Sabtu, 27 Agustus 2016

Kabupaten "Inovasi" Sukabumi, Unggul dalam Ketertinggalan

Semenjak 2009, Kabupaten Sukabumi dinobatkan sebagai salah satu kabupaten tertinggal di Provinsi Jawa Barat. Padahal daerah yang beribukota di Pelabuhan Ratu ini kaya akan potensi daerah beragam sektor. Buktinya, roda perekonomian wilayah kabupaten Sukabumi digerakkan oleh sektor pariwisata, pertanian, perkebunan dan industri. Belum lagi Kabupaten Sukabumi telah dikukuhkan sebagai inisiator Kampung UKM Digital dalam memanfaatkan terobosan baru (inovasi) di bidang usaha kecil dan menengah.


Ragam potensi daerah dapat diamati diantaranya melalui potensi pariwisata berupa obyek wisata sungai berarus deras yang melintasi daratan subur yang dijadikan sarana untuk olah raga. 

Kab. Sukabumi mulai menjadi salah satu primadona pariwisata di Jawa Barat (dok: http://sukabumikab.go.id)
Selain itu, potensi pertanian dan tanaman hortikultura yang didukung oleh kandungan tanah yang sangat subur sehingga mampu menghasilkan komoditi unggulan seperti padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau, kedelai, sayur-sayuran dan buah-buahan serta tanaman obat dan tanaman hias.

Lahan sawah Kab. Sukabumi (dok: http://dipertakabsmi.com)
Di samping mengandung potensi alam yang khas, Kabupaten Sukabumi juga dikaruniai posisi strategis dalam hal industri barang dan jasa, karena letaknya berkisar sekitar 130 km dari Jakarta. Tidak dapat dipungkiri bahwasanya ratusan industri yang bermarkas di Jakarta, membangun pabriknya di Kabupaten Sukabumi. Contoh sederhana saja terkait dengan potensi air bawah tanah sepanjang tahun yang terpancar dari perut gunung yang menjadi sumber bahan baku bagi perusahaan air minum dalam kemasan.

Adapun pembangunan daerah tidak hanya meliputi aspek ekonomi, tetapi juga aspek sosial, budaya dan keamanan bahkan menyangkut hubungan antara daerah tertinggal dengan daerah maju. Di samping itu, kesejahteraan kelompok masyarakat yang hidup di daerah tertinggal memerlukan perhatian dan keberpihakan yang besar dari pemerintah.

Apalagi dalam era otonomi, implementasi pembangunannya merupakan kewenangan dari pemerintah Kabupaten sehingga menjadi suatu keharusan bahwa fokus sekaligus lokus pembangunan daerah tentunya membutuhkan sinergi antara semua stakeholder baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, sektor swasta (lembaga donor) serta perguruan tinggi.

Tapi, terkadang terjadi gap antara harapan dan kenyataan. Fakta dan realitas di lapang sering tak sejalan. Sehingga dibutuhkan gerakan kemasyarakatan yang dikenal sebagai gerakan post modernism yaitu mereka yang urun tangan dan berkontribusi aktif memperbaiki keadaan. Intinya, mereka ini merupakan orang-orang yang selalu mencari perubahan, merespon perubahan tersebut dan memanfaatkannya secara maksimal sebagai sebuah peluang. Masyarakat memiliki andil dalam banyak hal sehingga pemaknaan dari, oleh dan untuk masyarakat dapat benar terasa dampaknya kaitan dengan pembangunan inovasi daerah.

Desa Cicantayan, merupakan bagian dari Kabupaten Sukabumi. Desa yang bergeliat memajukan inovasi daerahnya dikarenakan pimpinan daerah (Kepala Desa) yang begitu inovatif. Sebut saja Kang Fikri, beliau merupakan kandidat Master Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB). Dalam riset tesis S2 nya beliau meneliti tentang Indeks Pengembangan Desa. Hal ini menjadi salah satu inovasi pemikiran mutakhir dari seorang pimpinan daerah.

Peta Desa Cicantayan, Kab. Sukabumi (dok: google)
Salah satu inovasi daerah Desa Cicantayan yaitu urban farming yang telah digalakkan semenjak 2014 melalui pencanangan program “satu rumah, lima polibag”. Adapun pilot project percontohan ialah di satu kedusunan. Polanya setiap rumah dititipi polibag yang telah ditanami tomat, cabe rawit dan seledri. Setiap rumah tangga diperkenankan memilih jenis tanaman yang diinginkan dan diwajibkan merawat hingga tanaman tersebut panen. Inovasi daerah Desa Cicantayan ini diharapkan dapat mengentaskan rawan pangan dan menjaga ketahanan pangan di daerah tersebut.

Inovasi daerah Desa Cicantayan Sukabumi selanjutnya berfokus pada pelestarian budaya yaitu Kampung Egrang yang merupakan kampung budaya berlokasi di Cibiru Desa Cicantayan. Adapun pendirian kampung budaya ini diharapkan dapat mendorong, melestarikan dan memelihara permainan tradisional turun temurun khususnya egrang dan mainan lainnya yang berbahan dasar bambu.

Ragam permainan tradisional yang dirindukan dan egrang merupakan salah satunya (dok: https://www.facebook.com/KorangBumi/)
Egrang merupakan permainan tradisional yang perlu dijaga kelestariannya guna memelihara eksistensi budaya (dok: https://www.facebook.com/KorangBumi/)
Kabar baik datang dari Kampung egrang bahwa tiap minggu komunitas egrang dari kampung egrang selalu diundang ke Sukabumi Car Free Day (SCFD) dan pernah pula diundang ke olimpiade permainan tradisional yang diselenggarakan oleh Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung. Wow! 

Egrang menjadi salah satu permainan yang sering dilombakan (dok:https://www.facebook.com/KorangBumi/)
Kampung egrang sendiri dibentuk karena mayoritas penduduk dalam kesehariannya bergelut dengan bambu. Desa cicantayan memang memiliki produk unggulan berupa kerajinan bambu, selain bubutan kayu, kripik enye/kicimpring dan buah manggis. Selain soal pemeliharaan eksistensi budaya, kampung ini juga menyediakan beragam produk kerajinan bambu berkualitas berupa rak buku, meja, kursi dan lainnya serta tidak ketinggalan tersedianya rumah baca. 

Rumah baca Bambu Biru bertujuan meningkatkan minat baca dan menjadi sumber pengetahuan warga sekitar (dok: https://www.facebook.com/bambubiroe)
Rak buku terbuat dari bambu berkualitas seharga Rp 500.000 asli produk Desa Cicantayan, Sukabumi (dok: http://bambubiru.id/category/umkm/kerajinan-bambu/)
Inovasi daerah tentu tidak terlepas dari peran kepemimpinan didalamnya. Perlunya menerapkan “reinventing the government” dan “enterprising the government” menjadi syarat wajib dalam pengembangan keinovasian daerah. Dimana seorang pemimpin wajib memiliki visi yang menarik, menantang serta dapat dipercaya, yang mampu disampaikan secara jelas untuk kemudian “dibagi” bersama dengan para pengikutnya sehingga menjadi kekuatan pendorong agar daerah bisa terus berkembang dan maju. 

Pun, dalam rangka reinventing the government perlu dipompakan semangat kewirausahaan dalam melaksanakan pembangunan. Akhir kata, Kabupaten Sukabumi dengan beragam keunggulan dibalik “ketertinggalannya” memberi kabar baik untuk Indonesia berupa inovasi daerah guna membangun kesejahteraan dan perekonomian daerah serta meningkatkan kualitas hidup warganya. Merdesa!

Cat: Penulis merupakan Mahasiswa Pascasarjana IPB Bogor dengan bidang keilmuan Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan. Penulis pernah bekerja di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, serta Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi DKI Jakarta. Saat ini penulis terlibat kerjasama dengan Kementerian Perindustrian sebagai Tim Praktisi untuk Project One Map Policy Kawasan Industri. 

Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahku - https://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku

3 komentar:

  1. Bagus, potensi daerah sudah harus menjadi kekuatan nasional pada banyak sisi. Salam kenal, Robi. You can visit to my blog in http://emrabie.blogspot.co.id/2016/08/inovasi-daerahkukampung-antikorupsi.html

    BalasHapus
  2. saya pernah beberapa kali tamasya ke sukabumi dan memang enak daerahnya, semoga makin diangkat lagi potensi wisatanya

    kunjungi blog saya di kolagit diabetes

    BalasHapus
    Balasan
    1. oh iya, disini juga ada saudara saya cuman jarang ketemu

      minyak kemiri

      Hapus