Rabu, 23 November 2016

Tak Kepo Maka Tak Peduli: Ada Apa dengan Air Jakarta?

Bogor acapkali dijadikan “tersangka” biang kerok atas terjadinya banjir di Jakarta apalagi ketika musim penghujan tiba. Dalam kesempatan yang baik ini saya bukan bermaksud hati melakukan pembelaan diri atas beragam tudingan tersebut hanya karena saya berdomisili di Bogor. Melainkan saya ingin berbagi apa saja upaya yang telah dilakukan oleh kami selaku bagian dari masyarakat Bogor terutama dalam berusaha berkontribusi memulihkan kondisi Bogor guna menjaga ketersediaan air di Jakarta.


Pada 2013 silam, saya bersama rekan-rekan mahasiswa Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan Pascasarjana IPB Bogor melakukan fieldtrip ke wilayah Puncak Bogor tepatnya ke Tugu utara dan Tugu selatan guna mengamati sekilas perkembangan tata ruang pasca pembongkaran villa ilegal di wilayah tersebut. Pasalnya, bangunan liar tersebut diduga menyalahi aturan Rencana Tata Ruang dan berdampak signifikan terhadap resapan air di wilayah tersebut. Kondisi yang ada lantas dipulihkan kembali atau istilah kerennya restorasi.


Tidak hanya melakukan kunjungan lapang, saya bersama rekan-rekan Himpunan Mahasiswa Wirausaha Pascasarjana IPB Bogor pun tergerak untuk melakukan penanaman pohon di Hutan Organik Megamendung yang terletak di Puncak Bogor. Kami meyakini bahwa kontribusi kecil kami In Shaa Allah akan memberikan dampak yang besar, mungkin tidak sekarang tapi nanti. 

HIMAWIPA IPB Bogor melakukan penanaman pohon di hutan organik Megamendung Bogor (dok: pribadi)
Kepemilikan hutan organik ini dimiliki secara pribadi oleh Pak Bambang Istiawan dan Ibu Rosita. Beliau berdua merupakan pegiat lingkungan yang memiliki kontribusi besar terhadap pelestarian lingkungan. Tidak dapat dipungkiri bahwa Hutan organik Megamendung menjadi salah satu pelopor pelestarian lingkungan terutamanya sumber daya air di Bogor dan sekitarnya. Melalui upaya-upaya pemulihan yang dilakukan diharapkan sumber daya air di Bogor menjadi terjaga dan Jakarta tidak lagi mendapat “kiriman” yang tidak diharapkan. Upaya ini merupakan salah satu bentuk partisipasi gerakan dinamika masyarakat.


Upaya sederhana yang dilakukan ini sekiranya dapat membuka mata hati orang-orang yang kerap nyinyir dengan banjir di Jakarta. Memang sih, mudah sekali menyalahkan orang lain tanpa mencoba introspeksi diri sendiri terlebih dahulu. Sigh!

Jujur saja ya, sudah semenjak lama tepatnya sejak tahun 90-an semasa saya duduk di bangku Sekolah Dasar, santer beredar kabar bahwa “Jakarta akan tenggelam” dikarenakan air tanahnya mulai terkikis habis. 


Kekhawatiran semacam itu tentunya menuntut tindak lanjut sehingga perlu ada penyelamatan dini terhadap Jakarta, Ibukota Negara. Buktinya, berdasarkan pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia pada tahun 2015 silam telah direncanakan pembangunan sarana dan prasarana pengendali banjir 284,3 km dengan sebaran lokasi diantaranya di Jakarta. 

Disadari bahwa permasalahan kapasitas infrastruktur pengendali banjir dan genangan yang kita miliki memang masih rendah sehingga belum mampu mengimbangi peningkatan intensitas aliran permukaan di kawasan strategis dan perkotaan. Belum lagi ditambah dengan persoalan perubahan eksplorasi tata guna lahan pada Daerah Aliran Sungai yang tidak dimbangi konservasi dan perubahan pola dan intensitas curah hujan yang diperparah dengan buruknya kondisi drainase makro mikro serta semakin meningkatnya pembuangan sampah ke badan sungai telah meningkatkan kerawanan daya rusak air di berbagai wilayah di Indonesia tak terkecuali Jakarta.

Pemerintah sendiri telah merumuskan ragam kebijakan dalam rangka menjamin dan meningkatkan ketahanan air untuk mendukung terwujudnya kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor strategis ekonomi domestik kebijakan pengelolaan sumber daya air diantaranya yaitu: Pemeliharaan dan pemulihan sumber air dan ekosistemnya; Pemenuhan kebutuhan dan jaminan kualitas air untuk kehidupan sehari-hari bagi masyarakat; Pemenuhan kebutuhan air untuk kebutuhan sosial dan ekonomi produktif; Peningkatan ketangguhan masyarakat dalam mengurangi risiko daya rusak air termasuk perubahan iklim; dan Peningkatan kapasitas kelembagaan, ketatalaksanaan dan keterpaduan dalam pengelolaan sumber daya air yang terpadu, efektif, efisien dan berkelanjutan termasuk peningkatan ketersediaan dan kemudahan akses terhadap data dan informasi.

Perlu diakui bahwa permasalahan sumber daya air kita tidak sekedar tentang banjir dan genangan melainkan kapasitas tampung per kapita dan cakupan layanan air baku yang masih rendah. Dengan kapasitas tampung sebesar 50 m3/kapita, angka ini masih sangat jauh dari kapasitas tampung ideal 1975 m3/kapita. Kita jauh dibawah kapasitas negara tetangga Thailand yang mencapai 1277 m3/kapita, Australia bahkan memiliki kapasitas tampung sebesar 4217 m3/kapita. Sedangkan kebutuhan untuk penyediaan air bersih, dukungan layanan air baku saat ini baru mencapai 51,4 m3/detik atau baru dapat melayani 66,4 persen dari kebutuhan masyarakat. Kondisi tersebut pada akhirnya memicu eksplorasi air tanah yang berlebihan sehingga membawa dampak terjadinya penurunan muka tanah di beberapa daerah seperti di pesisir utara Jakarta.


Hingga pada awal tahun 2016, saya berkesempatan melakukan site visit ke PAM Lyonnaise Jaya (PALYJA) yang berlokasi di Pejompongan dan meninjau langsung proses pengolahan air yang akan didistribusikan ke beberapa wilayah di Jakarta dan sekitarnya.


pejompongan water treatmant PALYJA (dok: pribadi)


siklus air bersih (dok: pribadi)
Air yang diperoleh lalu ditampung dan diolah di bak penampungan khusus sebelum didistribusikan kepada masyarakat. PALYJA sendiri memang bertugas untuk meningkatkan penyediaan dan pelayanan air bersih kepada masyarakat Jakarta. PALYJA pun telah 25 tahun bekerjasama dengan PAM Jaya.

bak penampungan (dok: pribadi)


air yang tampak kotor ini dibeli oleh PALYJA untuk diolah kembali (dok: pribadi)

saluran penyaluran air (dok: pribadi)
Fyi, kedalaman air di accelator mencapai 5 meter, hal ini berdasarkan informasi dari bagian produksi IPA Pejompongan 1. Selanjutnya, kami pun beranjak masuk ke dalam ruangan pompa distribusi yang sangat bising karena tingkat kebisingannya mencapai 90 - 95 dBA sehingga sangat disarankan untuk mengenakan penutup telinga ketika memasuki ruangan ini. 

dok: pribadi
Kami memperoleh informasi bahwa proses pengolahan air agar layak dikonsumsi menggunakan senyawa semisal Koagulan utama berupa Aluminium chloro hidrat serta Potassium permanganate. Tampilannya seperti tampak pada gambar di bawah ini:

koagulan utama (dok: pribadi)

potassium permanganate (dok: pribadi)
Setelah puas meninjau lokasi bak penampungan, kami berkesempatan memasuki ruang kendali kontrol dan melihat lebih dekat bagaimana proses kerja pendistribusian air yang dilakukan oleh PALYJA kepada masyarakat Jakarta.

ruang kontrol dan kendali distribusi air (dok: pribadi)

analisis perlakuan air (dok: pribadi)

area yang terlayani distribusi air (dok: pribadi)
Pada akhirnya, berangkat dari visi, misi dan nilai-nilai utama yang dipegang teguh menjadikan seseorang atau pihak tertentu merasa berkepentingan dan perlu untuk ikut serta dan turut andil mengentaskan permasalahan yang ada guna berkontribusi dan menunjukkan kepedulian. Sama halnya dengan upaya kecil nan sederhana yang telah dilakukan selama ini. Minimal dimulai dari menemukenali permasalahan dan mencari solusi penyelesaian.

Hmm, mungkin kini saatnya menjadi seorang yang KEPO alias Knowing Every Particular Object tidak ada salahnya karena hal tersebut toh menunjukkan kepedulian kita terhadap air di Jakarta. Seperti #PAMJayaQuotes berikut ini, bahwa tetaplah selalu berupaya melakukan hal-hal yang berimbas baik pada kehidupan. Semoga bermanfaat.


dok: twitter @pamjaya_id
Profil singkat:
  • Nama: Yesi Hendriani Supartoyo, MSi
  • Tempat tinggal: Dramaga, Bogor – Jawa Barat 16680
  • Pekerjaan: Peneliti di Public Interest Research and Advocacy Center (PIRAC)
  • Status: Mahasiswa Pascasarjana IPB Bogor
  • Email: yesisupartoyo77@gmail.com
  • Nomor ponsel: +6282189561289
Cat: tulisan diikutsertakan dalam Kompetisi Menulis “Cerita Pengalaman Kepedulian terhadap Air Jakarta” oleh PAM JAYA #PeduliAirJakarta. Ayo peduli!

Kamis, 17 November 2016

Deklarasi untuk NKRI: Pancasila adalah Torang!

Sstt… semasa kanak-kanak dulu saya pernah tinggal kelas gegara Pancasila, lho! Saat anak-anak lain seusia saya sudah mampu menghafal Pancasila, saya malah belum fasih melafalkannya sehingga saya pun harus menelan pil pahit kenyataan bahwa saya: tidak naik kelas.

Hmm… mungkin akan berbeda ceritanya kalau saja aplikasi Pancasila Jiwa Kawula Muda Negara (PANJIKAWAN) telah adaj saat itu. Saya tidak hanya akan belajar menghafal, tapi juga memahami arti simbol dan belajar tentang Pancasila. Menarik juga ternyata ketika saya menemukan aplikasi mobile technology berbasis aplikasi android ini sebagai media penanaman rasa cinta dan nasionalisme terhadap Pancasila. 

dok: app playstore
Sebenarnya ada duka bercampur suka juga mengingat kenangan masa kanak-kanak tersebut. Pasalnya, hukuman yang harus saya terima sangat fatal. Tapi, demikianlah bentuk penghargaan terhadap Pancasila. Terlepas dari itu semua, perlu dipahami bahwa hal yang lebih penting dari Pancasila ialah bukan sekedar untuk dihafal melainkan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari karena Pancasila tidak pernah usang untuk dihayati dan diamalkan, bahkan oleh seseorang yang tidak Pancasilais sekalipun. 

Pertanyaannya: Mengapa Harus Pancasila?


Saya tidak akan berdalih dengan alasan: agar kalian naik kelas! Ya, minimal jangan sampai mengalami hal serupa dengan yang pernah saya alami dulu, lah. Tapi, sebenarnya alasan tepatnya berangkat dari proyeksi seorang akademisi yang mengutarakan bahwa Pancasila sekitar 14 tahun lagi akan menjadi: BAROMETER DUNIA! (baca: disini). Perkiraan ini bukan tanpa dasar karena semangat Pancasila memang layak untuk menjadi pencetus perdamaian dunia. Oleh karenanya penting untuk membumikan Pancasila melalui sikap dan perilaku bernegara, berbangsa dan bermasyarakat. Bayangkan belasan tahun kedepan Pancasila akan menjadi rujukan dunia. Indonesia berjaya!

Buktinya, berdasarkan hasil pencarian di laman Voice of America (VoA), saya berhasil menemukan 12 artikel terkait Pancasila. Sedangkan di laman The Wall Street Journal, saya mendapati 1 artikel terkait Pancasila berjudul Rejecting Religious Intolerance in Southeast Asia yang ditulis oleh Alissa Wahid dan Charles Maung Bo tertanggal 27 September 2016. Siapa yang tidak mengenal Alissa Wahid, beliau merupakan penerus pemikiran mendiang Gus Dur, seseorang yang mati-matian membela Pancasila. Sedangkan Charles Maung Bo merupakan Uskup Agung Keuskupan Agung Yangon. Saya yakin artikel ini worth it untuk dibaca!

dok: @jaringangusdurian
Tapi yang terpenting di tingkat lokal dan antar wilayah, praktik Pancasila dapat diimplementasikan dalam beberapa bentuk diantaranya melalui kelembagaan, dialog, seminar dan lainnya. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Pancasila mengandung 5 sila dimana masing-masing dari sila tersebut terdiri dari simbol yang penuh makna serta mengandung pula butir-butir Pancasila yang berjumlah 45 butir. Masing-masing butir Pancasila tersebut dapat dipraktikkan di tingkat lokal kemasyarakatan.

dok: app playstore
Mari kita mulai jejak implementasi praktik Pancasila di tingkat lokal dari jazirah utara Indonesia tepatnya Sulawesi Utara. Bumi nyiur melambai merupakan tanah kelahiran dan tempat dimana saya dibesarkan. Mengenang sosok Jong Celebes yaitu Rumondor Cornelis Lefrand Senduk, seorang pemuda asal Minahasa yang berkontribusi terhadap sejarah masa lampau dan memiliki andil besar dalam kemerdekaan tanah air Indonesia karena beliau berperan penting dalam perumusan Sumpah Pemuda. Begitu pula terhadap sosok Alex Andries Maramis sebagai salah satu anggota Panitia Sembilan yang berperan penting dalam perumusan Piagam Jakarta, cikal bakal Pancasila. Mereka sungguh membuat saya haru. 

dok: app playstore
Sulawesi Utara merupakan wilayah yang sangat heterogen baik dari segi keanekaragaman adat istiadat, budaya dan kepercayaan namun kerukunan antar umat beragamanya patut diacungi jempol. Karena hanya di tempat inilah saya mendapati para pemuda berkalung salib bersedia menjaga kekhusukan kami para umat muslim beribadah ketika sholat Idul Fitri. Ini menjadi catatan terpenting saya dalam menuliskan praktik Pancasila di tingkat lokal khususnya dalam pengamalan sila 1 yaitu Ketuhanan yang Maha Esa tepatnya butir 3 yang berbunyi: “Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa”.

dok: app playstore
Tentu belum lekang dari ingatan duka mendalam atas kepergian yang terkasih adik kita, Intan Marbun, korban ledakan bom molotov di depan Gereja Oikumene Samarinda. Saya atas nama pribadi turut berduka cita yang sangat mendalam. Perkara ini tidak hanya menyoal penistaan agama, melainkan pelanggaran Hak Asasi Manusia. Saya secara sadar berpendapat bahwa pelaku telah menyalahi sila kedua Pancasila yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, butir 1 yang berbunyi: “Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa”. Atas dasar kerpercayaan semua agama yang ada di semesta ini, saya memiliki keyakinan bahwasanya sama sekali tidak dibenarkan bagi seseorang untuk menghilangkan nyawa sesama makhluk hidup secara keji atas dasar alasan apapun. #RIPIntan

dok: app playstore
Kita lantas beranjak ke wilayah timur Indonesia yaitu Maluku tepatnya di Ambon yang pada Oktober 2016 silam baru saja menyelenggarakan Seminar Wawasan Kebangsaan yang mengangkat tema “Pancasila di Tengah Masyarakat melalui Semangat Persaudaraan Warga untuk Meningkatkan Kesejahteraan Bersama” yang dilaksanakan oleh Komando Resor Militer (Korem) 151/Binaiya. Saya merasa beruntung pernah berkesempatan menjejakkan langkah ke wilayah yang dulunya pernah berkonflik ini. Kini Ambon ibarat simbol kebangkitan dan gairah bangsa yang berkepribadian serta menjunjung tinggi Pancasila. Ambon memiliki kekuatan untuk melakukan harmonisasi dan menjaga keutuhan Pancasila. Karena masyarakatnya paham betul bahwa Pancasila sebagai dasar negara yang mampu mempersatukan perbedaan suku, bangsa, agama dan budaya. Masyarakat Ambon telah berhasil mempraktikkan sila 3 Pancasila yaitu “Persatuan Indonesia” terutama butir 1 yang berbunyi: “Mampu menempatkan persatuan, kesatuan serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan Negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan”.

dok: app playstore
Pada 2013 silam, saya melakukan kunjungan ke Provinsi Bali dan jujur saja kenangannya masih membekas di sanubari. Dibalik daya tariknya di bidang pariwisata, Bali menyimpan esensi kehidupan yang luar biasa. Bali menjadi salah satu contoh daerah yang mempraktikkan nilai-nilai Pancasila di tingkat lokal. Melalui prinsip luhur yang dipegang masyarakat yaitu Tri Hita Karana, masyarakat Bali berupaya menjaga harmoni hubungan baiknya dengan Tuhan Sang Maha Pencipta, dengan sesama manusia dan dengan lingkungan sekitarnya. 


Bali pun telah memiliki Forum Kerukunan Umat Beragama, dan bahkan pada awal November silam baru saja menggelar Dialog Lintas Agama. Dialog yang diadakan tersebut membahas gerakan ikhtiar guna menguatkan cita-cita dan kedamaian bersama serta berupaya memahami bahwa perbedaan merupakan keniscayaan yang pada dasarnya indah. Indonesia sedari dulu memang beragam, oleh karenanya sangatlah tidak elok dipaksakan untuk seragam. Malah dalam kebhinekaan tersebutlah kita dilatih untuk mewujud dalam kerukunan khususnya antar umat beragama. Intinya: Toleransi! 

Tidak hanya di Bali, bahkan pada saat kunjungan ke Pulau Nias, Sumatera Utara tepatnya ke Gunung Sitoli pada 2015 silam, saya mendapati Forum Kerukunan Umat Beragama pula disana. Dilatabelakangi oleh keinginan bahwa kerukunan dan kesatuan merupakan sebuah keharusan, maka dibentuklah forum yang sekiranya dapat membangun dan membudayakan kerukunan dalam elemen masyarakat. Sungguh bukan perkara mudah karena keorganisasian seperti ini memikul beban berat berupa harapan masyarakat agar forum ini mampu menjadi garda terdepan dalam menyelesaikan gejolak permasalahan yang kemungkinan terjadi dan menangkal aliran radikal yang tentunya bertentangan dengan Pancasila. 


Kelembagaan forum yang ada ini semacam menjadi bukti kekuatan gerakan sosial masyarakat yang dinamis. Kabupaten Bandung juga telah membentuk kelembagaan bernama Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat sebagai wadah bagi elemen masyarakat untuk saling menjaga dan memelihara kewaspadaan dini masyarakat. Berangkat dari amanat Peraturan Menteri Dalam Negeri No.12/2006 tentang Kewaspadaan Dini Masyarakat Daerah, forum ini diharapkan dapat menjadi upaya preventif merawat ideologi yang dikhawatirkan semakin terdegradasi dikarenakan pelbagai dinamika yang ada. Forum ini pun berkomitmen untuk mengaplikasikan Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara. Yang terpenting ialah itikad baik mempraktikkan sila ke 4 Pancasila yaitu “Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan” terutama butir 9 yaitu “Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama”.

dok: app playstore
Kembali lagi ke jazirah utara yang khas dengan kerukunan dan "baku-baku sayang, baku-baku bae"-nya, selain praktik Pancasila di tingkat lokal berupa pembentukan forum maupun seminar kebangsaan, Sulawesi Utara juga mengadakan Dialog Kepemudaan guna memperingati Hari Pahlawan pada tanggal 10 November 2016 silam yang berjudul “Sentralisasi Peran Pemuda untuk Mengembalikan Semangat Pancasila di Tanah Minahasa”. Hal ini tidak hanya menjadi bukti kecintaan terhadap Pancasila sebagai ideologi bangsa melainkan juga kecintaan terhadap tanah leluhur Minahasa. 

Praktik Pancasila di tingkat lokal berikutnya oleh masyarakat Sulawesi Utara ialah ketika segenap elemen masyarakat Sulawesi Utara mengucap Ikrar Cinta Damai dalam apel kebangsaan pada awal November 2016 silam. Inti ikrar yang disampaikan ialah penolakan atas segala macam kelompok radikalisme, pro kekerasan dan intoleransi. Rangkaian doa bersama di penghujung acara dari lima pemuka agama di Sulawesi Utara menjadi penyempurna kegiatan.

Jargon “Torang Samua Basudara” (baca: Kita Semua Bersaudara) menjadi landasan jiwa Pancasila tiap masyarakat Sulawesi Utara. Mottonya yang begitu terkenal yaitu “Si Tou Timou Tumou Tou” yang berarti Manusia Hidup untuk Memanusiakan Manusia Lainnya, menjadi implementasi praktik sila ke 5 Pancasila yaitu Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia terutama butir 5 yaitu: “Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri”.

dok: app playstore
Demikianlah potret praktik Pancasila di tingkat lokal antar wilayah Indonesia. Kedepan Pancasila mungkin tidak saja menjadi barometer dan rujukan dunia, melainkan ada terselip kerinduan untuk dijadikan sebagai “Agama Publik”, sebagaimana ide salah seorang tokoh NU Sulawesi Utara. Harapannya Pancasila akan dapat menjadi agama pemersatu atas konflik. 


Akhir kata, dari lubuk hati yang paling dalam melalui tulisan sederhana ini saya memohon kepada para manusia penolak Pancasila diluar sana yang nyata-nyatanya sangat intoleran tersebut untuk mau dan mampu sedikiiiiiiiiiit saja bersikap lebih toleran dan… beradab! Semoga.

Referensi: 
Cat: Penulis merupakan Mahasiswa Pascasarjana IPB Bogor. Penulis pernah menjadi Tenaga Ahli Anggota Dewan DPR RI. Saat ini penulis menjadi Peneliti di Public Interest Research and Advocacy Center (PIRAC).

Nb: Tulisan diikutsertakan dalam Lomba Blog #FestHAM2016 dalam rangka Festival HAM 2016 dengan tema "Menjalankan Praktik Pancasila di Tingkat Lokal"

Sabtu, 05 November 2016

Potret Pembangunan Infrastruktur Indonesia: Capaian Penting dan Tindak Lanjut Permasalahan

“Indonesia Darurat Infrastruktur!”
Hmm…


Suasana saat para penumpang menunggu kedatangan KRL di Stasiun transit Tanah Abang (dok: pribadi)

Sepatah kata tadi mungkin tepat menggambarkan suasana hiruk pikuk foto diatas. Tampak jelas para penumpang berjubel menunggu kedatangan Commuter Line arah Bogor. Keadaan "memprihatinkan" di sudut ibukota ini seakan menjadi potret kedaruratan infrastruktur khususnya transportasi angkutan umum di Indonesia. 

Tapi, pada September 2016 silam saya bersama tim dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melakukan kunjungan lapang ke wilayah timur Indonesia yaitu Maluku. Kami berkunjung ke Kota Ambon, Pulau Buru, Pulau Seram (Seram Bagian Barat) dan Kepulauan Kei, Tual – Langgur di Maluku Tenggara. Satu hal yang menjadi kebingungan kami di lapang ialah tentang statement yang selama ini terdengar bahwa “…kesenjangan infrastruktur antarwilayah terutama di wilayah Indonesia bagian timur masih tinggi. Kualitas dan kapasitas infrastruktur di wilayah tersebut masih jauh dari memadai sementara itu kemampuan pemerintah daerah dalam penyediaannya sangat terbatas”

Sedangkan di depan mata kami terbentang infrastruktur fisik jalan yang sangat bagus, mulus, lebar dan luas. Kendaraan beroda dua maupun empat masih sangat jarang yang melintas. Tidak pernah terbayang oleh saya akan menjumpai infrastruktur fisik berupa jalan lengang dengan kondisi yang sebagus ini di salah satu bagian wilayah timur Indonesia. Saya lantas berpikir mungkin kesenjangan infrastruktur di wilayah Indonesia bagian timur yang dimaksud tersebut ialah kesenjangan prasarana dan sarana di bidang lain. Yang pasti, bukti nyata di lapang ini menjadi seruan bahwa bukan saatnya lagi untuk terus menerus “mengkerdilkan” wilayah timur Indonesia. Kendati demikian permasalahan memang masih ada dan terus terjadi sehingga membutuhkan jurus jitu guna penyelesaian.


Prof. Dr. Ir. Dominicus Savio Priyarsono, MS, Guru Besar IPB dalam Orasi Ilmiah Guru Besarnya pada November 2014 silam yang berjudul “Beberapa Masalah dan Kebijakan Publik tentang Infrastruktur: Tinjauan dari Perspektif llmu Ekonomi” menjelaskan bahwa infrastruktur memiliki makna struktur dasar fisik dan organisasional yang dibutuhkan untuk berlangsungnya suatu masyarakat atau perusahaan; atau jasa dan fasilitas yang dibutuhkan sebuah perekonomian untuk berfungsi. 

Prof. Priyarsono merekomendasikan kajian kelembagaan yang fundamental guna mengatasi permasalahan pembangunan infrastruktur yang dinilai sangat lamban. Ilmu Ekonomi dapat menyumbangkan teorinya dalam bidang perancangan mekanisme untuk memecahkan permasalahan yang ada melalui Teori Insentif dengan pendekatan The Principal Agent Model guna memahami permasalahan kelembagaan yang menghambat pembangunan infrastruktur. Selanjutnya beliau menyarankan untuk dibentuknya semacam badan nasional yang berfungsi sebagai clearing house guna mengatasi kelemahan dalam hal kapasitas kelembagaan dan kapabilitas sumber daya manusia di tingkat daerah. Badan ini diberi tugas dan wewenang untuk secara komprehensif mempersiapkan pembangunan infrastruktur. Intinya, perlu ada pemberdayaan kelembagaan untuk mengatasi permasalahan dalam proses pembangunan infrastruktur di tanah air.


Lebih lanjut Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo dalam Pidato Kenegaraannya dalam rangka HUT ke – 70 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di depan sidang bersama DPD RI dan DPR RI pada Agustus 2015 silam mengungkapkan arah pembangunan khususnya bidang sarana dan prasarana yaitu sumber daya air, transportasi serta perumahan dan kawasan permukiman. Adapun arah pembangunan khususnya di bidang infrastruktur tersebut dilengkapi dengan landasan kebijakan, capaian penting apa saja yang telah berhasil dicapai serta tindak lanjut atas permasalahan yang ada. Berkenaan dengan hal tersebut serta dilengkapi dengan data dan informasi aktual di lapang maka saya berusaha mencoba memberikan potret dan narasi kinerja pemerintah guna menggambarkan hasil pembangunan baik dari segi nilai kemanfaatan, harapan maupun solusi serta saran atas strategi komunikasi pemerintah agar diseminasi informasi sampai di masyarakat secara efektif.

Transportasi

Capaian Penting


Berpose dengan latar belakang Jembatan Merah Putih Ambon, Maluku (dok: pribadi)
Jembatan Barelang atau Jembatan Habibie di Batam, Kepri (dok: pribadi)

Selama periode 2004 – 2014 kebijakan pembangunan infrastruktur di Indonesia sudah mengarah kepada peningkatan daya saing. Pembangunan sektor transportasi mengalami kenaikan yang cukup baik di sektor jalan. Keberhasilan pembangunan jalan dan jembatan untuk mendukung pusat pertumbuhan ekonomi. Pada tahun 2015 telah dibangun Jembatan Soekarno di Manado sepanjang 1.127 meter yang merupakan bagian dari Manado Outer Ring Road (MORR). Kunjungan saya ke Ambon, Maluku pada September 2016 silam juga menjadi salah satu upaya guna membuktikan bahwa infrastruktur Jembatan Merah Putih di Kota Ambon memang memudahkan masyarakat sekitar dalam bertransportasi terutama dalam meminimalkan waktu dan jarak tempuh.




Grafik perkembangan pembangunan memperlihatkan tren yang meningkat dari pembangunan jalan nasional, jalan tol dan jembatan selang periode 2004 - 2013.  Selain itu, salah satu terobosan transportasi darat periode 2004 – 2014 adalah pembangunan sarana transportasi perkotaan berupa Bus Rapid Transit (BRT)/angkutan umum massal sebagai solusi mengatasi kemacetan. 



Selain pembangunan terminal dan pelabuhan, terdapat pula beberapa bandara strategis yang telah dibangun diantaranya Bandar Udara Kualanamu Sumatera Utara. Kunjungan ke Medan pada tahun 2015 silam memberikan saya kesempatan menyaksikan secara langsung kemegahan Bandara Kualanamu, Sumatera Utara. Bandara ini dilengkapi integrasi kereta api dan bandara yang merupakan wujud nyata capaian kinerja pemerintah dalam membangun bandara yang strategis.


Permasalahan dan Tindak Lanjut
  • Masalah: Pembebasan lahan untuk penyediaan infrastruktur yang masih berlarut. Hal ini secara nyata mempengaruhi kinerja sektor transportasi dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
  • Tindak lanjut: Upaya tindak lanjut yang diperlukan antara lain memperkuat koordinasi dengan pihak terkait diantaranya pemerintah daerah, BPN serta penegak hukum (Kejaksaan dan Kepolisian) termasuk melalui nota kesepahaman (MoU). 
  • Masalah: Masih terbatasnya kuantitas dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) transportasi. 
  • Tindak lanjut: Melakukan peningkatan kualitas dan kuantitas SDM transportasi melalui kegiatan pelatihan dan pendidikan serta sertifikasi SDM dan juga termasuk SDM pemerintah daerah.
  • Masalah: Peran pemerintah daerah dan swasta dalam mendukung pembangunan/pengembangan infrastruktur transportasi masih rendah. 
  • Tindak lanjut: Hal ini perlu mendapatkan perhatian melalui penyederhanaan perijinan penyelenggaraan prasarana dan sarana transportasi serta optimalisasi kerjasama melalui MoU atau perjanjian kerjasama dengan pemerintah daerah serta swasta dalam berinvestasi di sektor transportasi
  • Masalah: Belum memadainya dokumen perencanaan yang dipersyaratkan dalam pembangunan infrastruktur transportasi seperti dokumen Rencana Induk dan Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) terutama pembangunan prasarana pelabuhan Sungai, Danau dan Penyeberangan dan Laut. 
  • Tindak lanjut: Upaya yang diperlukan diantaranya adalah melakukan percepatan penyelesaian penyusunan dokumen Rencana Induk dan AMDAL secara parallel dengan proses persiapan konstruksi pembangunan infrastruktur transportasi dengan memanfaatkan rekayasa teknologi dalam pekerjaan fisik.
Sumber Daya Air

Capaian Penting 


dok: Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden RI (2015), diolah

dok: Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden RI (2015), diolah
dok: Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden RI (2015), diolah
Permasalahan dan Tindak Lanjut

Semenjak 2015 saya terlibat project kerjasama dengan Kementerian PUPR untuk melakukan Independent Monitoring and Evaluation Dana Alokasi Khusus dalam bidang irigasi yang merupakan lingkup kerja dari Dirjen Sumber Daya Air. Kunjungan lapang pun kami lakukan ke Sumatera Utara yaitu di Balai Wilayah Sungai Medan hingga Pulau Nias tepatnya ke Gunung Sitoli dan Nias Selatan. Lalu, pada September 2016 silam kami melakukan kunjungan lapang ke Maluku guna melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan DAK di bidang irigasi tahun 2015 dan kebetulan pada bulan Mei 2015 telah diresmikan Bendung Way Leman di Pulau Buru, Maluku. Temuan kami, ternyata permasalahan infrastruktur di bidang sumber daya air khususnya irigasi yang ada di lapang dari tahun ke tahun hampir serupa antar wilayah.

FGD terkait pelaksanaan kegiatan DAK dan TP-OP bidang irigasi di Nias Selatan, Sumatera Utara (dok: pribadi)

FGD pelaksanaan kegiatan DAK bidang irigasi di Pulau Buru, Malauku (dok: pribadi)
  • Masalah: Fungsi layanan irigasi mengalami penurunan akibat tingginya tingkat kerusakan, rendahnya kehandalan sumber air irigasi, dan belum optimalnya kegiatan operasi dan pemeliharaan. 
  • Tindak lanjut: Mengingat tersedianya sarana dan prasarana irigasi menjadi salah satu prasyarat kunci yang mendukung upaya peningkatan kedaulatan pangan, khususnya pertanian padi, maka sebaiknya pemerintah dapat mewujudkan terbangunnya lahan sawah beririgasi dan memulihkan fungsi jaringan irigasi yang rusak. Selain itu, diperlukan pula pembangunan tampungan air baru dan pembentukan unit pengelola satuan irigasi sebagai unit yang bertanggung jawab menjamin keandalan daerah irigasi. 
Pada 2015 silam, saya melakukan kunjungan lapang ke Bandung bersama Kementerian PUPR dalam rangka meninjau layanan air baku. Kami mempelajari tentang Model Instalasi Pengolahan Air mulai dari reservoir, bak penampung hingga tangki yang digunakan. Berdasarkan hasil peninjauan lapang akhirnya didapati beberapa masalah didalamnya.

Tangki penampung yang merupakan bagian dari Model Instalasi Pengolahan Air berlokasi di Kab. Bandung, Jawa Barat (dok: pribadi)
  • Masalah: Kapasitas tampung per kapita dan cakupan layanan air baku masih rendah. Kondisi tersebut akhirnya memicu eksplorasi air tanah yang berlebihan sehingga membawa dampak terjadinya penurunan muka tanah di beberapa daerah seperti di pesisir utara Jakarta. 
  • Tindak lanjut: Oleh karenanya rencana pembangunan bendungan baru guna meningkatkan kapasitas tampung yang dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik perlu segera diwujudkan. 
Belum lekang dari ingatan kisah di awal tahun 2014 yang memicu duka mendalam atas musibah banjir bandang yang melanda Kota Manado, Sulawesi Utara. Aktivitas perekonomian Manado lumpuh total diakibatkan infrastruktur yang rusak parah. Kota yang saya diami 23 tahun lamanya tersebut mengalami permasalahan yang cukup pelik dalam hal perubahan eksplorasi dan tata guna lahan khususnya pada Daerah Aliran Sungai (DAS) yang lantas tidak diimbangi konservasi.
  • Masalah: Kapasitas infrastruktur pengendali banjir dan genangan masih rendah sehingga belum mampu mengimbangi peningkatan intensitas aliran permukaan di kawasan strategis dan perkotaan. Perubahan eksplorasi dan tata guna lahan pada DAS yang tidak diimbangi konservasi dan perubahan pola dan intensitas curah hujan yang diperparah dengan buruknya kondisi drainase makro mikro serta semakin meningkatnya pembuangan sampah ke badan sungai, telah meningkatkan kerawanan daya rusak air di berbagai wilayah di Indonesia. 
  • Tindak lanjut: Pemerintah perlu melakukan pembangunan flood management system di 33 Balai Wilayah Sungai beserta penerapan perangkat manajemen pengendalian banjir. Serta perlunya melakukan pembangunan dan rehabilitasi sarana dan prasarana pengendali banjir dan penerapan pengelolaan pantai lebih terpadu dan berkelanjutan guna mengatasi banjir yang masih kerap terjadi dan meluasnya dampak abrasi pantai di kota pesisir dan pulau terluar.
Perumahan dan Kawasan Permukiman

Capaian Penting

Sebagai salah satu wujud komitmen bentuk dukungan pemerintah untuk membantu penyediaan akses masyarakat terhadap hunian yang layak, Presiden RI telah mencanangkan "Program Pembangunan Sejuta Rumah" pada tanggal 29 April 2015 di Ungaran, Kabupaten Semarang.


Permasalahan dan Tindak Lanjut


Contoh RISHA yang dibangun oleh Kementerian PUPR berlokasi di Kab. Bandung, Jawa Barat (dok: pribadi)
  • Masalah: Penyediaan hunian layak khususnya bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) masih dihadapkan pada beberapa tantangan diantaranya Mismatch supply demand pembangunan rumah untuk MBR. Pertambahan penduduk perkotaan yang pesar dalam beberapa dekade terakhir menyebabkan semakin terbatasnya lahan hunian di perkotaan dan menyebabkan peningkatan harga lahan sekitar 20 persen per tahun dalam 3 tahun terakhir. Hal ini telah menyebabkan kenaikan harga hunian yang semakin menyulitkan MBR mengakses hunian layak dan terjangkau. Sementara itu, kapasitas pemerintah dalam mendukung penyediaan rumah belum dapat mengimbangi kebutuhan, seiring meningkatnya jumlah rumah tangga baru. 
  • Tindak lanjut: Dalam menjawab tantangan tersebut, pemerintah mendorong peran Perumnas menjadi Badan Pengelola Perumahan melalui penyesuaian PP No. 15/2004 serta penyesuaian peraturan terkait pengurangan penarikan IMB di daerah. 
  • Masalah: Belum optimalnya keterlibatan pihak swasta dalam membangun rumah MBR. Para pengembang dihadapkan pada kondisi tingginya harga lahan dan bahan bangunan serta belum efisiennya proses perizinan yang dapat mencapai 20 persen dari biaya pembangunan rumah. Sementara itu regulasi yang ditetapkan belum dapat mendorong pihak swasta dalam penyediaan rumah bagi MBR. 
  • Tindak lanjut: Kedepannya pemerintah perlu melakukan penyesuaian peraturan terkait hunian berimbang agar ditingkatkan menjadi peraturan pemerintah.
  • Masalah: Semakin meningkatnya luas kawasan permukiman kumuh di perkotaan. Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat pada tahun 2014, terdapat 38,431 ha luas kawasan pemukiman kumuh perkotaan yang harus ditangani seluruhnya. 
  • Tindak lanjut: Upaya yang perlu dilakukan diantaranya yaitu penanganan permukiman kumuh berbasis kolaborasi antar sektor, baik pemerintah pusat, daerah, mitra pembangunan dan masyarakat untuk bersama-sama menangani permukiman kumuh secara tuntas dan berkelanjutan. 
Kerjasama stakeholder terkait bersama dengan masyarakat dalam mewujudkan keberlangsungan pembangunan infrastruktur yang semakin baik kedepannya menjadi sebuah keharusan. Sudah sepatutnyalah kita mengapresiasi capaian penting kinerja pemerintah dan turut serta berkontribusi dalam perbaikan aktif guna menindaklanjuti permasalahan infrastruktur di tanah air.

Referensi: 
  • Kementerian Pekerjaan Umum. 2004 - 2013. Perkembangan Pembangunan Jalan dan Jembatan
  • Kementerian Perhubungan. 2004 - 2013. Pembangunan Terminal, Pelabuhan dan Bandara
  • Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia. 2015. Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia.
  • Priyarsono, DS. 2014. Orasi Ilmiah Guru Besar IPB “Beberapa Masalah dan Kebijakan Publik tentang Infrastruktur: Tinjauan dari Perspektif Ilmu Ekonomi”. Institut Pertanian Bogor
Cat: tulisan diikutsertakan dalam Blog Competition oleh Kementerian Kominfo dan Rumah Blogger Indonesia

Rabu, 02 November 2016

Bumi Nyiur Melambai Kaya Kreasi Olahan Ikan Laut

Terlahir dan dibesarkan di Sulawesi Utara merupakan satu keberuntungan terbesar dalam hidup saya. Pasalnya, "Bumi Nyiur Melambai" kerap menyajikan keindahan panorama bentang alam berupa lanskap pegunungan maupun pesisir laut, sajian kebudayaan daerah, kerukunan antar umat beragama dan kelezatan kuliner yang khas lengkap dengan kandungan gizi yang tiada tandingannya.

Sulawesi Utara dengan salah satu sukunya yaitu Minahasa memang memiliki kekayaan alam laut yang sangat potensial untuk dikembangkan. Taman Nasional Bunaken salah satunya, taman nasional ini merupakan perwakilan ekosistem perairan tropis Indonesia. Pada tahun 2003, Taman Nasional Bunaken memperoleh penghargaan British Airways Tourism for Tomorrow untuk kategori manajemen ekowisata. Taman Nasional Bunaken menjadi salah satu bukti keindahan alam bawah laut dan menjadi tujuan ekowisata. Kekayaan terumbu karang dan hewan laut serta flora dan fauna endemik yang ada didalamnya semakin menegaskan bahwa laut memang menjadi daya tarik utama pesona Sulawesi Utara. 

Sumber daya alam laut Sulawesi Utara pun tidak kalah hebatnya. Potensi ikan lautnya terutama sangatlah istimewa. Menariknya olahan makanan laut tersebut dapat dikreasikan di setiap kuliner khas yang disajikan dan dijamin: KEHALALANNYA! Jadi, membedah nilai gizi yang terkandung di dalam masakan Minahasa, is a must! 


Sebut saja Tinutuan alias bubur manado. Tidak seperti bubur kebanyakan, bubur ini memiliki keunikan karena disajikan lengkap dengan singkong, sayur, jagung, mie, dan ikan, serta dilengkapi tahu ataupun gorengan. Adapun gorengan yang disajikan selain perkedel milu atau biasa dikenal juga sebagai perkedel jagung, ada gorengan yang merupakan kreasi olahan makanan laut karena terbuat dari ikan nike yang kemudian disebut perkedel ikan nike. Ukuran ikan nike sangat kecil, tapi kandungan gizinya sangat besar. 

Tinutuan disajikan bersama perkedel ikan nike (dok: pribadi)

Kandungan gizi ikan nike dipercaya cukup tinggi. Bahkan berdasarkan penelitian (baca: disini) komposisi asam lemak pada ikan nike hampir setara dengan ikan salmon! Sehingga ikan nike berkhasiat sebagai penghasil energi.

RM. Saroja yang menyajikan kuliner khas berupa nasi kuning dengan toping yang super lengkap yaitu terdiri dari kentang goreng, daging, suwiran ikan cakalang dan telur rebus. Rumah Makan ini tidak pernah sepi pengunjung. Nasi kuning khas berdaun woka ini menjadi salah satu kuliner khas yang sayang untuk dilewatkan bila nanti berkunjung ke Manado, Sulawesi Utara.

Nasi kuning saroja beralasakan daun woka (dok: pribadi)

Ikan cakalang sendiri merupakan salah satu jenis ikan laut. Ikan cakalang dapat dikreasikan menjadi ragam menu olahan. Selain dijadikan toping nasi kuning, ikan cakalang juga dapat di-fufu alias diasap. Ikan cakalang fufu dapat diolah kembali dan dikreasikan menjadi beragam menu kuliner pilihan. 

Ikan cakalang fufu alias ikan cakalang asap (dok: pribadi)

Selain itu, ikan cakalang juga telah dikemas dalam bentuk kalengan dengan berbagai macam varian rasa. Kemasan yang menarik dan rasa yang variatif membuat ikan cakalang semakin digemari dan praktis. Hal ini menjadi satu inovasi terbaru dalam hal kreasi olahan makanan laut khususnya ikan cakalang.

Ikan cakalang memang menjadi primadona. Selain dijadikan sebagai makanan kalengan, ikan asap atau toping menu kuliner, ikan cakalang juga dapat dijadikan bahan isi kue tradisional. Sebut saja Panada, kue ini serupa pastel hanya saja yang membedakan ialah kulitnya tidak tipis/crunchy melainkan tebal seperti roti dan isiannya bukan sayur melainkan ikan laut cakalang yang telah diberi bumbu panpis.

Panada (dok: pribadi)

Detiklife.com melansir (baca: disini) bahwa ternyata ikan cakalang memiliki kandungan gizi berupa Omega 3 dan Omega 6 yang cukup tinggi. Kandungan asam lemak Omega 3 dalam ikan cakalang berperan dalam melindungi jantung. 

Selain ikan cakalang, adapula jenis ikan laut lainnya yaitu ikan tuna yang bisa dikreasikan menjadi menu kuliner yang sehat dan nikmat. Saya biasa berkreasi dengan mengolah ikan tuna menjadi “Ikan Tuna Garo Rica” yaitu ikan tuna yang bercitarasa pedas. 

Ikan tuna garo rica ala chef yesi lols (dok: pribadi)

Kandungan gizi ikan tuna sebagaimana dilansir oleh detiklife.com (baca: disini) sangat bermanfaat untuk kesehatan yaitu sebagai pencerdas otak dan penghambat kanker payudara. Ikan tuna juga memiiki kandungan yang lengkap diantaranya kaya akan asam lemak Omega 3. Ikan tuna kalengan juga menjadi salah satu inovasi atau terobosan terbaru, misalnya "Tuna dalam Sambal Goreng" dan "Ikan Tuna dalam Minyak" berikut ini.

Ikan tuna kalengan dalam sambal goreng (dok: pribadi)
Ikan tuna dalam minyak (dok: pribadi)

Sulawesi Utara dan ragam kuliner khas didalamnya memang tiada duanya. Kreasi olahan makanan lautnya tidak hanya mengenyangkan namun juga menyehatkan dikarenakan kandungan gizi khususnya protein dari ikan laut. Hal ini menunjukkan tingkat kreativitas dalam berkreasi mengolah makanan laut serta kandungan gizi yang sangat tinggi dari hasil laut.

Saya meyakini bahwa kedepan Sulawesi Utara akan mampu menjadi perwakilan daerah yang mampu membuktikan ragam keunikan dari segi budaya, kebiasaan dan kuliner khas. Sulawesi Utara mampu menyajikan keanekaragaman makanan khas daerah dan merepresentasikan latar belakang sejarah dan budayanya. Pelbagai keindahan dan keunikan yang ada di Sulawesi Utara menjadi daya tarik yang menarik untuk dieksplor lebih jauh lagi. Menjelajahi Sulawesi Utara menjadi bagian dari bentuk nyata kontribusi aktif mencintai Negeri.

Cat: tulisan diikutsertakan dalam Jelajah Gizi 4: Membedah Nilai Gizi Masakan Minahasa oleh Nutrisi untuk Bangsa dan Sari Husada

Jelajah Gizi