Jumat, 28 Oktober 2016

#MudaBikinBangga: Kiprah Para Anak Muda Inspiratif dengan Pencapaian Membanggakan

Jujur.

Saya jadi malu hati menceritakan pencapaian (kalau bisa disebut demikian) yang saya kira telah saya capai sejauh ini. Memiliki pengalaman kerja di bidang penelitian, bekerjasama dengan instansi pemerintah, berkecimpung dalam lembaga legislatif, tergabung dalam keorganisasian baik formal/non formal, menempuh pendidikan tinggi, melakukan publikasi karya ilmiah, TERNYATA bukan menjadi satu tolok ukur yang berarti. Toh, diluar sana begitu banyak pencapaian anak muda yang lebih pantas dan menarik untuk diceritakan. Ya, menariknya karena mereka berdampak! Semua tentang mereka begitu menakjubkan dan sayang untuk dilewatkan tanpa diuraikan dalam untaian kata-kata. 

Di satu sisi, saya merasa beruntung karena dipertemukan dan diperhadapkan dengan orang-orang muda luar biasa dengan ketertarikan dibidangnya masing-masing. Secara diam-diam (baca: tanpa sepengetahuan mereka), saya memetik banyak pelajaran dari anak-anak muda mengagumkan dan penuh semangat kepemudaan ini. Tidak berlebihan kalau saya kemudian mengatakan bahwa mereka ialah generasi muda Indonesia yang penuh inspirasi dengan pencapaian luar biasa. Kelak, saya yakin mereka akan menjelma menjadi tokoh muda penerus Bangsa.

Berikut sedikit cerita tentang para anak muda yang ada di sekeliling saya yang (mungkin tanpa mereka sadari) telah berdampak luar biasa kepada orang sekitar terutamanya saya pribadi. Mereka dengan pencapaiannya yang menginspirasi dan membanggakan di usianya yang belia. Check it out.

  • Sosial 
Rutler Peregrine, merupakan sosok muda yang memiliki kepedulian yang begitu besar terhadap isu sosial. Melalui Komunitas DINDING, Rutler berusaha memberikan ruang pendidikan yang sangat terbuka bagi anak pasar dan jalanan. Tahun 2011 merupakan awal ketertarikan dan keterlibatan saya dengan komunitas DINDING. Rutinitas proses belajar mengajar bersama anak pasar dan jalanan dilaksanakan tiap akhir pekan berlokasi di Pasar Bersehati Kota Manado. Seiring waktu berjalan, komunitas ini tidak meredup malah sepak terjangnya semakin meyakinkan dan mampu membuktikan kehebatan sebagai bukti solidnya tim komunitas. Sungguh pencapaian di bidang sosial yang luar biasa, karena Rutler dan kawan-kawan berhasil memberikan dampak sosial kemasyarakatan secara nyata. 

  • Budaya
Heidy Manyohi, tiada kata lelah mengeksplor kebudayaan Indonesia, khususnya wilayah timur Indonesia. “Jangan panik, mari piknik!” Mungkin jargon tersebut yang tepat menggambarkan semangatnya memperkenalkan tanah air. Indonesia jelas memiliki banyak tempat wisata/piknik yang keindahannya tidak kalah hebatnya dengan mancanegara. Fyi, bahkan saat tulisan ini dibuat, Heidy sedang berada di Tanah Toraja untuk mengeksplor keindahan alam dan budayanya. Setelah sebelumnya berhasil menginjakkan kakinya di tanah Papua. Ya, dia baru saja menyelesaikan petualangannya di Raja Ampat, Papua sebelum kemudian menuju Toraja. Heidy juga kerap mem-posting keindahan Pulau Morotai, Maluku Utara. Keindahan wilayah timur Indonesia memang pantas untuk “dipamerkan”. Pencapaian di bidang budaya yang mengagumkan, bukan? Saya menjadi tidak sabar menanti sekiranya destinasi wisata dan budaya mana lagi yang akan dieksplor olehnya. Cant’ wait, Heidy! 

Keindahan Raja Ampat, Papua (dok: FB Heidy Manyohi)
Tana Toraja (dok: FB Heidy Manyohi)
Koh Island (dok: FB Heidy Manyohi)
  • Ekonomi
Andi Reza Lapananda (28) menjadi sosok yang paling saya inginkan dan nanti-nantikan kesempatannya untuk diulas. Bukannya apa-apa, saya mengenal beliau semenjak 2007 silam. Jadi, berbekal 9 tahun perkenalan tersebut membuat saya cukup percaya diri untuk menceritakan pencapaian apa saja yang telah dicapai olehnya, tentunya atas dasar “sepengetahuan saya”. Berkarir di bidang ekonomi khususnya perbankan selang 6 tahun lamanya, saya rasa telah cukup mampu membuktikan bahwa dirinya akan mampu menjadi bagian dari sekumpulan bankir handal kedepannya. Tentu atas dasar pengalaman tersebut telah membuat dirinya piawai dan berpengalaman dalam bidangnya. Pencapaian sebagai pegawai Bank Indonesia merupakan satu hal yang cukup membanggakan. Belum lagi peranan dan kontribusinya terhadap peningkatan literasi keuangan masyarakat. Kepercayaan yang diberikan merupakan amanah yang patut dijalankan sepenuh hati. Salah satunya dipercaya untuk memberikan materi tentang Edukasi Kebanksentralan. Hal semacam ini sudah barang tentu menjadi bagian yang penting untuk diapresiasi. Saya melihat ini sebagai pencapaian di bidang ekonomi dan peluang karir yang menjanjikan kecemerlangan di masa depan. Semoga senantiasa tawadhu, yang.

Karir di Bank Indonesia (dok: FB Andi Reza Lapananda)
  • Lingkungan 
Caroline “Dea” Tasirin (24), di mata saya merupakan sosok pegiat lingkungan dan perempuan yang tangguh. Bagaimana tidak, lulusan Sarjana Kehutanan ini merupakan anggota Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) serta Volunteer di NGO yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan. Dea (biasa dia disapa) juga berhasil memperoleh fellowship di bidang lingkungan dari Amerika Serikat. Pengalamannya di bidang lingkungan tersebut tentunya telah menjadi “paket komplit” yang mampu meningkatkan kompetensinya. Hal ini menjadi pencapaian di bidang lingkungan skala Internasional yang patut diapresiasi. Isu lingkungan memang merupakan satu bagian yang menarik dan “seksi” untuk dibahas. Kedepannya tentu kita membutuhkan para pemerhati handal yang berfokus pada isu lingkungan. Mereka haruslah yang berwawasan luas, memiliki pemikiran terbuka dan responsif terhadap segala permasalahan. Saya rasa Dea merupakan salah satu kandidat yang tepat. Setuju?

Penghargaan sebagai pemuda pegiat lingkungan tingkat Internasional
(dok: FB Caroline "Dea" Tasirin)
  • Pendidikan 
Amir Tjolleng, merupakan lulusan Sarjana Matematika dari Indonesia yang kemudian melanjutkan Studi Master (S2) nya ke Korea Selatan dan mengambil bidang keilmuan Teknik Industri di University of Ulsan. Kegigihan dan kerja kerasnya patut diacungi jempol. Saya begitu terkesima dengan usahanya yang membuahkan hasil. Tempo hari karya ilmiah (paper) nya berhasil terpublikasi di Elsevier yang merupakan salah satu Jurnal Internasional kenamaan yang cukup bergengsi karena terindeks Scopus. Amir pun telah menerbitkan buku hasil karyanya sendiri berbekal pengalaman dan bidang keilmuannya yaitu matematika. Amir begitu mencintai dunia pendidikan. Buktinya, di Korea Selatan dia pun menjadi tutor/pengajar di Universitas Terbuka (UT). Saya tidak bisa membayangkan bagaimana caranya dia membagi waktu antara belajar, kuliah, meneliti di laboratorium dan mengajar. Tapi, selama di Indonesia Amir memang cukup terlatih dan telah terbiasa mengajar di bimbingan belajar semenjak menempuh studi Sarjana. Bagi saya, apa yang dilakukan Amir merupakan salah satu bukti nyata pencapaian di bidang pendidikan yang layak diacungi jempol. Semangat, Mir!

Buku karya Amir yang berhasil diterbitkan (dok: FB Amir Tjolleng)

Karya Ilmiah yang terpublikasi di Jurnal Internasional Bergengsi (dok: FB Amir Tjolleng)
Demikianlah kiprah para anak muda yang menginspirasi pada bidangnya masing-masing. Mereka telaten dan berfokus pada apa yang menjadi tujuan hidup mereka. Berdampak atau tidak tentu masyarakat di sekeliling yang bisa menilai. Publik tentu bisa merasakan kehadiran mereka di tengah masyarakat. Rasa bangga saya semakin menjadi-jadi pasca membaca postingan berita di di Brilio.net via aplikasi Kurio. Saya semakin yakin bahwa tidak ada alasan untuk tidak bangga pada anak muda Indonesia yang memang membanggakan!

dok: Brilio.net via app Kurio
Sama halnya dengan Kurio, yang hadir dan memberikan kebermanfaatan terhadap generasi muda Indonesia pada khususnya. Kurio pun tentunya diciptakan oleh para anak muda inspiratif dan kreatif yang tidak kalah membanggakannya. Kurio dengan jargonnya “Selalu Lebih Tau” memberikan kemudahan untuk membaca berita dari banyak portal. Uniknya, Kurio menjadi media penyaji berita yang membuat penggunanya mampu membaca berita dari ragam portal hanya dengan melalui satu aplikasi, akses berita yang super cepat dan pastinya: anti hoax! Sebagaimana kita ketahui bersama di era digital seperti saat ini media memegang peranan yang begitu penting. Lantas, Kurio hadir dan memberikan sajian berita yang benar dan “waras” di tengah kegamangan publik.

Tapi, apa itu Kurio?


Kurio merupakan aplikasi portal berita Indonesia yang menyajikan kelengkapan sumber berita dari berbagai media, harian online, website serta blog favorit dengan konten terbaik dan terkini secara cepat. Atas dasar kepraktisan, Kurio membantu pengguna aplikasi mobile di Indonesia menjadi lebih berwawasan. Kurio diciptakan untuk mengoptimalkan waktu luang dan membuat para penggunanya menjadi lebih produktif. 

dok: app Kurio
Hal ini menjadi salah satu bentuk pencapaian di bidang teknologi dan informasi khususnya bagi aplikasi media online tanah air. Kurio menjadi aplikasi cerdas yang mampu merevolusi cara para pembaca berita dan informasi sesuai minat. Kurio menawarkan desain dan user experience yang unik sehingga pengalaman membaca berita menjadi jauh lebih menyenangkan. Dimana lagi kita bisa membaca berita melalui tampilan artikel dan video? Hanya di Kurio! 

dok: app Kurio
Yuk, install Kurio sekarang juga (mumpung gratis!). Caranya mudah,  Get Kurio for Free bagi pengguna Android maupun Iphone dapat diperoleh di Google Play disini dan App Store disini. Anak muda Indonesia memang bikin bangga, Kurio juga!

Testimoni (dok: app Kurio)
Cat: tulisan diikutsertakan dalam Lomba Blogging Kurio #MudaBikinBangga oleh Kurio Indonesia

Jumat, 21 Oktober 2016

Terpapar Pesona Jateng Gayeng dalam Radius 2.709,9 Km

Siapa yang akan menyangka bahwa awal mula keterpesonaan saya terhadap Provinsi Jawa Tengah bermula dari sebuah Pameran yang diadakan di Kota “Bumi Nyiur Melambai” Manado, Provinsi Sulawesi Utara?

Pada September 2010 silam, Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara yang berlokasi di Kota Manado mengadakan sebuah Pameran Nasional bertajuk “Gebyar Kain Nusantara”. Saya menghadiri pameran tersebut dan menyaksikan ragam kain yang dipamerkan dari seluruh penjuru Tanah Air, termasuk Jawa Tengah.

Ibarat “Dari mata turun ke hati”, tetiba saya langsung jatuh hati pada kain yang dipamerkan oleh Disbudpar Jawa Tengah dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kala itu. Pesona Jawa Tengah yang berjarak 2.709,9 Km dari kediaman saya tersebut telah berhasil membuat saya: meleleh. 

Kain khas Jawa Tengah oleh Provinsi Jateng (dok: pribadi)

Kain Khas Jawa Tengah oleh Disbudpar Jateng (dok: pribadi)
Hingga dua tahun kemudian, tepat pada bulan Juni 2012 saya berkesempatan mengunjungi Provinsi Jawa Tengah tepatnya ke Banjarnegara dan Jepara. Minggu pagi tanggal 10 Juni, saya bertolak dari Bandar Udara Sam Ratulangi Kota Manado pada pukul 06.15 WITA menggunakan maskapai penerbangan Lion Air 737-900ER dengan tujuan Jakarta, saya tiba di Bandar Udara Soekarno Hatta pada pukul 08.15 WIB (dengan perbedaan waktu 1 jam antara Jakarta dengan Manado). Setibanya di Jakarta saya berkumpul dan bersilaturahmi dengan keluarga terlebih dahulu, lalu esoknya langsung menuju Terminal Lebak Bulus dan membeli tiket bus Sinar Jaya jurusan Jakarta – Banjarnegara seharga Rp 85.000. Akhirnya, bus Sinar Jaya dengan plat nomor kendaraan 7034 nomor kursi 21 membawa saya menuju Banjarnegara selama kurang lebih 12 jam perjalanan.

Banjarnegara, dengan ragam pesonanya sungguh memikat hati, rasanya tidak jemu untuk digali dan dikenang hingga kini. Wilayah Kabupaten Banjarnegara merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Tengah. Banjarnegara gilar-gilar biasa disebutnya, kendati memiliki luas wilayah yang relatif kecil dengan jumlah penduduk yang relatif sedikit, tapi memiliki sumber daya alam yang beragam dan potensial untuk dikembangkan.

Sebut saja budidaya ikan air tawar yang berkembang dengan pesat. Luasan areal budidaya air tawarnya hampir mencapai ratusan hektar. Terutama budidaya ikan air tawar kolam pembenihan rakyat yang cukup menonjol. Setiap tahunnya kolam pembenihan rakyat rata-rata menghasilkan sekitar puluhan juta ekor benih. Hal ini sekaligus mengangkat pamor daerah ini sebagai salah satu penghasil benih ikan terutama gurami yang terbesar di Pulau Jawa bahkan terbesar di Indonesia!

Memelihara ikan semacam telah menjadi bagian hidup penduduk (livelihood). Sawah dan ladang di desa banyak beralih fungsi menjadi empang untuk budidaya ikan air tawar. Potensi inilah yang terus dikembangkan. Di Kota Banjarnegara sendiri kini dibangun pasar khusus salak. Petani dan pedagang salak dapat bertransaksi tanpa dicampuri tengkulak. Salak pondoh menjadi salah satu komoditas yang menghidupi ribuan keluarga petani. 

Rasanya belum lengkap bila berkunjung ke Banjarnegara tanpa mengunjungi alun-alun Kota. Di tengah lapangan terdapat dua pohon beringin yang kokoh menjulang. Di sekitar alun-alun dapat dijumpai gudeg Bu Jeki Khas Temanggung yang seporsinya dihargai Rp 8500. Selepas olahraga mengelilingi alun-alun alangkah nikmatnya sarapan gudeg yang mengenyangkan.

Pohon beringin tampak dekat (dok: pribadi)

Pohon beringin di tengah alun-alun kota Banjarnegara (dok: pribadi)
Masih di sekitaran alun-alun, terdapat Patung Dawet Ayu dan Prasasti. Dawet ayu memang menjadi ikon kuliner Banjarnegara. Minuman ini dipercaya dapat membuat awet muda. 

Patung Dawet Ayu (dok: pribadi)
Akhirnya, saya mengunjungi langsung kios Dawet Ayu legendaris di Banjarnegara yaitu Dawet Ayu Bu Hj. Munardjo Rejasa Banjarnegara (eks terminal lama). Harga per gelasnya Rp 3000. Penjualnya masih tetap mempertahankan ciri khas tradisional sehingga hal ini menjadi keunikan tersendiri.

Es Dawet Ayu (dok: pribadi)

Dawet Ayu Bu Hj. Munardjo (dok: pribadi)

dok: pribadi
Selanjutnya ada yang menarik, bila selama ini cendol dalam es dawet ayu yang dikenal berwarna hijau, maka berbeda dengan Es Dawet Ireng Khas Butuh Pak Wanto dimana cendol dalam es dawetnya berwarna ireng alias hitam. Harga es dawet ayu ireng per mangkoknya ialah Rp 2500. Sepintas tidak ada yang berbeda baik melalui citarasa, hanya saja tampilannya yang berbeda lain dari biasanya.

Es Dawet Ayu Ireng (dok: pribadi)
dok: pribadi
Selain es dawet ayu, Banjarnegara juga terkenal dengan hidangan kuliner berupa Mie Ongklok dan Soto Daging Sapi. Mie ongklok merupakan makanan khas Wonosobo berupa perpaduan mie berserat halus, tipis dan kuah yang kental serta campuran sayur sejenis kol dan sawi serta udang kecil. Mie ongklok ini bisa ditemukan di depan Taman BIMBA dekat lampu merah. Selain itu ada Soto Daging Sapi Khas Krandegan Banjarnegara Pak Sukisno yang terletak di Jalan MT Haryono. Sepintas mirip dengan soto kebanyakan, hanya saja soto daging ini memiliki kuah khas lengkap dengan daging dan tauge. Seporsi dihargai Rp 10.500. 

Soto Daging Sapi Khas Banjarnegara (dok: pribadi)
dok: pribadi
Minggu, 17 Juni 2012, akhirnya saya tiba di Dieng. Dieng merupakan salah satu potensi wisata yang dapat dikembangkan dan menjadi salah satu tujuan wisata baik domestik maupun mancanegara. Panorama alamnya sungguh menakjubkan! Membuat siapa saja yang menikmatinya enggan berkedip. Eksotis.

Hawa dingin terasa (dok: pribadi)

Sistem pertanian terasering (dok: pribadi)

Menuju Dieng, puncak kehidupan abadi (dok: pribadi)
Menuju Dieng seakan menuju puncak kehidupan abadi. Damai terasa. Jalan yang menanjak dan berkelok, tebing yang menjulang tinggi serta hawa yang dingin terutama ketika melewati Karangkobar seakan menjadi penegasan keagungan Tuhan Yang Maha Esa. Dieng laksana kota di atas awan, kotanya para Dewa. 


Di dalam Kawasan Candi Dieng terdapat Museum Kailasa. Museum ini menyajikan pemutaran film selama kurang lebih 10 menit dengan tiket masuk (HTM) seharga Rp 5000, tapi film akan diputar bila terkumpul minimal 10 orang. Sekitar museum terdapat beberapa kios yang menjual beraneka macam dagangan. Semisal, manisan carica seharga Rp 10.000, dan bunga edelweis seharga Rp 10.000. Saya juga menjumpai ragam candi diantaranya Candi Puntadewa, Candi Sembadra, Candi Srikandi, Candi Arjuna, dan Candi Semar. 

Selain Dieng, Sumur Jalatunda juga menjadi primadona karena unsur mistis yang dikandungnya. Sumur Jalatunda terletak dalam kawasan wisata. Tarif masuknya seharga Rp 5000 per orang dewasa. Ragam kepercayaan dianut para pengunjung maupun masyarakat setempat bahwasanya Sumur Jalatunda merupakan pintu masuk menuju kediaman Ratu Pantai Selatan. Saya pun tak luput dari ritual melempar batu. Konon, dipercaya bila batu yang dilempar mencapai seberang maka permintaan kita akan terkabul. Sayangnya, belum pernah ada yang berhasil melempar batu hingga ke seberang.

Sumur Jalatunda (dok: pribadi)
Kawah Sleri juga menjadi salah satu tujuan wisata. Kawah yang masih aktif ini kerap dikunjungi wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Konon, asal kata Sleri sendiri dikarenakan kepulan asapnya serupa dengan air cucian beras. 

Kawah Sleri (dok: pribadi)
Setelah puas dengan panorama alam pegunungan, kini saatnya menuju wilayah pesisir. Perjalananan pun dilanjutkan ke Kota Ukir-Ukiran Jepara, tempat kelahiran tokoh emansipasi wanita, RA Kartini. Saya berkesempatan mengunjungi Museum RA Kartini dan melihat benda-benda peninggalannya yang bersejarah. Semisal, Ruang Meditasi yang dilengkapi dengan kayu khas ukiran Jepara, dupa dan beberapa kendi. Pas pintu masuk museum dapat dijumpai penjelasan:
Tempat Kelahiran Kartini  
RA Kartini dilahirkan pada tanggal 21 April 1879 (JW. 28 Rabiul Akhir 1808) di Mayong Jepara. Pada waktu itu Ayah Kartini, RM Sosroningrat menjadi Kepala Distrik Mayong (sekarang Wedana)

Patung RA Kartini di pelataran Museum RA Kartini (dok: pribadi)

Ruang meditasi (dok: pribadi)

Perabotan dalam kamar RA Kartini (dok: pribadi)

Meja kursi RA Kartini (dok: pribadi)
Museum RA Kartini juga dilengkapi dengan benda-benda khas sumber daya alam bawah laut di Jepara. Semisal, batu mutiara asal Pulau Parang Karimun Jawa. Serta kerangka ikan raksasa purba yang telah diawetkan. Selain sumber daya alam laut, museum ini juga dilengkapi dengan benda-benda tradisional yang kerap digunakan para nelayan untuk melaut.


Ukiran khas Jepara (dok: pribadi)

Alat tradisional untuk melaut oleh para nelayan (dok: pribadi)

Rangka ikan purba raksasa (dok: pribadi)


Batu mutiara asal Pulau Parang Karimun Jawa (dok: pribadi)
Jangan kaget bila ternyata ada "Kura-Kura Raksasa" di Jepara! Ya, bangunan kura-kura raksasa ini mirip sea world yang terletak dalam kawasan Pantai Kartini. Pengunjung bebas menikmati keindahan alam laut di tempat ini. 


Pantai Kartini (dok: pribadi)
Kura-kura raksasa ala Jepara (dok: pribadi)
Sea world-nya Jepara (dok: pribadi)
Jepara memang terkenal dengan panorama alam lautnya, Karimun Jawa merupakan salah satu potensi ekowisata di daerah ini. Taman Nasional Karimun Jawa terdiri dari gugusan 27 buah pulau dimana lima pulau diantaranya telah berpenghuni. Salah satunya ialah Pulau Karimun Jawa yang menjadi pusat kecamatan dan berjarak sekitar 83 km dari Jepara. Yang menarik, di sekitar kepulauan terdapat bangkai kapal Panama INDONO yang tenggelam pada tahun 1955 dan bangkai itu menjadi habitat ikan karang dan cocok untuk lokasi penyelaman. Nama Karimun Jawa sendiri berasal dari zaman Sunan Muria yaitu salah satu tokoh penyebar Agama Islam. Sunan Muria melihat pulau-pulau di Karimun Jawa sangat samar dari Pulau Jawa (alias kremun-kremun soko Jowo). Sehingga tercetuslah nama "Karimun Jawa" tersebut. Musim kunjungan terbaik ke pulau ini yaitu pada bulan April hingga Oktober.


Banjarnegara dan Jepara, bagi saya telah mewakili pesona Jawa Tengah. Laksana kenikmatan Tuhan yang tiada mampu untuk didustakan. Saya bersyukur pernah menikmatinya. Semoga saya berkesempatan kembali untuk mencicipinya sekali lagi. Aamiin. 

Cat: Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah (www.twitter.com/visitjawatengah);

Kamis, 20 Oktober 2016

Ingin Memulai Bisnis di Usia Muda? Jangan Gengsi!

“Sukses adalah Hak Saya”, ucap Andrie Wongso, salah seorang motivator terbaik di Negeri ini. Jadi, apapun yang terjadi saya memiliki hak paten untuk meraih tangga kesuksesan tersebut, tinggal bagaimana caranya saya mampu bertahan dan berupaya memenuhi kewajiban yang ada guna meraihnya.

Kali pertama belajar memulai bisnis ketika duduk di bangku Taman Kanak-Kanak (TK). Saya membantu ibu berjualan es mambo keliling kompleks perumahan. Tapi apa daya, harapan untung malah buntung. Es mambo habis terjual tapi uangnya nihil. Inilah awal mula mengecap pedihnya masa “kerugian” dalam memulai bisnis. Resiko semacam ini yang mesti ditanggung dan saya belajar banyak dari pengalaman tersebut, meski di usia yang masih sangat dini dan prematur.

Lalu, bisnis pun berlanjut ke bangku Sekolah Dasar (SD). Saya membawa beberapa mainan yang saya miliki di rumah ke sekolah untuk kemudian saya tawarkan kepada teman-teman di kelas. Dan, laris! Teman-teman menyukai mainan yang saya miliki dan mereka merelakan sebagian uang jajan mereka untuk diberikan kepada saya dengan imbalan mainan saya menjadi milik mereka. Alhasil, dengan uang yang dimiliki saya bisa membeli beberapa mainan baru dan sebagian uangnya saya tabung. Jadi, saya bersyukur semenjak kecil saya bisa memiliki tabungan hasil jerih payah sendiri baik hasil berjualan maupun menyisihkan uang jajan.

Semenjak SD pula, saya sering dimintai tolong wali kelas menjaga barang dagangan mereka. Setiap istirahat, saya duduk manis di pintu kelas sembari membaca materi pelajaran dan menjaga dagangan bila sewaktu-waktu ada yang datang membeli. Snack Fuji, Cup-cup, Mie kremez dan lainnya menjadi produk-produk dagangan yang familiar dalam keseharian. Tidak jarang saya pun memperoleh upah sekian rupiah dari hasil menjaga barang dagangan tersebut.

Entahlah, tapi saya menyenangi prosesi tersebut. Berjualan, mengalami kerugian, memperoleh keuntungan, menabung, jual – beli, menjaga dagangan, mendapat upah dan lainnya semacam menjadi ritual menyenangkan. Mungkin dari sinilah awal mula jiwa kewirausahaan saya dipupuk. 


Hingga duduk di bangku kuliah, saya memiliki online shop sendiri bernama FASHIONconscious. Isinya beraneka macam produk kewanitaan semisal tas, sepatu, dompet dan pakaian. Bisnis online shop di bidang fashion ini menyesuaikan dengan passion jiwa anak muda dan sasarannya juga anak muda khususnya kaum hawa. Pemasarannya dilakukan via media sosial melalui sistem dropship, reseller ataupun kulakan/grosir. Ya, tentunya ada plus/minus dari beberapa sistem yang coba saya terapkan tersebut. 

Semisal, dropship dan reseller. Kelebihannya ialah kita tidak perlu menyediakan tempat khusus untuk menampung barang dagangan. Selain mampu menghemat space, biaya terkait sewa tempat juga dapat diminimalisir. Dengan alasan kepraktisan, sebenarnya sistem berjualan semacam ini sangat disarankan karena barang dapat langsung dikirim kepada pembeli dengan mengatasnamakan online shop kita. Hanya saja kekurangannya ialah kita tidak dapat melihat langsung kualitas dari barang yang dimaksud. Sehingga terkadang nama baik online shop kita menjadi taruhannya kalau barang yang dibeli ternyata tidak sesuai ekspektasi.

Sedangkan dengan sistem kulakan alias grosiran memiliki kelebihan yang membuat kita mampu melihat sendiri kualitas barang yang kita inginkan untuk dipasarkan. Setidaknya kita turut menjadi saksi atas barang yang akan kita jual sendiri. Tapi, kekurangannya ialah kita harus menyediakan tempat khusus untuk display ataupun stok/penyimpanan barang-barang tersebut. Belum lagi bila ternyata situs yang kita yakini mampu mendatangkan keuntungan malah tidak sesuai harapan.

Tapi, saat ini segala kekurangan tersebut dapat dengan mudahnya diatasi salah satunya melalui ralali.com yaitu salah satu situs yang memberikan kemudahan memulai usaha secara kulakan/grosir. Situs ralali.com dilansir merupakan B2B Online Marketplace yang menyediakan segudang kemudahan bagi siapa saja yang masih awam dan berkeinginan kuat memulai bisnis.


“Marketing is everything”, merupakan jargon yang cukup fenomenal dalam dunia pemasaran. Seiring berjalannya waktu, tren dalam pemasaran menuju ke arah megatren yang perlu dipertimbangkan untuk masa depan. Lanskap ekonomi telah secara fundamental berubah dikarenakan teknologi dan globalisasi. Semua dapat bersaing berkat internet dan perdagangan yang lebih bebas.

Tidak dapat dipungkiri bahwasanya kekuatan ekonomi ialah hiperkompetisi yaitu ketika perusahaan mampu memproduksi lebih banyak barang daripada yang dapat dijual dengan cara lebih menekan harga. Hal ini juga mendorong perusahaan untuk membangun lebih banyak diferensiasi. Ralali B2B Marketplace lantas hadir dan menjadi bagian dari metamarket dimana memfasilitasi semua kegiatan yang tercakup dalam upaya memperoleh sebuah item untuk digunakan atau dikonsumsi. Kemudahan akses via Android Play Store juga semakin memudahkan calon pelanggan.


Sebagaimana yang diungkapkan oleh Peter Drucker, Bapak Manajemen Modern, bahwasanya bisnis memiliki dua fungsi dasar yaitu pemasaran dan inovasi. Dimana inovasi yang dihadirkan Ralali B2B Marketplace bukan sekedar berkutat dengan penciptaan produk yang baru dan lebih baik melainkan juga pengembangan sistem yang lebih baik dan konsep bisnis yang baru. 

dok: pribadi via app Play Store

dok: pribadi via app Play Store

dok: pribadi via app Play Store
Terlepas dari proses dan sistem dagang yang ada, saya bersyukur karena dengan berani memulai bisnis di usia muda saya mampu memenuhi sebagian kebutuhan saya sendiri. Dari hasil berjualan online tersebut misalnya saya mampu membeli gadget sendiri, meski harus nyicil hehe. Tapi minimal saya belajar untuk membayar dan melunasi cicilan saya sendiri. Semacam ada kebanggaan dan kepuasan tersendiri. Belum lagi saldo di rekening yang Alhamdulillah terus bertambah.

Layaknya para entrepreneur sejati, sebut saja Bob Sadino. Siapa yang tidak kenal beliau? Jurus sukses yang diajarkannya ialah tentang bagaimana pentingnya memupuk mental kewirausahaan khususnya bagi para anak muda Indonesia. Disiplin kerja yang tinggi, menjual dengan cinta, berupaya fokus, memulai semua dari nol merupakan cikal bakal keberhasilan yang berawal dari keyakinan. Yang pasti porsinya hanyalah 1 persen keberuntungan dan sisanya 99 persen adalah keringat. 

Philip Kotler, tokoh paling kompeten dalam pemasaran pernah berkata bahwa “Passion for knowledge”. Jadi, menjaga passion yang kita miliki merupakan salah satu upaya dalam menggali dan memelihara potensi yang dimiliki guna terus belajar agar berpengetahuan. 

Intinya, teruslah bersemangat dalam berkreasi dan berinovasi tiada henti dalam memulai bisnis. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Think big, Start small and Move Fast! Dan satu lagi, buang jauh-jauh yang namanya gengsi! Bukan jamannya lagi jaim alias Jaga Image. Sekarang eranya berani tampil, buktikan kemampuan diri dan terus menjadi yang terdepan.


Nb: Penulis merupakan anggota Himpunan Mahasiswa Wirausaha Pascasarjana IPB Bogor. 

Cat: Tulisan diikutsertakan dalam Ralali Blogger Contest “Memulai Bisnis di Usia Muda” yang diselenggarakan oleh ralali.com

My Story with BCA: Melaju Bersama “Flazz” di Tengah Hiruk Pikuk Ibukota

Saya “SAH” menjadi seorang komuter semenjak “hijrah” ke Pulau Jawa. Berbekal pengalaman minim dan pengetahuan seadanya tentang Ibukota dan pelbagai dinamika didalamnya, saya dituntut untuk belajar dengan cepat agar dapat survive. Saya pun sangat berusaha keras untuk melakoninya. Bisa jadi inilah keputusan yang menentukan “turning point” hidup saya selang 20-an tahun belakangan ini. Ya, ibarat “Welcome to the Jungle”! Saya telah memutuskan dan mengambil jalan untuk arah kehidupan saya kedepan.

Semenjak sekolah di daerah mulai dari taman kanak-kanak hingga menyelesaikan studi di bangku Perguruan Tinggi, tidak pernah terbayang bahwa saya nantinya akan berjibaku dengan dunia yang begitu dinamis dan menuntut performa yang prima. Laksana “keluar dari zona nyaman”, saya mencoba peruntungan dan memberanikan diri mengadu nasib ke Ibukota, tempat bersemayamnya segala kemungkinan. 

Selama di daerah, belum pernah saya menjumpai kereta api atau Commuter line (kereta listrik). Membayangkan rel kereta api atau suatu tempat bernama stasiun saja sangat asing. Saya pun jarang bepergian dengan bus atau angkutan umum sejenisnya untuk lintas wilayah antar kota atau kabupaten. Tetapi setibanya di Ibukota, segala jenis angkutan umum menjadi sangat familiar dalam keseharian. Saya seakan menyatu mau tidak mau dengan pelbagai jenis angkutan umum tersebut mulai dari kereta, bus, angkot, ojeg hingga tempat-tempat pemberhentiannya mulai dari stasiun, terminal, halte, dan pangkalan. Saya pada akhirnya mendewasa seiring berjalannya waktu. Bagi saya ini luar biasa. Pencapaian pribadi yang menurut saya patut diapresiasi. Ya, terkadang mengapresiasi diri sendiri memang perlu. 

Hingga tepat pada 2013/2014, saya terlibat project dengan instansi pemerintah di bilangan daerah Pulogadung, Jakarta Timur. Saat itu saya berdomisili di Bogor. Sehingga status sebagai seorang komuter melekat dengan erat. Setiap harinya saya mesti bolak balik (PP) Bogor – Jakarta – Bogor. Begitu terus setiap harinya selama lima hari kerja dalam seminggu. Dan disinilah awal mula perkenalan saya dengan “Flazz”, kartu ajaib yang menemani saya melaju di tengah hiruk pikuk Ibukota.

dok: pribadi

dok: pribadi
Jujur, saya bukan nasabah BCA. Tapi, kali pertama menggunakan kartu elektronik ialah kartu “Flazz” yang merupakan produk dan inovasi dari BCA, saya pun merasa sangat tertolong. Bagaimana tidak, di era digital dan serba elektronik seperti saat ini, perubahan dinamika menjadi lebih cepat terasa. Saya hampir tidak pernah menggunakan uang tunai sama sekali. Kehadiran Flazz BCA menjadi angin segar di tengah digitalisasi keuangan dan transaksi non tunai saat ini.

dok: bca.co.id
Sebagai ilustrasi, saya menggunakan Commuter Line tujuan Jakarta Kota dari Bogor dan turun di Stasiun Juanda untuk kemudian naik busway menuju tempat kerja di bilangan Pulogadung, Jakarta Timur. Busway pun harus transit sekali di Halte Harmoni, lalu melanjutkan perjalanan dengan busway jurusan Pulogadung.

Terbayang bukan betapa panjang dan melelahkan perjalanan? Belum lagi “ritual” berdesak-desakan antar penumpang busway maupun Commuter line. Fenomena saling sikut atau saling dorong seperti ini makin hari menjadi hal yang lumrah dan tontonan yang biasa saja. Fiuh. 


Untungnya ada Flazz BCA yang hadir menemani saya menikmati ritme Ibukota. Saya merasa terbantu karena tidak perlu lagi antri di loket untuk membeli tiket/karcis Commuter line. Saya bisa dengan leluasa menuju gate dan langsung melakukan “tap” di pintu masuk. Begitu pun ketika berada di halte busway. Saya juga dapat langsung menuju gate pintu masuk sembari melakukan “tap” tanpa harus membeli tiket/karcis busway. Berkat Flazz BCA, saya mampu meminimalisir bahkan meniadakan hambatan yang ada. Waktu yang ada dapat saya pergunakan seoptimal mungkin. Flazz BCA benar mampu membuat saya “melaju” dengan indahnya. Ya, indah. Karena saya melaju dengan cara yang baik, yaitu tanpa perlu menyingkirkan, saling dorong atau saling sikut dengan orang lain. Saya melaju dengan sportif dan elegan. Hehe. 

Oya, sebenarnya ada satu pengalaman menarik saat saya menggunakan Flazz BCA. Pernah suatu waktu sepulang kantor, hujan deras mengguyur Jakarta. Musim penghujan memang telah tiba di penghujung tahun. Kemacetan tentunya semakin menjadi-jadi. Lalu lintas lumpuh total karena banjir dan genangan dimana-mana. Saya dan teman-teman kantor kesulitan mendapatkan akses menuju halte busway untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Bogor dengan Commuter line. Hingga pada akhirnya teman saya menyarankan untuk pulang dengan menggunakan Bus Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway (APTB) saja.

Pasalnya, saya belum pernah mencoba moda angkutan umum tersebut. Kami pun beramai-ramai naik taksi dan menuju Terminal Pulogadung. Bus APTB biasanya “mangkal” disitu. Dan benar saja, Bus APTB menuju Bogor tengah terparkir dengan eloknya menunggu penumpang terisi penuh. Sebenarnya, Bus APTB ini cukup praktis juga digunakan karena pemberhentian terakhirnya ialah di Terminal Bubulak Bogor, dan saya nantinya hanya sekali naik angkot menuju rumah dari Terminal Bubulak. Berbeda bila menggunakan Commuter line, dimana saya perlu dua kali naik angkot dari stasiun menuju rumah dengan sekali pemberhentian di Terminal Laladon lalu melanjutkan perjalanan naik angkot sekali lagi.

Baiklah, dengan alasan kepraktisan tersebut saya semakin yakin untuk naik Bus APTB saja besok-besoknya. Saya merasa beruntung karena pada akhirnya dapat pulang dan kembali ke Bogor, melaju di tengah kemacetan yang syalala. Nah, satu yang menarik ternyata pembayaran tiket/karcis di Bus APTB bisa menggunakan Flazz BCA. Wow, saya merasa semakin beruntung! Rasanya bantuan datang di saat yang tepat secara bertubi-tubi. Saya merasa semakin tertolong dan berterima kasih kepada pihak BCA atas segala kemudahan yang ada. Semoga kedepan produk dan layanan BCA semakin "bombastis" dalam berinovasi. 

Demikian My Story with BCA, ibarat kisah kasih bersama Flazz BCA. Terimakasih Flazz BCA selalu setia menemani melaju bersama di sela dinamika Ibukota. Terimakasih karena telah membantu meminimalisir bahkan meniadakan hambatan yang ada sehingga saya bisa melaju tanpa perlu menyulitkan atau mengusik ketenangan orang lain. Sekali lagi, Terimakasih.

berpartisipasi dalam "My BCA Experience" Blog Competition

Jumat, 14 Oktober 2016

Mutiara Laut Selatan Indonesia: Quo Vadis?

Kabupaten Maluku Tenggara merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Maluku. Letaknya di Kepulauan Kei khususnya Kei Besar. Wilayah bagian timur Indonesia yang beribukota di Langgur (sebelumnya Kota Tual) ini menjadi salah satu tempat persinggahan saya ketika menjejakkan langkah di “Negeri 1000 Pulau” pada bulan September silam. Kabupaten ini terbilang cukup unggul dalam produksi dan nilai hasil kekayaan laut diantaranya sektor perikanan. Komoditas perikanannya sangat potensial untuk lebih dikembangkan karena wilayahnya dikelilingi oleh laut serta letak geografis yang strategis dan kekayaan alam laut yang melimpah.

Perikanan laut memang menjadi sektor yang paling dominan di Kabupaten Maluku Tenggara. Tapi, satu hal lainnya yang dianggap cukup prospektif di bidang kelautan wilayah ini ialah pengembangan kerang mutiara. Ya, tanah Maluku menyimpan beragam kekayaan alam yang luar biasa diantaranya yaitu mutiara. Mutiara merupakan salah satu komoditas unggulan sektor kelautan dan perikanan. Pun, prospek bisnis mutiara sangat menggiurkan. Tak mau ketinggalan, saya pun sedikit mengabadikan potret beberapa mutiara laut dan membeli mutiara budidaya berbentuk tasbih sebagai buah tangan dari Maluku.

Mutiara Laut (dok: pribadi)

Mutiara dalam bentuk perhiasan cincin (dok: pribadi)

Mutiara budidaya berbentuk tasbih (dok: pribadi)

Selain mutiara, Maluku juga terkenal dengan besi putih khas Maluku (dok: pribadi)
Tidak hanya Kabupaten Maluku Tenggara, adapun salah satu kabupaten tertinggal di Provinsi Maluku ialah Kabupaten Kepulauan Aru yang beribukota di Dobo juga memiliki potensi kekayaan laut yang tidak kalah hebatnya. Kabupaten ini terkenal dengan budidaya mutiara tepatnya di Pulau Womar yaitu sebuah pulau kecil di sisi barat Pulau Wokam. 

Produksi mutiara ini telah diekspor ke luar negeri sehingga disinyalir telah mengubah daerah ini menjadi pasar yang potensial. Dobo selain menjadi ibukota kabupaten juga menjadi pusat perdagangan. Ramainya perniagaan di Dobo ini merupakan efek langsung dari kejayaan mutiara yang banyak dieskpor ke luar negeri. Adapun mutiara-mutiara tersebut dikenal sebagai Dobo Pearl

Dobo pearl (dok: aruislands.blogspot.co.id)

Mutiara Dobo yang umumnya diproduksi dengan campur tangan manusia dibudidayakan di Kecamatan Pulau Aru dan Aru Tengah. Hanya saja, pemasokannya terkendala transportasi, terutama penerbangan untuk tujuan ekspor sehingga volume maupun nilainya dari sektor perikanan dan kelautan masih relatif rendah. 

Penting untuk diketahui bahwa pasar mutiara dunia didominasi oleh 4 jenis mutiara diantaranya Mutiara Laut Selatan (South Sea Pearl) dengan Negara produsen yaitu Indonesia, Australia, Filipina dan Myanmar. Selain itu dikenal pula mutiara air tawar, mutiara akoya dan mutiara hitam. Tapi, South Sea Pearl merupakan mutiara yang paling mahal dan terkenal. 


Bila dibandingkan dengan Australia yang mempunyai sektor usaha budidaya mutiara, potensi ekspor Indonesia jauh lebih besar dan unggul. Australia mengklaim menguasai sekitar 13 persen mutiara South Sea Pearl, sedangkan Indonesia menguasai minimal 60 hingga 80 persen mutiara South Sea Pearl di dunia. Berdasarkan volume, Indonesia merupakan produsen Mutiara Laut Selatan terbesar di dunia! Indonesia South Sea Pearl seharusnya menjadi satu-satunya yang termahal dan terkenal. 

dok: https://www.instagram.com/indonesianpearlfestival2016/

Ada satu hal yang cukup menarik yaitu ketika saya menemukan beberapa aplikasi tentang “Pearl” via play store android. Diantaranya aplikasi bernama “Opal+Pearl Australian”. Aplikasi ini menyajikan South Sea Pearl dengan ragam warna, bentuk dan ukuran. Seperti misalnya Golden South Sea Pearl yang berbentuk cincin yang dilengkapi dengan berlian, serta South Sea Pearl berbentuk anting. 

dok: app play store

dok: app play store

dok: app play store

dok: app play store

Aplikasi selanjutnya bernama “National Pearl”, tapi jangan harap menemukan Indonesia South Sea Pearl disini kendati judulnya: Nasional. Kategori produk mutiaranya beragam mulai dari kalung, anting, gelang hingga cincin. Tipe/jenis mutiaranya yaitu terdiri dari Golden South Sea (108), Tahitian South Sea (209) dan White South Sea (121). Bila diurutkan mulai dari harga tertinggi maka akan diperoleh mutiara termahal yaitu White South Sea Pearl Necklace seharga $8.999 dimana pearl origin-nya ialah dari Australia. Sedangkan harga mutiara terendah ialah Tahitian South Sea Pearl Denise Pendant seharga $99 dimana pearl origin-nya ialah dari French Polynesia. 

dok: app play store

Mutiara termahal (dok: app play store)

Mutiara dengan harga terendah (dok: app play store)

Sayangnya, memang sukar menemukan jejak Indonesia South Sea Pearl (Indonesia origin) di dalam jalur perdagangan mutiara dunia. Padahal berdasarkan laporan bahwa 80 persen mutiara dunia ada di Republik Indonesia tapi sayangnya ekspornya masih kalah dari Australia (Detik.com, 12 Januari 2016). Dalam Konferensi Pers bertajuk “Penggagalan Ekspor Mutiara” oleh Kementerian Keuangan dan Kementerian Kelautan dan Perikanan yang dihelat pada Januari silam disebutkan bahwa ekspor illegal 11 kilogram mutiara jenis South Sea Pearl ke Hongkong telah berhasil digagalkan oleh Direktorat Jenderal Bea Cukai bersama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Ibu Menteri KKP, Susi Pudjiastuti pun menjelaskan bahwa sebenarnya nilai ekspor mutiara Indonesia sangat tinggi, tapi cukup banyak yang tidak tercatat karena diekspor secara ilegal. 

dok: https://www.instagram.com/indonesianpearlfestival2016/

Berdasarkan data laporan beberapa aktivitas Underground Economy di Indonesia tahun 2002, Prof. Hari Susanto (2011) menyebutkan bahwa kegiatan ekspor ilegal diantaranya kekayaan laut memiliki nilai moneter sekitar 4 milyar dollar AS! Bayangkan nilai kerugian puluhan trilyun rupiah dari aktivitas ilegal di ranah moneter ini. Fenomenanya pun menjadi sulit diberangus dan diberantas karena persoalannya telah sampai pada tataran belief yang negatif. Jadi, sudah sepatutnyalah pendekatan berupa “substance over form” yang digunakan. Kendati merupakan suatu keniscayaan untuk mengharapkan agar visi, misi dan strategi mesti menjadi komitmen praktis dan filosofis. Kasus Underground Economy/Hidden Economy semacam ini sebenarnya menarik untuk diungkap kembali terkait dengan beberapa indikasi keberadaannya dan kalau perlu secara khusus mengestimasi besarannya di Indonesia secara berkelanjutan. Harapannya kedepan ialah untuk meningkatkan penerimaan negara dari aktivitas ekonomi yang dikategorikan ilegal. Tapi, tentu butuh effort lebih dan peran serta multipihak dalam kepentingan ini.

Di satu sisi, pemerintah telah merumuskan kebijakan di bidang kelautan khususnya tentang arah kebijakan peningkatan pengelolaan sumber daya kelautan, sebagaimana disebutkan dalam pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia yaitu pada tahun 2015 diantaranya terkait: 1) Peningkatan tata kelola kelautan melalui penyusunan rencana zonasi dan pengembangan kebijakan kelautan; 2) Pengelolaan kawasan konservasi perairan dan pulau-pulau kecil; 3) Peningkatan kerjasama dalam pengelolaan wilayah laut; 4) Pengawasan dan pengamanan wilayah dari pemanfaatan sumber daya kelautan yang merusak dan ilegal; 5) Rehabilitasi kawasan pesisir yang rusak dan pengendalian bencana alam dan dampak perubahan iklim; 6) Mengoptimalkan pemanfaatan keekonomian dari sumber daya kelautan yang difokuskan pada pendayagunaan pulau-pulau kecil dan pengelolaan kawasan konservasi perairan untuk meningkatkan keekonomian sumber daya kelautan. 

Sebelumnya, pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan pun telah menerbitkan Standar Nasional Indonesia (SNI) mutiara yaitu SNI 4989:2011. Diharapkan SNI mutiara dapat digunakan sebagai dasar dalam menyusun Standar Operating Procedure Grading mutiara dan perlu ditindaklanjuti dengan membuat Indonesia Quality Pearl Label (IQPL). 

dok: http://sisni.bsn.go.id/index.php?/sni_main/sni/detail_sni_eng/11853
Kebijakan dari segi perdagangan juga perlu menjadi perhatian, khususnya kebijakan sektor perdagangan luar negeri yang perlu diarahkan pada peningkatan ekspor agar bernilai tambah lebih tinggi dan lebih kompetitif di pasar internasional. Pembangunan perdagangan luar negeri tersebut dilakukan diantaranya melalui: 1) Peningkatan upaya diplomasi perdagangan yang lebih efektif; 2) Pemberdayaan eskportir dan calon eksportir; dan 3) Peningkatan efektivitas tata kelola impor dan pengamanan perdagangan. 

Pengoptimalan pemanfaatan keekonomian dan pemberdayaan dapat dilakukan diantaranya juga melalui pengolahan sumber daya kelautan. Diduga faktor ekspor mutiara dalam bentuk gelondongan alias mutiara utuh kerap menjadi salah satu penyebab. Indonesia South Sea Pearl yang di ekspor keluar negeri seringkali dilabeli dengan brand luar lalu dikirim lagi masuk ke Indonesia. Setelah itu asal muasalnya tidak terlacak lagi, bagai hilang ditelan bumi. Dunia pemutiaraan Indonesia lantas menjadi semakin tidak optimal. Selain karena pengembangannya yang masih terbatas, sense of belonging masih kurang kuat khususnya dari dalam negeri sendiri. Padahal untuk meningkatkan nilai tambah, ekspor mutiara dalam bentuk perhiasan jauh lebih mempunyai nilai lebih tinggi bila dibandingkan mutiara gelondongan. Sehingga di satu sisi juga perlu adanya peningkatan pengetahuan dan teknologi. Ini menjadi PR kita bersama! 

Sumber: 
  • Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia. 2015 
  • Profil 199 Kabupaten Tertinggal. 2009 
  • Susanto, H. 2011. Underground Economy. Jakarta: Baduose Media 
  • http://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3116806/80-mutiara-dunia-ada-di-ri-tapi-ekspornya-kalah-dari-australia
  • http://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-2375372/-sharif-cicip-kecewa-ekspor-mutiara-ri-rendah-ini-tanggapan-pengusaha
Cat: Penulis merupakan Mahasiswa Pascasarjana IPB Bogor bidang keilmuan Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan. Penulis pernah menjadi Tenaga Ahli Anggota Dewan DPR RI Komisi IV yang membidangi Kelautan dan Perikanan, Pertanian, Pangan, Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Penulis juga pernah terlibat kerjasama bidang penelitian dengan beberapa instansi pemerintah diantaranya Kementerian PUPR, Kementerian Perindustrian dan BPAD Provinsi DKI Jakarta. 

Nb: Tulisan diikutsertakan dalam 6th IPF Kompetisi Penulisan Blog/6th IPF Blog Writing Competition 6th Indonesian Pearl Festival The Magnificent Indonesia South Sea Pearl