Sabtu, 10 November 2018

Optimalisasi Dana Desa, Wujudkan Masyarakat Sejahtera dan Berdaya

Reformasi kebijakan fiskal didorong dengan cara mengoptimalkan pendapatan negara dan meningkatkan kualitas belanja negara yang diantaranya dilakukan melalui inovasi peningkatan alokasi dan pemanfaatan serta efektivitas belanja Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) secara proporsional. 

Hal ini terlihat dari rekap per kecamatan progres penyaluran Dana Desa tahun 2015 yang menunjukkan bahwa total penggunaan Dana Desa sesuai bidang kegiatan yaitu: Penyelenggaraan pemerintahan desa; Pelaksanaan pembangunan desa; Pembinaan kemasyarakatan; dan Pemberdayaan masyarakat telah cukup berjalan dengan baik. Pada dasarnya, Program Dana Desa bertujuan untuk memacu pertumbuhan ekonomi pedesaan serta mengurangi kesenjangan dengan perkotaan. 


Pada tahun 2017 silam, pemerintah telah menganggarkan sekitar Rp 60 triliun untuk Dana Desa. Rata-rata per desa mendapatkan Rp 800,4 juta. Wilayah Jawa mendapatkan porsi Dana Desa terbesar sekitar Rp 18,6 triliun. Seiring dengan hal tersebut, Pemerintah pun mengeluarkan aturan teknis mengenai pemanfaatan Dana Desa untuk memastikan penggunaan Dana Desa menghasilkan stimulus fiskal yang maksimal.

dok: https://databoks.katadata.co.id
Bila dirinci lebih lanjut, maka pemanfaatan Dana Desa tahun 2015 – 2017 diantaranya ialah: 1) Menunjang aktivitas ekonomi masyarakat Desa yaitu: Pembangunan jalan desa sepanjang 123.858 Km, Pembangunan jembatan sepanjang 791.258 Km, Pembangunan sarana olahraga sebanyak 3.111 unit, Pembangunan tambatan perahu sebanyak 2.960 unit, Pembangunan embung sebanyak 1.971 unit, Pembangunan irigasi sebanyak 28.830 unit, Penguatan dan penyertaan permodalan BUM Desa sebanyak 26.750 kegiatan, dan Pembangunan Pasar Desa sebanyak 6.576 unit; 

Serta, tujuan pemanfaatan lainnya ialah: 2) Meningkatkan kualitas hidup masyarakat Desa yaitu: Pembangunan penahan tanah sebanyak 67.094 unit, Pembangunan sarana air bersih sebanyak 38.331 unit, Pembangunan drainase sebanyak 38.217,065 meter, Pembangunan sumur sebanyak 31.122 unit, Pembangunan Posyandu sebanyak 11.574 unit, Pembangunan Polindes sebanyak 5.402 unit, dan Pembangunan PAUD sebanyak 18.177 unit. 

Berkenaan dengan hal tersebut, sebagaimana informasi yang tercantum dalam Lampiran Pidato Presiden Republik Indonesia tahun 2018, bahwa realisasi TKDD hingga Juni 2018 sebesar Rp 385,57 triliun atau 50,33 persen dari pagu APBN 2018. Dari realisasi TKDD tersebut, penyaluran Dana Desa sebesar Rp 35,86 triliun atau mencapai 59,83 persen terhadap target APBN 2018. Pun, dalam empat tahun terakhir masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, alokasi Dana Desa mencapai Rp 187 triliun dengan penyerapan diperkirakan mencapai Rp 181 triliun hingga akhir tahun 2018. 

dok: https://databoks.katadata.co.id
Meningkatnya realisasi penyerapan dana dipicu oleh percepatan implementasi karya tunai (cash for work) sejak awal tahun 2018. Pasalnya, Presiden Joko Widodo menetapkan bahwa Dana Desa difokuskan untuk proyek padat karya mulai Januari 2018 sehingga bermanfaat bagi rakyat di desa. Oleh karenanya, peruntukan dana tersebut bukan hanya untuk membeli bahan bangunan, tetapi juga untuk membayar upah pekerja. 

Hal ini tak ayal membuat penyaluran Dana Desa selang empat tahun belakangan ini mampu mengurangi jumlah penduduk miskin pedesaan sebesar 1,57 juta jiwa menjadi 15,8 juta jiwa pada Maret 2018. Menyusutnya jumlah penduduk miskin tersebut membuat angka kemiskinan penduduk pedesaan juga turun menjadi 13,2% pada Maret 2018. 


Kabar baiknya, berdasarkan pokok pembahasan dalam APBN 2019 yang mengusung tema “Mendorong Investasi dan Daya Saing melalui Pembangunan Sumber Daya Manusia” oleh Kementerian Keuangan, disebutkan bahwa peningkatan TKDD untuk mendukung kebutuhan pendanaan pelayanan publik di daerah disertai prinsip Value for Money. 

dok: Kemenkeu
Maka diperkirakan anggaran Dana Desa di tahun 2019 akan meningkat dan diiringi dengan harapan agar Dana Desa dapat digunakan untuk meningkatkan layanan publik, mengentaskan kemiskinan, memajukan perekonomian desa dan mengatasi kesenjangan pembangunan antar desa. 

dok: Kemenkeu
Kedepan, arah kebijakan dan strategi terkait dengan optimalisasi pengelolaan Dana Desa guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat diantaranya ialah melalui pengawalan implementasi UU No.6/2014 dengan strategi supervisi dan pemantauan penggunaan Dana Desa dan alokasi Dana Desa. Pemerintah perlu mendorong akuntabilitas pengelolaan Dana Desa melalui penguatan kapasitas aparat desa dan implementasi sistem keuangan desa. 

Perbaikan tata kelola Dana Desa perlu terus dioptimalkan untuk membangun infrastruktur agar dapat meningkatkan kualitas hidup dan perekonomian masyarakat desa. Diantaranya dengan mempersingkat mekanisme pencairan, meningkatkan afirmasi untuk desa tertinggal, dan meningkatkan mekanisme pendampingan/pengawasan. 

Guna mewujudkan pembangunan desa yang efektif, pemerintah telah melakukan langkah evaluasi terkait pelaksanaan kebijakan. Hal ini tentunya seiring sejalan dengan prioritas Dana Desa untuk membiayai pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat desa yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan kemajuan desa. 

Di satu sisi, pelaksanaan anggaran Dana Desa harus diimbangi dengan peningkatan kualitas aparatur pemerintah daerah dan desa untuk merancang dan mengelola penggunaan Dana Desa serta meningkatkan partisipasi aktif dari masyarakat desa. Semata agar terjadi peningkatan kualitas layanan publik di daerah, menciptakan lapangan kerja, mengentaskan kemiskinan, serta untuk mengurangi ketimpangan antar daerah. 

Ayo, wujudkan desa menjadi pusat perekonomian baru! 

Referensi: 
  • Lampiran Pidato Presiden Republik Indonesia. 2018 
  • Kementerian Keuangan. Konferensi Pers APBN 2019 
  • PMK 121/2018 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan No. 50/PMK.07/2017 tentang Pengelolaan Transfer ke Daerah dan Dana Desa. http://www.djpk.kemenkeu.go.id/?p=9192   
  • https://databoks.katadata.co.id/
Cat: Penulis merupakan Program Manager di Sekretariat Dewan Nasional Keuangan Inklusif.

Senin, 13 Agustus 2018

Pendidikan Keluarga Era Kekinian: Keluarga Hebat, Keluarga Terlibat

T: Gue pernah di-bully waktu SD. Gue diludahi dan dipalak setiap pulang sekolah. 
D: Loe tau nggak? Payu**ra gue pernah diremas teman sekelas waktu SMP. 
Topik obrolan istirahat makan siang kali ini terasa agak “jadul”. Pasalnya, di sela-sela obrolan makan siang bersama beberapa teman kantor, kami menyempatkan diri untuk bernostalgia tentang memori masa kanak-kanak yang terbilang cukup suram. Saya pribadi merasa bahwa apa yang dialami oleh T maupun D juga kerap terjadi pada setiap anak kecil, tidak terkecuali saya


Lingkungan sekolah sudah selayaknya menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk penyelenggaraan pendidikan dan keluarga tentu saja harus terlibat didalamnya bekerjasama dengan multi pihak untuk mencegah terciptanya anak-anak yang berpeluang besar berperan sebagai pelaku maupun korban. Karena ada saat dimana para anak kecil tersebut mengalami perlakuan yang tidak sepatutnya dan kemudian mereka merasa bingung bercampur takut untuk mengadu kepada siapa. 

Oleh karenanya, diperlukan kepekaan pihak keluarga untuk melibatkan diri khususnya terkait dengan upaya penyelenggaraan pendidikan di era kekinian  dan serba digital seperti sekarang ini. Perlunya upaya memahami dan komitmen yang tinggi untuk mewujudkan insan cerdas masa depan. Penyelenggaraan pendidikan baik di lingkungan sekolah maupun umum membutuhkan peran serta dan keterlibatan keluarga.

 
Hal ini pun didukung oleh data bahwa Generasi Z atau Gen Z merupakan konsumen yang sangat potensial. Di usianya yang masih muda (10-19 tahun), mereka dapat memengaruhi keputusan keluarga dalam membeli produk. Bayangkan saja! di usia yang masih belia, perananannya begitu berarti di tengah keluarga. Tentu dari segi bisnis cukup menggiurkan karena Gen Z merupakan aset masa depan yang menjadi incaran para pelaku industri pemilik brand (merk). 

Tak ayal, hal ini menjadi satu hal yang menarik untuk dipahami khususnya tentang perilaku dan kebiasaan para Gen Z. Di satu sisi, keluarga perlu berupaya lebih keras untuk melibatkan diri dan mengambil peranan. Pasalnya, di tengah era jaman now seperti saat ini ancaman teknologi sangat berpengaruh terhadap ketahanan keluarga. Terkait hal tersebut, pihak Parlemen khususnya Komisi VIII DPR RI telah menyusun Rancangan Undang-Undang (RUU) Ketahanan Keluarga yang bertujuan agar setiap keluarga menjadi kokoh terhadap segala permasalahan mengingat sistem moral yang kuat harus dimulai dari lingkungan keluarga. 

Berkenaan dengan hal tersebut, maka arah kebijakan dimensi pembangunan manusia dan masyarakat mencakup diantaranya tentang pembangunan pendidikan khususnya pendidikan keluarga. Adapun kehidupan keluarga sebagai lingkungan pendidikan keluarga membahas arti pendidikan keluarga, tujuan pendidikan keluarga, proses pendidikan dalam keluarga dan lingkup pendidikan dalam lingkungan keluarga. Disinilah peran serta keterlibatan keluarga sangat diperlukan dalam upaya penyelenggaraan pendidikan di era kekinian. 


Oleh karenanya, pendidikan keluarga mengandung makna pendidikan di dalam keluarga yaitu pendidikan yang berlangsung di dalam keluarga terhadap anak-anak yang lahir di dalam keluarga atau anak-anak yang menjadi tanggungan keluarga. Keluarga sebagai lembaga sosial terkecil berkembang menjadi diantaranya lembaga pendidikan yang perlu dijalankan di dalam arah dan tujuan mencapai keluarga bahagia dan sejahtera. 

Adapun permasalahan yang mengemuka sebelumnya merupakan bagian kecil dari belum optimalnya fungsi keluarga sebagai tatanan hidup yang merupakan dampak dari pertumbuhan masyarakat dewasa ini. Sehingga hal ini perlu menjadi perhatian bagi para pengelola pendidikan untuk selalu memperhatikan gejala perubahan masyarakat yang diimbangi dengan upaya untuk terus menerus memberikan informasi tentang cara melaksanakan pendidikan dalam keluarga dengan sebaik mungkin guna meningkatkan budi pekerti dan martabat manusia. 

Sehingga perlu membangun komunikasi yang efektif antara orang tua dengan pihak sekolah (baca: disini). Pelibatan keluarga dalam pendidikan anak di sekolah akan terlaksana bila telah terbangun komunikasi yang efektif antara pihak sekolah dan orangtua. Komunikasi akan lebih efektif bila terbangun komunikasi dua arah. 


Fungsi pendidikan memiliki hubungan yang erat dengan masalah tanggung jawab orang tua sebagai pendidik pertama bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, keluarga sebagai lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab yang esensial. Di samping itu, keluarga bertanggung jawab untuk mengembangkan dan melaksanakan pendidikan anak-anak yang dilahirkan dalam keluarga untuk berkembang menjadi orang “dewasa”. Upaya pendidikan merupakan tanggung jawab keluarga sebagai lembaga pendidikan yang pertama. 

Pelaksanaan fungsi pendidikan dalam kehidupan keluarga bertautan erat dengan pelaksanaan fungsi perlindungan. Pendidikan dalam keluarga merupakan bagian dari fungsi perlindungan terhadap anak dan anggota keluarga lainnya. Fungsi sosialisasi mempunyai pertautan yang erat dengan fungsi pendidikan dan perlindungan. Keluarga mempunyai tugas menghantarkan anggota keluarga khususnya anak ke dalam kehidupan sosial (masyarakat) yang lebih luas. 

Pelaksanaan fungsi keluarga tersebut merupakan upaya menghadirkan keluarga sebagai lingkungan hidup seseorang yang lebih berorientasi kepada keniscayaan hadirnya dinamika kehidupan keluarga sebagai institusi sosial terkecil yang diharapkan memberikan pengaruh baik, pada kehidupan institusi sosial yang lebih luas. 

Kehidupan Keluarga sebagai Lingkungan Pendidikan Keluarga 

Keluarga sebagai insitusi sosial terkecil yang mempunyai fungsi dan tugas untuk menjalankan pendidikan dalam keluarga bagi setiap anggota keluarga. Dengan adanya fungsi pendidikan ini otomatis keluarga menjadi sentra dan lingkungan pendidikan bagi setiap anggota keluarga. Dengan kata lain keluarga sebagai sentra pendidikan ini secara langsung dan tidak langsung menunjuk pada pentingnya pendidikan dalam kehidupan keluarga. 

Dalam membahas tentang pendidikan dalam keluarga, Ki Hajar Dewantara lebih menekankan pada daya upaya orang tua untuk memajukan pertumbuhan anak yang berbudi pekerti luhur. Budi pekerti menunjuk pada masalah kekuatan batin dan karakter anak untuk mencapai kesempurnaan hidup, yakni kehidupan dan penghidupan anak selaras dengan dunianya. 


Intinya, pendidikan keluarga adalah pendidikan yang harus dilaksanakan dalam keluarga oleh orang tua kepada dirinya sendiri, anggota keluarga yang lain dan kepada anak-anaknya seesuai dengan potensi mereka masing-masing, dengan jalan memberikan pengaruh baik melalui pergaulan antar mereka. Sehingga anggota kelurga dan anak yang bersangkutan kelak dapat hidup mandiri yang bertanggung jawab dan dapat dipertanggungjawabkan dalam lingkungan masyarakatnya sesuai dengan nilai-nilai budaya yang berlaku dan agama yang dianutnya. 

Usaha pendidikan tidak terkecuali pendidikan keluarga selalu bertujuan dalam lingkup kehidupan yang bernilai dan bermakna dalam kerangka sesuatu yang “ideal” atau “maksimal” sesuai dengan kemampuan anggota keluarga termasuk anak dalam keluarga itu. Dalam tujuan pendidikan biasanya terkandung tiga aspek kehidupan manusia dalam kaitannya dengan kehidupan di dalam lingkungan masyarakatnya, yaitu aspek kehidupan pribadi, sosial dan moral. 

Jadi, proses pendidikan di dalam keluarga harus bisa berjalan dengan sendirinya dalam pergaulan antar anggota keluarga termasuk pergaulan antara orang tua dan anak yang diwarnai oleh adanya kewibawaan orang tua dan rasa persahabatan antara orang tua dan anak. Pendekatan yang diterapkan adalah pendekatan kemanusiaan yang diwarnai rasa tanggung jawab dan kasih sayang. Pada akhirnya, keluarga harus menjadi pilar pembangunan dan kesejahteraan bangsa. #SahabatKeluarga

Referensi: 
Cat: tulisan diikutsertakan dalam Lomba Blog Pendidikan Keluarga oleh #SahabatKeluarga Kemdikbud


Jumat, 15 Juni 2018

Universitas Tanjungpura, Menuju Institusi Preservasi dan Pusat Informasi untuk Negeri

Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo dalam lampiran Pidato Kenegaraannya pada tahun 2017 silam menyebutkan bahwa Pendidikan merupakan bagian dari Dimensi Pembangunan Strategi Pembangunan Nasional yaitu Dimensi Pembangunan Manusia. 

Pembangunan pendidikan dapat dicapai dengan meningkatkan pemerataan akses, kualitas, relevansi dan daya saing. Hal ini tak terkecuali bagi Universitas Tanjungpura (UNTAN) yang berlokasi di Pontianak – Kalimantan Barat dan dipimpin oleh Rektor atas nama Bapak Prof. Dr. Thamrin Usman, DEA. 

Menariknya, seperti dilansir oleh harian Tribun Pontianak bahwa Universitas Tanjungpura menggalakkan program bebas pungutan liar di kampusnya. Selain itu, guna turut serta dalam upaya membangun Negeri, Universitas Tanjungpura juga telah menjalin kerjasama dengan Sesko TNI. 

dok: http://pontianak.tribunnews.com/

dok: http://pontianak.tribunnews.com/
Dari segi akademik, Universitas Tanjungpura memiliki 63 Program Sarjana, 24 Program Pascasarjana, 31.720 Mahasiswa, 58.061 Lulusan, 2.059 Staf dan memiliki 197 Penelitian. Bahkan laman Alexa.com melansir bahwa laman Universitas Tanjungpura yaitu untan.ac.id menempati peringkat ke – 1.445 secara nasional. Hal ini menunjukkan bahwa laman untan.ac.id mulai gemar diakses oleh para pengguna.

dok: alexa.com
Sebagaimana dijelaskan dalam Rencana Strategis dan Rencana Operasional Universitas Tanjungpura tahun 2015 – 2019 bahwa seluruh warga Universitas Tanjungpura harus meluangkan waktu yang lebih banyak dan menyiapkan energi yang lebih besar serta membangun kepercayaan dan sinergi yang lebih luas dengan para pemangku kepentingan untuk bekerja secara optimal mewujudkan visi, misi dan tujuan institusi.

Adapun visi Universitas Tanjungpura pada tahun 2020 mendatang adalah menjadi institusi preservasi dan pusat informasi ilmiah di Provinsi Kalimantan Barat serta menghasilkan luaran yang bermoral Pancasila dan mampu berkompetisi di tingkat daerah, regional, nasional maupun internasional.

Misi Universitas Tanjungpura sendiri ialah menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat secara bermutu sehingga dapat menghasilkan luaran yang mampu mengikuti, mengembangkan dan memajukan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni serta mampu memberikan arah bagi pengembangan sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing.

Tujuan Universitas Tanjungpura dalam tahun 2015 – 2019 ialah mengarahkan seluruh kegiatan Universitas Tanjungpura untuk membangun Universitas Tanjungpura sebagai perguruan tinggi yang mampu menjadi Pembelajaran Unggul Menuju Peningkatan Daya Saing Universitas Tanjungpura dalam rangka merealisasikan Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN – BH/BLU).


Rencana Strategis Universitas Tanjungpura yang telah disusun dan disepakati oleh jajaran manajemen universitas menjadi panduan universitas dalam menjalankan visi dan misi universitas. Didalamnya terdapat ekspektasi keberhasilan universitas setiap tahunnya. 

Selain itu, dalam Renstra ini juga terdapat strategi pencapaian tujuan universitas beserta indikator keberhasilan yang digunakan sebagai standar penilaian keberhasilan dari proses yang dijalankan. Dalam menentukan strategi dan menentukan indikator keberhasilan ini, Universitas Tanjungpura telah mempertimbangkan dengan cermat nilai dasar, kondisi internal dan eksternal, baik dalam perspektif regional maupun internasional.

Terkait dengan upaya bersama Universitas Tanjungpura membangun Negeri maka diperlukan upaya bersinergi dengan sasaran umum strategis Kemenristek – Dikti untuk mendukung tujuan peningkatan akses, kualitas dan relevansi serta daya saing pendidikan tinggi yang diantaranya diwujudkan melalui upaya membangun sistem pendidikan tinggi yang efektif dan efisien.


Arah kebijakan dan strategi pendidikan tinggi dalam hal ini Universitas Tanjungpura diantaranya dapat ditempuh melalui peningkatan daya saing Universitas Tanjungpura khususnya melalui penguatan institusi Universitas Tanjungpura dengan membangun pusat keungulan di bidang ilmu dan kajian tertentu sebagai perwujudan mission differentiation.

Selain itu, terkait dengan pelayanan prima kemahasiswaan maka program kerja bidang kemahasiswaan Universitas Tanjungpura dapat diwujudkan diantaranya melalui upaya membangun budaya ilmiah, inovatif dan kritis di kalangan mahasiswa; dan membangun budaya entrepreneurship.

Universitas Tanjungpura pun perlu terus melakukan penataan kelembagaan yang bertujuan diantaranya untuk membangun sistem organisasi yang menjadi landasan baik dalam hubungan internal organisasi maupun dalam hubungan akuntabilitas dan transparansi dengan publik.


Kedepan, arah kebijakan dan strategi pada jenjang pendidikan tinggi khususnya penguatan kelembagaan Universitas Tanjungpura dapat dilakukan melalui: 1) Penguatan otonomi Universitas Tanjungpura; 2) Pengembangan program studi inovatif di Universitas Tanjungpura; 3) Akreditasi perguruan tinggi dan program studi di Universitas Tanjungpura; 4) Perlindungan program studi angka peminat di Universitas Tanjungpura; dan 5) Penguatan kerjasama antar perguruan tinggi baik Universitas Tanjungpura dengan perguruan tinggi lainnya.

Sementara itu, peningkatan kapasitas iptek, inovasi dan daya saing Universitas Tanjungpura dapat dilakukan melalui: 1) Penyediaan infrastruktur iptek di Universitas Tanjungpura; 2) Peningkatan kapasitas dosen dan mahasiswa dalam melakukan penelitian; 3) Peningkatan kerjasama penelitian Universitas Tanjungpura dan industri; 4) Penerbitan jurnal ilmiah, fasilitasi publikasi dan sitasi; 5) Fasilitasi perolehan HAKI khususnya hak paten dari hasil penelitian dan pengembangan di Universitas Tanjungpura; serta 6) Penerapan hasil litbang yang dimiliki oleh Universitas Tanjungpura.

Akhir kata, peningkatan relevansi Universitas Tanjungpura dapat dilakukan melalui: 1) Peningkatan pengabdian civitas akademika Universitas Tanjungpura kepada masyarakat; 2) Penguatan pendidikan vokasi di Universitas Tanjungpura; 3) Penguatan pendidikan kewirausahaan dan perkoperasian; 4) Pengembangan karir lulusan Universitas Tanjungpura; dan 5) Pengembangan kemitraan Universitas Tanjungpura dengan dunia usaha/dunia industri.


Referensi:
  • Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia. 2017
  • Rencana Strategis dan Rencana Operasional Universitas Tanjungpura. 2015 – 2019 
  • http://pontianak.tribunnews.com/2018/05/12/universitas-tanjungpura-bebas-pungli
  • http://pontianak.tribunnews.com/2018/06/01/universitas-tanjungpura-jalin-kerjasama-dengan-sesko-tni

Ket: Penulis merupakan lulusan Program Doktoral/S3 Institut Pertanian Bogor. Saat ini penulis menjadi Program Manager di Sekretariat Dewan Nasional Keuangan Inklusif (SNKI)

Cat: tulisan diikutsertakan dalam Lomba Blog UNIVERSITAS TANJUNGPURA “Bersama UNIVERSITAS TANJUNGPURA Membangun Negeri”

dok: www.untan.ac.id
dok: www.untan.ac.id

Rabu, 13 Juni 2018

Peran Karantina terhadap Kualitas dan Daya Saing Ekspor Produk Pertanian Unggulan

Sasaran pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sisi produksi sektor pertanian tahun 2018 ditargetkan tumbuh 3,5 – 3,8 persen yang diantaranya didorong oleh: 1) Bantuan sarana dan prasarana produksi; 2) Subsidi pupuk yang lebih tepat sasaran; 3) Peningkatan luas lahan tanam; 4) Peningkatan Indeks Pertanaman melalui program irigasi yang lebih terintegrasi antar K/L dan daerah; 5) Revitalisasi Hutan Tanaman Industri (HTI); dan 6) Valuasi jasa kehutanan.

Terkait dengan standarisasi internasional terhadap perkarantinaan maka perlu diketahui bahwa sektor pertanian masih menjadi sektor penting bagi pembangunan ekonomi di Indonesia. Hal ini ditandai dari kontribusinya yang besar terhadap PDB, penerimaan devisa, penyerapan tenaga kerja dan ketahanan pangan. Penerimaan devisa tersebut salah satunya bersumber dari kegiatan perdagangan produk pertanian. Menurut data Kementerian Perdagangan, rata-rata tingkat pertumbuhan ekspor produk pertanian mencapai 2,9 persen selama 5 tahun terakhir.


Hal ini tentu saja sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia untuk tahun 2019 mendatang dalam Sidang Kabinet Paripurna pada Februari 2018 bahwa momentum pertumbuhan ekonomi harus dipertahankan dengan meningkatkan investasi dan ekspor untuk membuka lapangan kerja baru.

Badan Karantina Pertanian yang berada di bawah Kementerian Pertanian (Kementan) merupakan salah satu lembaga yang menyelenggarakan karantina hewan, ikan dan tumbuhan. Kementerian Pertanian sendiri menjadi salah satu Lembaga negara yang situsnya paling banyak diakses guna memperoleh informasi terkait di sektor pertanian. Hal ini sebagaimana ditampilkan oleh laman Alexa.com berikut ini.

dok: https://www.alexa.com/siteinfo/pertanian.go.id
Karantina pertanian dan hewan yang berada di dalam Custom and Border Protection (CBP) melakukan tindakan karantina guna mengantisipasi masuk dan tersebarnya hama dan penyakit tumbuhan dan hewan dengan dasar uji ilmiah, dalam hal ini termasuk inspeksi kontainer, kendaraan maupun material kemasan. 

Pertahanan karantina pertanian yang ekstra bertujuan untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Alam dan ekonomi di tanah air. Hal ini sebagai antisipasi masuknya hama dan penyakit tumbuhan atau hewan ke wilayah Indonesia. Untuk itu perlu dilakukan penguatan sistem pengawasan karantina pertanian terhadap potensi ancaman tersebarnya hama penyakit hewan dan tumbuhan. Antisipasi Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian terhadap peningkatan tren perdagangan komoditas pertanian secara online menurut data transaksi e-commerce tahun 2016 telah mencapai Rp 319,8 triliun. 


Berkenaan dengan hal tersebut, sebagai bentuk diseminasi informasi, Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian RI juga telah membuat aplikasi bernama “SIPAKAR” yang merupakan Sistem Informasi Patuh Karantina Badan Karantina Pertanian. Melalui aplikasi SIPAKAR maka kita diberi kemudahan memperoleh informasi perkarantinaan pertanian yang mudah diakses dimanapun dan kapanpun berada. 

dok: app Playstore SIPAKAR
Layanan karantina SIPAKAR adalah buku saku elektronik karantina pertanian. Melalui sistem aplikasi ini maka publik dapat mengakses dan memperoleh informasi perkarantinaan pertanian secara luas, mudah dan transparan sehingga publik diharapkan akan dapat menjadi semakin paham, taat dan patuh terhadap peraturan karantina pertanian.

Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian juga diharapkan dapat terus mengembangkan sistem layanan elektronik guna mengakselerasi layanan publik di bidang perkarantinaan khususnya ekspor produk pertanian diantaranya melalui aplikasi PriokQ Klik. Sistem layanan ini memungkinkan pengguna jasa karantina pertanian di Pelabuhan Tanjung Priok dimana sebagian besar layanan ekspor produk melalui pintu ini. 
dok: http://tanjungpriok.karantina.pertanian.go.id/?
Diharapkan melalui aplikasi PriokQ Klik ini, pengguna dapat memproses, memonitor dan mendapatkan layanan karantina pertanian secara mudah, cepat dan bahkan tidak perlu melalui kantor, melainkan cukup melalui gawai/gadget pribadi. Saat ini PriokQ Klik mendapat sambutan yang cukup baik karena telah diakses oleh sekitar 44.970 pengguna dengan rata-rata 400 akses per hari.

Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo dalam lampiran Pidato Kenegaraannya pada tahun 2017 silam juga menyebutkan bahwa kebijakan pengendalian impor dan mendorong ekspor pada tahun 2015 – 2016 telah menunjukkan hasil yang baik. Dimana neraca perdagangan sektor pertanian tahun 2016 telah mengalami surplus sebesar USD 10,92 miliar dengan kontribusi terbesar dari subsektor perkebunan sebesar USD 21,20 miliar. 

dok: Materi Musrenbangtan 2018
Prioritas Nasional Tahun 2019 diantaranya ialah peningkatan nilai tambah ekonomi melalui pertanian. Adapun upaya peningkatan ekspor dan nilai tambah produk pertanian menjadi program prioritas dari pihak Kementerian Pertanian melalui beberapa rancangan proyek/kegiatan. Ekspor produk pertanian Indonesia sangat berpotensi untuk dikembangkan dan disinilah letak peran Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian dalam memegang andil guna mendorong akselerasi ekspor produk pertanian disesuaikan dengan anggaran yang dimiliki.

dok: Perpres No. 79/2017
Kebijakan mendorong ekspor telah berhasil mendongkrak peningkatan kegiatan ekspor di beberapa komoditas strategis pada tahun 2016 silam. Kebijakan tersebut telah dapat mendorong kenaikan ekspor beras sebesar 43,70 persen, ubi kayu 185 persen serta kenaikan ekspor daging ayam dan telur yang jauh lebih tinggi dibandingkan tahun 2015 silam.

dok: Materi Musrenbangtan 2018
Secara keseluruhan, dampak kebijakan pengendalian impor dan mendorong ekspor telah menghasilkan surplus neraca perdagangan pertanian sebesar Rp 69,60 triliun dan memberikan dampak positif dalam menggerakkan perekonomian di perdesaan.

Peran Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian terhadap akselerasi ekspor produk pertanian diantaranya terlihat pada Rapat Dengar Pendapat yang berlangsung pada Februari 2016 silam bersama dengan Komisi IV DPR RI dimana pihak legislatif dalam hal ini Komisi IV DPR RI meminta pemerintah agar semua importasi produk pertanian harus mendapat rekomendasi dari Kementerian Pertanian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.


Sedikit kisah pengalaman pada tahun 2015 silam, ketika masih menjadi Tenaga Ahli Anggota Dewan Komisi IV DPR RI yang melingkupi Bidang Pertanian, Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kelautan dan Perikanan, serta Pangan. Saat itu saya dan tim sedikit banyak terlibat dengan isu akselerasi ekspor produk pertanian dan peran karantina pertanian didalamnya.

Semisal, mengikuti perkembangan isu karantina pertanian sejak Juni 2015 dalam Rapat Dengar Pendapat antara Komisi IV DPR RI dengan Kepala Badan Karantina Pertanian. Lalu, dilanjutkan dengan rapat terkait Panja RUU tentang karantina hewan, ikan dan tumbuhan pada Oktober 2015 diantaranya dihadiri oleh pihak Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian.

dok: pribadi
Agenda rapat secara spesifik membahas tentang kompilasi dan masukan hasil kunjungan kerja ke luar negeri terhadap RUU tentang karantina hewan, ikan dan tumbuhan. Hingga akhirnya, pada Januari 2016 RUU tentang karantina hewan, ikan dan tumbuhan berhasil menjadi salah satu bagian dari Prolegnas tahun 2016 yang diprioritaskan.

Terkait pengembangan komoditas pertanian unggulan di daerah sebagai produk ekspor, maka perlu dilakukan upaya pembenahan yang meliputi: 1) Peningkatan kualitas SDM pertanian dengan mensinergikan sektor pendidikan dan pertanian; 2) Kesinambungan keberlanjutan di bidang on farm; 3) Menghilangkan ego sektoral K/L terkait yang dapat menghambat akselerasi ekspor dengan membuat kebijakan yang bersifat multi dimensi; dan 4) Pembaharuan kebijakan/regulasi.

Sejatinya, dalam meningkatkan potensi ekspor komoditas pertanian suatu daerah, diperlukan sinergisme antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan Pelaku Usaha (termasuk asosiasi dan petani) melalui komunikasi transparan, penetapan kebijakan dan pengembangan komoditas pertanian unggulan secara total dari hulu ke hilir. Hal ini mengingat bahwa produk pertanian komoditas unggulan di daerah sangat berpotensi untuk diekspor. 


Akhir kata, Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian melalui kegiatan karantina dalam melakukan akselerasi ekspor produk pertanian Indonesia guna menciptakan percepatan terhadap ekspor produk pertanian perlu diimbangi dengan kebijakan yang bersifat multi dimensi. Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian sejauh ini telah berupaya melakukan perannya berupa tindakan karantina melalui Gerakan Bersama (Geber) yang diyakini dapat mendukung program kegiatan yang telah dicanangkan.

Ayo, Geber Ekspor Produk Petani Kita, Indonesia!


Referensi:
  • Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia. 2017
  • Laporan Singkat Komisi IV DPR RI (Bidang Pertanian, Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kelautan dan Perikanan, Serta Pangan). 2016
  • Materi Musrenbangtan Kementerian Pertanian RI. 2018
  • Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Republik Indonesia tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan. Dewan Perwakilan Rakyat RI. 2016
  • Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 79/2017 tentang Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2018
  • Karantina Pertanian Perlu Ketahanan Ekstra. 2017. http://dpr.go.id/berita/detail/id/15732.
  • Jalin Kerjsama, Barantan Tembus Pasar Ekspor. 2018. http://karantina.pertanian.go.id/berita-586-jalin-kerjasama-barantan-tembus-pasar-ekspor.html

Cat: Penulis merupakan lulusan Program Doktoral/S3 Institut Pertanian Bogor (IPB). Penulis pernah menjadi Tenaga Ahli Anggota Dewan Komisi IV DPR RI bidang pertanian (Tahun 2015 – 2016). 

Ket: tulisan diikutsertakan dalam Lomba Menulis oleh Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian RI #141KARANTINAMELAYANI 
dok: karantina.pertanian.go.id/

Minggu, 03 Juni 2018

Koperasi Ideal di Era Milenial: Inklusif dan Ramah Digital


Koperasi Serba Usaha Lestari Mandiri dan inovasi produk Santri Tani di Sukabumi (dok: pribadi)

Capaian Utama Pembangunan 

Koperasi memberikan manfaat yang besar dalam mendukung aktivitas perekonomian masyarakat. Pada akhir tahun 2016 jumlah koperasi aktif di Indonesia berjumlah sekitar151.952 unit. Jumlah koperasi aktif dari tahun 2014 hingga tahun 2016 mengalami peningkatan sebesar rata-rata 4,12 persen per tahun. 


Perkembangan usaha koperasi dicerminkan oleh volume usaha, sisa hasil usaha, modal sendiri dan modal luar. Nilai volume usaha koperasi mencerminkan perkembangan transaksi usaha koperasi. Dari tahun 2014 – 2016 terjadi peningkatan jumlah volume usaha sebesar rata-rata 0,25 persen per tahun. Adapun perkembangan Sisa Hasil Usaha (SHU) yang diterima anggota koperasi pada periode yang sama mengalami peningkatan sebesar rata-rata 1,18 persen per tahun. 

Koperasi di tanah air terus mengalami perkembangan yang berarti sejak tahun 2014 hingga tahun 2016. Hal ini merupakan implikasi dari upaya penataan kelembagaan koperasi yang gencar dilaksanakan pada periode tersebut. Penataan kelembagaan yang dilakukan mencakup pengawasan bagi kesehatan kelembagaan koperasi dan pelaksanaan tindak lanjut pengawasan melalui pembubaran atau peleburan bagi koperasi-koperasi yang masuk dalam kategori tidak sehat. Penataan kelembagaan tersebut semata-mata sebagai bagian dari peningkatan kualitas koperasi untuk meningkatkan kontribusinya sebagai salah satu pilar pendukung perekonomian nasional. 


Berdasarkan data sensus ekonomi 2016, jumlah unit Usaha Mikro dan Kecil (UMK) non pertanian mendominasi sekitar 98,33 persen dari total unit usaha secara keseluruhan yang didominasi oleh: 1) Lapangan usaha perdagangan besar dan eceran serta reparasi dan perawatan kendaraan bermotor; 2) Akomodasi dan penyediaan makanan dan minuman; serta 3) Industri pengolahan. Kontribusi UMK terhadap penyerapan tenaga kerja cukup tinggi yaitu sebesar 76,28 persen. Tiga wilayah penyebaran sektor UMK paling besar adalah di Pulau Jawa, Pulau Sumatera dan Pulau Sulawesi. 


Sebagai upaya untuk meningkatkan akses UMKM ke sumber pembiayaan, sejak tahun 2007 pemerintah melaksanakan program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Total penyaluran KUR sampai dengan 31 Mei 2017 mencapai Rp 37,09 Triliun (34,78 persen dari target 2017 sebesar Rp 106,64 Triliun). Dari total penyaluran KUR tahun 2017, sebaran tertinggi adalah Pulau Jawa diikuti Pulau Sumatera. Sektor terbesar yang mengakses adalah sektor perdagangan sebesar 57 persen, selanjutnya sektor pertanian, perburuan dan kehutanan yaitu sebesar 23 persen. 


Pencapaian pelaksanaan program KUR didukung dengan beberapa program, antara lain Izin Usaha Mikro dan Kecil (IUMK) dan pendampingan UMKM dalam mendapatkan Sertifikat Hak Atas Tanah (SHAT). IUMK ditujukan agar UMKM dapat: 1) Mendapatkan kepastian dan perlindungan dalam berusaha di lokasi yang telah ditetapkan; 2) Mendapatkan pendampingan untuk pengembangan usaha; 3) Mendapatkan kemudahan dalam akses pembiayaan ke lembaga keuangan bank dan non bank; serta 4) Mendapatkan kemudahan dalam pemberdayaan dari pemerintah pusat, pemerintah daerah dan/atau lembaga lainnya 

Hingga Juni 2017, jumlah IUMK yang telah diterbitkan adalah sebanyak 231.905 atau 91 persen dari pengajuan yang diajukan oleh usaha mikro dan didominasi dengan sektor perdagangan. Wilayah terbanyak yang menerbitkan IUMK adalah provinsi Jawa Tengah, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Timur. Sementara itu, SHAT dilaksanakan agar UMKM bisa memiliki aset yang legal sehingga dapat digunakan sebagai jaminan dalam mengakses kredit di perbankan. 


Sumber pembiayaan lain bagi UMKM adalah penyaluran dana bergulir yang dilaksanakan oleh Kementerian Koperasi dan UKM melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir. Dari tahun ke tahun tren penyaluran pinjaman/pembiayaan Dana Bergulir LPDB sesuai dengan yang diharapkan dimana minimal realisasi adalah sebesar 80 persen dari Pagu Dana Bergulir. 

Secara kumulatif realisasi penyaluran pinjaman/pembiayaan Dana Bergulir LPDB – KUMKM hingga Mei 2017 sebesar Rp 8,22 Triliun. Perkembangan realisasi penyaluran pinjaman pembiayaan LPDB – KUMKM selang empat tahun terakhir dari tahun 2013 hingga 31 Desember 2016 telah disalurkan pinjaman/pembiayaan sebesar Rp 5,4 Triliun kepada 638.078 UMKM melalui 27 Mitra Koperasi Sekunder, 1.167 Mitra Koperasi Primer Langsung, 267 Mitra Perusahaan Modal Ventura dan Bank serta 971 UKM Strategis. 

Pengelolaan dana tersebut telah mampu menyerap sebanyak 1.174.341 tenaga kerja. Untuk meningkatkan akses UMKM pada permodalan, pada tahun 2017 LPDB – KUMKM menurunkan tarif layanan/bunga kepada mitranya. Sektor Simpan Pinjam dari sebelumnya 8 persen per tahun menjadi 7 persen per tahun atau 0,3 persen per bulan flat. Sedangkan sektor riil 4,5 persen per tahun atau 0,19 persen per bulan flat. 

Upaya lain untuk mempercepat peningkatan daya saing kemandirian UMKM adalah melalui program pendampingan yang melibatkan berbagai pihak terkait. Fungsi pendampingan yang dilakukan oleh berbagai pihak tersebut dapat dimaksimalkan melalui Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM. 

Hingga tahun 2017, jumlah PLUT yang telah dibangun sebanyak 51 unit di 31 provinsi. Selain itu, sebagai bentuk perwujudan untuk mendukung Nawacita telah dilakukan revitalisasi pasar baik secara fisik maupun manajemen. Hal ini juga sebagai upaya untuk meningkatkan nilai tambah produk dan jangkauan pemasaran. Pada tahun 2016, telah direvitalisasi sebanyak 79 pasar yang dikelola oleh koperasi. Selama kurun waktu tahun 2003 – 2017, Kementerian Koperasi dan UKM telah membangun 730 pasar yang dikelola koperasi di 385 kabupaten/Kota. 

Permasalahan dan Kendala 

Sebagian UMKM dan koperasi di Indonesia sudah memiliki jaringan produksi global. Namun demikian, sebagian besar masih berorientasi pada pasar domestik. Tantangan dan peluang terhadap perluasan akses pasar ekspor antara lain: 1) Perlu adanya standardisasi produk berkualitas ekspor; 2) Masih terbatasnya informasi pasar yang terbaharui (up to date); 3) Belum optimalnya penggunaan IT dalam bisnis KUMKM; dan 4) Semakin terbukanya pasar persaingan global. 


Transformasi ekonomi membuka kesempatan yang lebih besar bagi tumbuhnya wirausaha baru. Namun, masyarakat belum memiliki kapasitas yang memadai untuk memanfaatkan peluang usaha yang ada. Hal ini juga disebabkan masih rendahnya tingkat pendidikan penduduk usia kerja, sehingga perlu adanya peningkatan keterampilan teknis dan manajerial. Permasalahan selanjutnya adalah belum meratanya akses pembiayaan usaha karena belum optimalnya peran lembaga keuangan dan tersedianya pemetaan kebutuhan pembiayaan berbagai lapisan masyarakat. 

Faktor lain penghambat perkembangan UMK adalah akses permodalan dan juga pinjaman modal dengan suku bunga. Selama ini kepercayaan pengelola jasa keuangan kepada pelaku UKM masih rendah yang menyebabkan penjaminan untuk mendapatkan permodalan sulit terpenuhi. Selain itu, tingkat suku bunga yang diberlakukan untuk UKM dan konsumen di Indonesia juga masih tinggi dibandingkan negara lain. 

Arah Kebijakan dan Strategi 

Guna mengatasi berbagai kendala yang dihadapi UMKM, pemerintah melakukan kebijakan dan strategi antara lain: 1) Peningkatan kemudahan, kepastian dan perlindungan usaha termasuk perizinan terutama melalui pendampingan dan penyediaan izin usaha mikro dan kecil serta pendampingan dalam mengantisipasi dan mitigasi dampak bencana; 2) Peningkatan akses ke pembiayaan melalui peningkatan jangkauan dan kualitas penyaluran KUR, dana bergulir, start up capital bagi wirausaha baru/pemula serta pendampingan sertifikasi hak atas tanah; 3) Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia, dilakukan melalui pengembangan kewirausahaan, pelatihan manajemen, perkoperasian dan vokasi yang didukung pendampingan dari PLUT; 4) Peningkatan produktivitas melalui penguatan sentra usaha mikro khususnya dalam pengembangan komoditas unggulan; 5) Perluasan pemasaran melalui peningkatan nilai tambah produk dengan melakukan perbaikan manajemen produksi dan pemasaran koperasi/sentra produksi, inovasi produk, green business, standardisasi/sertifikasi, revitalisasi pasar rakyat, penataan pedagang kaki lima, fasilitas promosi dan trading house; dan 6) Penguatan kelembagaan salah satunya melalui penguatan koperasi sektor riil (produsen dan pemasaran) dan kemitraan investasi berbasis rantai nilai/pasok, serta pengembangan kerjasama dengan organisasi masyarakat sipil dalam bentuk usaha sosial untuk meningkatkan kemandirian usaha mikro dan masyarakat dalam pengembangan usaha produktif dan penyelesaian masalah sosial. 


Oleh karenanya, diperlukan pembentukan koperasi yang ramah anak muda. Hal ini guna mewujudkan upaya Rebranding koperasi di era milenial. Sebagaimana artikel yang pernah saya tulis berjudul “Koperasi Digital: Geliat Generasi Baru Badan Usaha Pro Rakyat di Era Modern” (baca: disini), bahwasanya koperasi merupakan bagian dari “The Power of The Informal Economy”. Pemikiran besar Bung Hatta tentang koperasi sebagai soko guru perekonomiann berdasar atas rasa kekeluargaan. Reformasi koperasi di era modern diantaranya terkait dengan ide digitalisasi koperasi dan hal tersebut perlahan telah diterapkan semisal melalui aplikasi Smart Cooperative, APP Koperasi RT, APP Koperasi Simpin, dan CUSO Mobile. 

Kunjungan ke Koperasi Karya Usaha Mandiri berlokasi di Bogor, merupakan replikasi Grameen Bank (dok: pribadi)

Pada 2014 silam kami para mahasiswa Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan Institut Pertanian Bogor pernah melakukan kunjungan ke Koperasi “Karya Usaha Mandiri” yang berlokasi di Bogor. Koperasi ini merupakan replikasi dari Grameen Bank milik Prof. Muhammad Yunus di Bangladesh. Berkenaan dengan hal tersebut, kami dalam hal ini Himpunan Mahasiswa Wirausaha Pascasarjana IPB Bogor lalu terinspirasi dan berinisiatif untuk mendirikan sebuah Koperasi. 

dok: Himawipa IPB
Sehingga pada Oktober 2014 kami meminta pihak Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bogor untuk memberikan Penyuluhan Pembentukan Koperasi. Alhasil, pada tahun 2015 terbentuklah Koperasi Himawipa IPB, sebuah koperasi serba usaha yang ramah anak muda karena diperuntukkan dari, oleh dan untuk para generasi milenial. Koperasi Himawipa berupaya menjadi bentuk badan usaha yang ideal di era milenial. Semata agar mampu meningkatkan akses (inklusivitas) terhadap pelbagai kebutuhan. Hidup Koperasi! 

dok: Koperasi Himawipa IPB

Referensi: 
  • Kementerian Koperasi dan UKM. 2017. Perkembangan Koperasi Tahun 2014 - 2016
  • Kementerian Koperasi dan UKM. 2017. Perkembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Tahun 2014 - 2016
  • Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. 2017. Perkembangan Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Tahun 2014 - 2017
  • Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia. 2017 
  • http://www.yesisupartoyo.com/2017/06/koperasi-digital-geliat-generasi-baru.html?spref=fb

Ket: Penulis merupakan Program Manager di Sekretariat Dewan Nasional Keuangan Inklusif. Isu tentang koperasi dan UMKM menjadi salah satu fokus lingkup pekerjaan tentang layanan keuangan terhadap sektor pemerintah. Penulis juga merupakan lulusan Program Doktoral/S3 Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan Institut Pertanian Bogor (IPB). 

Cat: tulisan diikutsertakan dalam Lomba Karya Tulis Kementerian Koperasi dan UKM 2018

Rabu, 09 Mei 2018

Zakat Online dan Kebaikan Inklusif

“...dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha melihat apa-apa yang kamu kerjakan” ( QS. Al Baqarah: 110) 
Zakat merupakan bagian dari Rukun Islam yang menjadi kewajiban untuk dilaksanakan. Terdapat sekitar 18 surat dan 34 ayat yang membahas dan menyebutkan tentang zakat dalam kitab suci Al Qur’an. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sendiri melansir bahwa zakat mengandung pengertian yaitu: Jumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang yang beragama Islam dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya menurut ketentuan yang telah ditetapkan oleh syarak. 

Zakat terdiri dari berbagai macam jenis. Pun, lembaga yang menyalurkan zakat sangat beragam. Selama ini saya terbiasa menyalurkan zakat melalui Dompet Dhuafa yang memiliki jargon “Non Profit Organization for Global Empowerment”. Kemudahan yang ditawarkan oleh Dompet Dhuafa di era digital saat ini ialah melalui penyaluran zakat berupa layanan zakat online melalui donasi.dompetdhuafa.org. Portal donasi yang aman dan mudah memberikan keamanan dan kenyamanan bagi para donatur Dompet Dhuafa

dok: https://dompetdhuafa.org
Berkenaan dengan hal tersebut, laman Alexa.com melansir bahwa Dompet Dhuafa melalui laman pribadinya yaitu dompetdhuafa.org menduduki peringkat ke 6.899 secara nasional. Adapun trennya menunjukkan peningkatan tiap tahunnya. 

dok: https://dompetdhuafa.org
Sedangkan secara demografi, laman Dompet Dhuafa kerap dikunjungi oleh mereka yang berjenis kelamin laki-laki, dengan status pendidikan tinggi dan biasanya dilakukan melalui tempat kerja. 

dok: https://dompetdhuafa.org
Dompet Dhuafa memberikan fasilitas pengkhususan donasi zakat berupa zakat maal, zakat fitrah, zakat penghasilan dan fidyah. Untuk zakat maal sendiri memiliki keterangan berupa penghasilan, simpanan, perdagangan, pertanian dan peternakan. Jumlah donasi ditetapkan minimal sebesar Rp 10 ribu. 

dok: https://dompetdhuafa.org

dok: https://dompetdhuafa.org
Mekanisme proses donasi melalui portal donasi online Dompet Dhuafa sangat mudah. Setelah melakukan pengisian kelengkapan profil dan pilihan zakat serta jumlah donasi, kita dipersilahkan memilih metode untuk melakukan pembayaran donasi. Adapun saya sendiri memilih melakukan transfer bank. 

dok: pribadi
Tidak selang beberapa lama pihak Dompet Dhuafa akan mengirimkan resume donasi dilengkapi dengan nomor referensi. Setelah melakukan pembayaran melalui pilihan nomor rekening bank yang tersedia, kita harus melakukan konfirmasi pembayaran. 

dok: https://dompetdhuafa.org
Sejujurnya setelah menunaikan pembayaran zakat maka perasaan akan terasa sangat menenangkan. Sebagaimana ucapan pihak Dompet Dhuafa bahwasanya “Semoga Allah memberikan pahala atas donasi yang diberikan, memberikan keberkahan atas harta yang tersisa, dan menjadikannya suci dan mensucikan”. Ya, suci dan mensucikan! 

Hal ini semata-mata dikarenakan harta yang kita peroleh hanya bersifat sementara dan titipan belaka. Sebagaimana disebutkan dalam QS. Al Baqarah: 274 yang berbunyi:
“...orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. 
Dompet Dhuafa melakukan pemberdayaan kaum dhuafa melalui program dana zakat. Pemaknaan zakat menjadi lebih dari sekedar memberi dan menerima melainkan juga menenangkan hati dan mensucikan harta benda pemiliknya serta tentu saja menyenangkan hati mereka yang lebih berhak menerima. 


Semoga di usia Dompet Dhuafa yang ke seperempat abad ini dapat lebih membentangkan kebaikan bersama untuk semua orang tanpa terkecuali (inklusif). Usia 25 tahun merupakan usia yang matang dan semakin mantap untuk menjadi inspirasi melalui edukasi syariat dan menularkan semangat untuk berzakat di tengah masyarakat Indonesia. Aamiin!

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog Berawal Dari Zakat, #25thnMembentangKebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa cek info lomba di donasi.dompetdhuafa.org/lombablog 

dok: https://dompetdhuafa.org