Kamis, 24 Oktober 2019

Transportasi Unggul Berbasis Konektivitas dan Integrasi

“Membangun Indonesia dari pinggiran itu suatu keniscayaan. Sudah saatnya rakyat Indonesia merasakan pembangunan sesungguhnya. Keterhubungan antardaerah, jalan menuju perubahan Indonesia yang lebih baik” – 
Budi Karya Sumadi (Menteri Perhubungan RI)

Pembangunan sarana dan prasarana dalam RPJMN 2015-2019 merupakan bagian dalam dimensi pembangunan sektor unggulan. Pembangunan sarana dan prasarana mencakup pembangunan transportasi. Pembangunan infrastruktur transportasi ditujukan untuk meningkatkan konektivitas dalam menunjang pembangunan ekonomi untuk pemerataan kesejahteraan dan ekonomi yang berkeadilan.

Secara umum hasil pembangunan selama pelaksanaan RPJMN 2015-2019 menunjukkan capaian yang baik. Pembangunan sarana dan prasarana semakin membaik dengan makin berkembangnya infrastruktur konektivitas. Pengurangan kesenjangan antarwilayah melalui penguatan konektivitas merupakan salah satu strategi pelaksanaan pembangunan. 


Sebagaimana dijelaskan dalam Laporan Capaian Pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla dengan tema “Membuka Keterisolasian” guna mewujudkan Indonesia sentris, melalui program Jembatan Udara, pemerintah menyediakan rute penerbangan yang melayani hingga ke pedalaman, daerah-daerah terpencil dan pulau-pulau terluar untuk meningkatkan konektivitas logistik, serta memangkas kesenjangan ekonomi dan kesenjangan antar-wilayah. Berdasar data Kementerian Perhubungan, telah ada 39 rute penerbangan program jembatan udara.

dok: Laporan Capaian Pemerintahan Jokowi-JK
Catatan proyeksi pertumbuhan ekonomi dan sektoral 2019 dalam outlook perekonomian Indonesia 2019 oleh Bank Indonesia, menyebutkan bahwa pertumbuhan sektor transportasi selama lima tahun terakhir bergerak dinamis di kisaran 6-8 persen. Kontribusi sektor transportasi terhadap PDB cenderung stabil di kisaran 4-5 persen. 

dok: LAMPID Presiden RI 2019
Dalam rangka mendukung pertumbuhan sektor transportasi, Kemenko Perekonomian telah mengeluarkan berbagai kebijakan. Upaya mendorong pertumbuhan sektor transportasi diantaranya melalui program percepatan infrastruktur prioritas. Pemerintah optimis dapat mengoptimalkan kinerja serta kebijakan terkait sektor transportasi untuk mencapai nilai pertumbuhan tahun 2019 yang diproyeksikan sebesar 8,18 persen.

Capaian Lima Tahun Pembangunan Infrastruktur Transportasi 
Setelah memasuki tahun keempat pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, berbagai pembangunan infrastruktur transportasi nasional telah berhasil diselesaikan. Bahkan sebagian fasilitas transportasi baik bandara, pelabuhan, jalur kereta api (KA) hingga prasarana angkutan darat telah beroperasi. Hal ini telah dituangkan dalam Laporan Kinerja 5 Tahun “Pembangunan dan Pengembangan Transportasi Indonesia” oleh Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. Mengingat, terkait dengan alokasi anggaran dalam RAPBN 2020, Kemenhub merupakan salah satu K/L dengan anggaran terbesar. 

dok: databoks katadata
Pergerakan sektor transportasi selama lima tahun terakhir didukung oleh kinerja subsektor didalamnya. Peningkatan perjalanan masyarakat juga diperkirakan dapat meningkatkan pengguna moda transportasi sehingga dapat mendorong pertumbuhan dari sisi transportasi. Hal ini sekiranya mampu menggambarkan keunggulan/kinerja transportasi Indonesia selama lima tahun terakhir yang berdampak pada kemajuan bangsa dan negara.

Subsektor pertama adalah subsektor angkutan rel yang meliputi kegiatan pengangkutan penumpang dan/atau barang menggunakan jalan rel kereta. Subsektor ini memiliki kontribusi rata-rata sebesar 1,2 persen terhadap sektor transportasi. Pertumbuhan subsektor ini memiliki nilai yang lebih besar, tetapi lebih fluktuatif dibandingkan subsektor lainnya. BPS pada 2017 silam juga melansir bahwa jumlah penumpang jarak jauh terbanyak ialah pada moda transportasi kereta api.

Kaitannya dengan pembangunan jalur kereta api, pemerintah terus mendorong pembangunan beberapa lintas jalur kereta api agar daya angkut serta waktu tempuh dapat lebih efisien. Berikut beberapa pembangunan jalur KA di Indonesia hingga 2019. Semisal, jalur ganda Kereta Api (KA) Prabumulih-Kertapati, Sumatera Selatan telah beroperasi sejak akhir April 2018. Jalur sepanjang 85 Km ini merupakan bagian dari proyek KA Trans Sumatera. Jalur ganda turut membangun konektivitas dari Palembang menuju Lubuk Linggau dan Tanjung Karang. Dengan begitu, produktivitas komoditas batu bara juga meningkat dari Muara Enim ke Palembang dan dari Palembang ke Tanjung Karang.

dok; Laporan Kinerja 5 Tahun Kemenhub RI
Selanjutnya, pembangunan jalur KA Bandar Tinggi-Kuala Tanjung, Sumatera Utara sepanjang 21,5 Km dilakukan sejak 2011, termasuk pembangunan 3 stasiun KA. Jalur ini akan mendukung konektivitas Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei menuju pelabuhan Kuala Tanjung dengan memangkas waktu tempuh dari 4 jam menjadi kurang lebih 1 jam. Serta, pembangunan jalur Kereta Api (KA) sepanjang 13,5 Km menghubungkan Bandara Adi Soemarmo, Solo-Jawa Tengah dengan Stasiun Solo Balapan. Jalur yang bertujuan mendukung konektivitas dan integrasi antar moda KA dan pelayanan bandara ini selesai dibangun pada tahun 2019.

Saya termasuk penggemar moda transportasi kereta, apapun jenisnya. Seperti tempo hari, saya dan suami mencoba Moda Raya Terpadu/Mass Rapid Transit (MRT) di bilangan Bundaran HI Jakarta. Kementerian Perhubungan melansir bahwa pembangunan MRT Jakarta pada fase 1 yang dimulai sejak Oktober 2013 ini telah membangun jalur kereta sepanjang 16 Km. Dengan mengalihkan masyarakat untuk menggunakan MRT, kemacetan dan kepadatan lalu lintas jalanan di Jakarta diharapkan akan berkurang.

dok: pribadi
Selain itu, saya juga mencoba Kereta Bandara “Railink”. Kemenhub melansir bahwa jalur ganda kereta bandara Soekarno-Hatta sepanjang 12 Km telah selesai pada tahun 2017. Penambahan jalur ini bertujuan untuk menghindari kemacetan lalu lintas di wilayah perkotaan serta memangkas waktu tempuh menjadi 45 menit dari stasiun Sudirman Baru.

Subsektor kedua adalah subsektor angkutan darat yang meliputi kegiatan pengangkutan penumpang dan barang menggunakan alat angkut kendaraan jalan raya, baik bermotor maupun tidak bermotor. Subsektor ini memiliki kontribusi terbesar terhadap sektor transportasi dengan rata-rata sebesar 46,6 persen. Pertumbuhan subsektor ini memiliki nilai yang cukup stabil. BPS melansir bahwa PDB sektor transportasi TW II 2017 terbesar pada angkutan darat. 

dok: databoks katadata
Dalam upaya untuk memperkuat konektivitas multimoda dan antarmoda, juga telah dilakukan penerapan Bus Rapid Transit di 49 lokasi (Trans Jogja, Trans Batam, Trans Metro Bandung dan Trans Jakarta), dibangunnya kereta api perkotaan di 4 lokasi (KA Bandara Kualanamu-Medan, KA Akses Bandara International Minangkabau, KA Bandara Soekarno-Hatta dan Light Rapid Transit (LRT) Sumatera Selatan).

Subsektor ketiga adalah subsektor angkutan laut yang meliputi kegiatan pengangkutan penumpang atau barang pada kapal yang dirancang untuk beroperasi pada perairan laut dan pantai. Subsektor ini memiliki kontribusi rata-rata sebesar 6,4 persen terhadap sektor transportasi. Pertumbuhan subsektor ini memiliki tren nilai yang meningkat.

Pembangunan pelabuhan laut dimana pemerintah telah membangun dan mengembangkan pelabuhan besar, menengah dan kecil di sejumlah daerah untuk menunjang konektivitas nasional. Pengembangan dan pembangunan pelabuhan tersebut menyesuaikan peran dan fungsi sebagai pelabuhan utama, pengumpul dan pengumpan. Peran masing-masing pelabuhan menentukan kelancaran distribusi barang yang diangkut Kapal Tol Laut. Program Tol Laut menjadi fokus utama dalam mendukung upaya pemerataan pembangunan nasional yang tertera dalam kebijakan Nawa Cita.

Dalam rangka penguatan infrastruktur konektivitas, telah berhasil dicapai pembangunan fasilitas pelabuhan yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara Timur dan Papua, serta terbangunnya 18 rute tol laut, pembangunan 15 bandara baru dan telah dibangun 3.793 km jalan baru, 1.461 km jalan tol dan 811,89 km jalur kereta api baru dalam rangka penguatan konektivitas jalur utama logistik. KPPIP melansir bahwa jumlah proyek tol merupakan yang terbanyak dibandingkan proyek transportasi lainnya.

dok; Laporan Kinerja 5 Tahun Kemenhub RI
Subsektor keempat adalah subsektor angkutan sungai, danau dan penyeberangan yang meliputi kegiatan pengangkutan penumpang, barang dan kendaraan dengan menggunakan kapal/angkutan sungai dan danau baik bermotor maupun tidak bermotor, serta kegiatan penyeberangan dengan alat angkut kapal feri. Subsektor ini memiliki kontribusi rata-rata sebesar 2,3 persen terhadap sektor transportasi. Pertumbuhan subsektor ini memiliki tren nilai yang meningkat.

dok; Laporan Kinerja 5 Tahun Kemenhub RI
Subsektor kelima adalah subsektor angkutan udara yang meliputi kegiatan pengangkutan penumpang dan barang dengan menggunakan pesawat udara. Subsektor ini memiliki kontribusi terbesar kedua terhadap sektor transportasi dan pergudangan dengan rata-rata sebesar 27,2 persen. Pertumbuhan subsektor ini memiliki tren nilai yang menurun.

Upaya menunjang kelancaran transportasi juga dilakukan dengan implementasi program jembatan udara untuk mengintegrasikan angkutan kapal laut dengan moda angkutan udara di Papua. Konektivitas antarmoda tersebut diharapkan dapat memperlancar distribusi logistik hingga menjangkau daerah pedalaman, terluar dan perbatasan. Dengan begitu, konektivitas nasional semakin terwujud. Terkait pembangunan kapal penyeberangan, pemerintah telah membangun armada kapal penyeberangan sebagai bagian dari upaya mewujudkan konektivitas nasional. Ketersediaan sarana angkutan penyeberangan yang memadai diharapkan dapat memperlancar distribusi logistik dari satu daerah ke daerah lain dan menunjang mobilitas masyarakat. Dengan terlayaninya rute perintis dengan angkutan penyeberangan ini ditujukan untuk meningkatkan pelayanan yang memenuhi aspek keselamatan.

dok; Laporan Kinerja 5 Tahun Kemenhub RI
Guna mempercepat pencapaian pembangunan, maka pembangunan bandara di Aceh Tengah diikuti dengan pembangunan bandara baru lainnya di wilayah pinggiran, pedalaman dan perbatasan untuk mewujudkan konektivitas nasional. Upaya pemerintah untuk mewujudkan konektitvitas dan kelancaran distribusi logistik hingga ke seluruh pelosok nusantara akan terus dilakukan melalui pembangunan dan perbaikan lebih dari 150 bandara dari Sabang hingga Merauke.

Pemerintah telah membangun bandar udara (bandara) baru dan mengembangkan sejumlah fasilitas bandara di beberapa wilayah tanah air. Peresmian dan pengoperasian bandara-bandara ini dapat membuka akses transportasi bagi masyarakat di daerah. Pemerintah terus berupaya mewujudkan konektivitas antarwilayah dengan ketersediaan infrastruktur bandara yang memadai. Peningkatan pelayanan kebandarudaraan dapat menunjang industri penerbangan nasional yang mulai tumbuh dan berkembang dalam beberapa waktu terakhir ini.

Subsektor keenam
adalah subsektor jasa penunjang angkutan yang meliputi kegiatan yang bersifat menunjang dan memperlancar kegiatan pengangkutan. Subsektor ini memiliki kontribusi terbesar ketiga terhadap sektor transportasi dengan rata-rata sebesar 16,4 persen. Pertumbuhan subsektor ini memiliki nilai yang cukup stabill.

Seiring dengan pembangunan bandara baru, konektivitas antarwilayah juga diwujudkan dengan pengembangan dan pembangunan pelabuhan baru, jalur rel, sarana dan prasarana transportasi darat serta berbagai kebijakan yang bertujuan agar peningkatan dan pelayanan transportasi menjadi lebih baik.

Dalam pengembangan konektivitas telah dibangun transportasi multimoda pada hinterland melalui pembangunan jalan tol, bandara, pelabuhan dan jalur kereta api serta pengembangan tol laut dalam upaya mendorong pengembangan wilayah dan mengurangi biaya logistik

Peningkatan aksesibilitas dan konektivitas ke pusat pertumbuhan melalui pembangunan jalan, pembangunan dan peningkatan bandar udara, pembangunan pelabuhan/dermaga dan fasilitasnya, pengadaan moda darat dan moda air merupakan bagian dari arah kebijakan dan strategi untuk mengatasi permasalahan dan kendala dalam pembangunan daerah tertinggal. Semisal, pembangunan pelabuhan penyeberangan sejumlah 24 lokasi yang bertujuan agar pelayanan transportasi semakin meningkat dan konektivitas antarwilayah semakin terwujud. 


Kedepan, arah kebijakan dan strategi yang diperlukan dalam rangka memperkuat konektivitas antara lain: 1) Mengembangkan dan meningkatkan kondisi mantap jalan melalui pemenuhan dana preservasi serta skema Dana Alokasi Khusus (DAK) dan dana Hibah untuk jalan daerah (provinsi, kabupaten/kota); 2) Standarisasi pelayanan pelabuhan dan integrasi dengan hinterland; 3) Optimalisasi pelayanan transportasi perintis penumpang dan barang yang mampu menjangkau wilayah 3T dan mendorong skema pendanaan perintis tahun jamak; 4) Penguatan jaringan kereta api pada koridor logistik utama dan mengurangi perlintasan tidak sebidang; dan 5) Pengembangan sistem jaringan transportasi yang terintegrasi (antarmoda dan multimoda) termasuk jaminan keterhubungan akses menuju simpul transportasi dan kawasan strategis nasional.

Sebagaimana slogan “Wahana Manghayu Warga Pertiwi” yang berarti Perhubungan merupakan wahana untuk mensejahterakan Bangsa dan Negara, maka capaian pembangunan infrastruktur transportasi melalui capaian pembangunan sarana dan prasarana, pembangunan sektor perhubungan darat, pembangunan kapal penyeberangan, pembangunan pelabuhan penyeberangan, pembangunan infratruktur perhubungan laut, pembangunan pelabuhan laut, pembangunan kapal, pembangunan infrastruktur perhubungan udara, pembangunan jalur kereta api, pembangunan stasiun kereta api dan aspek sektor perhubungan lainnya harus dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Untuk memperoleh informasi yang lebih detail terkait dengan capaian pembangunan sektor transportasi serta arah dan kebijakan transportasi tanah air maka dapat diakses pada laman/situs berikut ini:

Website: Kementerian Perhubungan RI
Youtube: Kementerian Perhubungan RI
Facebook: Kementerian Perhubungan RI
Twitter: Kementerian Perhubungan RI
Instagram: Kementerian Perhubungan RI

Cat: tulisan diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog Kemenhub

Tidak ada komentar:

Posting Komentar