Keuangan Syariah Semakin Bergairah

dok: www.fifgroup.co.id
Peningkatan daya saing jasa keuangan diantaranya berkaitan dengan bidang keuangan syariah. Meskipun perkembangan keuangan syariah sejauh ini terus menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik, namun masih terdapat beberapa isu dan permasalahan yang dapat menghambat potensi yang dimiliki Indonesia. 

Permasalahan yang dihadapi bidang keuangan syariah diantaranya yaitu: 1) Aset lembaga keuangan syariah di Indonesia yang masih relatif kecil dibanding dengan aset lembaga keuangan konvensional dan dibanding dengan aset lembaga keuangan syariah di beberapa negara; 2) Kurangnya koordinasi dan dukungan dari pemerintah untuk mempromosikan keuangan syariah; 3) Kurangnya Sumber Daya Manusia di bidang keuangan syariah baik dari segi kuantitas maupun kualitas atau kompetensi; 4) Berbagai produk lembaga keuangan syariah sangat terbatas dan belum memenuhi kebutuhan atau permintaan konsumen dan pelaku usaha. 

dok: Kementerian PPN/Bappenas
Di satu sisi, lesunya perekonomian domestik serta upaya menekan kredit bermasalah membuat kredit bank-bank kecil mengalami kesulitan ekspansi kredit. Dari para pelaku usaha juga cenderung menahan diri dalam melakukan pencairan pinjaman karena menunggu membaiknya daya beli masyarakat. Oleh karenanya, Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) I, baik bank umum maupun bank umum syariah mengalami pertumbuhan kredit negatif. Data Statistik Perbankan Indonesia Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa kredit bank umum syariah BUKU I turun 25,61 persen menjadi Rp 11,52 triliun dibanding sebelumnya. 

Rasio kecukupan permodalan (CAR) perbankan nasional hingga September 2016 berada di atas ketentuan, yakni 8 persen. Rata-rata rasio pemenuhan kecukupan modal minimum bank umum hingga triwulan III-2016 sebesar 22,6 persen. Bank Syariah BUKU III mencatat rasio terendah, yakni 12,11 persen. Guna memperkuat permodalan dan ekspansi, beberapa perbankan nasional berencana menerbitkan saham baru (right issue) pada tahun 2017. Hingga September 2016, Bank BUKU II mencatat kenaikan rasio kecukupan modal tertinggi sebesar 258 basis poin dibanding September 2015. 

dok: databoks.katadata.co.id
Mengingat keterbatasan perkembangan keuangan syariah, maka Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) perlu untuk dioptimalkan peranannya guna mengawal pelaksanaan agenda kerja pengembangan keuangan syariah sesuai yang tercantum dalam Masterplan Arsitektur Keuangan Syariah Indonesia. 

Berdasarkan data, total aset bank syariah pada November 2017 silam menembus Rp 400 triliun untuk pertama kalinya. Statistik Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa aset bank syariah pada November 2017 tumbuh 12,6 persen menjadi Rp 401,45 triliun dari posisi akhir tahun sebelumnya. Jumlah tersebut terdiri atas Bank Umum Syariah Rp 278 triliun dan Unit Usaha Syariah (UUS) senilai Rp 123,4 triliun. 

dok: databoks.katadata.co.id
Adapun Dana Pihak Ketiga (DPK) yang terhimpun hingga November 2017 mencapai Rp 322,7 triliun dengan pembiayaan bagi hasil Rp 112,75 triliun. Pada November 2017, Rasio Kecukupan Modal (CAR) bank syariah mencapai 17 persen dan rasio pembiayaan kepada pihak ketiga (FDR) sebesar 80,07 persen. Sedangkan rasio pembiayaan bermasalah (NPF) mencapai 5,27 persen. 

dok: databoks.katadata.co.id
Berkenaan dengan hal tersebut, perbankan syariah Indonesia tumbuh pesat dalam lima tahun terakhir. Hal ini dapat dilihat dari Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun perbankan syariah nasional tahun 2010 hingga tahun 2015 meningkat sebesar 204 menjadi Rp 231,2 triliun. Sektor swasta mendominasi penempatan DPK di perbankan syariah sebesar Rp 192 triliun atau sekitar 83 persen, sementara dana pemerintah hanya mencapai Rp 38 triliun atau 16,5 persen. 

dok: databoks.katadata.co.id
Pada periode 2010-2015, laba perbankan syariah dan unit syariah dalam lima tahun terakhir juga tumbuh 73 persen menjadi Rp 1,8 triliun. Namun, melambatnya perekonomian domestik serta melemahnya nilai tukar rupiah membuat laba perbankan syariah pada tahun 2015 hanya tumbuh sebesar tiga persen dari tahun sebelumnya. 

Kendati demikian, Kompas (20/03/18) melansir bahwa industri keuangan syariah Indonesia terus tumbuh dalam tiga tahun terakhir. Hingga Desember 2017, total aset keuangan syariah Indonesia mencapai sekitar Rp 1.133,71 triliun, tetapi belum termasuk saham syariah. Strategi pengembangan keuangan syariah fokus pada literasi dan edukasi masyarakat. 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melansir bahwa pertumbuhan industri keuangan syariah Indonesia mencapai 20,69 persen pada tahun 2015, lalu naik menjadi 29,84 persen pada tahun 2016 dan menjadi 26,97 persen pada tahun 2017. Industri keuangan ini mencakup perbankan syariah, pasar modal syariah dan industri keuangan non-bank syariah. 

Hal ini lantas menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi dan peran signifikan dalam pasar keuangan syariah global. Total aset keuangan syariah Indonesia pada tahun 2017 menempati peringkat ke – 7 terbesar di dunia. Sistem keuangan syariah Indonesia diakui terlengkap dengan lanskap ekonomi syariah dan filantropi syariah yang memadai. Mengingat saat ini Indonesia telah memiliki 13 bank umum syariah, 21 unit usaha syariah dan 167 bank pembiayaan rakyat syariah. Pangsa pasar produk ketiga jenis lembaga keuangan tersebut 14,8 persen dari total nilai instrumen di pasar modal Indonesia. Adapun total asetnya Rp 435 triliun atau 5,8 persen dari total aset perbankan Indonesia tahun 2017. 


Adapun AMITRA yang berperan sebagai Syariah Financing dan salah satu layanan pembiayaan FIFGROUP yang merupakan anak perusahaan ASTRA yang terpercaya. Berdasarkan data, jasa keuangan menopang pertumbuhan laba Astra International. 

dok: www.fifgroup.co.id/amitra
PT Astra International Tbk sepanjang tahun 2017 mampu membukukan pertumbuhan laba 24,58 persen menjadi Rp 18,88 triliun dari tahun sebelumnya Rp 15,16 triliun. Pertumbuhan tersebut dipicu oleh naiknya pendapatan sebesar 14 persen menjadi Rp 206,06 triliun dari tahun sebelumnya hanya Rp 181,08 triliun. 

dok: databoks.katadata.co.id
Melonjaknya laba anak usaha di sektor jasa keuangan sebesar 375,54 persen menjadi Rp 3,75 triliun dari tahun sebelumnya hanya Rp 789 miliar menjadi penopang laba Astra tetap tumbuh. AMITRA sebagai bagian layanan pembiayaan FIFGROUP dan merupakan anak perusahaan ASTRA diharapkan dapat menjadi salah satu pendorong naiknya laba sektor jasa keuangan ASTRA. 

dok: https://indopos.co.id/
Lingkup pembiayaan syariah AMITRA sendiri diantaranya yaitu berupa pembiayaan emas dan pembiayaan aqiqah yang memberi kemudahan dalam memenuhi kewajiban ibadah aqiqah sesuai dengan prinsip syariah. 

dok: http://www.fifgroup.co.id/amitra
dok: http://www.fifgroup.co.id/amitra
Lebih lanjut, pihak Sekretariat Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) berencana membentuk bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Syariah skala besar untuk meningkatkan pangsa pasar. Terdapat alternatif pembentukan bank syariah, yakni: Membentuk perusahaan induk bank syariah; Menggabung bank syariah yang ada; dan Memberi suntikan pada tiga bank syariah terbesar. Kedepan diharapkan strategi nasional pengembangan ekonomi dan keuangan syariah harus berbasis teknologi. Kehadiran teknologi finansial dan usaha rintisan perlu dilibatkan untuk menarik pangsa pasar anak muda. 

dok: Kementerian PPN/Bappenas
AMITRA dapat menjadi pilihan alternatif pembiayaan syariah. Bila berkenan maka dapat menghubungi nomor kontak di bawah ini untuk keterangan lebih lanjut:
dok: www.fifgroup.co.id
*Penulis merupakan Program Manager di Sekretariat Dewan Nasional Keuangan Inklusif (SNKI). Penulis memiliki ketertarikan terhadap dunia pembiayaan, kredit, perbankan, dan keuangan inklusif. 

Referensi: 
cat: tulisan diikutsertakan dalam AMITRA WRITING COMPETITION #AMITRA #AMITRAWritingCompetition

dok: http://www.fifgroup.co.id/amitra

Komentar