Senin, 25 Oktober 2021

Mengenal Produk Berbahan Dasar Bioetanol, Biodiesel, dan Biogas

Isu tentang energi memang menarik untuk diperbincangkan, tidak terkecuali Bahan Bakar Nabati (Biofuel). Pasalnya, hal ini menyangkut kebutuhan hidup dan aktivitas kita sehari-hari. Dalam beraktivitas misalnya, saat bepergian menggunakan angkutan umum dan/atau kendaraan pribadi, tentu saja kita perlu mengisi bahan bakar sebelum berkendaraan agar nyaman selama di perjalanan.

dok: pribadi

Berdasarkan data yang bersumber dari Kementerian ESDM tentang pemanfaatan Biofuel untuk domestik, angkanya terus mengalami peningkatan dalam hal capaian indikator subsektor energi dan listrik. Pada tahun 2019 misalnya, angkanya mencapai sebesar 6,39 juta kilo liter, dan pada tahun 2020 meningkat menjadi 8,40 juta kilo liter. Sedangkan pada Semester I-2020 sebesar 4,22 juta kilo liter, dan pada Semester I-2021 sebesar 4,26 juta kilo liter. Pemanfaatan biofuel untuk domestik meningkat pada tahun 2020 dibandingkan tahun 2019 dan menunjukkan kinerja yang cukup baik pada Semester I-2021 dibandingkan semester I-2020. Hal ini menunjukkan potensi dan peluang energi terbarukan kedepan dalam hal ini Bahan Bakar Nabati (Biofuel).

Untuk lebih jelasnya memahami apa itu Bahan Bakar Nabati (Biofuel) maka dapat dibaca pada artikel berikut ini (klik disini). Secara umum, dijelaskan bahwa Bahan Bakar Nabati (Biofuel) adalah bahan bakar dari biomassa atau materi yang berasal dari tumbuhan dan hewan. Bahan Bakar Nabati (Biofuel) terbagi atas 3 jenis yaitu bioetanol, biodiesel, dan biogas.

Pertama, Bioetanol adalah alkohol yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Untuk mendapatkan alkohol, tumbuhan tersebut harus melewati proses fermentasi terlebih dahulu. Semisal, contoh produk berbahan dasar Bioetanol adalah Hand Sanitizer Spray Bioetanol 96% Antiseptik. Bahan-bahannya adalah Bioetanol 96%, Aloe Leaf Extract, dan Fragrances. Khasiatnya untuk membuhun kuman, bakteri, dan virus. Produk berbahan dasar Bioetanol ini sangat diperlukan apalagi di era pandemi Covid-19 seperti saat ini.

dok: platform toko online

Kedua, Biodiesel adalah bahan bakar yang terbuat dari minyak tumbuh-tumbuhan. Berikut contoh produknya adalah Biodiesel Choan. Khasiatnya Menyempurnakan pembakaran solar terhadap mesin diesel. Produk ini dapat ditemui di situs-situs perbelanjaan daring. Pada 2019 silam, Presiden Republik Indonesia, Bapak Joko Widodo juga telah meresmikan pemanfaatan Biodiesel-30 (B30) di bilangan Jakarta Selatan.

dok: platform toko online

Ketiga, adalah yang paling menarik yaitu Biogas yang merupakan bahan bakar yang berasal dari hasil fermentasi sampah tumbuhan atau kotoran (manusia atau hewan). Saat difermentasi, sampah atau kotoran tersebut akan mengeluarkan gas. Nah, gas itulah yang disebut dengan biogas. Berikut merupakan contoh produk Probiotik Biogas Biodigester yang mengklaim mampu memberikan tekanan gas kuat tanpa bau.

dok: platform toko online

Biogas merupakan sebuah proses produksi gas bio dari material organik dengan bantuan bakteri yang proses pendegradasian material organik tersebut tanpa melibatkan oksigen (anaerobik digestron). Proses pembuatan biogas berlangsung selama kurang lebih 30 hari. Syarat pembentukan biogas adalah terdapat bakteri Probiotik Biogas; Kondisi anaerob; Suhu optimal 32 - 37C; Substrat dg BK 7-9%; C/N ratio antara 25-30; dan Tidak terdapat antiseptik dan antibiotic.

Dengan memanfaatkan limbah ternak menjadi biogas dapat memperoleh banyak keuntungan diantaranya: Memperkecil volume atau berat limbah yang dibuang; Memperoleh bahan bakar berkualitas tinggi dan dapat diperbaharui; Biogas dapat dipergunakan untuk berbagai penggunaan; Menurunkan emisi gas metan dan karbondioksida secara signifikan; Menghilangkan bau; Menghasilkan kompos yang bersih dan pupuk yang kaya nutrisi; Memaksimalkan proses daur ulang; dan Menghilangkan bakteri coliform sampai 99% sehingga memperkecil kontaminasi sumber air.

Sedikit penjelasan tentang bahan pembuatan Biogas yaitu bahan utama dari Feses atau kotoran (feses sapi, ayam, feses manusia, feses kuda, feses kerbau dll), air, starter Probiotik Biogas, dan bahan organik sisa pertanian. Proses Pengisian ke digester biogas sebagai berikut :
  • Digester dapat langsung diisi dengan kotoran ternak/bahan organik yang telah diencerkan dengan air
  • Perbandingan air: kotoran ternak untuk sapi potong adalah 2-3:1, artinya 1 ember kotoran sapi diencerkan dengan 2-3 ember air, kotoran ayam 1:2,
  • Untuk mempercepat proses fermentasi pembentukan gas tanpa bau maka ditambahkan Probiotik Biogas 10 cc per 1 m3 tanki dan air secukupnya baru dicampurkan atau disiramkan
  • Volume pengisian, digester diisi sekitar 80% dari Volume seluruh Digester.
  • Biarkan digester dalam kondisi yang terlindungi.
  • Gas yang akan terbentuk ditandai dengan menggelembungnya digester (biasanya 1 – 4 minggu)
Di satu sisi, peningkatan Biofuel menghadapi beberapa tantangan seperti harga komoditas, keterbatasan sektor pengguna untuk menyerap sumber daya tersebut di dalam negeri, keterbatasan ketersediaan infrastruktur pengolah di dalam negeri, dan faktor insentif yang mampu menarik penggunaan di dalam negeri dibandingkan ekspor.

Mungkin akan terbersit pertanyaan dalam benak teman-teman bahwasanya “Apakah Biofuel adalah Energi Alternatif yang baik?”

Sumber: YT Channel Madani Berkelanjutan

Infrastruktur pengolahan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) menjadi salah satu strategi yang diperlukan guna memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Percepatan hilirisasi industri perlu dilaksanakan melalui kerja sama lintas pemangku kepentingan untuk produk Bahan Bakar Nabati (Biofuel).

Dalam setiap peluang pasti ada tantangan, tapi tentu hal ini dapat menjadi alternatif guna mengatasi ketergantungan dan keterbatasan energi konvensional yang saat ini masih terus digunakan. Yang pasti transisi energi bersih yang lebih terbarukan perlu terus disegerakan agar tercipta energi yang berkelanjutan. Akhir kata, pilihan ada di tangan kita.

Referensi:
Cat: tulisan diikutsertakan dalam Blog Competition “Temukan dan Ceritakan Bahan Bakar Nabati di Sekitarmu” oleh Yayasan Madani