Minggu, 27 November 2016

Switchable Me 2in1: Profesi Peneliti dan Hobi Menulis Kreatif Didukung oleh Notebook Hybrid Acer Switch Alpha 12

“Apa tujuanmu menulis, Ci?”
Suatu waktu salah seorang teman pernah menanyakan hal tersebut kepada saya dan dengan sekenanya saya menjawab bahwa alasannya ialah saya ingin tulisan sederhana saya dibaca orang. Ya, klise mungkin tapi begitulah adanya. Saya tidak terlalu berharap yang muluk-muluk bahwa tulisan saya akan mampu berdampak atau mengubah paradigma berpikir seseorang karena saya menyadari betul bahwa apa yang saya tulis hanyalah sesuatu hal yang sepele.

Di satu sisi sebenarnya saya seakan menemukan diri saya kembali dengan menulis. Entah menulis apapun itu, yang penting menulis. Menulis bagi saya ibarat “saat teduh”. Saya seakan menemukan relaksasi diri dan kemudian menyadari bahwa inilah passion saya.

Selepas bekerja kantoran, saya kembali memiliki banyak waktu menekuni hobi menulis. Sembari menyelesaikan tanggung jawab sebagai seorang mahasiswa, saya terus menulis di laman website blog pribadi Regardez-vous yang mulai saya seriusi kembali semenjak awal tahun 2016.

dok: yesisupartoyo.com
Manajemen strategi antara menyelesaikan tanggung jawab sebagai seorang mahasiswa tingkat akhir, menjalankan peran sebagai seorang peneliti dan menekuni hobi yang beranjak menjadi profesi tentunya diperlukan guna memberikan hasil yang optimal.

Lagipula di era digital seperti saat ini, setiap orang dituntut untuk memiliki tren kerja yang fleksibel dan dinamis. Sehingga kita perlu pintar-pintar memanfaatkan waktu dan peluang kesempatan. Saya bersyukur karena bisa bekerja dimana saja tanpa perlu terasa kaku terutama dengan aturan office hour. Jadi, meski disibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk ataupun deadline mepet, saya tetap berupaya membagi waktu dengan mengasah hobi menulis saya di luar jam kerja. Saya menjalaninya secara aktif, bebarengan tanpa beban dan...bahagia.

Inilah yang lantas disebut dengan gaya hidup “Switchable Me”. Gaya hidup seperti ini membuat saya nyaman guna mendukung pekerjaan dan passion yang saya miliki secara rutin. Karena saya bisa dengan mudahnya “switch” dari kesibukan pekerjaan meneliti ke hobi menulis yang digeluti, pun sebaliknya. Indeed, I am a multitasking person in digital world! Hopefully, hehe.

Sebagai seorang mahasiswa dalam keseharian tentu saja saya tidak dapat dipisahkan dengan notebook untuk menulis dan menyelesaikan tugas akhir. Begitu pula sebagai seorang peneliti yang bertugas meneliti suatu studi kasus tertentu misalnya. Saya membutuhkan notebook untuk menyelesaikan laporan. Sama halnya ketika menjalankan peran sebagai seorang blogger yang kerap melakukan postingan artikel di laman website blog pribadi agar dapat dibaca khalayak ramai.

Bagi saya menjalankan peran multitasking tersebut tidak membosankan (malah menyenangkan) karena saya menjalankan hobi yang saya minati yaitu menulis. Bukankah tiada pekerjaan yang lebih membahagiakan selain hobi yang dibayar? 

Tidak jarang saya kerapkali menemukan postingan maupun udpate-an status  di media sosial dari teman-teman sekalian yang kerap mengeluh karena pekerjaan yang dilakoni. Padahal diluar sana banyak yang mengeluh karena tidak memperoleh pekerjaan. Menjalani hobi sebagai profesi bagi saya merupakan satu bagian kecil dari upaya mensyukuri diri dan proses pembelajaran guna berupaya menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Kembali kepada profesi dan hobi yang saya geluti. Saya merupakan mahasiswa tingkat akhir yang dalam keseharian disibukkan dengan prosesi bimbingan, revisian, menulis artikel dan lain sebagainya. Notebook merupakan benda wajib yang tak terpisahkan. Adapun di dalam notebook saya terdapat banyak software baik statistik maupun ekonometrik serta catatan draft artikel penelitian. Sebagai seorang mahasiswa, saya bisa berjam-jam duduk di depan notebook untuk mengetik dan menyelesaikan draft penelitian. Tentu hal ini menuntut performa notebook yang prima terutama yang tidak gampang panas.

Suasana belajar dalam ruang kelas (dok: pribadi)
Untuk saat ini saya berprofesi sebagai peneliti (Associate Researcher) dalam suatu Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak di bidang penelitian kebijakan publik dan pusat advokasi. Sekarang saya sedang meneliti suatu studi kasus tentang filantropi suatu yayasan yang rencananya bahan tulisan tersebut akan dikompilasi untuk dibukukan. Terkadang saya pun terlibat project dengan instansi pemerintah sehingga mengharuskan saya untuk turun lapang guna melakukan survey hingga ke pelosok daerah. Pekerjaan saya tentu tidak terlepas dari proses tulis menulis sehingga saya bersyukur bisa menerapkan hobi yang saya miliki ke dalam pekerjaan yang dijalani. Masalahnya ialah ketika harus turun lapang dan mencatat informasi dari responden sembari menggunakan notebook. Sepertinya saya memang membutuhkan notebook yang juga dapat berperan sebagai tablet.

Saat melakukan wawancara terhadap petani (dok: pribadi)
Selain itu, semenjak Februari 2016 silam saya mulai menekuni kembali laman website blog pribadi saya yang sudah lama terbengkalai karena urusan pekerjaan yang cukup menyita waktu. Akhrnya, pekerjaan yang dijalani saat ini membuat saya cukup fleksibel membagi peran sebagai mahasiswa dan pekerja serta “manusia”.

Beruntung memenangkan lomba blog yang diadakan oleh Kementerian (dok: pribadi)
Adapun dari waktu ke waktu hobi saya lantas “menghasilkan”. Ya, rutinitas menulis di akhir pekan yang kemudian dilombakan seringkali menuai kemenangan sehingga saya berkesempatan tampil sebagai juara dan memperoleh penghargaan. Tidak jarang tulisan saya diapresiasi dalam bentuk sertifikat, plakat, piagam penghargaan, bahkan uang tunai. Jujur, saya merasa dihargai!

Bagi saya cukuplah terlebih dahulu menjadi seseorang yang berharga, kalau memang belum bisa menjadi seorang yang bernilai berkat kontribusi maupun karya yang dihasilkan. Tapi minimal melalui proses penghargaan tersebut memacu saya menjadi lebih baik dan berusaha memberikan yang terbaik yang bisa saya perbuat.

Lantas, apa yang saya butuhkan?

Kolaborasi antara profesi sebagai peneliti dan hobi menulis yang saya jalani lantas menuntut performa yang tinggi. Tidak hanya secara fisik dan mental, melainkan juga perlengkapan yang digunakan. Setelah menyaksikan Unboxing Challenge Acer Switch Alpha 12, Notebook 2in1 yang Powerful dan Fanless saya menjadi penasaran dan berusaha mencarinya di salah satu pusat perbelanjaan. Tapi, sayangnya berdasarkan informasi yang diperoleh bahwa Acer Switch Alpha 12 tidak atau belum ada di pasaran khususnya di toko Electronic City tersebut. Dengan langkah gontai saya melangkah keluar toko apalagi setelah petugasnya menyarankan saya untuk membelinya via online saja. Adapun notebook hybrid ini dibanderol dengan kisaran harga Rp 14 juta - Rp 20 juta. 

Harga notebook hybrid Switch Alpha 12 (dok: www.acerid.com)
Saya merasa cukup yakin saja bahwa nantinya Acer Switch Alpha 12 ini akan mampu mendukung performa saya menjalankan profesi sebagai peneliti dan hobi menulis saya dengan sempurna berkat fasilitas yang dimilikinya. Acer Switch Alpha 12, sang notebook hybrid akan mampu mendukung segala aktivitas multitasking maupun mobile saya. Gaya hidup yang saya jalani memang menuntut perangkat dengan fleksibilitas kerja yang sangat tinggi sehingga nantinya akan mampu diimbangi oleh inovasi teknologi yang ditawarkan Acer Switch Alpha 12. Saya tentu saja memerlukan notebook tangguh yang performanya mampu menyesuaikan dengan kondisi saya di lapang.


dok: www.acerid.com
Sebagai notebook 2 in 1 yang powerful, Acer Switch Alpha 12 akan mampu membantu segala aktivitas yang saya jalani, baik pekerjaan saya dalam meneliti maupun hobi menulis saya secara bersamaan karena di dalam notebook hybrid ini telah dibenamkan Intel® Core™ generasi ke-6. Ditambah dukungan teknologi LiquidLoop™ yaitu sistem pendingin yang dapat menstabilkan suhu mesin notebook tanpa kipas. Sehingga saya akan merasa sangat nyaman menggunakan Acer Switch Alpha 12 untuk segala aktivitas tanpa perlu khawatir notebook cepat overheating dan berisik. 

dok: www.acerid.com
Jadi, profesi sebagai peneliti dan hobi/passion saya di bidang tulis menulis dapat dijalankan secara bersamaan sehari-hari, dan saya meyakini bahwa notebook 2-in-1 seperti Acer Switch Alpha 12 ini dapat menjadi partner yang memudahkan saya menjadi seorang yang switchable antara profesi dan hobi yang saya miliki. Oleh karenanya saya sangat berharap bisa memegang dan mengoperasikannya secara langsung. Semoga.

Sumber: 
Cat: tulisan diikutsertakan dalam “Switchable Me Story Competition” dengan Acer Switch Alpha 12

dok: www.acerid.com

Sewa Online via Travelio: Rumah Verde, Hunian Bercitarasa Homey

A: “Senin besok aku ada agenda dinas di Jakarta”
Y: “Oya, nginap dimana? Sampai hari apa?”
A: “Di Sari Pan Pacific. Jumat check out”
Y: “Mau ke Bogor?”
A: “Tentu!”
Senin, 21 November silam teman dekat saya memberi kabar bahwa dia akan melakukan perjalanan dinas dan menginap di Sari Pan Pacific Jakarta. Berhubung saya tidak begitu paham dengan penginapan yang berlokasi di Jakarta maka saya menggunakan aplikasi Travelio.com untuk membantu saya memudahkan pencarian. 

By the way, apa itu Travelio.com?

Travelio.com sendiri merupakan situs yang menyediakan layanan sewa apartemen, rumah, villa dan lain sebagainya baik secara harian/mingguan/bulanan dengan inventori di lebih dari 12 ribu properti yang tersebar tidak hanya di Indonesia melainkan berbagai kota/negara di wilayah Asia Pasifik.

Fyi, situs Travelio.com ini menempati ranking dunia, lho. Saya mencoba mencari tahu dan berhasil memperoleh informasi bahwa berdasarkan hasil pencarian dari situs ternama Alexa.com yang merupakan situs yang menyediakan sarana untuk memperoleh informasi tentang peringkat suatu situs diperoleh hasil bahwa situs Travelio.com mengalami peningkatan peringkat dan saat ini menempati global rank ke 132.174. sedangkan peringkat di Indonesia menempati posisi ke 5572. 

dok: alexa.com
Situs Alexa.com juga memberikan info tentang demografik masyarakat yang mengakses layanan situs Travelio.com dilihat dari gender, pendidikan dan lokasi browsing. Ternyata laki-laki paling sering mengakses situs Travelio.com dibandingkan perempuan.

dok: alexa.com
Selain itu jenjang pendidikan tinggi yaitu college dan graduate school mendominasi populasi yang mengakses situs Travelio.com. Dan yang sedikit mengejutkan ialah bahwa populasi masyarakat kita lebih sering mengaksesnya dari kantor! Hmm... hal ini sepertinya membuktikan bahwa situs Travelio.com memang menjadi pilihan bagi mereka yang hendak melakukan perjalanan dinas dalam pekerjaannya atau bisa jadi banyak masyarakat kita memang: butuh piknik! Hehe.

Sedangkan berdasarkan audience geography diperoleh hasil bahwa pengunjung situs Travelio.com didominasi oleh masyarakat Indonesia sebesar 16,7 persen dan disusul oleh China sebesar 12,4 persen. Selebihnya ada Negara India, Jerman dan UK. Pangsa pasar yang luas menjadi kelebihan dari Travelio.com tidak hanya dalam negeri melainkan juga mancanegara.

dok: alexa.com
Sstt.. konon katanya kesuksesan suatu situs dapat dilihat dari ranking situs tersebut di Alexa.com atau dikenal dengan sebutan Alexa Rank. Semakin bagus posisi peringkat suatu situs di Alexa.com maka semakin baik pula kualitas situs tersebut.

Travelio.com sangat memudahkan penggunanya untuk menemukan hunian yang nyaman dengan harga yang sangat terjangkau. Travelio.com juga menyediakan ragam pilihan dengan mengusung konsep terkini #TravelioMore: More Choice, Space and Value. Travelio.com selalu berhasil memberikan kesan tersendiri dalam perjalanan kita. Satu keunikan yang membedakannya dengan situs penyewaan lainnya ialah: bisa nawar! Dan saya pikir ini satu-satunya situs penyewaan penginapan yang memberikan fasilitas “unik” seperti ini.

Next, lebih lanjut teman saya memberitahu bahwa selepas kegiatan yaitu hari Jumat dia ingin ke Bogor untuk rehat sejenak dan menikmati akhir pekan. Saya pun perlu mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambutnya dan hal yang paling utama ialah: penginapan. 

Saya kembali menelusuri laman Travelio.com untuk menemukan penginapan yang sesuai. Laman Travelio.com memberikan hasil penginapan di Bogor berjumlah 94 akomodasi terdekat. 

dok: http://www.travelio.com/
dok: http://www.travelio.com/
Saya lalu mengerucutkan pencarian untuk menemukan penginapan di area pusat kota Bogor dengan spesifikasi tipe kamar pribadi dan budget kurang dari Rp 300 ribu, hehe. 

Aha! 

Saya lantas menemukan Rumah Verde yang berlokasi di Jalan Riau No. 39, Baranangsiang. Awalnya saya ragu akan dapat menemukan penginapan sesuai dengan spesifikasi yang diharapkan tapi Travelio.com memberikan informasi yang sangat lengkap terutama perihal fasilitasnya. Bersama Travelio.com segala kemungkinan memang bisa saja terjadi.

dok: http://www.travelio.com/

dok: http://www.travelio.com/
Jujur, sebelumnya saya tidak menyangka bahwa akan ada penginapan murah (tapi tidak murahan) di tengah pusat kota Bogor. Bayangkan saja dengan budget minim kita sudah dapat menemukan hunian yang layak, fasilitas yang lengkap, harga yang ramah di kantong dan akses yang sangat mudah. Tanpa perlu menunggu lama, saya pun langsung melakukan pemesanan 1 kamar untuk 1 malam. Saya memilih tipe kamar standard room only (tanpa sarapan) dengan total harga Rp 280.000.

dok: http://www.travelio.com/

dok: http://www.travelio.com/
Hari jumat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Saya menjemput teman saya di Stasiun Bogor dan kami naik mobil menuju Rumah Verde yang berlokasi tepat di belakang Terminal Barangsiang Kota Bogor. Rumah Verde memiliki akses yang sangat mudah dijangkau karena dekat dengan Stasiun Bogor, Terminal Baranangsiang, pusat perbelanjaan Botani Square dan Bogor Trade Mall serta dekat dengan Kebun Raya Bogor.

dok: http://www.travelio.com/
Setibanya di Rumah Verde, kami langsung disambut oleh petugas yang ramah dan murah senyum. Mereka membukakan pintu pagar dan mempersilahkan kami masuk. Setelah menyelesaikan administrasi teman saya lalu dipersilahkan menempati kamar nomor 2

Rumah Verde tampak depan (dok: pribadi)
Kamar Nomor 2 (dok: pribadi)
Rumah Verde merupakan hunian yang nyaman sebagai akomodasi bermalam dengan konsep rumah bergaya minimalis modern yang memberikan fasilitas lengkap untuk kenyamanan bermalam. Selain lokasi strategis di pusat kota Bogor dan mudah diakses dari semua area di Bogor, Rumah Verde memang didesain khusus untuk semua jenis tamu pelancong baik bisnis maupun wisatawan. Huniannya asri dan tenang serta menawarkan beragam fasilitas dan pelayanan yang sangat baik. Terutama karena Rumah Verde dikelilingi pepohonan yang asri dan pemandangan yang sejuk. Ah, serasa berada di rumah sendiri.

“Yes, ada TV!”

Teman saya sontak menjerit ketika melihat ada TV di kamar. Pasalnya, nanti malam ada tayangan pertandingan piala AFF antara Indonesia vs Singapore. Dia tentu tidak mau ketinggalan dan melewatkan pertandingan bola tersebut.

Fasilitas TV untuk menonton pertandingan sepak bola (dok: pribadi)
Sembari saya mengamati isi kamar, teman saya beristirahat sejenak. Fasilitasnya sangat lengkap mulai dari kamar mandi, AC, meja, televisi LCD/plasma screen, kamar mandi, tv kabel, meja rias, wardrobe, shower, handuk, complimentary bottled water, parkiran, dapur, cctv dan dispenser.

Pose depan westafel (dok: pribadi)

Shower di kamar mandi (dok: pribadi)

Lemari pakaan lengkap dengan gantungan pakaian (dok: pribadi)

Air mineral di meja kerja (dok: pribadi)

Lemari gantung yang ekonomis (dok: pribadi)
Perlengkapan mandi (dok: pribadi)

Tempat tidur yang empuk, luas dan nyaman (dok: pribadi)
Setelah penat terobati, kami lalu menuju ke Botani Square untuk makan siang. Jarak tempuhnya sangat dekat dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Setelah perut kenyang terisi kami menjadi lebih fokus untuk mengatur rencana perjalanan esok hari. 

Jujur saja, sebenarnya susah-susah-gampang menemukan akomodasi hunian yang sesuai dengan keinginan kita. Terkadang tidak jarang kita merasa tidak nyaman atau malah mungkin kecewa atas pilihan yang dilakukan. Oleh karenanya memilih akomodasi ketika pada saat atau sebelum melakukan perjalanan menjadi suatu keharusan dan faktor penting demi kenyamanan perjalanan. 

Untunglah saat ini ada banyak aplikasi maupun situs bantuan yang memberikan kemudahan menemukan penginapan yang sesuai semisal diantaranya Travelio.com. Dengan mengusung konsep baru Travelio.com: “More space, more facility, more value” semakin memudahkan para wisatawan dalam mencari hunian menyenangkan dan senyaman rumah sehingga kita tetap bisa merasakan kehangatan selayaknya yang diberikan oleh orang rumah. 

Berkat Travelio.com, kita berkesempatan mengeksplorasi diri, merasakan suasana kehidupan lokal, menciptakan momen, menghabiskan waktu yang berkualitas bersama orang terdekat dan tentunya relaksasi diri dari hiruk pikuk pekerjaan. Travelio.com memberi peluang meminimalisir keterbatasan kendati jauh dari rumah. Selain itu melalui Aplikasi Travelio.com yang tersedia dalam play store Android maka semakin memudahkan dalam berselancar mencari penginapan sesuai keinginan.

dok: app play store Android
Terimakasih Rumah Verde, Terimakasih Travelio.com karena telah memfasilitasi tempat yang dapat memenuhi kebutuhan sehingga terasa seperti di rumah. Terimakasih atas harga yang terjangkau, akomodasi berkualitas dan properti yang memenuhi standar kenyamanan, keamanan dan kebersihan. Konsep yang diusung yaitu more choice, more space dan more value benar terwujud sempurna. Sekali lagi, terimakasih!

Demikian sedikit kisah perjalanan saya guna menemukan akomodasi penginapan yang pas berkat bantuan Travelio.com. Kalian juga bisa mencoba pengalaman seru dan sensasi berbeda seperti yang sudah saya rasakan. Apalagi saat ini pihak Travelio.com sedang berbaik hati memberikan kode voucher khusus dan bisa digunakan oleh siapa saja, dimana saja dan kapan saja (re: deadline penggunaan voucher 30 November 2016). Yuk, gunakan kode voucher: LIOMOREJGNCVAJ7 sekarang juga! Buruan...

dok: pribadi
p.s: Kode voucher berfungsi sebagai kode diskon pemesanan Apartment, House, dan Villa di Travelio.com sebesar 40% dengan Syarat dan Ketentuan sebagai berikut.
  • Kode hanya bisa digunakan untuk pemesanan tipe properti Apartment, House, dan Villa yang tersedia di situs web Travelio.com, baik di desktop, mobile web, maupun aplikasi “Travelio.com”;
  • Kode berlaku sampai dengan tanggal 30 November 2016 pukul 23.59 WIB;
  • Nilai maksimum diskon yang dapat dinikmati setiap pelanggan adalah sebesar Rp300.000,00;
  • Setiap pelanggan hanya bisa menggunakan kode sebanyak maksimal 1 (satu) kali;
  • Kode voucher hanya bisa digunakan oleh pelanggan yang telah registrasi dan login saat melakukan pemesanan;
  • Kode voucher tidak dapat digabungkan dengan promo lainnya atau dengan penggunaan Travelio.com Reward Point; dan
  • Travelio.com berhak membatalkan pemesanan apabila terjadi penyimpangan atau pelanggaran pada Syarat dan Ketentuan ini maupun Syarat dan Ketentuan layanan Travelio.com
ENJOY!

Cat: tulisan diikutsertakan dalam #TravelioMore Blog Competition oleh PT Horizon Internusa Persada

dok: http://www.travelio.com/

Kamis, 24 November 2016

Rumah Maja, Alternatif Hunian Kekinian dan Investasi Menguntungkan

Sesuai dengan prioritas bidang sarana dan prasarana dalam Rencana Kerja Pemerintah 2014 – 2015, arah kebijakan pemerintah telah difokuskan pada salah satunya peningkatan ketersediaan rumah dan aksesibilitas masyarakat agar dapat menempati hunian layak dan terjangkau yang didukung oleh pemerintah secara berkelanjutan. 


Dalam mencapai sasaran pembangunan perumahan dan kawasan permukiman, fokus penyediaan hunian layak diprioritaskan untuk masyarakat berpenghasilan rendah dengan melibatkan pelaku pembangunan serta lembaga pembiayaan perumahan. Penyediaan hunian layak pun mencoba disinergikan dengan penataan kawasan permukiman.

Masalahnya penyediaan hunian layak khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah masih dihadapkan pada beberapa tantangan diantaranya yaitu mismatch supply – demand pembangunan rumah. Pertambahan penduduk perkotaan yang pesat dalam beberapa dekade terakhir menyebabkan semakin terbatasnya lahan hunian di perkotaan dan menyebabkan peningkatan harga lahan sekitar 20 persen per tahun dalam tiga tahun terakhir. Hal ini telah menyebabkan kenaikan harga hunian yang semakin menyulitkan masyarakat berpenghasilan rendah mengakses hunian layak dan terjangkau!

Sementara itu, kapasitas pemerintah dalam mendukung penyediaan rumah belum dapat mengimbangi kebutuhan seiring meningkatnya jumlah rumah tangga baru. Berdasarkan data BPS tahun 2013 terdapat 11,8 juta rumah tangga yang tinggal di rumah bukan milik sendiri (kontrak/sewa dan rumah jenis lainnya) serta tidak memiliki rumah selain yang ditempati. Sedangkan, sebagian besar masyarakat berpenghasilan rendah tidak bankable sulit mengakses proses pengajuan kredit kepemilikan rumah melalui Fasilitasi Likuiditas Pembiayaan Perumahan.


dok: Bappenas dalam PUPR, 2014
Hal ini persis dengan apa yang pernah saya alami. Jujur, semenjak memiliki pendapatan sendiri kendati minim, saya berkeinginan memiliki rumah pribadi. Minimal rumah yang saya peroleh berkat hasil kerja keras dan peluh keringat saya sendiri. Walaupun tidak akan serta merta ditinggali karena saya belum berkeluarga, rumah tersebut dapat diinvestasikan misalnya dengan disewakan atau dikontrakkan.

Hanya saja terkadang modal dengkul dan serba pas-pasan membuat nyali saya ciut. Tapi, saya kemudian berpikir kalau saya begini terus kapan saya bisa punya rumah sendiri? Saya pun memberanikan diri berkomunikasi dengan beberapa pihak pengembang dalam hal ini developer perumahan. Ragam pengalaman plus dan minus saya jumpai. Mulai dari belum adanya bangunan induk di lokasi perumahan, akses jalan yang masih belum sempurna, syarat pengajuan kredit yang berbelit-belit dan lain sebagainya. 

Tak bisa dipungkiri bahwa saat ini rumah kian menjadi kebutuhan pokok yang mesti terpenuhi. Tagline “harga rumah dan tanah akan terus naik” memang benar adanya dikarenakan kebutuhan masyarakat yang terus meningkat terutama kebutuhan terhadap tempat tinggal. Oleh karenanya tanah dan atau rumah dapat menjadi alternatif investasi yang cukup menjanjikan.



Di satu sisi, berbagai bentuk dukungan pemerintah untuk membantu penyediaan akses masyarakat terhadap hunian yang layak terus diupayakan diantaranya berupa insentif fiskal, bantuan prasarana dan sarana serta utilitas, subsidi selisih bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) serta berbagai bantuan lainnya untuk lebih mendorong sisi supply dan demand perumahan. 

Belum usai kegalauan saya dalam memilah dan memilih perumahan yang pas (pas di hati, pas di kantong), saya lantas menemukan informasi perumahan Citra Maja Raya di bilangan Maja, yang kedepan diprediksi akan menjadi kota baru berbasis infrastruktur ekonomi. Kebetulan saat ini saya berdomisili di Bogor dan jarak tempuh Bogor – Maja sekitar 114 km via jalur darat dengan waktu tempuh kurang dari 3 jam perjalanan. 


Saya penasaran dan sebenarnya tertarik dengan rumah tipe RS Cluster Tevana. Fasilitasnya terdiri dari 1 kamar tidur dan 1 kamar mandi. Cicilannya pun SUPER RINGAN yaitu 1,25 juta/bulan untuk cicilan KPR. Total harga rumahnya sekitar Rp 149 juta. Yah, untuk ukuran kapasitas keluarga baru dan investasi saya pikir lumayan.


dok: http://citramaja.com/
Ciputra Residence merupakan pelopor lahirnya perumahan Citra Maja Raya dengan mengusung jargon “An Integrated New Town”. Rumah Maja kian menjadi alternatif pilihan perumahan yang layak huni dan memiliki nilai investasi yang potensial dan menguntungkan di masa depan.

dok: http://citramaja.com/
Kota Maja sendiri berdasarkan kebijakan pengembangan Kota Baru Publik Maja sesuai dengan sasaran pokok pembangunan nasional RPJMN 2015 – 2019 yaitu pembangunan 10 kota baru publik termasuk Maja. Kebijakan RPJMN 2015 – 2019 di Kota Baru Maja, Provinsi Banten untuk bidang perhubungan ditunjang oleh pembangunan jalur ganda kereta api dan elektrifikasi antara Maja – Rangkasbitung – Merak. Sedangkan lokasi prioritasnya antara lain sebagai pusat permukiman baru yang layak huni; Kota satelit mandiri di sekitar kawasan metropolitan; dan Mencegah terjadinya permukiman tidak terkendali akibat urbanisasi di kota otonom terdekatnya. Great!

dok: http://citramaja.com/
Adapun aturan lainnya sebagaimana tertuang dalam Perpres No.3/2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional khususnya dalam lampiran PP menjelaskan tentang program satu juta rumah pada lokasi yang telah siap. Tidak hanya itu, Permen PUPR No.13.1/PRT/M/2015 tentang Renstra Kementerian PUPR 2015 – 2019 juga menjelaskan pengembangan kota baru dan cerdas dimana Maja merupakan salah satu dari 97 kawasan di dalam 35 WPS yang diprioritaskan pengembangannya. 

Sebagaimana dilansir laman www.CitraMaja.com, Citra Maja Raya merupakan salah satu pengembangan kota terpadu terbesar oleh Ciputra Group dengan luas pengembangan lahan mencapai 2000 ha. Hunian skala kota mandiri yang disuguhkan menggabungkan gaya hidup modern yang didukung dengan program EcoCulture yang mengedepankan unsur keserasian alam dan ramah lingkungan.

dok: http://citramaja.com/
Citra Maja Raya sengaja dirancang sebagai kawasan kota terpadu berbasis Transit Oriented Development dengan menjadikan stasiun Maja sebagai simpul transportasi (hub) utamanya. Sehingga kedepannya akan menjadi sebuah kota pertumbuhan ekonomi baru berbasiskan ekonomi jasa. Dengan segmen utama membuat rumah murah di Banten, besar kemungkinan Citra Maja Raya menjadi calon primadona baru Perumahan di Banten.

dok: http://citramaja.com/
Tidak hanya perumahan, Citra Maja Raya juga menyediakan kavling siap bangun dan ruko. Harga yang ditawarkan pun sangat terjangkau. Sebagai instrumen investasi masa depan, Citra Maja Raya memiliki keunggulan yang lebih unik dibandingkan dengan proyek lainnya. Jadi, tidak salah bila Citra Maja Raya digadang-gadang sebagai salah satu kawasan hunian yang terintegrasi untuk masa depan yang lebih baik.


dok: http://citramaja.com/
Sumber:
  • Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia Tahun 2015
  • www.CitraMaja.com diakses November 2016 
  • Product Knowledge Citra Maja Raya. 2016 
Cat: tulisan diikutsertakan dalam Citra Maja Raya writing competition


Rabu, 23 November 2016

Tak Kepo Maka Tak Peduli: Ada Apa dengan Air Jakarta?

Bogor acapkali dijadikan “tersangka” biang kerok atas terjadinya banjir di Jakarta apalagi ketika musim penghujan tiba. Dalam kesempatan yang baik ini saya bukan bermaksud hati melakukan pembelaan diri atas beragam tudingan tersebut hanya karena saya berdomisili di Bogor. Melainkan saya ingin berbagi apa saja upaya yang telah dilakukan oleh kami selaku bagian dari masyarakat Bogor terutama dalam berusaha berkontribusi memulihkan kondisi Bogor guna menjaga ketersediaan air di Jakarta.


Pada 2013 silam, saya bersama rekan-rekan mahasiswa Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan Pascasarjana IPB Bogor melakukan fieldtrip ke wilayah Puncak Bogor tepatnya ke Tugu utara dan Tugu selatan guna mengamati sekilas perkembangan tata ruang pasca pembongkaran villa ilegal di wilayah tersebut. Pasalnya, bangunan liar tersebut diduga menyalahi aturan Rencana Tata Ruang dan berdampak signifikan terhadap resapan air di wilayah tersebut. Kondisi yang ada lantas dipulihkan kembali atau istilah kerennya restorasi.


Tidak hanya melakukan kunjungan lapang, saya bersama rekan-rekan Himpunan Mahasiswa Wirausaha Pascasarjana IPB Bogor pun tergerak untuk melakukan penanaman pohon di Hutan Organik Megamendung yang terletak di Puncak Bogor. Kami meyakini bahwa kontribusi kecil kami In Shaa Allah akan memberikan dampak yang besar, mungkin tidak sekarang tapi nanti. 

HIMAWIPA IPB Bogor melakukan penanaman pohon di hutan organik Megamendung Bogor (dok: pribadi)
Kepemilikan hutan organik ini dimiliki secara pribadi oleh Pak Bambang Istiawan dan Ibu Rosita. Beliau berdua merupakan pegiat lingkungan yang memiliki kontribusi besar terhadap pelestarian lingkungan. Tidak dapat dipungkiri bahwa Hutan organik Megamendung menjadi salah satu pelopor pelestarian lingkungan terutamanya sumber daya air di Bogor dan sekitarnya. Melalui upaya-upaya pemulihan yang dilakukan diharapkan sumber daya air di Bogor menjadi terjaga dan Jakarta tidak lagi mendapat “kiriman” yang tidak diharapkan. Upaya ini merupakan salah satu bentuk partisipasi gerakan dinamika masyarakat.


Upaya sederhana yang dilakukan ini sekiranya dapat membuka mata hati orang-orang yang kerap nyinyir dengan banjir di Jakarta. Memang sih, mudah sekali menyalahkan orang lain tanpa mencoba introspeksi diri sendiri terlebih dahulu. Sigh!

Jujur saja ya, sudah semenjak lama tepatnya sejak tahun 90-an semasa saya duduk di bangku Sekolah Dasar, santer beredar kabar bahwa “Jakarta akan tenggelam” dikarenakan air tanahnya mulai terkikis habis. 


Kekhawatiran semacam itu tentunya menuntut tindak lanjut sehingga perlu ada penyelamatan dini terhadap Jakarta, Ibukota Negara. Buktinya, berdasarkan pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia pada tahun 2015 silam telah direncanakan pembangunan sarana dan prasarana pengendali banjir 284,3 km dengan sebaran lokasi diantaranya di Jakarta. 

Disadari bahwa permasalahan kapasitas infrastruktur pengendali banjir dan genangan yang kita miliki memang masih rendah sehingga belum mampu mengimbangi peningkatan intensitas aliran permukaan di kawasan strategis dan perkotaan. Belum lagi ditambah dengan persoalan perubahan eksplorasi tata guna lahan pada Daerah Aliran Sungai yang tidak dimbangi konservasi dan perubahan pola dan intensitas curah hujan yang diperparah dengan buruknya kondisi drainase makro mikro serta semakin meningkatnya pembuangan sampah ke badan sungai telah meningkatkan kerawanan daya rusak air di berbagai wilayah di Indonesia tak terkecuali Jakarta.

Pemerintah sendiri telah merumuskan ragam kebijakan dalam rangka menjamin dan meningkatkan ketahanan air untuk mendukung terwujudnya kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor strategis ekonomi domestik kebijakan pengelolaan sumber daya air diantaranya yaitu: Pemeliharaan dan pemulihan sumber air dan ekosistemnya; Pemenuhan kebutuhan dan jaminan kualitas air untuk kehidupan sehari-hari bagi masyarakat; Pemenuhan kebutuhan air untuk kebutuhan sosial dan ekonomi produktif; Peningkatan ketangguhan masyarakat dalam mengurangi risiko daya rusak air termasuk perubahan iklim; dan Peningkatan kapasitas kelembagaan, ketatalaksanaan dan keterpaduan dalam pengelolaan sumber daya air yang terpadu, efektif, efisien dan berkelanjutan termasuk peningkatan ketersediaan dan kemudahan akses terhadap data dan informasi.

Perlu diakui bahwa permasalahan sumber daya air kita tidak sekedar tentang banjir dan genangan melainkan kapasitas tampung per kapita dan cakupan layanan air baku yang masih rendah. Dengan kapasitas tampung sebesar 50 m3/kapita, angka ini masih sangat jauh dari kapasitas tampung ideal 1975 m3/kapita. Kita jauh dibawah kapasitas negara tetangga Thailand yang mencapai 1277 m3/kapita, Australia bahkan memiliki kapasitas tampung sebesar 4217 m3/kapita. Sedangkan kebutuhan untuk penyediaan air bersih, dukungan layanan air baku saat ini baru mencapai 51,4 m3/detik atau baru dapat melayani 66,4 persen dari kebutuhan masyarakat. Kondisi tersebut pada akhirnya memicu eksplorasi air tanah yang berlebihan sehingga membawa dampak terjadinya penurunan muka tanah di beberapa daerah seperti di pesisir utara Jakarta.


Hingga pada awal tahun 2016, saya berkesempatan melakukan site visit ke PAM Lyonnaise Jaya (PALYJA) yang berlokasi di Pejompongan dan meninjau langsung proses pengolahan air yang akan didistribusikan ke beberapa wilayah di Jakarta dan sekitarnya.


pejompongan water treatmant PALYJA (dok: pribadi)


siklus air bersih (dok: pribadi)
Air yang diperoleh lalu ditampung dan diolah di bak penampungan khusus sebelum didistribusikan kepada masyarakat. PALYJA sendiri memang bertugas untuk meningkatkan penyediaan dan pelayanan air bersih kepada masyarakat Jakarta. PALYJA pun telah 25 tahun bekerjasama dengan PAM Jaya.

bak penampungan (dok: pribadi)


air yang tampak kotor ini dibeli oleh PALYJA untuk diolah kembali (dok: pribadi)

saluran penyaluran air (dok: pribadi)
Fyi, kedalaman air di accelator mencapai 5 meter, hal ini berdasarkan informasi dari bagian produksi IPA Pejompongan 1. Selanjutnya, kami pun beranjak masuk ke dalam ruangan pompa distribusi yang sangat bising karena tingkat kebisingannya mencapai 90 - 95 dBA sehingga sangat disarankan untuk mengenakan penutup telinga ketika memasuki ruangan ini. 

dok: pribadi
Kami memperoleh informasi bahwa proses pengolahan air agar layak dikonsumsi menggunakan senyawa semisal Koagulan utama berupa Aluminium chloro hidrat serta Potassium permanganate. Tampilannya seperti tampak pada gambar di bawah ini:

koagulan utama (dok: pribadi)

potassium permanganate (dok: pribadi)
Setelah puas meninjau lokasi bak penampungan, kami berkesempatan memasuki ruang kendali kontrol dan melihat lebih dekat bagaimana proses kerja pendistribusian air yang dilakukan oleh PALYJA kepada masyarakat Jakarta.

ruang kontrol dan kendali distribusi air (dok: pribadi)

analisis perlakuan air (dok: pribadi)

area yang terlayani distribusi air (dok: pribadi)
Pada akhirnya, berangkat dari visi, misi dan nilai-nilai utama yang dipegang teguh menjadikan seseorang atau pihak tertentu merasa berkepentingan dan perlu untuk ikut serta dan turut andil mengentaskan permasalahan yang ada guna berkontribusi dan menunjukkan kepedulian. Sama halnya dengan upaya kecil nan sederhana yang telah dilakukan selama ini. Minimal dimulai dari menemukenali permasalahan dan mencari solusi penyelesaian.

Hmm, mungkin kini saatnya menjadi seorang yang KEPO alias Knowing Every Particular Object tidak ada salahnya karena hal tersebut toh menunjukkan kepedulian kita terhadap air di Jakarta. Seperti #PAMJayaQuotes berikut ini, bahwa tetaplah selalu berupaya melakukan hal-hal yang berimbas baik pada kehidupan. Semoga bermanfaat.


dok: twitter @pamjaya_id
Profil singkat:
  • Nama: Yesi Hendriani Supartoyo, MSi
  • Tempat tinggal: Dramaga, Bogor – Jawa Barat 16680
  • Pekerjaan: Peneliti di Public Interest Research and Advocacy Center (PIRAC)
  • Status: Mahasiswa Pascasarjana IPB Bogor
  • Email: yesisupartoyo77@gmail.com
  • Nomor ponsel: +6282189561289
Cat: tulisan diikutsertakan dalam Kompetisi Menulis “Cerita Pengalaman Kepedulian terhadap Air Jakarta” oleh PAM JAYA #PeduliAirJakarta. Ayo peduli!