Sabtu, 27 Agustus 2016

Kabupaten "Inovasi" Sukabumi, Unggul dalam Ketertinggalan

Semenjak 2009, Kabupaten Sukabumi dinobatkan sebagai salah satu kabupaten tertinggal di Provinsi Jawa Barat. Padahal daerah yang beribukota di Pelabuhan Ratu ini kaya akan potensi daerah beragam sektor. Buktinya, roda perekonomian wilayah kabupaten Sukabumi digerakkan oleh sektor pariwisata, pertanian, perkebunan dan industri. Belum lagi Kabupaten Sukabumi telah dikukuhkan sebagai inisiator Kampung UKM Digital dalam memanfaatkan terobosan baru (inovasi) di bidang usaha kecil dan menengah.


Ragam potensi daerah dapat diamati diantaranya melalui potensi pariwisata berupa obyek wisata sungai berarus deras yang melintasi daratan subur yang dijadikan sarana untuk olah raga. 

Kab. Sukabumi mulai menjadi salah satu primadona pariwisata di Jawa Barat (dok: http://sukabumikab.go.id)
Selain itu, potensi pertanian dan tanaman hortikultura yang didukung oleh kandungan tanah yang sangat subur sehingga mampu menghasilkan komoditi unggulan seperti padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau, kedelai, sayur-sayuran dan buah-buahan serta tanaman obat dan tanaman hias.

Lahan sawah Kab. Sukabumi (dok: http://dipertakabsmi.com)
Di samping mengandung potensi alam yang khas, Kabupaten Sukabumi juga dikaruniai posisi strategis dalam hal industri barang dan jasa, karena letaknya berkisar sekitar 130 km dari Jakarta. Tidak dapat dipungkiri bahwasanya ratusan industri yang bermarkas di Jakarta, membangun pabriknya di Kabupaten Sukabumi. Contoh sederhana saja terkait dengan potensi air bawah tanah sepanjang tahun yang terpancar dari perut gunung yang menjadi sumber bahan baku bagi perusahaan air minum dalam kemasan.

Adapun pembangunan daerah tidak hanya meliputi aspek ekonomi, tetapi juga aspek sosial, budaya dan keamanan bahkan menyangkut hubungan antara daerah tertinggal dengan daerah maju. Di samping itu, kesejahteraan kelompok masyarakat yang hidup di daerah tertinggal memerlukan perhatian dan keberpihakan yang besar dari pemerintah.

Apalagi dalam era otonomi, implementasi pembangunannya merupakan kewenangan dari pemerintah Kabupaten sehingga menjadi suatu keharusan bahwa fokus sekaligus lokus pembangunan daerah tentunya membutuhkan sinergi antara semua stakeholder baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, sektor swasta (lembaga donor) serta perguruan tinggi.

Tapi, terkadang terjadi gap antara harapan dan kenyataan. Fakta dan realitas di lapang sering tak sejalan. Sehingga dibutuhkan gerakan kemasyarakatan yang dikenal sebagai gerakan post modernism yaitu mereka yang urun tangan dan berkontribusi aktif memperbaiki keadaan. Intinya, mereka ini merupakan orang-orang yang selalu mencari perubahan, merespon perubahan tersebut dan memanfaatkannya secara maksimal sebagai sebuah peluang. Masyarakat memiliki andil dalam banyak hal sehingga pemaknaan dari, oleh dan untuk masyarakat dapat benar terasa dampaknya kaitan dengan pembangunan inovasi daerah.

Desa Cicantayan, merupakan bagian dari Kabupaten Sukabumi. Desa yang bergeliat memajukan inovasi daerahnya dikarenakan pimpinan daerah (Kepala Desa) yang begitu inovatif. Sebut saja Kang Fikri, beliau merupakan kandidat Master Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB). Dalam riset tesis S2 nya beliau meneliti tentang Indeks Pengembangan Desa. Hal ini menjadi salah satu inovasi pemikiran mutakhir dari seorang pimpinan daerah.

Peta Desa Cicantayan, Kab. Sukabumi (dok: google)
Salah satu inovasi daerah Desa Cicantayan yaitu urban farming yang telah digalakkan semenjak 2014 melalui pencanangan program “satu rumah, lima polibag”. Adapun pilot project percontohan ialah di satu kedusunan. Polanya setiap rumah dititipi polibag yang telah ditanami tomat, cabe rawit dan seledri. Setiap rumah tangga diperkenankan memilih jenis tanaman yang diinginkan dan diwajibkan merawat hingga tanaman tersebut panen. Inovasi daerah Desa Cicantayan ini diharapkan dapat mengentaskan rawan pangan dan menjaga ketahanan pangan di daerah tersebut.

Inovasi daerah Desa Cicantayan Sukabumi selanjutnya berfokus pada pelestarian budaya yaitu Kampung Egrang yang merupakan kampung budaya berlokasi di Cibiru Desa Cicantayan. Adapun pendirian kampung budaya ini diharapkan dapat mendorong, melestarikan dan memelihara permainan tradisional turun temurun khususnya egrang dan mainan lainnya yang berbahan dasar bambu.

Ragam permainan tradisional yang dirindukan dan egrang merupakan salah satunya (dok: https://www.facebook.com/KorangBumi/)
Egrang merupakan permainan tradisional yang perlu dijaga kelestariannya guna memelihara eksistensi budaya (dok: https://www.facebook.com/KorangBumi/)
Kabar baik datang dari Kampung egrang bahwa tiap minggu komunitas egrang dari kampung egrang selalu diundang ke Sukabumi Car Free Day (SCFD) dan pernah pula diundang ke olimpiade permainan tradisional yang diselenggarakan oleh Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung. Wow! 

Egrang menjadi salah satu permainan yang sering dilombakan (dok:https://www.facebook.com/KorangBumi/)
Kampung egrang sendiri dibentuk karena mayoritas penduduk dalam kesehariannya bergelut dengan bambu. Desa cicantayan memang memiliki produk unggulan berupa kerajinan bambu, selain bubutan kayu, kripik enye/kicimpring dan buah manggis. Selain soal pemeliharaan eksistensi budaya, kampung ini juga menyediakan beragam produk kerajinan bambu berkualitas berupa rak buku, meja, kursi dan lainnya serta tidak ketinggalan tersedianya rumah baca. 

Rumah baca Bambu Biru bertujuan meningkatkan minat baca dan menjadi sumber pengetahuan warga sekitar (dok: https://www.facebook.com/bambubiroe)
Rak buku terbuat dari bambu berkualitas seharga Rp 500.000 asli produk Desa Cicantayan, Sukabumi (dok: http://bambubiru.id/category/umkm/kerajinan-bambu/)
Inovasi daerah tentu tidak terlepas dari peran kepemimpinan didalamnya. Perlunya menerapkan “reinventing the government” dan “enterprising the government” menjadi syarat wajib dalam pengembangan keinovasian daerah. Dimana seorang pemimpin wajib memiliki visi yang menarik, menantang serta dapat dipercaya, yang mampu disampaikan secara jelas untuk kemudian “dibagi” bersama dengan para pengikutnya sehingga menjadi kekuatan pendorong agar daerah bisa terus berkembang dan maju. 

Pun, dalam rangka reinventing the government perlu dipompakan semangat kewirausahaan dalam melaksanakan pembangunan. Akhir kata, Kabupaten Sukabumi dengan beragam keunggulan dibalik “ketertinggalannya” memberi kabar baik untuk Indonesia berupa inovasi daerah guna membangun kesejahteraan dan perekonomian daerah serta meningkatkan kualitas hidup warganya. Merdesa!

Cat: Penulis merupakan Mahasiswa Pascasarjana IPB Bogor dengan bidang keilmuan Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan. Penulis pernah bekerja di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, serta Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi DKI Jakarta. Saat ini penulis terlibat kerjasama dengan Kementerian Perindustrian sebagai Tim Praktisi untuk Project One Map Policy Kawasan Industri. 

Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahku - https://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku

Rabu, 24 Agustus 2016

Rutler “Dinding” Peregrine, Pahlawan Anak Pasar dan Jalanan

Geliat perekonomian tampak di sudut kota Manado melalui dinamisme kegiatan masyarakat diantaranya dalam proses jual beli. Istilahnya, tiada hari tanpa mengais rezeki. Beragam orang dengan latar belakang suku, agama, ras dan antar golongan berbaur menjadi satu sebagai penjual dan pembeli. Pada akhirnya pasar tidak hanya menjadi tempat pertemuan antara permintaan dan penawaran, pun proses transfer ilmu dan pengetahuan bisa saja terjadi didalamnya. 

Ya, siapa yang akan menyangka di tengah hiruk pikuk pasar ada sosok anak muda yang peduli, sebut saja Rutler Peregrine yang bersedia meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk terlibat dalam pengentasan masalah sosial. Melalui Komunitas yang bernama “Komunitas Dinding”, Rutler berfokus dan memberi perhatian lebih pada persoalan pendidikan yang seyogyanya menjadi perhatian pemerintah terkait. Rutler tidak tinggal diam dan menunggu. Dia bergerak dan terus membuat terobosan hingga akhirnya membuahkan hasil. 

Sumber: dindingmanado.com

Komunitas Dinding merupakan suatu wadah yang bertujuan mencerdaskan kehidupan anak bangsa melalui kontribusi relawan yang peduli terhadap kelangsungan kehidupan dan pendidikan anak pasar dan jalanan. Komunitas ini bersifat terbuka dan umum sehingga siapa saja diperkenankan untuk bergabung. Komunitas ini menjadi gebrakan gerakan partisipasi publik. Berlokasi di Pasar Bersehati Kota Manado, kegiatan belajar berlangsung setiap hari sabtu siang selepas anak-anak membantu orangtuanya berjualan di pasar dan beraktivitas di jalanan.

Sumber: dindingmanado.com

Bangunan pasar tua menjadi pilihan. Anak-anak belajar di lantai paling atas – yang lebih tepat disebut atap – beralaskan terpal dan perlengkapan seadanya. Tapi, keadaan semacam ini sama sekali tidak mengurangi keceriaan mereka ketika berhadapan dengan buku, papan lipat untuk alas, dan pensil warna warni. Mereka begitu lincah dan bersemangat. Saya begitu takjub melihatnya.

Sumber: dindingmanado.com

Sumber: dindingmanado.com

Sumber: dindingmanado.com

Pada 2011, kali pertama saya menyadari keberadaan komunitas Dinding (pasca terbentuk pada 2010) berkat informasi dari seorang rekanan. Saya langsung tertarik dan penasaran dengan kegiatan sosial yang mereka usung yaitu peduli terhadap anak pasar dan jalanan di seputaran Pasar Bersehati Kota Manado. Hingga akhirnya guna memuaskan dahaga keingintahuan saya memberanikan diri untuk terlibat dan sedikit berkontribusi di kegiatan tersebut.

Sabtu sore, setibanya di lokasi pasar, ternyata kegiatan tengah berlangsung. Saya datang terlambat tapi untunglah tim komunitas begitu ramah, saya disambut dan dipersilahkan untuk menyegerakan diri berbaur dengan anak-anak. Tiba-tiba saja telapak tangan saya digamit lembut oleh seseorang yang berparas cantik kendati tampak legam karena mungkin sering terpapar matahari. 

Sembari mendekap buku tulis dia berujar, “Kakak depe nama siapa? Sini Kak kase belajar pa kita (Kakak namanya siapa? Sini Kak ajarin aku). Sontak dada saya berdegup kencang mendengar sepatah kalimat yang terasa begitu romantis. Saya pun membiarkan diri ditarik oleh gadis kecil bernama Dhea ini menuju tengah kerumunan. Kami duduk bersila dan mulai dikerumuni anak-anak lainnya. Suasana begitu riuh tetapi menyenangkan. Sungguh pengalaman yang tidak terlupakan!

dok: pribadi

Dan ternyata tidak saya saja yang menaruh rasa ingin tahu yang besar terhadap gagasan alternatif gerakan ini. Pun, pada 2013 silam Konsulat Jenderal USA meluangkan waktu untuk mengunjungi Pasar Bersehati demi melihat kegiatan yang dilakukan oleh Komunitas Dinding.


Kegiatan semacam ini patut diapresiasi karena dianggap perlu guna menetralisir kerasnya kehidupan yang anak-anak ini jalani di pasar maupun jalanan. Karena tidak bisa dipungkiri bahwasanya dunia anak-anak yang seharusnya penuh dengan sukacita bisa saja terusik dengan hiruk pikuk dunia dewasa yang kedatangannya lebih cepat daripada yang diperkirakan. Maka, orang-orang seperti Rutler dan kawan-kawan pantas disebut Pahlawan Masa Kini yaitu mereka yang hadir dan rela serta peduli berkontribusi bagi Negeri. 

Testimoni:


Cat: Penulis merupakan Mahasiswa Pascasarjana IPB Bogor. Penulis juga merupakan alumni Universitas Sam Ratulangi Manado. Penulis pernah bekerja di Dewan Perwakilan Rakyat RI, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, dan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi DKI Jakarta. Saat ini penulis terlibat kerjasama dengan Kementerian Perindustrian RI sebagai Tim Praktisi.

Nb: Tulisan diikutsertakan dalam Supermal Karawaci Blog Competition


Minggu, 14 Agustus 2016

Komitmen dan Transparansi: Kunci Review Izin untuk Penataan Perizinan Sawit di Aceh

Tanaman sawit kali pertama diperkenalkan oleh kolonial Belanda dan untuk pertama kalinya ditanam di Kebun Raya Bogor pada tahun 1848. Lantas selang 56 tahun kemudian, tanaman ini berkembang menjadi komoditas skala komersial sejak ditanam di Deli pada tahun 1904. Hingga saat ini, kelapa sawit menjadi sektor strategis yang memberikan sumbangan ekspor yang tinggi sehingga menjadi produk penting penyumbang devisa Negara. Pun, menjadi salah satu penggerak utama perekonomian Indonesia. Seperti tampak pada gambar di bawah bahwasanya berdasarkan olahan Hasil Survei Perusahaan Perkebunan oleh BPS diperoleh gambaran jumlah perusahaan perkebunan besar tanaman tahunan didominasi oleh kelapa sawit dengan tren yang terus meningkat (periode 2000-2014)

dok: pribadi (diolah)

Kementerian Pertanian dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) merilis bahwa ada sekitar 10,4 juta hektar lahan sawit di Indonesia, dan produksi sawit Indonesia pada tahun 2015 ialah sebesar 32,5 juta ton dimana 81 persen produk ditujukan untuk ekspor. Indonesia merupakan produsen sawit terbesar di dunia dengan pendapatan ekspor lebih dari US$15 miliar per tahun atau menyumbangkan 3 persen pendapatan ekonomi per kapita. Di bawah ini tertera daftar grup besar Industri Kelapa Sawit di Indonesia lengkap dengan grup induk kelapa sawit serta negara asalnya sebagaimana dilansir oleh laman mongabay.



dok: mongabay.co.id

Di satu sisi, komoditas sawit kerap dikaitkan dengan berbagai masalah lingkungan dan sosial dan hal inilah yang menjadi titik tolak permasalahan dan persoalan utama. Oleh karenanya, industri sawit memiliki tantangan dalam implementasi praktik-praktik bertanggung jawab dan berkelanjutan terhadap lingkungan agar tetap lestari. Hal ini tentu memerlukan komitmen bersama dari para stakeholder terkait terutama pelaku industri sawit dalam melakukan upaya strategis guna menjaga kelestarian hutan sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.

Janji Moratorium

Pada bulan April 2016 Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengumumkan rencana pemerintah untuk memberlakukan moratorium perluasan izin perkebunan sawit. Presiden Jokowi menyatakan bahwa perkebunan sawit di Indonesia harus diarahkan kepada intensifikasi berupa peningkatan produktivitas, bukan lagi berorientasi pada perluasan (ekstensifikasi). Sebagaimana pernyataan Bapak Presiden Jokowi yang menyatakan bahwa lahan kelapa sawit yang telah ada saat ini dinilai telah mencukupi sehingga perlu adanya persiapan aturan penundaan pembukaan lahan sawit baru. Adapun lahan yang telah ada dapat ditingkatkan kapasitas produksinya dengan memaksimalkan potensi. 


Sebagaimana dilansir oleh laman DPR RI pada 19 April 2016, dijelaskan bahwa dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi IV DPR RI dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), anggota dewan DPR RI juga mempertanyakan salah satunya tentang moratorium sawit. RDP antara Komisi IV dengan pihak kementerian dalam hal ini Sekjen Kementerian LHK, Dirjen Planologi dan Tata Lingkungan serta Dirjen Pengelolaan Hutan Produksi Lestari Kementerian LHK memiliki agenda pembahasan tentang Hak Guna Usaha (HGU) dan Alih Fungsi Lahan yang terkait proses perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan serta termasuk masalah moratorium sawit didalamnya, mengingat masih banyak lahan sawit yang dioperasikan tanpa izin berdasar temuan di lapangan. Moratorium dirasa penting karena bila diiringi dengan peningkatan tata kelola, nantinya diharapkan akan dapat memberi dampak sehingga memberikan keuntungan kepada Negara dan rakyat, bukan hanya sekelompok kecil orang saja.

Adapun dalam Rapat Kerja (Raker) antara Komisi IV DPR RI dengan Kementerian LHK pada Juni 2016 lalu dengan agenda rapat Membahas APBN-P Tahun 2016, dihasilkan simpulan rapat yang salah satunya: Komisi IV DPR RI meminta Kementerian LHK agar pada APBN-P Tahun 2016 memprioritaskan untuk program kerakyatan dan program perlindungan serta pemulihan hutan. Hal ini tentu menyiratkan maksud bahwa hutan kian menjadi fokus perhatian semua pihak tanpa terkecuali dan tidak bisa ditunda-tunda lagi.


dok: dpr.go.id

dok: dpr.go.id

Sawit yang (Maaf) Semrawut

Sejalan dengan ekspansi perkebunan sawit, berdasarkan studi yang dilakukan oleh World Resources Institute (WRI) pada tahun 2014, menghasilkan simpulan bahwa Indonesia telah kehilangan lebih dari 6 juta hektar hutan pada periode 2000-2012 yang sebagian besar diperuntukkan untuk konversi perkebunan sawit. Pada tahun 2014, berdasarkan status pengusahaannya, produksi minyak sawit dari perkebunan swasta sebanyak 16,50 juta ton minyak sawit (56,25 persen), perkebunan rakyat 10,68 juta ton (36,41 persen), dan perkebunan besar negara 2,16 juta ton (7,34 persen). Inilah salah satu alasan kenapa moratorium mendesak perlu dilakukan. Diagram di bawah menunjukkan perkembangan sawit di Indonesia selang 2004 hingga 2014. Data dari Ditjenbun ini menunjukkan bahwa perkebunan swasta mendominasi dan terus mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan perkebunan rakyat yang berada di urutan kedua disusul oleh perkebunan negara.

dok: mongabay.co.id

Bila menyorot Provinsi Aceh maka berdasarkan data yang dikeluarkan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh, hingga Maret 2015, luas perkebunan di Provinsi Aceh mencapai 1.195.528 hektar. Dengan rincian, perkebunan besar memiliki luasan HGU mencapai 385.435 hektar, sementara perkebunan rakyat 810.093 hektar.

Luas HGU di Aceh Utara mencapai 35.200 hektar dengan 12 perusahaan. Sementara perkebunan rakyat sekitar 70.663 hektar. Sementara data yang dikeluarkan Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) menunjukkan, luas kerusakan hutan atau deforestasi di Kabupaten Aceh Utara pada 2014-2015 mencapai 1.771 hektar. Deforestasi tersebut diantaranya disebabkan oleh beralihnya hutan menjadi perkebunan. 

Sedangkan data perkembangan sawit di Kab. Aceh Tamiang menunjukkan sekitar 80 persen dari wilayah telah dikuasai oleh pemilih HGU sawit dan dapat dipastikan kedepannya pemerintah akan kesulitan dalam membangun dan menyediakan fasilitas pelayanan publik dikarenakan kurangnya ketersediaan lahan.

Belum lagi kaitan antara kasus perambahan hutan menjadi perkebunan sawit yang seringkali menyebabkan timbulnya kasus konflik agraria dan berdampak tidak signifikan terhadap pengentasan kemiskinan dari usaha perkebunan. Semisal, di kawasan Kab. Aceh Singkil yang notabene merupakan kabupaten miskin di Provinsi Aceh. Didalamnya terdapat beberapa perusahaan perkebunan sawit yang mengelola puluhan ribu hektar lahan untuk ditanami sawit. Sekitar 36,65 persen dari luas keseluruhan Kab. Aceh Singkil telah menjadi lahan sawit namun apa yang terjadi? Kabupaten ini masih tetap termasuk dalam daerah tertinggal dan salah satu yang termiskin di Indonesia. Disinyalir keberadaan perkebunan sawit di Aceh Singkil tidak berpengaruh terhadap peningkatan ekonomi. Hal ini membuktikan terjadinya paradoks bahwa luasan perkebunan kelapa sawit berbanding terbalik dengan perekonomian masyarakat dan daerah.

Adapun kerusakan dan alih fungsi lahan dari kehutanan menjadi area non kehutanan yaitu perkebunan di wilayah Aceh khususnya Kawasan Ekosistem Leuser terus menjadi sorotan kelompok masyarakat. Apa pasal? Hal ini dikarenakan perizinan yang terus dikeluarkan oleh pemerintah daerah setempat. 

dok: mongabay.co.id

Dampak Positif Review Izin Usaha 

Berdasar pemantauan Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA), secara keseluruhan pemerintah telah menerbitkan izin usaha perkebunan di 23 kabupaten/kota di seluruh Aceh tanpa adanya review terhadap izin yang ada! Padahal review sangat penting untuk memastikan prosedur ketaatan dan kepatuhan perusahaan di lapangan telah berjalan secara baik dan benar, termasuk didalamnya ketaatan dalam menggarap lahan sesuai dengan ketentuan luas areal dan izin yang diberikan. 

Review izin usaha dalam hal ini perkebunan perusahaan sawit merupakan bagian dari penataan perizinan di Aceh. Review izin atau peninjauan kembali izin merupakan salah satu sarana untuk melihat ketaatan izin yang telah dikeluarkan oleh pemerintah. Review izin pada prinsipnya adalah pemeriksaan penerbitan izin berdasarkan hukum yang berlaku (pemeriksaan legalitas izin). 

Adapun dampak positif dari dilakukannya review izin oleh pemerintah terhadap izin usaha perkebunan kelapa sawit di Aceh yaitu menghasilkan review izin yang nantinya akan menunjukkan perusahaan mana yang taat dan tidak terhadap aturan-aturan yang berlaku, menjalankan atau tidak menjalankan kewajiban-kewajibannya. Hal ini semata demi kemaslahatan umat karena masyarakat juga berhak atas fasilitas pelayanan publik yang memadai.

Beberapa persoalan ini harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah agar pada masa pemerintahannya tetap menjaga kelangsungan dan kelestarian lingkungan hidup. Hal ini nantinya juga akan menjadi bukti komitmen pemerintah daerah setempat dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup di Aceh. Sehingga transparansi menjadi harga mati dan tidak bisa ditawar-tawar lagi!

Upaya Pemerintah dan Solusi Alternatif

Terkait dengan upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Aceh untuk melakukan review izin usaha perkebunan perusahaan sawit di Aceh dapat terlihat misalnya di Aceh Utara dimana selama ini daerah Aceh Utara cukup populer dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil devisa terbesar. Pada Juni 2016, Dinas Kehutanan Provinsi Aceh telah mengirimkan surat edaran kepada para pemegang HGU/Izin Usaha Perkebunan dalam Kawasan Ekosistem Leuser. Hal ini merupakan langkah review izin perkebunan kelapa sawit dan persiapan kebijakan moratorium. Aceh Utara tidak akan kehilangan pamornya karena daerah ini merupakan kawasan industri terbesar di Provinsi Aceh dan terbesar di luar Pulau Jawa. Kekayaan gas alamnya telah menarik banyak investor baik luar maupun dalam negeri. Walau demikian, sebagian besar masyarakat masih mengandalkan pertanian sebagai mata pencaharian dimana wilayah ini dikenal juga sebagai penghasil padi. Komoditas potensial di samping padi ialah kedelai.

Kab. Aceh Tamiang yang merupakan hasil pemekaran dari Kab. Aceh Timur membudidayakan tanaman perkebunan diantaranya kelapa sawit dimana komoditas ini diproses menjadi CPO oleh beberapa perusahaan BUMN/BUMD. Tapi sesungguhnya terdapat opsi selain perkebunan kelapa sawit yang dapat dimanfaatkan karena daerah ini merupakan kawasan yang kaya minyak dan gas meski jumlahnya tidak sebesar Aceh Utara. Langkah antisipatif solutif dapat dioptimalkan dengan berfokus pada pengembangan diantaranya sektor pertanian yang masih memegang peranan penting dalam perekonomian dan kontribusi terbesar diperoleh dari tanaman pangan semisal padi, palawija, serta hortikultura seperti sayur dan buah.

Sedangkan Kab. Aceh Singkil yang memiliki komoditas unggulan di bidang perkebunan yaitu kelapa sawit, meskipun memiliki empat pabrik untuk mengolah kelapa sawit menjadi CPO, pengolahan lebih lanjut masih harus diangkut ke Kab. Aceh Timur dan Sumatera Utara. Hal ini disinyalir menjadi salah satu alasan kenapa terjadi paradoks belum begitu berdampaknya komoditas unggulan terhadap perekonomian wilayah. Patut diketahui bahwa komoditas unggulan lainnya ialah di sektor perikanan dan kelautan tapi sayangnya pemanfaatan dari hasil kelautan ini kurang dimanfaatkan dengan maksimal. Akibatnya, aktivitas ekonomi di bidang perikanan dan kelautan belum begitu berperan penting dibandingkan sektor pertanian.

Selain itu masih ada upaya pemerintah yang perlu dilakukan kaitannya dengan penegakan Review Izin Usaha yaitu berupa pelibatan partisipasi kelompok kaum perempuan guna mendorong perbaikan tata kelola hutan dan lahan. Percaya atau tidak, berdasar kajian analisis perempuan akan lebih efektif meningkatkan kondisi hutan jika membentuk “masa kritis” partisipasi 25 hingga 30 persen. Perempuan perlu dihadirkan dalam tata kelola institusi karena hubungan perempuan dengan hutan begitu kompleks.

Terlepas dari isu gender yang menaunginya, kini saatnya untuk menciptakan kesadaran dan kesetaraan antar lelaki dan perempuan dalam tata kelola hutan melalui peningkatan partisipasi perempuan. Oleh karenanya dampak yang dirasakan oleh kaum perempuan terhadap izin usaha perkebunan sawit dan juga partisipasi kelompok perempuan dalam mendorong perbaikan tata kelola hutan dan lahan di Aceh perlu digalakkan. Pemerintah terutama perlu mendorong lebih banyak terciptanya keberadaan perempuan dalam asosiasi hutan guna memberi dampak terhadap review izin usaha perkebunan sawit kaitanya dengan penataan perizinan.

Referensi:
Cat: Penulis merupakan Mahasiswa Pascasarjana IPB Bogor Bidang Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan. Penulis pernah menjadi Tenaga Ahli Anggota Dewan DPR RI Komisi IV yang membidangi Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Pertanian dan Pangan, serta Perikanan dan Kelautan. Saat ini penulis terlibat kerjasama dengan Kementerian Perindustrian RI dan tergabung dalam Tim Praktisi untuk Project One Map Policy Kawasan Industri.

Nb: Tulisan diikutsertakan dalam Lomba Blog: “Review Izin untuk Penataan Perizinan” oleh Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA)

Rabu, 10 Agustus 2016

Universitas Terbuka, Fleksibel dan Profesional untuk Akses Pendidikan Terdepan dan Tanpa Batas: Catatan Empat Windu UT Membangun Negeri

Universitas Terbuka (UT) tidak lagi dapat dipandang sebelah mata. Salah satu Perguruan Tinggi yang menerapkan sistem belajar terbuka dan jarak jauh tersebut saat ini semakin menunjukkan taringnya. Kini 32 tahun usianya, merupakan usia yang cukup matang untuk semakin dan membuktikan eksistensi. Usia 32 tahun (4 windu) merupakan ukuran usia dewasa penuh dimana bila diibaratkan sosok manusia maka seseorang tersebut mulai bisa dipercayakan tanggung jawab memimpin dan mengambil keputusan. 



Selain kematangan usia tersebut, peran UT semakin tidak dapat diragukan lagi ketika melihat para alumni penting yang kini berkiprah di kancah nasional. Sebut saja, Ibu Hj. Kristiani Herrawati alias Ibu Ani Yudhoyono. Ya, Ibu Negara Presiden RI ke-6, istri Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono ini merupakan alumni UT tahun 1998. Ibu Ani Yudhoyono menamatkan kuliahnya di UT dan lulus dengan gelar Sarjana Ilmu Politik (1998). Wow!

dok: id.wikipedia.org

Selanjutnya, kita pasti mengenal sosok Jenderal TNI (Purn) Dr. H. Wiranto, SH, beliau merupakan politikus dan tokoh militer Indonesia. Saat ini di Kabinet Jilid II (reshuffle) Presiden Joko Widodo beliau baru saja dilantik sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan. Pak Wiranto merupakan alumni UT Jurusan Administrasi Negara tahun 1995. 

dok: id.wikipedia.org

Berikutnya ada Prof. Djohar Arifin Husin. Namanya tentu tidak asing lagi khususnya di dunia persepakbolaan tanah air. Beliau merupakan Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Ke – 14 periode 2011 – 2015. Latar belakang pendidikan beliau diantaranya memperoleh Akta Mengajar (Akta V) dari UT. 

dok: id.wikipedia.org

Adapun dengan informasi yang disajikan terkait para alumni penting di tanah air kian membuat UT menjadi almamater pilihan guna menempuh pendidikan yang lebih baik kedepannya. Besar harapan dengan berkuliah di UT dapat menjadi alternatif pendidikan bagi siapa saja yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi. UT benar melakukan pembuktikan atas kinerja dan daya upayanya dalam membangun negeri selama 32 tahun belakangan ini. UT memudahkan dan membuka akses pendidikan bagi semua kalangan tanpa batas. 

Bukti nyata sepak terjang UT dalam mewujudkan target kemudahan akses pembelajaran dalam dunia pendidikan dan era teknologi diantaranya sebagaimana dilansir oleh laman Republika bahwasanya bahan kuliah di UT dapat diunduh via Play Store. Hal ini disampaikan langsung oleh Rektor UT, Prof. Tian Belawati. Kemudahan ini semata bertujuan dalam memfasilitasi mahasiswa guna mengakses bahan materi perkuliahan, perpustakaan digital, pemeriksaan nilai secara dalam jaringan (daring), mengenal teman sekelas, pun melaksanakan ujian via daring. 

Saya pun telah mengunduh beberapa aplikasi UT via Play Store diantaranya UT Mobile Online dan Toko Buku Digital UT. Tampilannya sangat menarik dan mudah dioperasikan. Penggunaan aplikasi ini sangat memudahkan bagi semua orang yang membutuhkan informasi terkait UT. Semisal UT Online Mobile Learning merupakan aplikasi untuk mengakses UT LMS dengan weblink http://elearning.ut.ac.id

dok: Play Store app

Sedangkan Toko Buku Digital UT merupakan aplikasi institusi PTTJJ berkualitas dunia. Sebagaimana dijelaskan bahwa selain bahan ajar berbentuk cetak, UT juga menyediakan bahan ajar berbentuk digital yang merupakan alternatif dari layanan penyediaan bahan ajar. Isi bahan ajar digital sama persis dengan isi bahan ajar cetak. Adapun bahan ajar digital tidak dapat dicetak dan hanya dapat dibaca secara offline setelah diunduh. Proses pengunduhan hanya dapat dilakukan setelah dilakukan pembayaran. Satu hal yang menyenangkan yaitu karena aplikasi yang digunakan untuk mengunduh bahan ajar digital ini tersedia untuk sistem operasi Android dan Windows (PC). 

dok: Play Store app

Toko Buku Digital UT memberikan beragam kemudahan. Mulai dari jenis buku yang ditawarkan dibagi per Fakultas semisal FEKON, FISIP, FKIP, FMIPA, dan PPS. Selain itu metode isi ulang untuk top-up saldo dapat dilakukan di bank yang telah tersedia pilihannya beserta jumlah saldo yang diinginkan mulai dari kisaran Rp 10 ribu hingga Rp 1 juta. Satu hal yang terpenting dan paling menggembirakan ialah karena dengan membeli via Toko Buku Digital UT ini kita dapat berhemat karena semua harga buku yang ditawarkan diberikan DISKON! 

dok: Play Store app

dok: Play Store app

dok: Play Store app

Oya, sebagai studi kasus saya tidak hanya ingin mengulas tentang para tokoh alumni penting UI di tanah air, ataupun tentang kepiawaian UT dalam mempadupadankan pendidikan dan kecanggihan teknologi di era modern seperti saat ini. Melainkan juga ingin menceritakan sosok hebat anak muda tanah air yang kini berkiprah di Negeri Ginseng dan hebatnya lagi dia mengabdikan dirinya di UT yang berlokasi di Korea Selatan.

Sebut saja namanya Amir. Beliau merupakan adik kelas saya semasa sekolah di SMA. Setau saya, semenjak SMA Amir sangat aktif berorganisasi. Tidak hanya dalam kepengurusan OSIS, pun kerohanian dan teater budaya. Amir merupakan lulusan sarjana matematika dan kini sedang mengambil gelar masternya di bidang Teknik Industri di Ulsan University, Korea Selatan. Betapa bangganya saya terhadap sosok Amir ini.

Kepintaran, kerendahan hati dan keinginannya untuk terus berbagi benar-benar menginspirasi. Pelbagai tulisannya pun telah dipublikasi di jurnal kenamaan, buku-bukunya telah terbit dan menghiasi rak buku di toko buku tanah air. Berada di tanah rantau dan jauh dari keluarga tentu tidak menyurutkan langkahnya. Amir terus mengabdi bagi Negara. Salah satu bentuknya ialah dengan menjadi pengajar/tutor di UT yang berada di bilangan kawasan Korea Selatan. Di tengah aktivitasnya yang begitu padat baik di kampus maupun laboratorium, Amir masih menyempatkan waktu untuk berbagi ilmu dengan para mahasiswa di Kampus UT yang mayoritas merupakan Tenaga Kerja Indonesia di Korea. Salut! 

dok: Amir 

Dedikasi Amir, para alumni penting UT dan sepak terjang UT sendiri untuk terus berbenah patut diapresiasi. Semoga di usia UT yang ke – 32 tahun ini, UT semakin matang dan mampu terus memberikan yang terbaik bagi Indonesia. Sebagaimana jargon yang diusungnya yaitu “Making Higher Education Open to Allfor everyone, everywhere, everytime!

Sebagai pelengkap berikut saya sajikan bentuk percakapan singkat eksklusif jarak jauh bersama Amir, sosok yang begitu luar biasa bersahaja:

Yesi (Y): Assalammu’alaikum, Amir. Anyeonghaseo. Saya sedikit ingin bertanya tentang aktivitas mengajar mu di UT Korea. Pertama-tama, apa yang dirimu ajarkan di UT?

Amir (A):Wa’alaikumussalam, iya. Sebagai informasi, UT Korea memiliki tiga prodi yakni Manajemen, Ilmu Komunikasi dan Bahasa Inggris. Di UT Korea, saya diamanahkan untuk mengajar beberapa mata kuliah di program studi Manajemen. Adapun mata kuliah yang saya ajarkan adalah Akuntansi, Manajemen, Statistika, Ekonomi dan Matematika Ekonomi.


Y: Kapan waktu pertama kali mengajar dan jadwal mengajarnya?

A: Saya mengajar di UT Korea sejak semester kedua kuliah saya di Korea yakni tepatnya pada bulan Agustus 2015. Saya berbagi ilmu dengan para mahasiswa UT sembari berjuang menyelesaikan studi Master saya di Jurusan Teknik Industri University of Ulsan. Perkuliahan di UT Korea diadakan dua kali dalam setahun yakni pada periode musim gugur (fall) antara Agustus – Oktober dan periode musim semi (Spring) antara Februari – April

Y: Dimana lokasi UT Korea?

A: Lokasi belajar UT Korea dibagi atas dua lokasi Tutorial Tatap Muka (TTM) yaitu wilayah Utara (Ansan) dan Selatan (Daegu). Lokasi mengajar saya adalah di Selatan (Daegu) tepatnya di Yeungnam University. Butuh waktu sejam dari tempat saya (Ulsan) hingga tiba di kampus tersebut dengan bus

Y: Mengapa ingin berkontribusi mengajar di UT?

A: Motivasi saya mengajar di UT Korea adalah ingin berbagi ilmu dan menambah pengalaman bersama teman-teman Mahasiswa UI Korea. Tak hanya itu, dengan bergabung bersama UT, saya bisa menyalurkan hobi saya untuk mengajar. Sejak masih di Indonesia, saya sudah terbiasa dan senang mengajar

Y: Bagaimana suasana proses belajar mengajar di UT?

A: Sistem belajar UT Korea terbagi dua yakni Tuton (Tutorial Online) via skype atau media online lainnya dan Tutorial Tatap Muka (TTM) di kelas. Perkuliahan dalam satu semester hanya dilakukan dalam 2 bulan dengan 8 kali pertemuan yang diadakan setiap hari Minggu. Tak hanya itu, UT Korea juga menerapkan sistem belajar mandiri dimana para mahasiswa dilengkapi dengan modul mata kuliah dan media audio – video untuk menunjang proses pembelajaran. Dengan perkuliahan yang singkat tersebut, para mahasiswa UT dituntut untuk mampu mengelola waktu belajar dengan baik di tengah kesibukan bekerja. Kuliah di UT berbeda dengan kuliah pada umumnya karena mayoritas mahasiswanya adalah para pekerja Indonesia di Korea. Bekerja di Korea membutuhkan waktu dan tenaga yang luar biasa. Oleh karena itu, saya salut dengan para mahasiswa yang bisa meluangkan waktunya untuk belajar. Terkadang di kelas, daya mendapati mahasiswa yang ketiduran akibat lembur, terlambat atau mahasiswa yang tidak mengerjakan tugas karena kesibukan kerja mereka. Sebagai tutor, saya memaklumi hal tersebut. Terlepas dari hal tersebut, para mahasiswa UT Korea adalah para mahasiswa yang aktif, kritis dan mau belajar.

Demikianlah percakapan singkat penuh makna kami. Amir begitu menjiwai perannya sebagai pendidik. Semoga kedepan semakin banyak Amir lainnya yang terus gigih berjuang mencari ilmu dan mengamalkan ilmu yang telah dimiliki semata untuk memanusiakan manusia lainnya. Salam.

Referensi: 
Cat: Penulis merupakan Mahasiswa Pascasarjana IPB Bogor. Penulis pernah terlibat kerjasama dengan beberapa instansi pemerintahan diantaranya Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) Provinsi DKI Jakarta dalam Project platform media pendidikan online Jakarta Learning Centre. Penulis juga pernah menjadi Tenaga Ahli Anggota Dewan DPR RI. Saat ini penulis sedang terlibat dalam Project One Map Policy bersama Kementerian Perindustrian RI.

Nb: “Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari Universitas Terbuka dalam rangka memperingati HUT Universitas Terbuka ke-32. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan.”

http://www.ut.ac.id/

http://www.ut.ac.id/

Jumat, 05 Agustus 2016

Solusi Seiring Inovasi Teknologi Infrastruktur Berbasis Potensi Daerah dan Kewilayahan yang Mendukung Pembangunan Berkualitas

Ragam solusi dan inovasi terkait bidang infrastruktur banyak bertebaran di sekeliling kita, baik itu tentang jalan, jembatan, rumah, pelabuhan, gedung, fasilitas air, bencana alam dan lainnya yang sekiranya bermanfaat di masa depan. Dan khusus untuk artikel kali ini, bahasan soal bangunan dan fasilitas air akan menjadi ulasan tersendiri (re: spesial) karena pembahasannya tidak hanya ditunjang oleh data lapang sebagai bentuk reportase, pun disajikan berdasar kajian ilmiah (literature review) yang dibumbui isu spasial kewilayahan. Check it out!

Awal mulanya berangkat dari latar belakang permasalahan dimana kebanyakan kota memiliki mekanisme perencanaan tata guna lahan yang kurang baik, sehingga perlu adanya infrastruktur yang tepat guna menghadapi tantangan yang ada semisal konstruksi yang membutuhkan investasi besar. Karena pada dasarnya, sebuah kota yang makmur akan memfasilitasi akses yang adil kepada “the commons” termasuk diantaranya infrastruktur publik.

Pada Supartoyo dan Kasmiati (2013a), telah diulas kaitannya dengan solusi seiring inovasi tentang infrastruktur di masa depan yaitu mengenai konsep “Skyfarming”. Kami rasa ini merupakan konsep alternatif green building guna mewujudkan pembangunan berkelanjutan khususnya pembangunan masa depan kota di Indonesia.

Seperti yang kita pahami bersama bahwasanya pembangunan atas dasar perhitungan ekonomi semata terkadang abai terhadap kondisi lingkungan sehingga banyak kota yang keberlanjutannya terancam. Sehingga konsep pembangunan vertikal mau tidak mau harus mengusung konsep “green building” yang menggabungkan konsep gedung vertikal dan ruang terbuka untuk bercocok tanam sehingga selain dapat mengatasi krisis pangan, pun mampu mensiasati minimnya lahan di daerah perkotaan guna menciptakan kota hijau yang mandiri pangan. Konsep ini diyakini sebagai desain futuristis dan optimis di masa depan. Konsep ini juga dipercaya sebagai desain yang ramah lingkungan dan tidak hanya isapan jempol belaka. Toh, banyak Negara Maju semisal Jepang dan Singapura telah menerapkannya. Tentu Indonesia bukan tidak mungkin akan mampu menerapkannya juga pada pelbagai bangunan tanah air. 

Di sisi lain, Indonesia tentu tidak kalah hebatnya karena telah memiliki perwujudan konsep yang luar biasa terkait dengan solusi seiring inovasi infrastruktur masa depan. Sebut saja, di bilangan Epicentrum Walk Rasuna Said Kuningan – Jakarta Selatan, kita akan dapat menemukan Galeri Botol dimana bangunan ramah lingkungan tersebut dibentuk dari sekumpulan botol bekas daur ulang. Epic! 

dok: pribadi

Masih soal bangunan, tempo hari Mei 2015 saya mengikuti kegiatan berupa Kolokium “Mengupas Penerapan Teknologi Hasil Litbang Bidang Permukiman” yang diadakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bekerjasama dengan media online Kompasiana, berlokasi di wilayah Bandung – Jawa Barat khususnya di Cimanggung, Kabupaten Sumedang. Dalam kesempatan yang baik tersebut kami berkesempatan melakukan kunjungan untuk mengamati ragam inovasi teknologi guna mewujudkan permukiman layak huni dan berkelanjutan dengan rumusan 100 – 0 – 100 (100 persen akses air minum - 0 persen kawasan kumuh - 100 persen akses sanitasi untuk masyarakat). Tahun 2016 kali ini, Balitbang Kementerian PUPR kembali menghelat Kolokium bertema “Inovasi Teknologi Mendukung Pembangunan Infrastruktur yang Berkualitas” di Jakarta pada Maret silam.

Graha Wiksa Praniti, Bandung - Jabar (dok: pribadi)

dok: pribadi

Kami pun berkesempatan mengunjungi Multipurpose Building, yang menjadi percontohan bangunan tahan gempa. Rumah tersebut dikenal dengan sebutan Rumah Instan Sederhana Sehat alias RISHA (bukan Raisa, ya). Rumah ini merupakan rumah prefabrikasi dengan sistem knock down mahakarya Balitbang PUPR. 


Adapun hal ini mencerminkan program yang diusung pemerintah dalam hal ini Kementerian PUPR guna mewujudkan solusi seiring inovasi infrastruktur terbaru masa depan berbasis potensi daerah. Tema khusus program/proyek ini ialah “Incubation of Construction Business for Underprivileged Families”. 

dok: pribadi

dok: pribadi

Tidak hanya itu, kami juga meninjau unit IPAL Biofilter Komunal berbasis Daur Ulang di lokasi Hibrid Taman Sanita di Cimanggung, Kab. Sumedang. Betapa takjubnya saya karena bangunan yang berbasis sanitasi masyarakat ini berada di tengah permukiman padat penduduk dan sangat terjaga kebersihannya. 

dok: pribadi

dok: pribadi

Kami juga melakukan pengamatan Model Instalasi Pengolahan Air dimana air yang dimanfaatkan berupa air sungai. Adapun pengelolaan air dimaksud mengalami proses penyulingan yang cukup panjang hingga siap minum. Air yang berasal dari sungai harus melalui bak penampung terlebih dahulu sebelum masuk ke tangki filtrasi, kemudian menuju bak penampung lagi hingga tiba di unit membran, lalu siap untuk diminum.

dok: pribadi

dok: pribadi

dok: pribadi

dok: pribadi

dok: pribadi

Selanjutnya, kaitan antara solusi seiring inovasi infrastruktur dengan isu spasial kewilayahan sebagaimana yang diulas dalam Supartoyo dan Kasmiati (2013b) dimana kami menyajikan konsep Pendekatan Integrated Coastal Zone Management (ICZM) yang diperuntukkan dan disesuaikan dengan potensi daerah yaitu khususnya Kota Hijau Pesisir Tropis Berkelanjutan. Tujuannya ialah menumbuhkembangkan solusi seiring inovasi infrastruktur terbaru masa depan guna terciptanya Resilient Coastal City.

Sumber: Trujillo dan Mouthon (2013) dalam Supartoyo dan Kasmiati (2013b)

Dilatarbelalakangi oleh beragam ancaman lingkungan yang ada di depan mata, khususnya bagi wilayah pesisir. Untuk menghadapi ancaman pengelolaan wilayah pesisir di masa yang akan datang demi mencapai Resilient Coastal City, diperlukan beberapa konsep yang penting untuk diterapkan diantaranya yaitu:
  • Konsep metrofitting yaitu dengan menggunakan lahan kosong yang diperuntukkan untuk beberapa hal. Misal, pengelolaan sampah dan pengoptimalan infrastruktur
  • Infrastruktur hijau dan zonification hijau di kota yang melibatkan perencanaan untuk melestarikan daerah yang rentan isu strategis di masa depan
  • Jejak ekologis yang menghitung biaya dan sumber daya lain untuk jasa lingkungan di kota pesisir; dan
  • Pembiayaan hijau, termasuk konsep biaya dan manfaat kota dari aspek lingkungan 
Penerapan konsep ICZM ini merupakan bentuk perencanaan strategis yang holistik dalam penetapan peraturan kawasan agar memudahkan para stakeholder terkait dalam mengambil keputusan. Peran penting ICZM ialah dalam upaya membangun kerangka regulasi dan kebijakan yang dikombinasikan dengan program serta proyek dalam rangka perwujudan inisiatif secara efisien.


Perencanaan di kota pesisir tentunya harus memperhitungkan prinsip ICZM yang seiring sejalan dengan visi kota hijau yang nantinya akan mampu menciptakan kota pesisir berkelanjutan. Harapannya masyarakat akan mampu menikmati standar hidup yang tinggi, kemakmuran ekonomi, kesehatan fisik serta lingkungan yang terawat.

Evaluasi ICZM di Indonesia dapat digunakan sebagai hasil awal untuk mengambil langkah lanjut terhadap kelemahan pelaksanaan ICZM dalam rangka memperoleh ICZM tertentu yang sesuai dengan karakteristik pesisir dan lautan di Indonesia. Adapun pendekatan yang dapat digunakan dalam proses ICZM diantaranya ialah pendekatan partisipatif. Pendekatan ini menjadi model pembangunan masa kini yang memberikan ruang kepada masyarakat ataupun komunitas guna terlibat dan mengambil peran dalam proses pembangunan.

Konsep ICZM pun dapat dipadukan dengan pertumbuhan hijau yang menjadi konsep penting dalam membangun kota pesisir yang tangguh dengan harapan agar terwujud kehidupan masyarakat yang berkualitas, sehat, sejahtera dan memiliki lingkungan hidup yang lestari. Jadi, semacam green growth in urban coastal zones.

Seiring sejalan dengan kegiatan Balitbang PUPR yang mengusung tema “Dengan Inovasi Sains dan Teknologi Kita Percepat Pembangunan Infrastruktur menuju Masyarakat Sejahtera” guna meningkatkan kompetensi SDM dan terus berupaya menciptakan inovasi sains dan teknologi khususnya di bidang infrastruktur dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN, tentu pemahaman konsep maupun reportase lapang yang ditampilkan ini diharapkan dapat sedikit memberi secercah harapan guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat.


Besar harapan semoga kedepan semakin banyak yang termotivasi dan lebih banyak pula bermunculan inovasi sains dan teknologi terbaru dari Balitbang PUPR yang tentunya lebih berkualitas, lebih murah (dan tentunya tidak murahan) serta lebih aplikatif agar dapat meningkatkan daya saing produk industri barang dan jasa di Indonesia guna menghadapi persaingan pasar bebas (globalisasi).

Referensi:
Cat: Penulis merupakan Mahasiswa Doktoral Sekolah Pascasarjana IPB Bogor. Penulis pernah terlibat kerjasama dengan beberapa instansi pemerintah diantaranya terlibat kerjasama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dalam Project Monitoring and Evaluation DAK dan TPOP. Penulis juga pernah menjadi narasumber ahli di BPAD Provinsi DKI Jakarta dan menjadi Tenaga Ahli Anggota Dewan di DPR RI. Saat ini penulis sedang terlibat kerjasama dengan Kementerian Perindustrian RI dalam Project One Map Policy. 

Nb: Tulisan diikutsertakan dalam Kompetisi Blogging Balitbang PUPR


Rabu, 03 Agustus 2016

Berkat Kado KUDO, Menjelma Jadi Pahlawan Keluarga: Tribute to KUDO

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) melansir bahwa definisi “Pahlawan” adalah:
orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani 
Sedangkan “Kepahlawanan” adalah:
perihal sifat pahlawan seperti misalnya keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban dan kekesatriaan

Dalam keluarga, tentu ayah dan ibu merupakan sosok mutlak yang menjadi panutan dan menjelma ibarat pahlawan bagi kami anak-anaknya. Ayah yang bekerja mencari nafkah banting tulang demi keluarga dan ibu yang totalitas mengurus suami dan anak-anaknya. Saya merasa teramat beruntung dan patut bersyukur karena dilahirkan di tengah keluarga yang penuh kekompakan dan solid karena saling menopang serta mendukung satu sama lainnya. 


dok: pribadi

Saya begitu terharu ketika tetiba mengingat ayah yang ternyata senantiasa selalu siaga antar jemput mulai dari sekolah hingga kuliah, ibu yang selalu menyiapkan sarapan dan bekal sebelum kami berangkat beraktivitas dan adik yang selalu menghibur di kala jenuh dikarenakan tugas maupun pekerjaan rutinitas. Mereka lah pahlawan ku! 

Masing-masing anggota keluarga memiliki porsinya masing-masing baik dalam hal tanggung jawab, peran maupun hak dalam keluarga. Kendati demikian, kami tak luput dari lalai sehingga perlunya saling mengingatkan satu sama lain. Dan tentu saja itulah esensi jiwa kepahlawanan yang sebenarnya. Tidak sekedar heroik, melainkan berjiwa besar, mau mengakui kesalahan pun mampu menerima kekalahan. 

Tiada secuil pun waktu terbuang semenjak kanak-kanak hingga dewasa tanpa saya lalui bersama keluarga. Seakan kebersamaan kami tidak akan terpisahkan. Hingga ketika beranjak dewasa, saya memberanikan diri dan memutuskan untuk merantau. Meneruskan sekolah sembari berusaha hidup mandiri tentu menuntut effort yang lebih. Saya kembali bersyukur karena adanya dukungan baik secara moril maupun materil dari keluarga yang begitu saya cintai.

Awal mulanya jauh dari keluarga memang sempat bingung tentang bagaimana caranya membagi waktu antara sekolah dan bekerja hingga saya "bertemu" dengan KUDO. Untunglah berkat KUDO yaitu Kios untuk Dagang Online, saya diberikan kemudahan sehingga bisa “buka lapak” dimana saja dan kapan saja. Kios dagang yang saya miliki dikelola secara online sehingga jam kerja yang saya miliki tentunya lebih fleksibel. Saya bisa menjadi pengusaha sebagaimana yang saya dambakan. Satu yang saya yakini, yaitu bila menjalaninya secara serius, gigih dan ulet maka bukan tidak mungkin saya bisa mandiri secara finansial dalam waktu sesingkat-singkatnya.



Adapun selain dari segi keuntungan/profit, KUDO juga menyajikan beragam kemudahan diantaranya aplikasi kekinian yang mudah dioperasikan dan beraneka bonus tak terduga lainnya. Seperti misalnya tempo hari, berkat ulasan mengenai #YukJadiPengusaha ala KUDO, saya beruntung mendapatkan Notebook ASUS terbaru. Senangnya bukan kepalang! 

Notebook dari KUDO. Terimakasih KUDO!
dok: pribadi

Bertepatan dengan diperolehnya hadiah kado tersebut, saya lalu mudik alias pulang kampung. Niat pulang ke rumah, tentu hati semakin girang adanya. Saya pulang ke kampung halaman sembari menggondol kado dari KUDO. Sesampainya di rumah saya memperoleh kabar sedih. Pasalnya laptop adik saya bermasalah, kasihan! Padahal laptop kesayangannya tersebut merupakan atribut perlengkapannya menyelesaikan tugas kantor. 

Alhasil, saya menjelma ibarat pahlawan (kesiangan) keluarga. Dengan segera saya berikanlah kado KUDO kepadanya sembari berpesan agar dijaga baik-baik karena untuk memperolehnya butuh perjuangan ekstra berdarah-darah (re: kepanasan keringetan nulis di kosan). Bukan main senangnya adik saya, saya sebagai kakak tentu juga turut senang. 

Menulis menjadi lebih menyenangkan. Terimakasih, KUDO!
dok: pribadi

Demikianlah makna pahlawan keluarga bagi saya yaitu ketika kehadiran kita di tengah keluarga dapat saling memberikan kebermanfaatan tanpa pamrih, tanpa mengharap lebih. Ekspektasi hanyalah menjadi jurang pemisah ketika terjadi gap antara kenyataan dan harapan. Yang terpenting ialah bagaimana peran kita dalam keluarga guna membantu dan menolong serta selalu ada di saat mereka membutuhkan. Bisa dibilang juga ini cara saya menebus 4 tahun kealpaan dan minimnya kebersamaan dalam keluarga dikarenakan tanggung jawab yang diemban. Berkat KUDO pula saya bisa membantu keluarga saya via jarak jauh disaat mereka membutuhkan bantuan untuk pembelian maupun pembayaran dan lainnya melalui aplikasi KUDO. Berkat KUDO, jarak tidak menjadi penghalang memupuk rasa kebersamaan.

Saat kunjungan ke kantor KUDO dalam rangka pengambilan hadiah 
dok: pribadi

Terimakasih KUDO atas kadonya. Semoga kedepan KUDO semakin jaya dan tetap menjadi karya anak bangsa yang membanggakan. Semoga KUDO pun tetap menjelma menjadi pahlawan tidak hanya dalam keluarga, melainkan bagi para (calon) pengusaha di luar sana. Tetaplah menginspirasi, KUDO!

Ket: tulisan diikutsertakan dalam KUDO Blog Competition “Pahlawan Keluarga”