Selasa, 24 April 2018

BebasBayar, Inovasi Fintech E-Payment Solution Mendukung Keuangan Inklusif

dok: Mindful Mum
Akses perbankan yang masih rendah membuka peluang besar bagi tumbuhnya finansial teknologi (fintech) di tanah air. Kemajuan ekonomi digital diharapkan dapat meningkatkan pendanaan bagi para pelaku usaha yang belum terjangkau oleh sektor perbankan dengan hadirnya layanan Peer to Peer (P2P) lending yang pada akhirnya dapat memantik pertumbuhan. 

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), penduduk dewasa yang memiliki rekening di lembaga keuangan formal mencapai 36,06 persen pada tahun 2014. Sementara yang memiliki tabungan hanya 15,3 persen, bahkan yang memiliki pinjaman ke lembaga keuangan formal hanya 8,5 persen. Sehingga masih ada pasar yang belum tergarap oleh sektor perbankan tersebut yang kemudian menjadi peluang dan dapat disasar oleh para pemain P2P lending. 

Dok: Bank Indonesia
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melansir jumlah start up Fintech sepanjang tahun 2016 meningkat hampir tiga kali lipat. Pada triwulan I baru ada 51 startup, tapi pada triwulan IV startup yang terindentifikasi meningkat menjadi 135 startup. Jumlah tersebut belum termasuk Fintech yang dikembangkan oleh lembaga keuangan maupun perusahaan telekomunikasi dan/atau Fintech asing yang beroperasi di Indonesia. 

dok: OJK
Fintech Payment (pembayaran) masih mendominasi pasar Fintech lokal, yakni sebanyak 57 startup atau sekitar 42,54 persen. Sementara berdasarkan tahun operasional, sebanyak 77,5 persen Fintech baru menjalankan kegiatan operasionalnya pada tahun 2015. Munculnya Fintech telah mengubah model industri keuangan yang sebelumnya dimonopoli oleh perbankan menjadi industri alternatif yang lebih demokratis, transparan, murah, serta mampu melayani lebih banyak konsumen. 

dok: OJK
Pelaku Fintech (finansial teknologi) Indonesia pada periode 2015-2016 tumbuh 78 persen. Cepatnya perkembangan teknologi digital telah memberi dampak yang sangat besar terhadap pertumbuhan sektor fintech di tanah air pada periode tersebut. 

Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) dalam laporan DailySocial yang bertajuk Fintech Report 2016 menegaskan bahwa jumlah pemain finansial teknologi lokal yang terdaftar hingga November 2016 mencapai sekitar 135-140 pemain. Sementara yang melakukan registrasi dan menjadi anggota penuh mencapai 55 pelaku yang terdiri atas 41 pemain fintech 3.0 dan 14 fintech 2.0. 


Berdasarkan profil, sebagian besar fintech lokal bergerak di sektor pembayaran, yaitu mencapai 43 persen. Kemudian sektor pinjaman sebesar 17 persen, diikuti agregator sebesar 13 persen, crowfunding sebesar 8 persen, dan personal finance planning sebesar 8 persen. Sisanya sebesar 11 persen bergerak di sektor lainnya. 

dok: DailySocial.id
Pada bulan Mei 2017 stabilitas sistem keuangan tetap kuat didukung oleh ketahanan industri perbankan dan pasar keuangan yang terjaga. Hal ini diungkapkan oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak Ir. Joko Widodo dalam Lampiran Pidato Kenegaraannya pada tahun 2017 silam. 

Nilai transaksi Financial technology (Fintech) di Indonesia pada tahun 2016 diperkirakan mencapai US$ 14,5 miliar setara Rp 190 triliun. Nilai tersebut merupakan 0,6 persen dari nilai transaksi global yang diperkirakan mencapai US$ 2.355,9 miliar. Sementara untuk nominal transaksi Fintech per populasi Indonesia US$ 56,98. Di satu sisi, Fintech Indonesia berpotensi untuk berkembang mengingat visi ekonomi digital Presiden Joko Widodo yang ingin menjadikan Indonesia sebagai pusat transaksi di Asia Tenggara. 

dok: Kominfo
Berkenaan dengan hal tersebut, BebasBayar yang merupakan besutan PT Bimasakti Multi Sinergi lantas hadir dan memberikan angin segar dalam dunia Fintech yang notabene merupakan pengembangan dari teknologi keuangan pada sektor jasa keuangan di abad ke – 21. Cakupan inovasi teknologi BebasBayar di sektor keuangan turut serta meningkatkan inovasi dalam literasi keuangan dan pendidikan, perbankan ritel, dan investasi melalui peranannnya sebagai E-Payment Solution. 


Meningkatnya penestrasi internet dan telepon pintar semakin membuka peluang transaksi digital di tanah air. Selain itu, semakin banyaknya generasi Z yang lahir di era digital dipastikan akan mendukung pertumbuhan fintech (finansial teknologi) domestik. 

Statista menjelaskan tentang besaran pasar fintech Indonesia yang diperkirakan mencapai US$ 18,65 miliar pada tahun 2017 dan akan meningkat menjadi US$ 37,15 miliar pada tahun 2021. Dari jumlah tersebut, lebih dari 99 persen merupakan transaksi pembayaran digital. Sisanya merupakan bisnis keuangan dan keuangan personal. 

Adapun pembayaran digital tahun 2017 terdiri atas, digital commerce (pembayaran perdagangan digital) senilai US$ 18,55 miliar, mobile payment (pembayaran mobile) sebesar US$ 9 miliar, dan Peer to Peer Money Transfer senilai US$ 48 miliar. 

dok: Statista
Di satu sisi, arah kebijakan pemerintah ialah meningkatkan daya saing jasa keuangan terutama peningkatan pembiayaan pembangunan melalui perluasan inklusi keuangan agar akses keuangan masyarakat meningkat secara berarti. Sehingga upaya peningkatan daya saing jasa keuangan khususnya tentang ketidakseimbangan likuiditas internasional serta fragmentasi likuiditas di sistem keuangan regional dan domestik yang memberikan pengaruh berarti pada harga dan insentif terhadap sistem keuangan di dalam negeri perlu diantisipasi. 

Tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi digital membuat startup Fintech bermunculan. Fintech merupakan fenomena yang berupa perpaduan antara teknologi dengan fitur keuangan. Sebagai sebuah inovasi di sektor keuangan yang menyediakan transaksi keuangan, Fintech telah berkembang menjadi layanan yang lebih praktis dan aman. 

BebasBayar memberi kemudahan pembayaran tagihan online dan menjadi aplikasi pembayaran tagihan No. 1 di Indonesia! Alexa.com melansir bahwa BebasBayar menduduki ranking ke 1.754 secara nasional. BebasBayar memberikan kemudahan, keamanan, kemudahan dalam bertransaksi. Dalam satu genggaman, para pengguna aplikasi BebasBayar dapat membayar dan membeli berbagai keperluan semisal pulsa, paket data, tagihan listrik, PDAM online, BPJS, tiket kereta api dan pesawat, voucher game online, TV kabel dan bahkan asuransi. 

dok: http://alexa.com
Aplikasi BebasBayar dapat diunduh via playstore (bagi para pengguna Android) dan saat ini aplikasi BebasBayar telah digunakan oleh sekitar 500 ribu pengguna. Menariknya lagi, BebasBayar memberikan kesempatan bagi para penggunanya untuk berwirausaha secara mandiri dengan melakukan transaksi kapan saja dan dimana saja. Bebas! 

dok: app BebasBayar (via playstore)
dok: app BebasBayar

Referensi: 
Cat: tulisan diikusertakan dalam Lomba Blog BebasBayar

dok: bebasbayar.com

Jumat, 13 April 2018

Peningkatan Keberdayaan Konsumen: Cerdas Secara Digital

dok: http://harkonas.id/koncer.php
Presiden Republik Indonesia, Bapak Ir. Joko Widodo dalam lampiran pidato kenegaraannya pada tahun 2017 silam menyebutkan bahwa arah kebijakan perdagangan dalam negeri sebagaimana yang tertuang dalam RPJMN 2015 – 2019 ialah “Meningkatkan Aktivitas Perdagangan Dalam Negeri yang Lebih Efisien dan Berkeadilan” diantaranya melalui penguatan perlindungan konsumen dan standardisasi produk lokal di pusat dan daerah. 


Hal tersebut seiring sejalan dengan pernyataan Menteri Perdagangan, Bapak Enggartiasto Lukita dalam Siaran Pers pada April 2017 silam bahwasanya konsumen cerdas dapat memacu peningkatan daya saing produk nasional. Momentum peningkatan keberdayaan konsumen Indonesia harus terus ditingkatkan agar konsumen tidak rentan untuk dieksploitasi. Sejatinya, konsumen yang cerdas adalah konsumen yang mampu menegakkan haknya, melaksanakan kewajibannya serta mampu melindungi dirinya dari barang atau jasa yang merugikan. 


Upaya pembangunan lantas diselaraskan dengan langkah mencapai Nawacita diantaranya melalui dimensi pembangunan manusia yang didukung dengan perlindungan masyarakat dari konten internet yang dapat berdampak negatif. Peningkatan keberdayaan konsumen perlu dilakukan terutama di saat peluang dan tantangan yang dihadapi konsumen semakin kuat terutama dengan adanya perkembangan teknologi. 

Dinamika pasar yang semakin digital dan global akan memberikan banyak pilihan namun di satu sisi kita tidak boleh lengah. Oleh karenanya, guna menjamin pertumbuhan yang berkesinambungan maka diperlukan pengembangan pasar secara digital yang dapat dipercaya memberikan perlindungan terhadap konsumen dan terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari. Maka, diperlukan kerjasama dengan berbagai komponen dalam e-commerce tak terkecuali konsumen demi berkembangnya e-commerce nasional. 

Berdasarkan data, penjualan ritel e-commerce Indonesia diperkirakan mencapai US$ 8,59 miliar atau sekitar Rp 117,7 triliun pada tahun 2018. Jumlah tersebut, menurut data Statista memiliki peluang untuk meningkat menjadi US$ 16,5 miliar pada tahun 2022 mendatang. Sementara pembeli digital Indonesia diperkirakan mencapai 31,6 juta pembeli pada tahun 2018, dengan penetrasi sekitar 11,8 persen dari total populasi. Jumlah tersebut diproyeksikan akan meningkat menjadi 43,9 juta pembeli pada tahun 2022 dengan penetrasi 15,7 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Penjualan ritel e-commerce Indonesia merupakan yang terbesar di kawasan Asia Tenggara. 

dok: Sumber: Statista 
Berkenaan dengan hal tersebut, melalui jumlah populasi yang sangat besar, Indonesia menyimpan potensi ekonomi digital di masa yang akan datang seiring berkembangnya teknologi dan media sosial. Berdasarkan data Kepios (September 2017), jumlah populasi di Indonesia merupakan yang terbesar di kawasan Asia Tenggara karena mencapai 264 juta. Adapun penetrasi pengguna internet Indonesia mencapai 133 jiwa atau sekitar 50 persen dari total populasi. Sementara pengguna aktif media sosial mencapai 115 juta atau sekitar 44 persen dari total populasi. Sementara pengguna telepon seluler (ponsel) mencapai 371 juta atau 141 persen dari total populasi. 

dok: Sumber: Kepios 
Adapun pembayaran melalui transfer bank masih menjadi pilihan favorit di kalangan konsumen e-commerce. Pada tahun 2015, riset dari TechInAsia menyebutkan tidak kurang dari 57 persen transaksi online dibayar melalui transfer bank. Beberapa toko e-commerce menawarkan berbagai pilihan pembayaran agar memudahkan konsumen. Tingginya penetrasi media sosial di kalangan masyarakat juga membuat adanya perubahan tren menuju e-commerce berbasis sosial media. 

dok: Sumber: Techinasia.com
Hmm, masih butuh bukti kecerdasan konsumen di era digital? 

dok: http://harkonas.id/koncer.php
Bahwa sekitar 53 persen konsumen global menggunakan perangkat mobile untuk membandingkan harga barang terlebih dahulu sebelum membeli. Sekitar 38 persen akhirnya melakukan pembelian barang atau jasa dari gadget mereka. Konsumen online di Asia yang paling rajin membandingkan harga barang yang akan dibeli melalu gadget, yakni mencapai 60 persen. 

dok: Sumber: Nielsen.com 
Selain itu, bentuk kecerdasan selanjutnya ialah konsumen online global lebih memilih mengalokasikan kelebihan dananya dalam bentuk tabungan dibandingkan untuk liburan, berinvestasi maupun menikmati hiburan luar rumah. 

dok: Sumber: Nielsen Indonesia, PT (The Nielsen Company) 
Konsumen cerdas di era digital menjadi suatu keharusan dan hal ini telah tercapai perlahan. Berdasarkan data survei konsumen Bank Indonesia (BI) Mei 2017, indeks keyakinan konsumen (IKK) mencapai angka 125,9. Level ini merupakan yang tertinggi dalam lebih dari satu dekade terakhir. Tren positif yang ditunjukkan sepanjang tahun ini mencerminkan optimisme konsumen yang kian menguat. Tingkat Keyakinan konsumen online Indonesia terus meningkat dan menempati peringkat ketiga tertinggi di dunia. Hasil survei Global Survei of Consumer Confidence and Spending Intention Q3 2016 yang dirilis Nielsen menunjukkan indeks keyakinan konsumen Indonesia mencapai 122. 

dok: Sumber: Nielsen Indonesia, PT (The Nielsen Company) 

Peningkatan indeks tersebut menjadi kabar gembira karena mampu menunjukkan bahwa kepercayaan konsumen menguat terhadap kondisi ekonomi. Tingkat konsumsi dari masyarakat Indonesia tentunya akan menyokong pertumbuhan ekonomi nasional dari sisi konsumsi. Ayo, jadi konsumen cerdas di era digital

Referensi: 
Cat: tulisan diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog HARKONAS 2018 oleh Kementerian Perdagangan Direktorat Pemberdayaan Konsumen 

dok: http://harkonas.id/koncer.php