Jumat, 01 April 2016

Perempuan Kekinian di Era Digital: Belajar Menggeluti Dunia Teknologi Informasi

p.s: Ingin mendapatkan tool dan tutorial pemrograman gratis? Kunjungi Intel Developer Zone http://sh.teknojurnal.com/witidz


Pengalaman menarik saya dalam menggeluti dunia teknologi informasi berawal pada 2011 silam ketika menjadi Instruktur untuk bidang teknologi informasi khususnya mata ajaran komputer di salah satu lembaga bimbingan belajar kenamaan di Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara. Saya bertugas memberikan pelatihan dan tutor terhadap para murid dengan beragam usia, mulai dari muda hingga tua. Pemahaman mereka terhadap dunia teknologi informasi pun beragam. Mulai dari yang kesulitan memegang mouse hingga yang sudah sangat lihai mengoperasikan komputer dan sekedar butuh sertifikat sebagai formalitas tanda pengakuan saja. Adapun rekan kerja sejawat saya mayoritas ialah laki-laki. Tapi, saya berusaha mengusung peran gender disini. Dalam artian saya melakoni peran saya sesuai dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) saya selayaknya seorang instruktur, tanpa memperhatikan jenis kelamin.

Bermodalkan keahlian dan pengalaman saya dalam mengoperasikan komputer dan memahami teori, maka saya memberanikan diri ambil peran dalam dunia teknologi informasi, kendati latar belakang pendidikan saya ialah Sosial Ekonomi Pertanian dan Perencanaan Pembangunan Wilayah. Tentunya sangat berbeda jauh dengan dunia teknologi informasi itu sendiri. Berbeda dengan adik laki-laki saya yang menyandang gelar Sarjana Komputer dan menggeluti dunia teknologi informasi secara serius, saya bisa dibilang hanya mengetahui kulit luar dari dunia teknologi informasi. Tapi, learning by doing, karena hidup merupakan proses belajar.

Sebelumnya semenjak 2010 hingga menjelang 2013, saya telah terlebih dahulu menekuni bisnis online shop berbasis teknologi informasi. Dunia usaha serba online ini sangat menjanjikan. Keuntungan yang diperoleh pun tidak main-main. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Prof. Philip Kotler selaku pakar dan tokoh paling kompeten dalam pemasaran, bahwa suatu perusahaan bisa meraup keuntungan dari munculnya metamarket online yang memfasilitasi semua kegiatan yang tercakup dalam upaya memperoleh sebuah item untuk digunakan. Hal ini tentunya menekankan pentingnya internet marketing yaitu suatu bentuk pemasaran melalui internet (baca disini)

Berkat ketekunan dalam bidang usaha online shop inilah maka pada 2014 silam saya berkesempatan terpilih dan diundang untuk menghadiri acara The MarkPlus Conference (tiket seharga Rp 1.200.000,-) secara GRATIS! Disini kami belajar memahami bagaimana menghadapi fenomena pemasaran di Indonesia (baca disini). Acara yang dihelat di Ritz Carlton Hotel, salah satu hotel berbintang kenamaan di Jakarta, mempertemukan saya dengan para pakar yang tidak hanya ahli di bidang IT, tapi juga pengusaha yang handal di bidangnya masing-masing. Saya sangat bersemangat saat itu! 

Sumber: kompasiana.com 

Lantas, pada tahun yang sama (2014), saya tergabung dalam proyek penelitian yang diselenggarakan oleh Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) Provinsi DKI Jakarta yang bernama Jakarta Learning Center, yang merupakan platform media pembelajaran online. Saya bertugas sebagai narasumber ahli dan peneliti di bidang ekonomi pada saat itu. Seseorang yang bertugas untuk membuat materi, menelaah, melakukan pendalaman materi serta in depth interview dengan stakeholder terkait. Selanjutnya bahan materi yang ada perlu diwujudkan menjadi satu output berupa media pembelajaran online, baik dalam bentuk infografis, audio maupun video. Tentunya hal ini menuntut kerjasama multi pihak dan koordinasi dengan tim grafis/desain. Otomatis hal ini menuntut peran serta dan modal pengetahuan yang cukup untuk memahami. Lambat laun saya mulai berkecimpung didalamnya. Perlahan mengetahui sistem dan mekanisme kerja dunia teknologi informasi secara cukup mendalam. 

Terlepas dari segala tantangan yang dihadapi, ternyata mempelajari dunia baru memunculkan kenikmatan tersendiri. Tahapan yang dilalui mulai dari input – proses – output menjadi bagian dari sistem. Melalui proses editing, screening, review, evaluasi, revisi dan seterusnya hingga siap publikasi lalu dikonsumsi dan dinikmati khalayak luas. Prosesnya sangat njlimet. Dibutuhkan ketekunan, kesabaran dan keuletan serba ekstra!

Sumber: Youtube 

Lalu, pada awal tahun 2016 ini, saya dan tim memutuskan untuk melakukan eksekusi terhadap ide yang kami punya. Ide membangun dan mendirikan usaha digital sendiri, berupa platform microlending yaitu microfunding berbasis pinjaman. Sasaran kami ialah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang mengalami hambatan pada akses modal. 

Kendala terbesar yang saya hadapi dalam mewujudkan ide ini pada awalnya ialah minimnya partner yang sehati! Tapi, sebenarnya itu bukan lah kendala yang berarti. Toh, pada akhirnya perlahan namun pasti saya menemukan tim yang tangguh dan In Shaa Allah sejati. Sembari merumuskan dan mematangkan konsep, saya juga sudah berdiskusi dengan beberapa rekan yang memang pakar dan ahli di bidangnya. Mulai dari lulusan Master di bidang teknologi informasi hingga para profesional muda.

Langkah selanjutnya dalam mewujudkan mimpi yaitu kami melakukan review, mematangkan konsep dan membuat desain. Sejauh ini video awal untuk bahan presentasi telah on progress. Rencananya dalam waktu dekat, kami akan mempresentasikan ide konsep kami di salah satu symposium internasional yang mengusung topik penelitian terkait dengan social project. Paper nya telah kami submit dan disambut baik oleh pihak panitia. Adapun dalam waktu dekat ini kami telah berencana mengikutsertakan ide konsep kami dalam ICT Award yang merupakan ajang kompetisi dan lomba karya cipta Inovasi Teknologi Informasi dan Komunikasi tingkat Nasional, yang berfokus pada Financial and Small Medium Enterprise

video
Dok: pribadi (supported by: Mas Rengga and Team)

Kami telah mencanangkan target beberapa langkah kecil untuk maju. Semoga kedepannya kami dapat berkontribusi bagi negeri. Kecil namun berarti. Mohon do’anya! Ayo, para perempuan penggiat teknologi informasi di Indonesia, berjayalah! Menjadi founder atau co-founder untuk bisnis start-up digital yang ada.

Cat: Penulis merupakan Mahasiswi Pascasarjana IPB Bogor. Penulis pernah menjadi Narasumber Ahli/Peneliti dalam Proyek Jakarta e-Learning Center bersama BPAD Prov. DKI Jakarta. Saat ini bersama timnya sedang mengkonsep ide platform start up Crowdlending (Crowdfunding berbasis pinjaman).

Nb: tulisan ini diikutsertakan pada Lomba Blog Perempuan di Dunia Teknologi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar