Jumat, 22 April 2016

Ke Bali, Aku Harus Kembali: Menelusuri Tata Ruang dan Kelembagaan Ekonomi

Pertengahan Juli 2013, My dreams come true!
Keinginan berkunjung ke Bali tercapai sudah. Bali menjadi salah satu Provinsi yang pernah saya singgahi, selain Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Banten, dan Sulawesi Utara, semenjak saya memutuskan untuk merantau 4 tahun silam.

Pesona Indonesia: Bali
Sumber: Youtube Indonesia.Travel

Kendati bukan dalam rangka liburan, melainkan fieldtrip, namun saya tetap bisa merasakan nuansa santai, bahagia dan bersenang-senang didalamnya. Saya bersama rombongan Mahasiswa Pascasarjana IPB Bogor kala itu dalam rangka kunjungan lapang perkuliahan Perencanaan Tata Ruang dan Ekonomi Kelembagaan. Saya berangkat bersama rombongan kloter kedua. Kami berangkat menjelang sore hari bertolak dari Jakarta dikarenakan paginya harus mengikuti perkuliahan umum terlebih dahulu di Kampus.

Rumah Makan Kampoeng Seafood Bumbu Bali Jimbaran Bay
Merupakan tempat pertama yang kami singgahi setibanya di Bali. Pesawat yang kami tumpangi mendarat tepat malam hari sehingga kami pun langsung bergegas untuk makan malam ketika turun dari pesawat. Setibanya di resto, langkah kami disambut pasir putih berbisik, lembut sekali.  Ah, Bali Alhamdulillah…

dok: pribadi

Bappeda dan Litbang, Badan Kepegawaian Daerah, Pendidikan dan Latihan, Inspektorat Bali
Keesokan harinya kami memenuhi agenda bertemu dengan stakeholder terkait yaitu pemda setempat untuk melakukan Focus Group Discussion. Area kompleks perkantorannya sangat menawan. Bangunannya sangat artistik dan kental dengan unsur budaya khas daerah Bali. Belum lagi di tiap pelataran kantor dengan mudahnya dijumpai sesajen sebagai ritual.

dok: pribadi

dok: pribadi

Kantor Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Desa Adat Sempidi
Kami lalu melanjutkan perjalanan ke Kantor LPD Desa Adat Sempidi. Berdasarkan informasi bahwa kantor LPD ini diresmikan pada 29 Oktober 2008 oleh Bupati Badung, Anak Agung Gde Agung, SH. Berarti kunjungan kami tepat menjelang 5 tahun semenjak Kantor LPD tersebut diresmikan. Pemerintah Provinsi Bali mendirikan lembaga keuangan perdesaan yang disebut LPD sebagai proyek percontohan. Jadi, Bali merupakan salah satu pelopor LPD. Tujuan pendirian sebuah LPD pada setiap desa adat diantaranya ialah untuk mewujudkan misi pembangunan LPD dalam menyediakan layanan keuangan bagi masyarakat perdesaan di Bali. Pada dasarnya, LPD berbeda dari Lembaga Keuangan Mikro lain yang dikendalikan oleh pemerintah provinsi karena kepemilikan dan pengorganisasiannya dipengaruhi oleh adat istiadat masyarakat Bali. Oleh karenanya intisari keilmuan yang kami peroleh bahwasanya lingkungan institusional LPD berpengaruh signifikan terhadap tata kelola kelembagaan LPD yang pada gilirannya akan mempengaruhi keberhasilan LPD dalam mencapai tujuan yaitu memberikan layanan finansial untuk masyarakat desa sebagai suatu lembaga perantara keuangan. Adapun bukti pengaruh langsung adat sosial masyarakat Bali, termasuk nilai sosial, norma dan sanksi (institusi formal) pada LPD diindikasikan dalam tata kelola kelembagaan mereka.

dok: pribadi

Balai Subak Sempidi
Siang semakin terik, kami memutuskan untuk melepas penat sembari makan siang. Destinasi kami tertuju di Balai Subak Sempidi. Balai ini diprakarsai oleh Pelaksana Krama Subak Sempidi. Balai diresmikan 21 September 1979 oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II Badung. Suasana yang khas lengkap dengan pendopo terbuka menambah hangat rasa kebersamaan.

dok: pribadi

Pasar Pakraman
Perjalanan pun dilanjutkan, kami menuju Pasar Pakraman. Berhubung hari telah sore, maka suasana pasar lengang. Tapi, satu yang menakjubkan bahwa pasar ini sangat bersih! Tidak tersisa sampah di pojok pasar sekalipun. Tujuan kami ke pasar Pakraman juga sebenarnya dalam rangka melihat pengolahan limbah pasar. Masyarakat telah dengan sadarnya melakukan pengolahan limbah yang dihasilkan oleh pasar secara mandiri sehingga limbah dapat menjadi berkah. Tidak hanya kebersihan di dalam pasar, pun selokan dan saluran air sepanjang jalan dalam kota sangat terjaga kebersihannya.

dok: pribadi

Subak
Keterkaitannya dengan ekonomi kelembagaan, maka kami juga berkunjung ke area persawahan dimana Subak diaplikasikan. Subak sendiri merupakan sistem pengairan/irigasi yang menjadi kearifan lokal masyarakat Bali.

Sumber: http://beritabali.com/assets/posting/SAWAH-OKAY-22.jpg

Toko Oleh-Oleh Krisna
Pada akhirnya, belum afdol rasanya bila sebelum meninggalkan Bali, tidak belanja belanji. Oleh karenanya, kami mengunjungi Toko Oleh-Oleh Khas Bali yaitu Krisna. Pelayanan yang prima dan ketersediaan produk yang lengkap menjadi nilai plus. Kami merasa cukup puas.

dok: pribadi

Harus diakui bahwa Bali memiliki karakteristik yang unik. Penduduknya sangat dipengaruhi oleh agama dan adat Hindu, yang tercermin dari peran yang saling berkaitan antara agama, desa adat dan dusun (banjar) dalam kehidupan ekonomi dan sosial mereka. Bali benar-benar sangat menjaga filosofi Tri Hita Karana yaitu hubungan dengan Tuhan, Alam dan Manusia. Ritual di tiap sudut kota diantaranya di pohon-pohon besar, halaman rumah, pelataran kantor, dan lainnya menjadi saksi bahwa Bali merupakan representasi segala kebaikan, penghormatan dan penghambaan kepada Sang Maha Pemberi Kehidupan.

dok: pribadi

dok: pribadi

dok: pribadi

dok: pribadi

dok: pribadi

Mungkin kedepannya, bila diberikan kesempatan. Saya berharap bisa mengunjungi Kabupaten Karang Asem, terletak di ujung timur Provinsi Bali yang menyimpan keunikannya tersendiri. Wilayah berbukit dengan panorama alamnya yang eksotis. Jadi, tidaklah berlebihan sepertinya bila diprediksi bahwa di masa yang akan datang wilayah ini akan bisa menjadi salah satu daerah wisata andalan. Kabupaten Karang Asem juga memiliki kain tenun yang cukup khas yaitu kain gringsing. Obyek wisatanya pun tak kalah menarik, diantaranya Bukit Jambul, Besakih dan Telaga Waja, dan agrowisata Salak Sibetan serta masih banyak lainnya. Atau mungkin juga mampir ke destinasi ekowisata dengan mengunjungi Taman Nasional Bali Barat untuk mengamati burung Jalak Bali yang merupakan satwa primadona taman nasional. Lalu mengamati satwa di Krepyak dan Sumberejo, serta melakukan wisata budaya di Monumen Lintas Laut dan Makam Jayaprana.

Taman Nasional Bali Barat
Sumber: Youtube Indonesia.Travel

Bali dengan segala keeksotisannya, nantinya juga tetap perlu memperhatikan pengembangan kemandirian daerah tertinggal, peningkatan pemanfaatan potensi wilayah, pemanfaatan integrasi ekonomi antara daerah tertinggal dan daerah maju, serta memperhatikan peningkatan penanganan kawasan daerah tertinggal yang memiliki permasalahan khusus. Jadi, dengan berkurangnya ketertinggalan, menurunnya indeks kemiskinan, berkurangnya daerah yang terisolasi, dan meningkatnya laju pendapatan penduduk dan tercapainya rehabilitasi, maka diharapkan akan tercipta pengembangan ekonomi lokal, pemberdayaan masyarakat, meningkatnya kapasitas kelembagaan, serta pengurangan keterisolasian daerah di Bali.

Cat: Penulis merupakan mahasiswa Pascasarjana IPB Bogor. Penulis menyukai travelling dan menulis. Bercita-cita cepat atau lambat memiliki catatan travelogue sendiri. Mohon doanya.

Nb: Tulisan diikutsertakan dalam airport.id Blog Competition

1 komentar: