Berburu Inspirasi di Pulau Buru, Maluku

Kami menempuh perjalanan jalur udara menuju Pulau Buru yang merupakan pulau terbesar kedua di Provinsi Maluku setelah Pulau Seram, dengan durasi waktu tempuh sekitar sejam lamanya bertolak dari Kota Ambon. Pesawat yang kami gunakan ialah pesawat “capung” baling-baling dengan kapasitas sekitar 10 orang plus 2 orang pilot. Pagi yang cerah menyambut kedatangan kami di Bandara Namlea. Adapun Namlea sendiri merupakan ibukota dari Kabupaten Buru, salah satu kabupaten tertinggal di Provinsi Maluku. 

Selamat datang di Namlea, Kab. Buru (dok: pribadi)
Berdasar eksplorasi sejarah diperoleh temuan fakta bahwa semasa zaman pendudukan Jepang pada Perang Dunia ke-2, Namlea pernah dijadikan sebagai pangkalan transit pesawat tempur Jepang sehingga wilayah Buru memegang posisi penting dalam pertahanan dan keamanan. Pasti tidak lekang dari ingatan ketika pada awal pemerintahan orde baru, Pulau Buru ditetapkan sebagai camp tahanan politik (tapol). Sebut saja Pramoedya Ananta Toer yang terkenal dengan Tetralogi Pulau Buru-nya. Beliau merupakan sosok luar biasa yang berhasil berjaya melalui kontemplasi yang dijalaninya semasa di Pulau Buru. Seiring berjalannya waktu, wilayah ini kemudian dikembangkan menjadi daerah transmigrasi karena tanahnya cocok untuk lahan pertanian sehingga Pulau Buru juga dikenal sebagai daerah penghasil beras di Provinsi Maluku.



Kabupaten Buru merupakan pemekaran dari Kabupaten Maluku Tengah semenjak hampir 17 tahun silam. Desa di Kabupaten Buru merupakan desa pesisir sehingga memiliki suhu udara yang relatif tinggi. Keyaaan sumber daya alamnya terlihat dari potensi tanaman pangan dan hortikultura semisal kacang-kacangan, umbi-umbian, sayur-sayuran dan buah-buahan. Pun, kekayaan laut yang tidak terbantahkan semisal komoditas perikanan yang sangat potensial dikembangkan karena wilayahnya dikelilingi oleh laut dan letak geografis yang strategis serta kekayaan alam laut yang berlimpah. Perikanan laut diakui sebagai sektor yang paling dominan dengan berbagai jenis ikan. Potensi bahan galian C juga merupakan komoditi unggulan yang sangat berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut. 

Peta kondisi akses pangan Kab. Buru Tahun 2015 (dok: pribadi)
Aspek sosial budaya dan tradisi masyarakat di Pulau Buru tentunya mengajarkan kami banyak hal dan menginspirasi dengan caranya sendiri. Perlu diketahui bahwa suku asli Pulau Buru ialah suku Alifuru yang menyebut diri mereka masyarakat Bumilale. Istilah ini mengandung makna yang sangat sakral. Kata “Bumi” berarti tanah dan “Lale” berarti besar. Suku ini memiliki kepercayaan bahwa leluhur dipercaya sebagai tuhan yang tinggal di Gunung Date dan Danau Rana sehingga kedua tempat tersebut dianggap suci dan sakral serta kerap dijadikan sebagai pusat pemujaan bagi leluhur masyarakat ini.

Gunung Date dan Danau Rana juga dipercaya sebagai tempat asal manusia pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Buru. Mereka dipercaya sebagai para leluhur yang dalam mitos dilambangkan dengan burung berbulu putih. Berdasarkan kepercayaan masyarakat Pulau Buru, burung mistis ini dianggap sebagai arwah para leluhur dan akan selalu muncul dalam setiap prosesi adat yang diselenggarakan di Danau Rana dan Gunung Date. Kehadiran burung tersebut merupakan wujud representasi dari arwah leluhur yang dipercaya dapat membawa kedamaian dan kebahagiaan dalam perayaan tersebut.

Keindahan alam obyek wisata di Pulau Buru sangat beragam diantaranya Danau Rana, Danau Namniwel, Air Terjun Waprea, Desa Jikumarasa, Pantai Jikubesar, Desa Lala, Monumen berupa Tugu Pendaratan TNI di Pulau Buru pada tanggal 14 Juli 1951, Benteng Defencie, Masjid Kayeli, Pantai Talihopong, Air Terjun Metar, Masjid Palumata, Penyulingan Minyak Kayu Putih dengan “Ketel”. 

Satu ciri khas yang dimiliki oleh Pulau Buru ialah produksi minyak kayu putih tradisionalnya. Adapun minyak kayu putih ini dapat menjadi sebuah tujuan wisata pedesaan yang sangat menarik. Daun kayu putih disuling secara tradisional menjadi minyak kayu putih telah menjadi semacam livelihood di tengah masyarakat sehingga banyak dikerjakan oleh warga Kabupaten Buru sendiri. Tradisi pengolahannya tetap dilakukan secara turun temurun sehingga minyak kayu putih menjadi komoditas andalan.

Proses penyulingan minyak kayu putih secara tradisional (dok: pribadi)

Daun kayu putih yang siap diolah menjadi minyak (dok: pribadi)
Kami berkesempatan mengunjungi Desa Jikumarasa yang berjarak sekitar 17 km dari Kota Namlea. Jikumarasa merupakan desa yang terkenal akan keindahan pantainya. Pantai Jikumarasa yang berpasir putih dengan panorama alam yang indah merupakan tempat yang cocok untuk berenang dan melepas penat. Pesisir pantainya dipenuhi batu karang kecil. Rekomendasi dari kami yang patut dicoba bila berkunjung ke pantai ini ialah jangan sampai lupa mencicipi suguhan rujak dan pisang goreng khas lengkap dengan “colo-colo” yaitu sambal.

Panorama pantai Jikumarasa (dok: pribadi)
Karang di pesisir pantai Jikumarasa (dok: pribadi)
Jejak langkah di pasir putih Pantai Jikumarasa Namlea, Kab. Buru, Prov. Maluku (dok: pribadi)
Perjalanan kami kali ini bercitarasa “Return to The East” menyiratkan makna mendalam tentang unsur kemanusiaan di bagian timur Indonesia tepatnya di Pulau Buru. Melalui beragam kisah masa lampaunya, pulau ini menyuguhkan citarasa heroik yang luar biasa. Pulau ini seakan menjadi saksi akan kehebatan dan daya juang masyarakatnya dalam bertahan menapaki catatan sejarah Indonesia. Pulau Buru berhasil menyajikan informasi tentang sejarah, budaya, tradisi, keindahan alam dan unsur kemanusiaan yang dikemas sebagai paket komplit dan menjamin setiap pengunjungnya akan dapat tampil menjadi petualang dalam menikmati keindahan di timur Indonesia. “Mari baronda ka MALUKU”

MARI baronda ka MALUKU (dok: pribadi)
Cat: Penulis merupakan mahasiswa Pascasarjana IPB Bogor. Penulis pernah menjadi Tenaga Ahli Anggota Dewan DPR RI. Penulis juga pernah terlibat kerjasama project dengan beberapa instansi pemerintah diantaranya Kementerian PUPR, Kementerian Perindustrian, BPAD Provinsi DKI Jakarta. 

Nb: Tulisan diikutsertakan dalam Gramedia Blog Competition yang diselenggarakan oleh Ring of Fire Adventure, Kompas TV dan Gramedia

Komentar