#BatikIndonesia, Harmonisasi Tanpa Dipolakan

“Entah, mungkin saya sudah terlanjur cinta pada batik”, ucap Udey Budiman, pembatik asal Tasikmalaya ketika ditanya apa alasannya tetap bertahan dengan batik selama kurun waktu 40-an tahun, sedangkan di satu sisi apa yang diperoleh melalui membatik besarannya tidak seberapa.

Inilah kelebihan Udey yang membuatnya berbeda dari kebanyakan pembatik disekitarnya yaitu perlakuannya terhadap batik sebagai seni. Udey menjadi kreatif karena ia menggali dan memperkaya. Kendati kreativitasnya seringkali dianggap melanggar aturan dasar membatik dan dituding meninggalkan kekhasan batik Tasik oleh para pembatik lainnya. Tapi, Udey tetap bersikukuh bahwa ia memang bukan tipikal pembatik yang terlalu "fanatik" dalam membatik.

Tidak hanya Udey yang kerap berinovasi melalui warna dan motif batik tanpa meninggalkan tradisi batik, pun Nasir Achmad kerap berinovasi melalui interior batik tulis Pekalongan. Nasir bahkan membeberkan bahwa orang asing lebih meminati bahan interior batik karena mereka bisa mengapresiasi lebih dibanding kebanyakan orang Indonesia. 

Tradisi dan inovasi lantas menjadi hal yang tidak terpisahkan. Ibarat kepingan mata uang logam yang kedua sisinya saling bersisian. Sebagaimana Alexander Solzhenitsyn, sang nobelis bidang sastra mengungkapkan bahwa “Dalam seni yang penting bukan apanya melainkan bagaimananya…”. Jadi, bisa dipahami tentang bagaimana seni yang terekam dalam tradisi dapat mendatangkan kebermanfaatan dan menciptakan peluang untuk memunculkan inovasi serta unsur kebaruan lainnya. Itu yang terpenting.

Tempo hari, awal tahun 2016 saya pernah berkunjung ke Bandung dan melihat langsung proses membatik yang dilakukan di Rumah Batik berlokasi di Lembang-Bandung, Jawa Barat. Batik tulis yang dihasilkan oleh tangan-tangan terampil membuktikan bahwa melestarikan tradisi sama halnya dengan menjaga keberlanjutan inovasi.

Rumah Batik Lembang Bandung sangat menarik untuk dikunjungi (dok: pribadi)
Batik khas Jawa Barat (dok: pribadi)
Saya pun tetiba teringat pada 2014 silam ketika saya berkesempatan ke Jogjakarta dan mengunjungi House of Raminten, ya resto nge-hits yang cukup tersohor. Bukan hanya karena konsep unik yang diusungnya, melainkan juga karena unsur budaya dan tradisi yang sangat kental disajikan kepada publik dikolaborasikan dengan unsur inovasi. Konsep yang ada dikemas sedemikian rupa sehingga unsur tradisi tradisionalnya tidak lekang dalam balutan unsur modernitas. 

Raminten, sang tokoh utama kerap mengenakan kebaya lengkap dengan motif batik jogja. Di pelatarannya pun tersaji kereta kuda dan para pegawainya pun mengenakan pakaian tradisional motif batik. Bukti kecintaan yang diperlihatkan secara nyata kepada khalayak semakin membuktikan bahwa cinta tidak sekedar kata-kata. Bagi saya proses menghargai dan membuktikan kecintaan tidak hanya melalui rentetan kalimat manis lainnya melainkan melalui perbuatan dan sikap sehari-hari.

Pameran Kain Nusantara Tahun 2010 di Galeri Museum Provinsi Sulawesi Utara (dok: pribadi)
Semenjak 2009 silam, United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) telah mengukuhkan Batik sebagai Intangible Cultural Heritage kepunyaan Indonesia. Hal ini menjadi peluang besar bagi kita untuk semakin menduniakan batik. Ibarat strategi multikultural atau prinsip filosofi yang dikerahkan agar sesuai dengan masa yang berkaitan dengan globalisasi atau glokalisasi, inovasi memiliki peran yang penting.

Philip Kotler, pakar yang ahli dalam bidang pemasaran menyebutkan bahwa inovasi bukan sekedar berkutat dengan penciptaan produk yang baru dan lebih baik, melainkan juga pengembangan sistem yang lebih baik dan konsep bisnis yang baru. Inovasi sejatinya membutuhkan kreativitas, sehingga sistem manajemen gagasan kedepannya akan diperlukan guna mendorong dan menampung ide-ide besar dan terbaik dari para pencetus inovasi. 


Kini saatnya kita melakukan rekonstruksi sederhana namun tepat guna terhadap penemuan pemikiran dan merayakan kebudayaan batik yang memanusiakan. Sebagaimana Confucius, sang filsuf berucap bahwa “Seseorang dapat mengetahui ragam hal baru dengan meninjau yang lama”. Supaya mengetahui hal-hal yang baru dalam suatu inovasi maka seseorang harus bersedia meninjau hal-hal yang lama dari suatu tradisi. Gali, gali dan galilah terus tanpa henti. Tidak dapat dipungkiri bahwa di era yang serba separuh globalisasi dan separuh glokalisasi kita membutuhkan dialog antar kebudayaan sehingga mampu menyediakan cara untuk mengetahui hal baru dan meninjau hal lama dengan lebih signifikan serta penuh kemungkinan.


Meminjam istilah dasar inspirasi gaya pemikiran para tokoh filsuf China tentang “Naturalisasi Kemanusiaan” yang membidik pencapaian manusia atau keutuhan sifat manusia. Kondisi ini berupaya menghidupkan kembali sensibilitas manusia secara estetika kaitan hubungannya dengan historis kebudayaan. Semangat dan tampilan masing-masing budaya secara alami akan berdampak pada bentuk yang sesuai dari ekspresi seni dan gaya estetika. Budaya merupakan manifestasi lengkap jiwa dan menyajikan gambaran kehidupan. Nah, ayo wujudkan hak kita untuk menentukan dan melestarikan kebudayaan!

Kami memilih memakai batik (dok: pribadi)
Sumber:
  • Keping, W. 2011. Etos Budaya China: Kepustakaan Klasik China. Jakarta: PT Elex Media Komputindo
  • Kompas. 2003. Kiprah Para Jawara: Seri Kekayaan yang Tersembunyi. Jakarta: Penerbit Buku Kompas
  • Kotler, P. 2005. According to Kotler. Jakarta: PT Buana Ilmu Populer
  • Suriasumantri, J. 2009. Filsafat Ilmu. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
Cat: Penulis merupakan mahasiswa Pascasarjana IPB Bogor. Penulis pernah menjadi Tenaga Ahli Anggota Dewan DPR RI. Penulis juga pernah terlibat kerjasama project dengan beberapa instansi pemerintah diantaranya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Perindustrian, dan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi DKI Jakarta. Penulis menggemari seni dan budaya salah satunya batik.

Nb: Tulisan diikutsertakan dalam Kompetisi Blog Jogja International Batik Biennale 2016 (JIBB2016)

Komentar

  1. Kasus yang dibahas sangat menarik untuk didiskusikan. nice writing!

    http://nusantaraholic.blogspot.co.id/2016/10/batikindonesia-inovasi-digitalisasi_4.html

    BalasHapus

Posting Komentar