Jakarta Learning Center, Platform Pendidikan Inklusif Berbasis Online: Upaya Menjembatani Kesenjangan Digital

Pada tahun 2014 silam saya terlibat kerjasama dengan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) Provinsi DKI Jakarta dalam suatu project bernama Jakarta Learning Center (JLC). Jakarta Learning Center merupakan suatu platform online yang memudahkan akses bagi setiap masyarakat guna memperoleh pendidikan secara inklusif, merata dan berkelanjutan tidak hanya masyarakat Jakarta saja pada khususnya melainkan juga seluruh masyarakat Indonesia pada umumnya. Jakarta Learning Center merupakan sumber edukasi non formal berbasis online sebagai upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat. Platform online ini bertujuan menyediakan materi berkualitas untuk mendukung kehidupan sosial dan bermasyarakat. 

dok: Jakarta Learning Center
Mengingat perkembangan teknologi di era digital sekarang ini, akses pendidikan semakin terbuka dan dengan mudahnya dapat diakses oleh siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Bahkan saat ini telah terdapat beberapa start-up yang menggeluti usaha di bidang pendidikan kaitannya dengan era digital khususnya pendidikan online. Sebut saja Sal Khan (2011) seorang Educator and Social Entrepreneur, yang melalui pemaparannya berjudul “Let’s Use Video to Reinvent Education” menggunakan video sebagai metode pembelajaran dalam rangka reinvensi atau penemuan kembali sebuah ide sebelum benar-benar menjadi sebuah inovasi. Sejalan dengan penyampaian Bapak Presiden Republik Indonesia, Ir Joko Widodo bahwasanya kita perlu memanfaatkan segala sumber daya yang ada sebaik mungkin dan terus berinovasi tiada henti.


Belum lama ini saya juga menemukan sebuah metode pembelajaran digital yang sangat unik dari salah satu kemasan produk makanan bernama Cerita Digital Interaktif (CERDIK) yaitu berupa frame dan digital story. Cara mengoperasikannya tergolong mudah yaitu dengan: Mendownload aplikasi di Google Play Store (bagi para pengguna Android); Lalu scan kartu cerita yang ingin dilihat; Kemudian nikmati dan koleksi serta temukan cerita seru di kartu lainnya. Hal ini semakin menegaskan bahwa terdapat banyak ide menarik dan inovatif terkait pendidikan berbasis online guna menjembatani kesenjangan digital dan menciptakan akses pendidikan terhadap masyarakat secara luas.

dok: app playstore
Pembangunan pendidikan sendiri merupakan bagian dari dimensi pembangunan manusia dan masyarakat. Pembangunan pendidikan dapat dicapai dengan meningkatkan pemerataan akses, kualitas, relevansi dan daya saing. Kendati demikian pembangunan pendidikan kedepan masih dihadapkan pada permasalahan dan tantangan yaitu: Belum semua penduduk memperoleh layanan akses pendidikan yang berkualitas; Masih terdapat kesenjangan partisipasi pendidikan antar wilayah dan antar kelompok pendapatan; Belum maksimalnya pelaksanaan wajib belajar pendidikan yang berkualitas; Masih rendahnya akses, kualitas, relevansi dan daya saing pendidikan; Masih rendahnya kualitas proses pembelajaran terutama terkait dengan jaminan kualitas layanan pendidikan, lemahnya pelaksanaan kurikulum serta lemahnya sistem penilaian pendidikan; Masih terdapat ketidaksesuaian pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja; Masih timpangnya ketersediaan guru antar sekolah dan antar wilayah; Belum signifikannya dampak berbagai program peningkatan kualifikasi dan kompetensi terhadap peningkatan kualitas pembelajaran dan hasil belajar; Melemahnya pendidikan budi pekerti di sekolah; Makin pudarnya karakter dan jati diri bangsa pada diri siswa; dan Masih belum optimalnya pendidikan masyarakat dan pendidikan keterampilan kerja.

dok: LAMPID Kenegaraan Presiden RI (2017)
Oleh karenanya, arah kebijakan pembangunan pendidikan dapat dilakukan dengan: Meningkatkan akses dan kualitas layanan pendidikan dasar, serta memperluas dan meningkatkan pemerataan akses, kualitas dan relevansi dengan pendidikan menengah; Meningkatkan kualitas pembelajaran melalui penguatan penjaminan mutu pendidikan, pengembangan kurikulum sesuai kebutuhan zaman serta penguatan sistem penilaian pendidikan yang komprehensif dan kredibel; Meningkatkan profesionalisme, kualitas, pengelolaan dan penempatan guru yang merata; Revitalisasi lembaga pendidikan tenaga kependidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan; Meningkatkan akses dan kualitas pendidikan masyarakat dan layanan pendidikan; Meningkatkan kualitas pendidikan dan pelatihan keterampilan kerja; Meningkatkan akses, kualitas, relevansi dan daya saing pendidikan; dan Meningkatkan kualitas pendidikan. 

Kebijakan pembangunan pendidikan juga diarahkan untuk mendukung pelaksanaan revolusi mental khususnya di satuan pendidikan diantaranya melalui: Peningkatan kualitas dan efektivitas pendidikan karakter/budi pekerti dan budaya bangsa; Penciptaan lingkungan pendidikan yang menumbuhkan integritas, bebas intimidasi dan kekerasan; serta Penegakan hukum dan disiplin di sektor pendidikan.

dok: Jakarta Learning Center

Selain itu diperlukan pula pengembangan pembelajaran yang berkualitas melalui strategi: Penyiapan kurikulum yang andal; Penguatan sistem penilaian yang komprehensif dan kredibel yang dapat menggambarkan capaian prestasi peserta didik lengkap dari aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap/karakter; serta Penyediaan tenaga pendidik yang profesional dan kompeten dalam menyampaikan kurikulum dan melaksanakan sistem penilaian yang telah disusun.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa permasalahan pelik di bidang pembangunan pendidikan dan kemasyarakatan diantaranya ialah tingkat pendidikan dan keterampilan angkatan kerja yang masih terbatas sehingga mempengaruhi tingkat produktivitas tenaga kerja. Oleh karenanya, arah kebijakan dan strategi guna mengatasi permasalahan dan kendala tersebut diantaranya ialah dengan meningkatkan akses kepada pendidikan dan pelatihan serta pelayanan informasi pasar kerja. Jakarta Learning Center selaku platform online di bidang pendidikan pun berupaya menjadi solusi bagi permasalahan tersebut diantaranya dengan menyajikan materi berkualitas seputar ketenagakerjaan baik berupa video maupun infografis agar lebih mudah dimengerti oleh masyarakat.



Permasalahan di bidang pembangunan pendidikan dan kemasyarakatan tersebut lantas menjadi dasar perumusan arah kebijakan dan strategi dari pihak pemerintah diantaranya melalui peningkatan akses start-up capital bagi wirausaha baru/pemula melalui komitmen investasi guna meningkatkan daya saing. Selain itu hal ini menjadi salah satu bentuk capaian utama pembangunan dimana pemerintah telah memberi dukungan untuk pertumbuhan e-commerce nasional melalui Gerakan 1000 Start-up Digital. Gerakan peningkatan penggiat e-commerce diantaranya berupa start-up digital dengan memanfaatkan internet. Kegiatan yang dilakukan berorientasi pada upaya pengembangan kesejahteraan masyarakat. Diharapkan gerakan peningkatan penggiat e-commerce yang didukung oleh Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) ini dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

dok: Jakarta Learning Center
Menariknya, Ron McCallum (2013), seorang labor lawyer and activist mengungkapkan melalui penuturannya di depan Forum TEDx tentang “How Technology Allowed Me to Read”. Bagi Ron, proses membaca menjadi lebih mudah dengan adanya sentuhan teknologi khususnya digital akses.

Berkenaan dengan hal tersebut maka dukungan peningkatan start-up digital tentunya tak terlepas dari permasalahan yang ada antara lain adalah: Dibutuhkan banyak tenaga ahli dan profesional untuk melakukan pembinaan; Masih belum lengkap dan validnya data; Kualitas yang masih rendah; dan Terdapat penolakan pemasaran produk secara online. Adapun upaya yang dapat terus dilakukan guna menghadapi kendala yang ada sehingga sasaran dapat tercapai yaitu bekerjasama dengan berbagai komponen dalam e-commerce semisal pelaku start-up digital, Kementerian/Lembaga terkait, produsen dan konsumen demi berkembangnya e-commerce nasional.


Berdasarkan data, Airbnb tercatat sebagai start-up dengan peringkat teratas menurut startupranking. Di urutan kedua diduduki oleh Medium yaitu start-up yang memberikan layanan berbagi mengenai tulisan dan ide. Kemudian diikuti oleh Uber di posisi ketiga yang merupakan start-up layanan transportasi digital.

Bila ditilik lebih lanjut Airbnb sendiri didirikan tahun 2008 dan menawarkan layanan akomodasi atau tempat penginapan yang dikelola oleh pribadi/perorangan di seluruh dunia dan biasanya dengan harga lebih murah dibandingkan dengan hotel atau apartemen. Terkait dengan kendala dan permasalahan maka start-up asing ini pun tak lepas dari konflik yang terjadi. Disinyalir bahwa kemunculan aplikasi Airbnb menimbulkan kekhawatiran bagi para pelaku perhotelan maupun penginapan konvensional lainnya di seluruh dunia, termasuk di Indonesia karena dapat memicu disrupsi (perubahan besar dalam waktu yang cepat) karena perkembangan teknologi digital. Kendati demikian perkembangan bisnis mau tidak mau tetap harus mengikuti perkembangan zaman di era teknologi digital saat ini. 

dok: databoks.katadata.co.id

Adapun start-up asal Indonesia yang menempati posisi tertinggi adalah Tokopedia yang berada di peringkat 31 global. Tokopedia merupakan e-commerce Indonesia dengan peringkat teratas. Berdasar Startup Ranking, penyedia lapak bagi para pedagang online (market place) ini mengalahkan score Bukalapak, Blibi maupun startup lokal lainnya. Tokopedia merupakan e-commerce yang didirikan pada 6 Februari 2009 dan diluncurkan pada 17 Agustus 2009 kini menjadi salah satu penyedia market place terbesar di Indonesia. Sebagai informasi, Tokopedia belum lama ini mendapat pendanaan US$ 1,1 miliar atau sekitar Rp 14,6 triliun dari e-commerce terbesar di Tiongkok, yakni grup Alibaba. Wow!

dok: databoks.katadata.co.id
Angle Wang (2017) seorang Retail Expert mengemukakan dalam pemaparannya yang berjudul “How China is Changing The Future of Shopping” bahwasanya China merupakan laboratorium terbesar dari sebuah inovasi, lihatlah Alibaba. Melalui konsep pembangunan grosir, Alibaba menjadi tuan rumah e-commerce yang mendunia. Hal ini sudah terbukti!

Penting diketahui pula bahwa Indonesia menempati peringkat kedua dengan jumlah pendanaan terbanyak di Asia Tenggara pada triwulan II 2016. Sebanyak 28 start-up di Indonesia didanai dengan nilai investasi sebesar Rp 2,09 triliun. Total pendanaan yang didapat di Asia Tenggara pada triwulan II 2016 mencapai Rp 17,2 triliun. Nilai tersebut digunakan untuk mendanai 94 start-up. Jumlah pendanaan start-up di Indonesia terus menunjukkan peningkatan. Kenaikan dua hingga tiga kali lipat dialami pada setiap triwulannya. Hingga kuartal II 2016 tercatat investasi di Tanah Air mencapai Rp 2,09 triliun.

dok: databoks.katadata.co.id
Kemunculan start-up seakan menjadi angin segar. Kemajuan teknologi digital menjadi salah satu pemicunya. Adapun Financial Technology (Fintech) yang juga merupakan bagian dari start-up digital di bidang perbankan dan lembaga keuangan yang salah satu perannya ialah menyalurkan kredit tidak kalah hebat dalam pengembangannya.

dok: databoks.katadata.co.id
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) jumlah start-up Fintech sepanjang tahun 2016 meningkat hampir tiga kali lipat. Pada triwulan IV start-up yang terindentifikasi meningkat menjadi 135 start-up. Jumlah tersebut belum termasuk Fintech yang dikembangkan oleh lembaga keuangan maupun perusahaan telekomunikasi maupun Fintech asing yang beroperasi di Indonesia.

dok: databoks.katadata.co.id
Fintech Payment (pembayaran) masih mendominasi pasar Fintech lokal, yakni sebanyak 57 startup atau sekitar 42,54 persen. Sementara berdasarkan tahun operasional, sebanyak 77,5 persen Fintech baru menjalankan operasionalnya pada 2015. Munculnya Fintech telah mengubah model industri keuangan yang sebelumnya dimonopoli oleh perbankan nantinya akan menjadi industri alternatif yang lebih demokratis, transparan, murah, serta mampu melayani lebih banyak konsumen. Lagi-lagi kita berbicara perihal akses!

Untuk terus mendukung berkembangnya bisnis digital di Tanah Air, pemerintah merilis paket kebijakan XIV tentang roadmap e-commerce. Untuk mendorong perluasan dan peningkatan ekonomi masyarakat, peraturan pendukung tentang kemudahan pelaku usaha mendapat pendanaan telah digarap pemerintah. Hal ini tentu menjadi bukti nyata perhatian pemerintah terhadap pengembangan start-up di tanah air tercinta. Sungguh peluang yang menggiurkan!


Berkenaan dengan hal tersebut, layanan pendidikan berbasis digital dan perangkat mobile diharapkan akan dapat diakses dengan mudah melalui platform online. Transformasi digital sangat diperlukan dan menjadi satu kebutuhan mendesak di bidang pendidikan tanah air. Jakarta Lerning Center diharapkan akan dapat menjadi digital platform e-smart yang memberikan akses kemudahan di bidang pendidikan. 

Hal senada diungkapkan oleh Michelle Obama, seseorang yang pernah dijuluki “First Lady of The United States” pada tahun 2009 silam dalam paparannya yang berjudul “A Passionate, Personal Case for Education” bahwasanya pendidikan yang baik sangatlah penting karena dengan hal tersebut kita dapat mengendalikan nasib kita. 

Inilah kehebatan internet, sebagaimana Rebecca MacKinnon (2011) seorang Internet Freedom Activist mengajak kita untuk “Let’s Take Back The Internet!” bahwasanya pemanfaatan internet secara bijak merupakan upaya menghargai sebuah teknologi. Rebecca menambahkan jika kita ingin memiliki sebuah internet yang berpihak kepada masyarakat maka tentu saja kita membutuhkan gerakan kebebasan internet yang lebih luas dan berkesinambungan.

Lebih lanjut, Brewster Kahle (2007) seorang pustakawan digital mempertanyakan bahwa “Apakah semua yang telah dilakukan secara digital ini bersifat umum atau pribadi?”. Pasalnya, beberapa perusahaan telah melakukan digitalisasi berskala besar namun beberapa diantaranya mengunci domain publik. Jadi, bagi Kahle akses universal terhadap semua pengetahuan masih menjadi permasalahan krusial. Kahle berharap slogan “Free to the People” akan dapat diterapkan di era pendidikan online berbasis digital saat ini.


Di satu sisi Abha Dawesar (2013), seorang novelis mengingatkan akan pentingnya pemaknaan “Life in the digital now”. Sebagaimana kita ketahui pendidikan di zaman now saat ini tentu sangat dipengaruhi oleh lanskap digital yang ada. Pemantauan, pengawasan dan evaluasi tentu harus terus dilakukan. Lebih lanjut Dawesar mengungkapkan bahwa “Choice is freedom, but not when it’s constantly for its own sake”. Ketika kita berbicara tentang akses pendidikan dan basis digital secara online maka kita berbicara tentang kebebasan yang bertanggung jawab dan kepentingan multi pihak.

Tentu saja kolaborasi antara bisnis digital dan bidang pendidikan diantaranya melalui platform online Jakarta Learning Center diharapkan akan dapat menjadi satu terobosan kombinasi pendidikan di era digital yang cukup mutakhir. Jakarta Learning Center sebagai platform online di bidang pendidikan berbasis digital diharapkan dapat menjembatani “Digital Divide” yaitu kesenjangan antara individu dan masyarakat yang memiliki akses terhadap teknologi informasi dan yang tidak memiliki akses. Sebagaimana diungkapkan oleh Aleph Molinari (2011) seorang ekonom dan aktivis teknologi bahawasanya kesenjangan digital harus diminimalisir guna menghubungkan mereka yang kurang memperoleh informasi dan mereka yang tidak terhubung. Mengingat di era digital saat ini hal semacam itu telah menjadi kebutuhan sosial dasar. 

Peter Norvig (2012) seorang Computer Scientist telah mengungkapkan ide pendidikan berbasis digital online ini melalui penuturannya berjudul “The 100.000 – Student Classroom”. Ide besarnya dengan membuat kelas daring (online) berkualitas dan dapat diakses serta dihadiri oleh semua orang dari berbagai penjuru dunia, secara GRATIS! Peter benar-benar merombak sistem edukasi tradisional melalui kelas daring yang dibentuknya dan hal ini menjadi inovasi luar biasa. Peter menyuguhkan revolusi pendidikan dengan kemunculan generasi baru yang menakjubkan.


Harapan kedepan semoga platform online Jakarta Learning Center akan dapat menjadi solusi bagi permasalahan akses di bidang pendidikan guna mewujudkan pendidikan yang inklusif, merata dan berkelanjutan. Sebagaimana harapan Mike Matas (2011) tentang “A next-generation digital book”, maka kedepan buku interaktif akan tercipta dan dengan mudahnya diakses oleh berbagai kalangan dengan ragam usia dan status pendidikan. Semoga!

Referensi:
cat: Penulis pernah menjadi Narasumber Ahli Bidang Ekonomi untuk project Jakarta Learning Center bekerjasama dengan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) Provinsi DKI Jakarta (2014 – 2015)

nb: tulisan diikutsertakan dalam Blog Competition My Republic #StartupLyfe #DWVlogCompetition #MyRepublicIndonesia


Komentar