Rabu, 07 April 2021

Pandemi Berdampak Signifikan terhadap Lingkungan

Penelitian berjudul “Indirect Effects of COVID-19 on The Environment” (baca:disini) yang ditulis oleh Manuel A. Zambrano-Monserrate et al dan dipublikasikan oleh Jurnal Science of The Total Environment (Elsevier) pada Agustus 2020 silam seolah menjawab semua pertanyaan keterkaitan erat antara pandemi COVID-19 dengan ekosistem alam.

dok: https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0048969720323305

Manuel dan kawan-kawannya melakukan penelitian terkait dampak COVID-19 dengan tujuan untuk menunjukkan dampak tidak langsung baik positif maupun negatif dari COVID-19 terhadap lingkungan. Lebih lanjut penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara tindakan kontingensi dan peningkatan kualitas udara, pantai yang bersih dan pengurangan kebisingan lingkungan. Bisa dikatakan bahwa ini merupakan dampak positif dari adanya COVID-19. Kita memperoleh kesempatan untuk melakukan pelestarian lingkungan dan menjaga keanekaragaman hayati demi masa depan yang berkelanjutan dan kebaikan generasi mendatang di muka bumi.

Di sisi lain, aspek negatif sekunder yang ditimbulkan adalah pengurangan daur ulang dan peningkatan sampah yang tentunya dapat menyebabkan pencemaran ruang fisik berupa air, tanah dan udara. Pasalnya, ini bisa jadi merupakan imbas dari adanya himbauan dan/atau kebijakan bagi tiap pekerja untuk bekerja dari rumah dan adanya pelarangan untuk melakukan aktivitas fisik diluar rumah, jika tidak begitu mendesak. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa penyelesaian masalah persampahan sendiri selama ini masih bersifat parsial. Edukasi akan pentingnya pengelolaan sampah domestik masih perlu terus ditingkatkan agar masyarakat semakin melek lingkungan.

Ibarat dua sisi mata uang, COVID-19 memberikan dampak secara tidak langsung baik berupa dampak positif maupun negatif terhadap lingkungan sekitar. Hal ini lalu dipertegas oleh Antonio Guterres, Sekjen PBB, melalui forum TED pada 2020 silam yang secara gamblang menyebutkan bahwa “...Pandemi COVID-19 telah mengungkap ketidakadilan mendasar dan ketidaksetaraan masyarakat kita” (lihat: disini). Kendati demikian, pergolakan pandemi COVID-19 ini menyajikan kesempatan untuk memetakan haluan baru yang bisa mengatasi setiap aspek krisis iklim secara langsung. Itulah yang kemudian disebut dengan ‘Kenormalan Baru’.

Belum lagi adanya persepsi dari para akademisi dan peneliti atas masalah yang kemungkinan terjadi di masa depan (baca: disini) semisal terjadinya pandemi lainnya, perubahan iklim dan lingkungan, gelombang lain COVID-19, permasalahan sosio-ekonomi, kesehatan maupun kasus politik dan kesejahteraan. Meskipun begitu, pelbagai kemungkinan tersebut dapat menjadi sesuatu hal yang bisa dicegah asalkan adanya persiapan yang matang.

dok: https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/11/27/akademisi-menilai-persiapan-matang-bisa-mencegah-pandemi-di-masa-depan#

Oleh karenanya arah kebijakan dan strategi yang perlu diupayakan pada masa pandemi COVID-19 diantaranya adalah: Mendukung langkah-langkah percepatan pemulihan ekonomi dengan konsep keseimbangan pembangunan dan kelestarian (good forest governance); Menjaga kelestarian lingkungan; Meningkatkan penegakan hukum; serta mengantisipasi dampak lingkungan akibat pandemi COVID-19 melalui kerjasama dengan sektor swasta.

Langkah antisipatif dampak lingkungan akibat pandemi COVID-19 dapat dilakukan melalui bentuk kerjasama dengan sektor swasta diantaranya melalui pemenuhan asuransi bagi tiap masyarakat Indonesia. Semisal melalui produk Asuransi Umum (Asuransi Umum adalah Asuransi yang memberikan ganti rugi kepada Tertanggung atas kerusakan atau kerugian harta benda). Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pandemi COVID-19 telah melumpuhkan berbagai lini sektor kehidupan. Tidak sedikit masyarakat kita yang tentunya tidak hanya mengalami masalah kesehatan tapi juga terdampak atas kerusakan dan/atau kerugian harta benda diakibatkan oleh pandemi COVID-19.


Sejak 2020 silam, MSIG Indonesia melalui Sinarmas MSIG Life menghadirkan perlindungan santunan khusus terkait pandemi COVID-19. Langkah ini terus ditempuh dan menjadi bagian penting dari kampanye Biodiversity MSIG Indonesia. Satu peran swasta yang patut diacungi jempol. Hal yang luar biasa bagi sebuah perusahaan asuransi untuk berkomitmen mewujudkan perlindungan terhadap keanekaragaman hayati. Mengingat bahwa keanekaragaman hayati adalah satu hal yang mendasar guna pengembangan ekosistem yang berkelanjutan.

Bukti nyata yang telah dilakukan oleh MSIG Indonesia dalam rangka pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati yaitu (cek: disini) sebanyak 300 ribu pohon telah ditanam di lahan seluas 350 ha; 185 rumah tangga telah diberi pelatihan tentang metode penanaman; 337 siswa telah dididik tentang keanekaragaman hayati dan lingkungan; 97.057 benih telah didistribusikan untuk mendorong penghijauan diantara masyarakat setempat; 165 guru telah diberi pelatihan tentang pendidikan lingkungan; 23 spesies burung tambahan telah didokumentasikan; 21.300 bayi bakau telah ditanam; 22 sekolah telah berpartisipasi dalam pendidikan lingkungan; dan 9 spesies kupu-kupu tambahan telah didokumentasikan.

Ini merupakan langkah serius yang dillakukan oleh MSIG Indonesia demi masa depan yang berkelanjutan. Sesuai dengan tagline-nya ‘Insurance that sees the heart in everything’, MSIG Indonesia berupaya melihat arti lebih dalam segala hal. So, Mari Berasuransi! Dan menjadi bagian dari kontributor keanekaragaman hayati untuk negeri.

Cat: tulisan diikutsertakan dalam Kompetisi Penulisan Blog MSIG Indonesia

Senin, 05 April 2021

Bekerja Lebih Efektif dan Kolaboratif di GoWork

Bayangkan ketika kalian berada dalam situasi yang tidak kondusif saat hendak mengikuti rapat online selama Working from Home (WFH). Misalnya saja ketika tetangga sebelah rumah secara tiba-tiba memasang musik yang terlalu nyaring, atau mungkin saja sedang renovasi rumah sehingga menimbulkan ketidaknyamanan dalam bekerja karena terganggu dengan suara bising yang ditimbulkan.

Hal tersebut merupakan kondisi yang tidak terduga dan sulit untuk diprediksi, bukan? Oleh karenanya, WFCS alias Working from Coworking Space adalah alternatif solusinya. Tentu saja dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang berlaku selama masa pandemi Covid-19 saat ini.

GoWork merupakan salah satu Startup Indonesia yang bergerak di bidang Coworking Space. Lokasi kerjanya tersebar di beberapa wilayah di Indonesia antara lain di Bali, Medan, Tangerang dan untuk DKI Jakarta sendiri terdapat di Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Barat dan Jakarta Utara.

Laman Alexa melansir bahwa prosentase kunjungan laman GoWork selang sebulan terakhir ini adalah sekitar 85,4 persen dan mayoritas pengunjung berasal dari Indonesia. Tren kunjungan ke situs GoWork pun terus meningkat secara signifikan. Tentu hal ini merupakan sinyal yang positif.

dok: http://alexa.com/

Pasalnya, DailySocial.id (2018) melansir bahwa Coworking Space merupakan salah satu kategori Startup Indonesia yang paling diminati oleh investor (baca:disini). Bahkan angkanya lebih unggul dibandingkan Startup Indonesia yang bergerak di bidang Big Data dan Analisis Data serta Entertainmen.

Saya pun mulai tertarik untuk mencari tahu lebih lanjut tentang fitur-fitur yang dimiliki GoWork melalui aplikasi. Khawatir kejadian tak terduga terulang lagi, saya perlu melakukan upaya preventif guna berjaga-jaga jika suatu saat butuh ketenangan ekstra dalam bekerja demi kenyamanan bersama baik saya pribadi maupun mitra kerja.


Setelah melakukan pendaftaran melalui aplikasi GoWork, saya langsung masuk ke beranda. Saya menentukan titik lokasi domisili untuk menemukan lokasi GoWork terdekat yaitu Chubb Square, Plaza Indonesia dan Setiabudi yang berjarak sekitar 5,4 km dari tempat tinggal saya (fyi, saya berdomisili di Jakarta Pusat).

dok: pribadi/app GoWork
 
Saya memilih GoWork Chubb Square yang berlokasi di Jalan M.H Thamrin Jakarta Pusat untuk fitur “Desk”. Saya memperoleh info yang cukup lengkap yaitu harga Sewa Ruang Kerja di Chubb Square yang sangat terjangkau dan ramah di kantong pekerja yaitu sebesar Rp 125 ribu per hari. Selain itu saya juga memperoleh informasi ketersedian meja kerja sebanyak 5 (lima). Fasilitas lain yang tersedia yaitu high speed internet dan refreshment.

dok: pribadi/app GoWork

Jam operasional GoWork juga mengikuti ritme kerja kantoran yaitu Senin sampai Jumat dengan jam kerja pukul 09.00 hingga 16.00. Cara pemesanan pun sangat mudah, saya hanya perlu memilih tanggal kedatangan dan langsung “book a desk” deh! Selain fitur/pelayanan untuk individual seperti Desk, GoWork juga menyediakan produk lainnya seperti Meeting Room, Event space, dan lainnya. Sehingga memungkinkan kita untuk melakukan Sewa Kantor Siap Pakai, Sewa Ruang Meeting maupun Sewa Virtual Office, pokoknya GoWork jawabannya!

Oya, GoWork juga secara rutin mengadakan events, semisal di GoWork Chubb Square pada 5 April 2021 pukul 09.30 hingga 11.00 telah diadakan GoWork Monday Breakfast, dan acara tersebut gratis! 

dok: pribadi/app GoWork

Sebagai member GoWork, kita juga dapat memperoleh beragam keuntungan lainnya semisal potongan sekian persen untuk beberapa item di masing-masing kategori.

dok: pribadi/app GoWork

Pastinya menyenangkan rasanya bekerja di lokasi GoWork yang dekat dengan tempat tinggal karena kita bisa menghemat banyak tenaga, waktu dan tentunya biaya transportasi. Sudah bisa dipastikan bahwa lokasi-lokasi kerja GoWork sangat strategis dan ditunjang dengan fasilitas yang aman, nyaman, dan modern. Tidak sabar rasanya menjadi bagian dari komunitas partner GoWork. Bekerja dengan penuh ketenangan dan semakin produktif dalam berkarya.

Rachel Botsman, seorang peneliti, pada 2010 silam di forum TEDxSydney telah menyebutkan tentang masa depan “coworking” pada topik pembicaraannya yang berjudul “The Case for Collaborative Consumption” (lihat: disini). Rachel menjelaskan bahwa coworking akan menjadi sebuah “Collaborative Lifestyles”. Ya, pemikiran Rachel sebelas tahun yang lalu memang terbukti secara akurat pada saat ini. Seperti tagline GoWork bahwa “Work is Changing. Seize The Opportunity”.

Ayo, #KerjaLebihDekat di GoWork!

Cat: tulisan diikutsertakan dalam GoWork Blog Competition 2021 #KerjaLebihDekat


Kamis, 25 Maret 2021

Bijak Kelola Sampah Secara Bertanggung Jawab


Anak saya lahir di tanggal 28 Februari. Ya, selang seminggu sejak Hari Peduli Sampah Nasional yang jatuh pada tanggal 21 Februari. Memang tidak ada keterkaitan erat maupun langsung, hanya saja saya semakin merasa bahwa ‘Sampahku adalah Tanggung Jawabku’, tidak terkecuali popok anakku.

Pasalnya, popok anak saya merupakan salah satu penyumbang komposisi sampah kota yang terbesar kedua setelah sampah organik (44 persen) dengan nilai 21 persen. Angka ini berdasarkan studi Bank Dunia pada 2019 silam. Bayangkan saja bahwa popok anak saya memiliki nilai persentase tertinggi dibandingkan komposisi sampah kota lainnya seperti kantong plastik (16 persen), plastik lainnya (9 persen), kemasan plastik (5 persen), dan kaca dan logam (4 persen).

dok: https://databoks.katadata.co.id/

Kekhawatiran saya atas pelbagai jenis sampah kota terutama popok yang tidak dikelola dengan baik bisa jadi masuk ke saluran air di penjuru kota, dan tentu saja dapat menimbulkan masalah tersendiri untuk lautan Indonesia. Dampaknya sangat masif dan berakibat fatal. Lantas seperti apa seharusnya solusi pengelolaan sampah di tanah air?

Tentu yang kita butuhkan adalah pola ‘Waste Management Indonesia’. Menarik sekali ketika menyimak perbincangan Shah Rukh Khan dengan Mani Vajipey, beliau adalah CEO Banyan Nation. Pada forum TED Talks India di 2019 silam, mereka berbincang tentang ‘How India’s Local Recyclers Could Solve Plastic Pollution’. Disampaikan bahwa pengelolaan limbah yang salah akan mengakibatkan masuknya limbah tersebut ke sumber air kita. Bahkan satu hal yang mengkhawatirkan adalah beberapa tahun kedepan kemungkinan besar akan lebih banyak sampah di lautan daripada ikan, jika pengelolaan sampah tidak terlaksana dengan baik. Oleh karenanya Mani Vajipey dan tim berkomitmen untuk membangun India dimana 100 persen sampah plastik akan didaur ulang dan digunakan kembali secara ilmiah sehingga sampah plastik tersebut tidak akan lagi mengancam sumber air maupun kelangsungan kehidupan baik di darat maupun laut.


Tidak hanya dari segi konsumen, pun produsen perlu memahami Extended Producer Responsibility Indonesia sebagaimana tertuang dalam Undang-undang Nomor 18 tahun 2008 tentang Extended Producer Responsibility (EPR) yang merupakan kebijakan dari pemerintah dimana produsen juga perlu bertanggungjawab atas kemasan yang dihasilkan dari produknya. Pengelolaan sampah sebuah brand ini tentu akan sangat berpengaruh terhadap loyalitas masyarakat selaku konsumen.


Presiden Republik Indonesia dalam Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden tahun 2020 menyebutkan bahwa pemerintah telah berhasil mengembangkan inovasi pembangkit listrik tenaga sampah dengan tujuan untuk mengurangi volume sampah khususnya di daerah perkotaan. Lantas, apakah hal tersebut merupakan akhir dari permasalahan sektor persampahan selama ini? Jawabnya, belum!

Sebagaimana data yang diperoleh bahwa capaian penanganan sumber pencemar pada tahun 2019 yaitu timbulan sampah yang ditangani sebesar 33,93 juta ton dan pengurangan timbulan sampah mencapai 7,34 juta ton. Penyelesaian masalah sampah yang masih bersifat parsial dan belum terpadu serta belum didukung perubahan perilaku masyarakat untuk memilah sampah merupakan salah satu dari sekian banyaknya permasalahan lingkungan yang utama. Nah, mari kita garis bawahi kata ‘perubahan perilaku masyarakat’.

Buktinya, masyarakat memang masih lebih memilih untuk membakar sampah, dan membuang ke bantaran kali sungai, alih-alih memilih dan memilah sampah untuk daur ulang. Tindakan rumah tangga terhadap sampah yang dihasilkan ini mencerminkan kesadaran masyarakat untuk mendaur ulang sampah masih tergolong rendah. Belum lagi diperparah dengan adanya aktivitas pembuangan sampah di badan sungai, yang tentunya dapat mengakibatkan sampah tersebut mengalir ke laut. Badan Pusat Statistik (2018) menyebutkan bahwa hanya sekitar 1,2 persen rumah tangga yang mendaur ulang sampahnya.

Aparna Nancherla pada 2020 silam sempat menyampaikan pandangannya dan kiat-kiat terkait ‘Personal Waste Management’. Dia berbagi cerita tentang ‘The Joy of Taking Out The Trash’. Hmm, apa serunya? Aparna mengatakan bahwa salah satu kegiatan favoritnya adalah “membuang sampah”. Bagi seorang Aparna aktivitas membuang sampah adalah hal yang membahagiakan, karena dengan begitu dia bisa mengurangi hal-hal yang menurutnya tidak perlu. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa perilaku membuang sampah pada tempatnya harus dididik semenjak dini dan menjadi kebiasaan bahkan dianggap sebagai suatu hal yang menyenangkan. Sehingga kita akan terus melakukannya dengan senang hati, tanpa merasa terbebani.

Sama halnya dengan yang dilakukan oleh Waste4Change melalui layanan Personal Waste Management yaitu berupa layanan pengangkutan sampah anorganik langsung dari rumah para klien. Tentu hal ini sangat memudahkan bagi masyarakat agar memperoleh akses terhadap jasa layanan persampahan. Adapun jenis sampah anorganik yang diterima oleh Waste4Change seperti kertas (HVS, karton, kardus), dan non kertas (plastik, kaca, logam, sachet, karet dan tekstil).


Waste4Change juga memastikan sampah dikelola secara optimal dan bertanggung jawab guna mengurangi jumlah sampah. Alur pengelolaan sampah yang dilakukan oleh Waste4Change yaitu: Pertama, sampah diangkut dalam keadaan terpilah oleh Mitra Angkut. Lalu, sampah dipilah ulang oleh Mitra Olah. Nah, bila bentuknya sampah daur ulang maka sampah tersebut akan diolah oleh Mitra Daur Ulang, sedangkan bila bentuknya sampah residu maka sampah tersebut akan dikirim ke titik transfer TPS yang telah disediakan oleh pemerintah daerah, kemudian sampah residu tersebut dibawa ke TPA resmi kota.

Lalu, harganya? Tenang saja, harganya sangat terjangkau dan kita juga bisa memilih berdasarkan intensitas pengangkutan dan jangka waktu dimana pengangkutan akan dilakukan setiap seminggu sekali atau dua minggu sekali. Paket yang tersedia antara lain: 1) Paket 3 bulan seharga Rp 255 ribu (sudah termasuk PPN); 2) Paket 6 bulan seharga Rp 555 ribu; atau 3) Paket 12 bulan seharga Rp 1.035 ribu. Terjangkau, kan?

Dengan harga yang sangat ramah di kantong tersebut, fasilitas ramah lingkungan yang bisa didapatkan adalah:1) Pengangkutan sampah dalam kondisi terpilah; 2) 2 Recycled Trash Bags ukuran 60x100 cm (p.s warna biru untuk sampah kertas dan warna oranye untuk sampah non kertas); 3) Laporan timbulan sampah yang dihasilkan; dan 4) Panduan dan tata cara pemilahan sampah. Tim Waste4Change juga melakukan edukasi literasi agar masyarakat lebih melek pengelolaan sampah.

Di satu sisi, kebijakan peningkatan pengelolaan lingkungan hidup yang diarahkan antara lain untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dan segenap jajaran terkait dalam pengelolaan sampah sangat dibutuhkan. Mari bersikap bijak dalam mengelola sampah, karena sejatinya masalah persampahan adalah tanggung jawab bersama.

Sumber:
Cat: Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog Waste4Change Sebarkan Semangat Bijak Kelola Sampah 2021
Nama penulis: Yesi Hendriani Supartoyo (yesisupartoyo77@gmail.com)

dok: https://waste4change.com/

Rabu, 17 Maret 2021

Care and Beauty, Keindahan Sempurna Seorang Wanita Lahir dari Hati

Keindahan sempurna seorang wanita berasal dari dalam, literally. Hati yang hangat serta kepala yang dingin diperlukan guna menjaga kewarasan. Kesehatan rohani dan jasmani perlu terus dijaga, apalagi di era pandemi seperti saat ini.

Lantas, bagaimana dengan bentuk tubuh yang ideal?

Sejak menikah di 2018 silam, dan hamil di 2019 lalu melahirkan anak pertama di 2020, saya mengalami perubahan bentuk tubuh yang terbilang signifikan. Sebenarnya, istilah insecure dengan bentuk tubuh (apalagi pasca melahirkan) tidak pernah ada dalam kamus kehidupan saya, hanya saja omongan orang terkadang tidak bisa dibendung dan tanpa disadari telah menyentuh alam bawah sadar pikiran kita, terlebih saat kita sedang berada dalam fase/kondisi yang tidak begitu baik.

dok: https://justfiori.com/

Disinilah letak peran penting dan dukungan dari pasangan maupun keluarga. Serta, resiliensi dari wanita itu sendiri apakah mau menerima secara langsung, ataukah memilih untuk mempertimbangkan omongan tersebut atas dasar teori/ilmiah/pengalaman atau malah mengabaikan saja.

Di satu sisi, berperan sebagai seorang Ibu sekaligus istri, membuat saya merasa perlu untuk terus menjaga aset terbaik yang dimiliki. Sejak menjadi seorang Ibu selang setahun belakangan ini, saya belajar dan semakin menyadari tentang makna keindahan sempurna seorang wanita.

Kaitan dengan bentuk tubuh yang ideal, terselip beberapa fakta tentang payudara wanita (baca: disini). Payudara bisa jadi merupakan bagian yang paling indah dari tubuh wanita. Kesempurnaannya pun semakin meningkat ketika aset terbaik yang dimiliki wanita tersebut bermanfaat dan menjadi sumber penghidupan bagi seorang bayi melalui Air Susu Ibu (ASI). Pemberian ASI sendiri ditargetkan minimal dua tahun karena ini merupakan fase terbaik seorang anak guna tumbuh kembang otak dan tubuhnya.

Lalu, muncullah perbincangan tentang fakta menarik bentuk payudara. Bukan hal yang tabu lagi untuk membahas soal bentuk ketika seorang wanita tengah/telah melewati fase menyusui. Sebagai seorang ibu menyusui, isu dan permasalahan tentang bentuk menjadi hal yang layak untuk diperbincangkan. Tidak hanya itu, terkadang para wanita butuh solusi dalam hal perawatan bentuk. Bahkan, dengan dasar informasi yang cukup, kita dapat menempuh langkah preventif guna pencegahan agar aset yang kita miliki tetap terjaga keindahan dan kesempurnaannya.

Adapun PT. France Valege International (PT. FVI) sebagai pelopor Produk underwear / pakaian dalam dan pakaian pembentukan. Perusahaan berskala internasional ini telah berdiri sejak 2004. Jadi, sudah sekitar 16 tahun PT. FVI berkecimpung dalam usaha di bidang pemasaran Produk underwear / pakaian dalam dan pakaian pembentukan dengan brand FIORI yang diproduksi oleh PT. Golden Persada Multitex yang telah berpengalaman dalam memproduksi dan memasarkan Produk underwear / pakaian dalam ke mancanegara sejak 1986.


Berangkat dari visi ‘Menjadi perusahaan multinasional yang bertujuan menciptakan insan Indonesia yang mandiri dan bebas dari masalah finansial’, PT. FVI memiliki misi untuk: 1) Mengedukasi masyarakat perihal Produk underwear / pakaian dalam yang tepat meliputi aspek kenyamanan, penopangan, pembentukan, keindahan dan kesehatan; 2) Mengedukasi masyarakat perihal tata rias yang tepat meliputi aspek perawatan, keindahan dan kesehatan; 3) Membuka lapangan usaha yang seluas-luasnya bagi masyarakat Indonesia; 4) Meningkatkan keharmonisan rumah tangga; dan 5) Meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Motto “Care and Beauty” yang diusung oleh perusahaan ini seolah menegaskan bahwa kedua hal ini dianggap perlu berjalan secara beriringan. Hal ini juga menjadi suatu bentuk ajakan kepada seluruh wanita Indonesia agar dapat memilih Produk underwear / pakaian dalam secara tepat, tanpa mengurangi bentuk yang fashionable.

Tidak hanya Produk underwear / pakaian dalam, perusahaan ini juga memiliki produk Cosmetic / Kosmetik yaitu Valege Cosmetics. Sebagai penggemar dan pengguna lipstik, saya tertarik pada produk Lip Tattoo Valege, produk ini memiliki magic color yang sangat unik dengan dua fungsi dasar yaitu Color Lip Base berwarna cerah dan Lip Gloss yang melembabkan, memberi kesan bibir glossy. Magic color memberikan finishing warna yang tidak selalu sama untuk setiap aplikasi tergantung warna dan kondisi bibir. Lip Tattoo Valege ini juga diperkaya squalane dan vitamin E untuk menjaga kesehatan bibir. Dibanderol seharga Rp 98 ribu dengan hasil yang memuaskan, worth it!

dok: https://justfiori.com/

dok: Shopee Fiori Design Official Shop

Akhir kata, pada dasarnya semua wanita terlahir sempurna, kita hanya perlu untuk terus bersyukur dan menjaga hati dan kesempurnaan yang telah dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Cara menjaga aset terbaik salah satunya adalah dengan memilih dan mengenakan produk terbaik. Salam sehat untuk para wanita Indonesia!

Cat: tulisan diikutsertakan dalam Fiori Blog Contest

dok: https://justfiori.com/

Sabtu, 13 Maret 2021

Perekonomian Hijau dan Lingkungan Berkelanjutan: Status Quo?


Pada Februari 2021 lalu, Parlemen Republik Indonesia melalui Badan Kerjasama Antar Parlemen DPR RI menggelar Focus Group Discussion tentang pertumbuhan hijau bersama para pakar dengan tema “Meningkatkan Akses Bagi Publik terhadap Informasi dan Partisipasi Publik dalam Peran Parlemen Khususnya Legislasi dan Pengawasan terkait Pertumbuhan Ekonomi Hijau di Indonesia.”

Ditekankan bahwa pemerintah Indonesia berkomitmen untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan dan merata melalui pencanangan strategi perekonomian hijau. Lebih lanjut dijelaskan bahwa ekonomi hijau mampu mendorong perwujudan pembangunan berkelanjutan yang inklusif dan menganut prinsip kesetaraan. Forum diskusi tersebut menyepakati tentang pentingnya menggagas serta memberdayakan kebijakan ekonomi hijau dalam menjaga tingkat pertumbuhan ekonomi sekaligus melindungi lingkungan. Mengingat pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan tren yang cukup fluktuatif selang beberapa tahun terakhir ini sebagaimana dilansir oleh laman tradingeconomics.com berikut ini:

dok: http://tradingeconomics.com/

Pasalnya, permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan lingkungan hidup Indonesia berupa kerusakan lingkungan yang secara akumulatif diakibatkan proses belasan sampai puluhan tahun dalam kegiatan masyarakat memenuhi kebutuhan ekonomi, yang belum disertai dengan praktik sistem keberlanjutan yang memadai, sehingga memberikan beban kerusakan lingkungan. Secara bertahap terus dilakukan pemulihan lingkungan dengan dukungan yang masih terbatas (kapasitas dan anggaran).

dok: Lampid Presiden 2020

Hal ini menjadi krusial lantaran keterbatasan sumber daya alam dan penurunan kualitas lingkungan hidup berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih bertumpu pada sektor komoditas dan sumber daya alam. Kebijakan dan capaian pembangunan lingkungan hidup merupakan salah satu aspek penting untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Adapun capaian indikator utama peningkatan kualitas lingkungan hidup adalah Indeks Kualitas Lingkungan Hidup yang meningkat 1,41 poin jika dibandingkan dengan tahun 2018.

dok: Lampid Presiden 2020

Capaian Utama Pembangunan

Sejenak kita mundur ke dua tahun silam tepat pada 2019, dimana Angela Francis, seorang ‘Climate advocate/Champion for the green economy’, hadir di forum TEDxLondonWomen dan menyampaikan tentang ‘How to get everyone to care about a green economy’. Dia menyampaikan dengan bahasa yang sederhana namun mengena, bahwasanya upaya mewujudkan ekonomi hijau akan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan serta kualitas hidup, serta memberikan pekerjaan yang lebih baik, ekonomi yang lebih baik, dan peluang yang lebih banyak lagi.

Jadi, pada intinya ekonomi hijau adalah upaya meningkatkan kehidupan. Hal yang dapat dilakukan diantaranya tentu melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis lingkungan. Lebih lanjut Angela menyampaikan bahwa perlunya berinvetasi dalam perekonomian agar tercipta persaingan bisnis yang berdasar pada desain, teknis, penggunaan sumber daya secara cerdas, dan semua hal yang dibutuhkan guna mendorong keberhasilan ekonomi hijau.

Berangkat dari sikap abai terhadap dua sektor terpenting bagi lingkungan yaitu pertanian dan manufaktur yang ternyata sangat beresiko, Angela memberikan gambaran dan jalan keluar tentang cara baru guna memproduksi barang dan pangan secara berkelanjutan. Kata kuncinya adalah berdayakan ekonomi masyarakat berbasis lingkungan dengan apa yang menurut masyakat itu penting, bukan berdasarkan apa yang menurut kita penting.

Pada artikel tulisan (unpublished) yang saya tulis bersama salah satu rekan sejawat berjudul “Pendekatan Integrated Coastal Zone Management (ICZM) untuk Kota Hijau Pesisir Tropis Berkelanjutan di Indonesia: Tinjauan Konseptual” (baca: disini) mengungkapkan bahwa implementasi dari pertumbuhan hijau sangat penting dilakukan guna mewujudkan kehidupan masyarakat yang berkualitas, sehat, sejahtera dan memiliki lingkungan hidup yang lestari. Adopsi pertumbuhan hijau oleh masyarakat dapat menjadi salah satu ukuran ekonomi yang ramah lingkungan sehingga diharapkan mampu mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat.

Perlu kita pahami bersama bahwa kebijakan pengarusutamaan dan pembangunan lintas bidang menjadi dasar untuk mewujudkan pembangunan yang berkualitas, inklusif dan berkelanjutan. Hal ini mengingat pembangunan berkelanjutan merupakan salah satu kebijakan pengarusutamaan di dalam RKP 2020. Perlu diingat bahwa kaidah tujuan pembangunan berkelanjutan yaitu tidak meninggalkan satupun kelompok masyarakat (no-one left behind).

Mencapai lingkungan hidup yang berkelanjutan merupakan salah satu misi Nawacita Kedua yang mendukung terwujudnya visi RPJMN 2020 – 2024 yaitu Terwujudnya Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong. Selanjutnya upaya membangun lingkungan hidup, meningkatkan ketahanan bencana dan perubahan iklim merupakan salah satu dari agenda pembangunan.

Prioritas nasional ketahanan pangan, air, energi dan lingkungan hidup dilaksanakan untuk menyediakan diantaranya pelestarian lingkungan hidup guna memenuhi kebutuhan dasar dan mendorong sektor-sektor ekonomi produktif di berbagai wilayah. Pada intinya, upaya ketahanan lingkungan hidup ini dilaksanakan untuk mencapai kemandirian, keadilan dan keberlanjutan pembangunan.

Arah Kebijakan dan Strategi

Oleh karenanya, diperlukan arah kebijakan dan strategi berupa kebijakan peningkatan pengelolaan lingkiungan hidup yang diarahkan untuk: Mengurangi beban lingkungan dengan penyediaan teknologi yang semakin ramah terhadap lingkungan dan kesehatan serta mempertahankan perikehidupan masyarakat dan dunia usaha; Meningkatkan pembinaan pengelolaan lingkungan hidup untuk aktivitas yang dilakukan oleh pelaku usaha dan masyarakat; Menyediakan infrastruktur lingkungan untuk mengolah limbah dari masyarakat; Melakukan penegakan hukum lingkungan hidup; serta Meningkatkan kapasitas masyarakat dan pemerintah daerah dalam pengelolaan sampah.

Kaitan dengan pandemi yang terjadi saat ini maka strategi untuk mewujudkan arah kebijakan peningkatan kualitas lingkungan hidup selama pandemi Covid-19 meliputi: Pencegahan pencemaran dan kerusakan sumber daya alam dan lingkungan hidup; Penanggulangan pencemaran dan kerusakan sumber daya alam dan lingkungan hidup; Pemulihan pencemaran dan kerusakan sumber daya alam dan lingkungan hidup; Perlunya sinergitas antarpihak terkait karhutla, mulai dari tingkat pusat hingga tingkat desa; serta Penguatan kelembagaan dan penegakan hukum di bidang sumber daya alam dan lingkungan hidup.

Pada masa pandemi Covid-19 sepanjang tahun 2020, pemerintah telah berupaya untuk: Mendukung langkah-langkah percepatan pemulihan ekonomi dengan konsep keseimbangan pembangunan dan kelestarian (good forest governance); Menjaga kelestarian lingkungan; Mencegah karhutla di tingkat tapak dengan melibatkan berbagai sektor; Meningkatkan penegakan hukum; serta Mengantisipasi dampak lingkungan akibat pandemi Covid-19 melalui kerjasama dengan sektor swasta.

Wabah pandemi Covid-19 mengajarkan kita untuk menjaga kelestarian lingkungan. Indonesia harus terdepan dengan berpikir menghijaukan alam dengan membangun ekosistem green economy policy. Praktek ekonomi hijau harus konsisten dilaksanakan sehingga menjadi tolak ukur ideal membuat kebijakan ekonomi hijau. Pemulihan hijau dari pandemi dan pengembangan perekonomian hijau adalah peluang yang patut dijajaki lebih jauh. 

Akhir kata, aktualisasi good governance yang kuat dan nyata menjadi kebutuhan untuk langkah-langkah menuju kemajuan Indonesia dengan pendekatan keseimbangan pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Pada akhirnya, perekonomian hijau dan lingkungan berkelanjutan bukan sebuah trade-off, melainkan sebuah keharusan yang bersifat kebaruan, asalkan masyarakat berdaya secara ekonomi dan azas pelestarian lingkungan terlaksana secara baik. Semata demi anak cucu kita nanti.

Sumber:
Cat: tulisan diikutsertakan dalam Lomba 1000 Gagasan sebagai bentuk ajakan kepada publik untuk pembangunan yang lebih baik dan berkelanjutan. Penulis adalah Doktor Ilmu Perencanaan Pembangunan WIlayah dan Perdesaan, Institut Pertanian Bogor (IPB)

dok: https://www.madaniberkelanjutan.id/

Selasa, 09 Maret 2021

GuruInovatif.id, Inovasi Platform Pembelajaran dan Sertifikasi Guru

Sekitar 15 tahun yang lalu tepatnya di tahun 2006, Richard Baranjuk seorang ‘Education Visionary’ sekaligus pendiri Connexions (OpenStax) yaitu sebuah platform sistem pendidikan online, tampil di forum TED Talks dan bercerita tentang ‘The Birth of The Open-Source Learning Revolution’. Hal yang luar biasa bahwa platform ini menjadi landasan untuk mengembangkan dan menyampaikan bahan ajar terutama bagi para guru di berbagai penjuru dunia. Siapa sangka, di era digital seperti saat ini, bahkan sejak munculnya pandemi Covid-19 selang setahun terakhir, dunia pendidikan semakin berupaya keras beradaptasi dan menyesuaikan diri di tengah dinamika global yang terjadi. Inovasi platform online/daring sebagai media pembelajaran menjadi sangat relevan saat ini.

Tidak bisa dipungkiri bahwa di masa pandemi ini muncul permasalahan baru yaitu pembelajaran yang harus dilakukan dengan metode pembelajaran jarak jauh yang ternyata belum diikuti dengan kesiapan pendidik, peserta didik maupun infrastruktur pendukung yang memadai. Harus kita akui bahwa tidak semua guru memiliki kompetensi yang memadai untuk melaksanakan pembelajaran daring secara efektif.

Selain itu, keterbatasan akses siswa terhadap konten-konten pembelajaran serta kurangnya kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh menyebabkan penyampaian materi dan umpan balik pembelajaran tidak efektif. Pembatasan fisik dan sosial menghambat pelaksanaan berbagai upaya peningkatan kualitas dan penjaminan mutu. Kegiatan peningkatan kompetensi guru disesuaikan melalui mekanisme daring yang membutuhkan kesiapan infrastruktur seperti koneksi internet, infrastruktur dan modul.

Saat pandemi, diperlukan peningkatan kapasitas guru untuk mendukung proses belajar mengajar. Hasil survei Wahana Visi Indonesia yang berjudul "Suara Guru di Masa Pandemi Covid-19" menyebutkan sebanyak 46 persen guru membutuhkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) dan 43 persen manajemen pendidikan di masa darurat. Laporan tersebut juga menyebutkan, guru daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) cenderung lebih membutuhkan kompetensi PHBS sebesar 54 persen dan kurikulum sebesar 31 persen dibandingkan dengan guru non 3T yang lebih membutuhkan kompetensi psikososial.

Hasil survei Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru Indonesia (P2GI) juga mencatat, bahwa mayoritas guru Indonesia (sekitar 40 persen) mengajar secara daring atau melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama 1-2 jam per harinya di masa pandemi. Adapun aplikasi pembelajaran daring yang menjadi favorit para guru adalah media sosial. Tentu saja hal ini menjadi peluang sekaligus tantangan tersendiri.

Oleh karenanya, kebijakan bidang pembangunan pendidikan perlu diarahkan untuk mendukung upaya penanganan dan pemulihan kondisi pandemi Covid-19 diantaranya melalui peningkatan akses dan kualitas pembelajaran jarak jauh misalnya melalui optimalisasi pemanfaatan platform pembelajaran daring serta penyediaan materi-materi pembelajaran daring bagi guru serta peningkatan kompetensi guru dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Serta melanjutkan program-program pelatihan guru dan tenaga kependidikan melalui mekanisme daring yang dapat menjangkau lebih banyak peserta dan membutuhkan pertemuan tatap minimal.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mencatat jumlah guru yang tersertifikasi di Indonesia belum mencapai 50 persen. Sertifikasi menjadi ukuran dalam menentukan kelayakan profesi. Persentase guru yang tersertifikasi paling banyak terdapat di jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebesar 48,44 persen, lalu Sekolah Dasar (SD) sebesar 45,77 persen dan kemudian Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebesar 28,49 persen.

Sertifikasi guru merupakan amanat UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, karena kualitas guru dapat dilakukan dengan sertifikasi. Adapun sertifikasi guru bertujuan untuk menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai agen pembelajaran. Selain itu, bertujuan untuk meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan.

Disinilah letak peran GuruInovatif.id sebagai Platform Belajar dan Sertifikasi Guru Indonesia. Bagi yang belum tahu, Guruinovatif.id merupakan platfrom baru untuk guru di seluruh Indonesia agar dapat melatih kemampuan guru dalam mengajar dengan berbagai fitur mulai dari kursus online, webinar, sertifikasi, dan berbagai program online lainnya. GuruInovatif.id lebih dari sekedar platform belajar dan sertifikasi online Guru Indonesia. Platform ini menjadi tempat bagi para guru belajar dan mengembangkan kompetensi di bidang akademiknya masing-masing. Alexa Rank sendiri melansir platform GuruInovatif.id menempati posisi ke 8.475 dalam skala nasional.

Tapi, kenapa harus belajar di GuruInovatif.id?


Jawabannya adalah karena platform ini menyediakan ragam fasilitas dan menjadi tempat untuk Melatih kemampuan guru; Trainer berpengalaman; Kursus bersertifikasi; dan tentunya Kemudahan belajar. Selain itu, GuruInovatif.id dan HAFECS telah dipercaya oleh guru dan pegiat pendidikan dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Total sekitar 50 ribu guru dan pegiat pendidikan; 10 ribu sekolah dan instansi; 300 pelatihan; dan 300 Kota/Kabupaten. GuruInovatif.id merupakan transformasi pendidikan melalui kursus dan pelatihan online untuk guru Indonesia. GuruInovatif.id juga menghadirkan berbagai pilihan program online baik kursus dan webinar untuk Guru Indonesia mengasah kemampuan mengajar. GuruInovatif.id membuat cara paling mudah untuk guru belajar. Hanya perlu melalui 5 proses untuk dapat langsung mendapatkan fasilitas dari GuruInovatif.id dan belajar bersama trainer berpengalaman.

Saya pun tertarik mencoba fitur di GuruInovatif seperti kursus gratis, sertifikat penyelesaian & kelulusan, fitur affiliate, dan fitur lainnya. Pada Rabu, 10 Maret 2021 saya mengikuti GI Class #3 dengan topik “Kreasi Media Pembelajaran Menggunakan Canva”, jujur bagi saya pribadi ini merupakan hal yang baru. Dimana saya mempelajari tentang Pengenalan Canva; Pengenalan tools dalam pembuatan presentasi; Membuat kreasi presentasi menggunakan Canva; Membagikan/Mengeksport/Mengunduh file yang sudah dibuat; Merekam presentasi (tampil wajah pembicara sekaligus audio terekam). Ini sangat menarik dan super keren!

dok: http://guruinovatif.id/

dok: http://guruinovatif.id/

Karena terlepas apapun profesinya, tidak terkecuali guru, tentu ilmu ini sangat berguna dan menambah wawasan. Bayangkan dengan durasi 90 menit, materi yang kita peroleh sangat bermanfaat dan dibimbing langsung oleh pakarnya dari GuruInovatif.id dan hebatnya lagi pelatihan ini bebas biaya investasi alias GRATIS! Selain itu juga tersedia pilihan paket premium dengan biaya yang sangat terjangkau yaitu Rp 24.900 dan kita bisa memperoleh benefit berupa E-Sertifikat, materi dan video webinar. Keren!

dok: http://guruinovatif.id/

Tepat hari H yaitu Rabu (10 Maret 2021) pukul 13.00 saya bergabung dengan para Bapak/Ibu guru di platform zoom untuk sama-sama mengikuti kelas “Kreasi Media Pembelajaran Menggunakan Canva”. Total peserta selang setengah jam kelas berlangsung ada sekitar 289 orang. Wow! Terlihat bahwa para peserta antusias dan berkomitmen untuk bergabung dan mengikuti kelas pelatihan pada siang hari tersebut.


dok: pribadi

Jadi, buat teman-teman yang saat ini berprofesi sebagai guru (bahkan non guru pun sebenarnya bisa juga bergabung), ayo silahkan daftar dan mari belajar bersama di platform GuruInovatif.id dan jangan ragu ayo laksanakan Sertifikasi Guru di GuruInovatif.id, platform online learning bersertifikat untuk guru. Ayo bangun keterampilan mengajar dengan mengikuti berbagai kursus online mulai dari kursus gratis hingga premium. GuruInovatif.id memberikan kemudahan akses sehingga guru belajar bisa dimana saja dan kapan saja. Salam sehat!

Sumber:

cat: tulisan diikutsertakan dalam Lomba Blog GuruInovatif.id sesi 2