Kota Cerdas Pangan yang Inklusif dan Berkelanjutan

“... the best thing to do with food is to eat and enjoy it, and to stop wasting it. 
Stop wasting food!”

Tristram Stuart, seorang aktivis, memberikan pernyataan tersebut di forum TED London Spring pada 2012 silam. Melalui narasinya yang berjudul “The Global Food Waste Scandal”. Hal sederhana seperti menghabiskan makanan tanpa sisa sebenarnya cukup mudah dilakukan dan ternyata berdampak luar biasa. Percaya atau tidak, dengan kita mulai menghabiskan makanan dan tidak menyisakan apalagi membuang makanan yang kita makan maka secara tidak langsung kita telah turut andil dan berperan serta menjaga keberlanjutan bumi, anak cucu kita dan tak terkecuali keberlangsungan semua organisme di muka bumi.

Kok bisa?

Iya, karena kita telah menerapkan gaya hidup bebas sampah makanan. Tentu akan lebih baik jika kita juga mulai belajar untuk mengolah sampah makanan yang kita hasilkan. Mulai dari hal kecil saja dulu seperti misalnya mulai untuk memilih dan memilah sampah organik dan anorganik. Repot? Iya, awalnya. Tapi, bila sudah terbiasa akan sangat mudah. Bukankah kita bisa karena biasa? Ingat, ya.

Hmm, kenapa sih permasalahan sampah makanan ini seolah menjadi sangat penting?

Pasalnya, semua masalah persampahan makanan ini bersumber dari piring makan dan dapur kita masing-masing!

Bayangkan saja, komposisi limbah makanan global terbesar dihasilkan oleh rumah tangga yaitu sebesar 569 juta ton! Angka ini lebih besar dibandingkan limbah makanan yang dihasilkan oleh layanan makanan (sebesar 244 juta ton) dan retail (sebesar 118 juta ton). Angka ini bersumber dari United Nations Environment Programme (UNEP) per Maret 2021.

dok: https://databoks.katadata.co.id/

Kabar buruknya lagi, Indonesia menduduki posisi tertinggi penghasil limbah makanan rumah tangga terbesar di Asia Tenggara. Indonesia berhasil (?) mengungguli Filipina, Vietnam, Thailand, Myanmar, Malaysia, Kamboja, Laos, Singapura, Timor-Leste dan Brunei Darussalam. Bahkan secara global, total limbah makanan yang dihasilkan setiap orang per tahun di Indonesia lebih besar daripada di negara adidaya Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab yaitu sebesar 300 kg tiap orang per tahun. Wow!

Angka ini kemudian diperkuat dengan angka komposisi sampah di Indonesia berdasarkan jenis dimana ternyata sampah organik adalah yang terbesar dihasilkan dibandingkan sampah plastik, kertas, karet, logam, kain, kaca dan jenis sampah lainnya. Kita mungkin saja tidak menyangka bahwa ternyata hal yang lekat dengan keseharian kita menjadi pangkal permasalahan persampahan yang cukup pelik.

Kemudian jika ditelusur lebih lanjut, buah dan sayur merupakan komposisi limbah makanan yang terbesar. Angkanya paling tinggi dibandingkan dengan limbah makanan seperti sereal, umbi-umbian, susu dan telur, daging, minyak sayur dan kacang, serta ikan dan makanan laut. Bukan hal yang mengherankan, karena dalam keseharian buah dan sayur adalah elemen makanan pelengkap yang memenuhi kebutuhan gizi pokok sehari-hari dan sumber vitamin guna mencapai komposisi 4 sehat dan 5 sempurna.

Penyelesaian masalah sampah memang masih bersifat parsial dan belum terpadu serta belum didukung oleh perubahan perilaku masyarakat untuk memilah sampah. Hal inilah yang menjadi salah satu permasalahan lingkungan yang utama. Maka, diperlukan peningkatan kapasitas masyarakat dan pemerintah dalam pengelolaan sampah.

Oleh karenanya, perlu upaya strategis mewujudkan “Kota Cerdas Pangan” yang bebas sampah makanan. Deakin et al (2019) dalam penelitiannya yang berjudul The Governance of A Smart City Food System: The 2015 Milan World Expo menegaskan bahwa tata kelola sistem Kota Cerdas Pangan terletak pada aspek sosial, budaya dan lingkungan. Bila hal ini terlaksana dengan baik maka akan sangat mendukung terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif.

Lebih lanjut Damian Maye (2019) melalui artikelnya yang berjudul “Smart Food City”: Conceptual Relations Between Smart City Planning, Urban Food Systems and Innovation Theory juga menyebutkan bahwa pada dasarnya konsep “Smart City” mengusung kemajuan teknologi dan pengumpulan data melalui infrastruktur lingkungan perkotaan. Pasalnya, pembangunan infrastruktur yang mendasari inovasi perkotaan dan regional akan sangat mendukung pertumbuhan sistem pangan yang berkelanjutan. Jadi, Kota Cerdas Pangan dapat menjadi pelopor terwujudnya ketahanan pangan di suatu daerah. Sehingga, teknologi menjadi kata kunci dalam mewujudkan “Kota Cerdas Pangan” dengan tentunya tetap memperhatikan inovasi sosial berbasis komunitas/masyarakat.

Adapun Bandung Food Smart City yang merupakan bentuk Gerakan Bersama pemangku kepentingan terkait yang berfokus pada masalah sampah makanan khususnya sampah sisa makanan (food waste). Program ini merupakan kolaborasi antara Rikolto veco, para akademia Fisip UNPAR dan Pemerintah Kota Bandung guna mewujudkan Bandung menjadi kota yang cerdas pangan guna mengurangi permasalahan food waste.


Saya lantas teringat pada 2014 silam, saya pernah berkesempatan mengikuti Parahyangan Green Challenge yaitu acara tahunan berskala nasional yang diselenggarakan oleh akademia Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR). Saya mewakili Institut Pertanian Bogor (IPB) kala itu. Saya berangkat dari Bogor menuju Bandung dan mengikuti rangkaian kegiatan.

Tahap pengolahan kompos (dok: pribadi)

dok: pribadi

Kami melakukan kunjungan lapang ke Kota Baru Parahyangan yang merupakan kota satelit mandiri dengan misi pro lingkungan. Kami bertemu langsung dengan para pegiat lingkungan dan mengamati secara langsung proses pembuatan kompos, lubang biopori, proses menanam di sawah dan mengunjungi beberapa green building yang ada. Sungguh pengalaman yang berkesan karena diberi kesempatan belajar mengenal lingkungan dan menyatu dengan alam. Kedepan, besar harapan program Bandung Food Smart City ini juga dapat berjalan dengan baik dan pilot project ini dapat direplikasi oleh daerah lainnya di tanah air Indonesia.

dok: pribadi

Persemaian tanaman (dok: pribadi)

Ayo, lebih peduli dengan isu sampah makanan. Mulai dari hal kecil yaitu ambil, makan dan habiskan makananmu. Jangan sisakan apalagi dibuang. Save the food! Bersama kita wujudkan “Kota Cerdas Pangan” yang bebas dari sampah makanan.

Sumber:
Cat: tulisan diikutsertakan dalam Lomba Blog “Gaya Hidup Minim Sampah Makanan” oleh Bandung Food Smart City

dok: https://bandungfoodsmartcity.org/

Komentar