram, Serang dan Tasikmalaya. Berdasar hasil riset diperoleh informasi bahwa Provinsi Jawa Barat menduduki peringkat teratas dalam hal intoleransi. Istilah intoleransi disini dalam artian ketidakramahan terhadap orang dengan latar belakang agama berbeda.

dok: katadata.co.id
Sayangnya peringkat berdasar rekor tertinggi untuk kategori kota yang paling tidak toleran alias intoleran di Indonesia dipegang oleh Bogor, Sang Kota Hujan. Pasalnya saya telah mendiami Bogor semenjak 2012 silam. Jadi, hampir 5 tahun lamanya saya berupaya mengenal seluk beluk Bogor dan seisinya. Hasil riset ini tentu mengagetkan saya dan jelas menggelitik rasa ingin tahu yang lebih mendalam.

Sabtu, 28 Januari 2017 merupakan Tahun Baru Imlek 2568. Ketika hari raya keagamaan Imlek tiba, Bogor seakan makin menegaskan jati dirinya sebagai kota hujan. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa guyuran hujan selalu menghiasi perayaan Imlek di tanah air. Siraman hujan pun diyakini sebagai berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa yang diturunkan kepada semua makhluk hidup-Nya yang berada di bumi.

Fyi, saya terlahir dan dibesarkan di Kota Manado, ibukota Provinsi Sulawesi Utara. Kota yang digadang-gadang sebagai Kota 1000 Gereja karena dengan mudahnya kalian dapat menemukan bangunan peribadatan berupa gereja di daerah ini. Berkebalikan dengan Bogor, Kota Manado malah dicap sebagai salah satu Kota yang paling toleran di Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa diantara keberagaman dan isu minoritas yang disematkan, Manado mampu tampil sebagai kota yang menghargai perbedaan. Melalui semboyannya “Torang Samua Basudara” alias Kita Semua Bersaudara, Manado mampu membuktikan bahwasanya perbedaan bukan menjadi halangan dan tidak untuk dipermasalahkan melainkan dihargai. 
"Perbedaan mungkin tidak bisa dipersatukan, tapi bisa bersama karena kebersamaan itu indahnya luar biasa"
Saya lalu menjadi penasaran dengan perayaan Imlek yang terdapat di kota-kota yang (katanya) paling intoleran di tanah air. Lantas, saya mulai “kepo” dengan berita dan kabar terbaru terkait tentang perayaan Imlek tahun 2017 ini di 10 kota tersebut. Yuk, simak rangkuman persiapan menjelang perayaan Tahun Baru Imlek berikut ini:

Tasikmalaya

Kota ini terkenal dengan sebutan Kota Santri. Kendati demikian perayaan Imlek tetap terasa khususnya di beberapa Vihara yang ada di kota Tasikmalaya. Kendati menjadi 1 dari 10 kota yang memiliki tingkat intoleran paling rendah, tapi Kota Tasikmalaya tetap mampu membuktikan sikap toleransinya khususnya dalam menghargai perayaan keagamaan lainnya.


Serang

Perayaan Imlek kali ini dimeriahkan salah satunya oleh kisah menarik di balik Vihara Avalokiteswara yaitu vihara tua yang bersahaja. Kisah menariknya ialah tentang putri dari China dan Sunan Gunung Jati. Penting untuk diketahui bahwasanya vihara yang berlokasi di Kota Serang ini menjadi salah satu simbol kerukunan antar umat beragama dan keanekaragaman budaya di ujung barat Pulau Jawa. 


Mataram 

Perayaan puncak tahun baru Imlek rencananya akan digelar di Taman Sangkareang Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Menariknya ialah acara Imlek kali ini akan dikemas dalam acara silaturami budaya nusantara. Kegiatan ini semata-mata merupakan bagian dari upaya menjalin toleransi dan mempererat persaudaraan antar masyarakat yang heterogen. Tidak kalah pentingnya ajang ini menjadi promosi pariwisata daerah agar semakin dikenal masyarakat luar.


Sukabumi

Isu intoleransi yang disematkan terhadap Kota Sukabumi tak serta merta membuat kota ini lumpuh dari aktivitas perdagangan buktinya pernak pernik Imlek ramai dijajakan oleh para pedagang di kota ini. Hal ini menjadi berkah tersendiri bagi mereka karena raupan omzet yang berhasil diperoleh menjelang perayaan tahun baru Imlek.


Bandung 

Bandung memang juara! Serba serbi perayaan Imlek diramaikan dengan ornamen berwarna merah yang sejatinya menjadi ciri khas yang dipasang menjelang Imlek. Lampion dan lilin dengan mudahnya dapat ditemukan di sekitar pelataran jalan. Bandung mengingatkan kita tentang “Filososi Lilin” yaitu sesuatu yang menerangi harapan agar semua pengharapan diterangi dan diberikan kemudahan. Menariknya pula ialah perayaan Imlek menjadi ajang pelestarian budaya dan menjadi momentum keakraban antar sesama umat manusia. Semua umat beragama berhak merayakannya. 


Depok 

Perayaan Imlek di kota ini cukup kondusif. Hal ini berkat pengamanan dan kerjasama lintas masyarakat. Depok yang berdekatan dengan Stasiun Pondok Cina juga menyimpan kisah sejarah yang erat kaitannya dengan perayaan Imlek di tanah air.


Tangerang 

Perayaan Imlek di kota ini mengajarkan banyak hal. Salah satu diantaranya ialah tentang pembelajaran sejarah masyarakat Tionghoa dari situs bersejarah yang terdapat di kota ini. Adapun Museum Benteng Heritage merupakan warisan budaya peranakan Tionghoa. 


Banda Aceh

Setiap tahunnya perayaan Imlek oleh warga etnis Tionghoa di Banda Aceh diadakan secara sederhana tanpa mengurangi esensi makna perayaan Imlek itu sendiri. Mereka berdoa di vihara dan dilanjutkan dengan saling berkunjung antar saudara. Adapun Kampung Peunayong yang merupakan kampung dengan beragam etnis dan kerukunan ala Aceh. Persahabatan yang terjalin antar masyarakat sangat natural dan nuansa keberagaman sangat kental terasa. Kuncinya ialah kepintaran dalam membawa diri. Dalam artian tidak agresif ataupun menonjolkan diri dalam bergaul dan/atau menjalankan ritual keagamaan. Kampung ini lantas menjadi kampung keberagaman yang notabene sebagai pengingat bahwa perbedaan merupakan hakikat kehidupan.


Bekasi 

Perayaan Imlek serta ibadah yang dilakukan di kota ini sangatlah khusyuk. Hal ini seakan mematahkan asumsi sebagai kota intoleran ke-2 di Indonesia. Masyarakat mempercayai bahwasanya Imlek ialah tradisi umat Tionghoa dan merupakan kemaslahatan dalam kehidupan yang ada di dunia. Sama seperti umat muslim lainnya, silaturahmi kepada sesama kerap dilakukan dalam perayaan Imlek.


Bogor

Percaya atau tidak, di kota yang dicap sebagai kota yang paling intoleran di Indonesia inilah kita dapat menemukan vihara yang memiliki mushola sebagai tempat peribadatan umat muslim didalamnya. Ya, Vihara Mahabrahma menyediakan ruangan kecil berupa mushola yang kerap digunakan untuk sholat dan/atau pengajian. Vihara tertua di kota Bogor ini memang memiliki tradisi unik. Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, toleransi antar agama memang sangat erat kaitannya dengan menjaga kerukunan beragama dan memelihara toleransi. Tradisi unik menjelang perayaan Imlek ialah dengan membagikan kupon makan gratis untuk masyarakat sekitar. Hal ini semata guna memupuk rasa kebersamaan antar masyarakat agar semakin kuat.


Sebagaimana makna harfiah dari toleransi yaitu membiarkan orang lain berpendapat berbeda atau melakukan hal yang berbeda dengan kita tanpa perlu diganggu. Jadi, kita perlu menyadari dan memahami serta tidak perlu merasa khawatir ketika berhadapan atau menemukan perbedaan karena berbeda itu hal biasa. Percayalah! 

Pada akhirnya, perayaan Imlek tidak hanya sekedar menjadi tradisi leluhur yang memiliki makna mendalam melainkan juga menjadi bukti nyata toleransi antar umat beragama. Imlek menjadi momentum untuk meningkatkan silaturahmi dan toleransi di tanah air tercinta Indonesia. Torang samua basudara. Inga-inga, Ting!

Sumber:
Cat: tulisan diikutsertakan dalam Lomba Blog Festival Imlek Indonesia 2017
dok: http://www.festivalimlekindonesia.com

2 komentar:

  1. ternyata, di Indonesia acara imleknya meriah juga ya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas ded, terbilang sangat meriah malah. bahkan di kota-kota yg (katanya) paling intoleran sekalipun. terimakasih sdh mampir :)

      Hapus