Sudahkah Tulisanku Menginspirasi?

Saya bersyukur karena berkat omelan ibu, akhirnya saya terpaksa menjadi gemar menulis. Lho, apa hubungannya? Iya, saya ingat persis semasa kecil dulu sehabis diomeli ibu, beliau selalu menyodorkan saya sebuah buku tulis dan pensil. Beliau lantas menyuruh saya untuk menuliskan “curhatan” saya didalamnya. Buku tersebut menjadi semacam “tempat pelampiasan” saya untuk mengeluarkan unek-unek dan kekesalan karena diomeli beliau. Tak ubahnya sebuah “diary", buku tersebut saya yakini juga sebagai “taktik” agar saya berhenti menangis dan mulai menulis. Pasalnya, saya belum mahir mengenal huruf ketika itu. 

Dulu memang ada buku latihan khusus untuk mengenal huruf dan ibu selalu rutin mengajari saya setiap sore setelah mandi dan sebelum menonton TV. Lantas saya pun berlatih terus setiap hari dengan menghubungkan titik menjadi garis hingga membentuk suatu huruf semata-mata agar saya mampu menulis diary yang disodorkan oleh beliau setiap kali saya menangis karena diomeli olehnya. Pada akhirnya saya memang menjadi lebih gemar menulis ketimbang membaca.

Buktinya, suatu waktu (sebagaimana diceritakan oleh ibu) pernah saya diminta membaca tulisan yang telah saya tuliskan di satu halaman penuh. Yah, ketika itu seperti biasa saya diomeli ibu karena enggan tidur siang. Dengan percaya dirinya saya pun membaca hasil karya saya tersebut sembari terisak-isak. Kira-kira begini bunyinya:
“Dear, diary.
Hari ini Yesi sedih karena mama marah-marah lagi.
Mama bilang Yesi harus tidur siang.
Tapi, Yesi tidak ngantuk.
Yesi ingin nonton tv saja.
Sekian.”
Ibu lalu manggut-manggut. Saya menduga beliau paham dan mengerti maksud tulisan saya. Saya pun tersenyum lebar. Lebaaaaar sekali. Setiap hari saya pun menjadi lebih semangat berlatih menulis sembari mengenal huruf dan belajar membaca. Tidak mesti menunggu diomeli terlebih dahulu oleh ibu atau kemudian menangis sesudahnya. Saya begitu semangat belajar mengenal huruf melalui upaya menghubungkan titik-titik menjadi garis. Secara tidak langsung kegiatan ini pun turut melatih gerak motorik saya.

Hingga pada akhirnya, tepatnya setelah saya tidak hanya mahir menulis pun membaca. Saya menyadari “kebohongan” ibu. Bahwa ternyata yang saya baca tidak seperti yang saya tuliskan. Saya menyadari hal tersebut ketika ibu memperlihatkan hasil karya saya di sebuah buku tulis bersampul artis era 90-an kala itu. Betapa malunya saya ketika melihat tulisan yang tersusun tidak rapi beserta rangkaian huruf konsonan yang tidak beraturan. Tanpa spasi dan huruf vokal didalamnya! Saya tidak bisa membayangkan bagaimana bisa saya membaca rangkaian huruf tersebut menjadi sebuah rangkaian kalimat? Haha. 

Bila teringat masa itu rasanya lucu sekali dan hanya ibu seorang satu-satunya yang menghargai karya “masterpiece” saya tersebut. Didikan ibu memang luar biasa. Beliau mendedikasikan dirinya untuk keluarga dan tanpa pamrih. Itu yang utama. Saya mesti belajar banyak darinya terutama bagaimana pola asuh beliau mendidik anak-anaknya.

Seperti itulah setidaknya gambaran bagaimana saya memupuk hobi saya semenjak kecil. Hobi menulis yang kemudian menjadi pembuka jalan untuk pelbagai keberuntungan, peristiwa dan kejadian dalam hidup saya. Bahkan tidak bisa dipungkiri menulis menjadi aktivitas utama dalam kehidupan saya. Menulis mampu menghantarkan saya pada beberapa level pencapaian tertentu dalam perjalanan hidup saya.

Satu windu yang lalu tepatnya tahun 2008, merupakan kali pertama saya berhasil memenangkan Lomba Menulis Karya Ilmiah Tingkat Mahasiswa. Saya menyandang Juara 2 dan berhasil memperoleh piala dan piagam penghargaan serta uang tunai. Saya diundang khusus dalam acara penganugerahan dan bertemu langsung dengan beberapa pihak pemerintah daerah setempat. Rasanya membanggakan sekali. Pst, di tahun 2008 merupakan kali pertama saya mencoba moda transportasi udara yaitu pesawat terbang. Berbekal uang hasil menang kompetisi menulis saya akhirnya bisa "terbang".

Juara 2 lomba karya tulis ilmiah (dok: pribadi)
Semenjak itu saya menjadi lebih percaya diri untuk menulis karya ilmiah. Hingga pada akhirnya saat ini saya telah memiliki beberapa publikasi karya ilmiah baik berupa jurnal maupun prosiding dalam dan luar negeri. Alhamdulillah. 


Jurnal internasional terbit di UKM Malaysia (dok: pribadi)
Bahkan beberapa tulisan saya tersebut telah disitasi dan dijadikan referensi oleh beberapa akademisi tanah air maupun internasional dan instansi pemerintah. Saya merasa begitu tersanjung dan seakan dihargai. Sebagaimana dilansir oleh laman Scholar bahwasanya ada sekitar 14 hasil pencarian yang berisikan nama saya didalamnya. Saya merasa berguna!

Laman scholar melansir 14 hasil pencarian (dok:https://scholar.google.co.id)
Belum cukup rasa ketersanjungan saya karena menemukan daftar nama saya dalam lampiran daftar pustaka berbagai karya ilmiah dalam negeri, saya pun kembali menemukan tulisan saya yang disitasi dalam karya ilmiah mancanegara. Semisal ketika saya menemukan nama saya terlampir di dalam karya ilmiah thesis dari Harvard Kennedy Schhol - Harvard University (baca: disini) dan karya ilmiah dalam jurnal internasional yang terindeks oleh Proquest (baca: disini). 

Belum lama ini pula, tulisan saya yang telah terpublikasi dalam jurnal nasional terakreditasi di-review oleh para mahasiswa dari kampus ternama tanah air. Mereka mengkaji karya ilmiah tersebut dan memberikan pandangan tersendiri yang memperkaya khasanah keilmuan di bidang tersebut (baca: disini)

Hasil kajian Kanopi FE Universitas Indonesia (dok: http://kanopi-febui.org/)
Tidak hanya para akademisi, pun pegawai pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan bidang fiskal menjadikan tulisan saya sebagai rujukan dalam kajian ilmiahnya (baca: disini). Selain menjadi rujukan karya ilmiah, tulisan saya dalam jurnal maupun prosiding tersebut kerap dijadikan bahan pemberitaan. Semisal ketika saya menemukan artikel dalam media Bisnis Indonesia rubrik finansial bisnis (baca: disini). 

Bukan hanya menulis karya ilmiah, saya pun gemar ngeblog alias menulis blog. Semenjak 2007, saya telah berinisiatif membuat blog. Selang 5 tahun kemudian tepatnya tahun 2012 merupakan awal mula keikutsertaan saya dalam kompetisi blog yang ramai diadakan. Media yang saya gunakan untuk menulis memang mengalami perubahan ke arah digital tapi yang terpenting ialah saya tetap bisa menyalurkan hobi menulis yang saya miliki. Selain memiliki web blog pribadi, saya pun bergabung dalam forum menulis. Saya bertemu dengan banyak orang yang memiliki passion serta hobi yang sama. Saya banyak belajar dari mereka.

Adapun dari berbagai kompetisi menulis yang saya ikuti, keberuntungan kerap menaungi sehingga saya bisa memperoleh tambahan pemasukan. Akhirnya hobi saya “menghasilkan”! Imam Al Ghazali pernah mengatakan bahwa “Jika kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah!”. Petuah ini yang saya pegang teguh. Karena saya menyadari bahwa saya bukanlah anak seorang raja, pun ulama besar apalagi anak orang kaya.

Siapa yang akan menyangka bahwa dengan menulis saya bisa melakukan penghematan ekstra. Saya tidak perlu memenuhi kebutuhan sekunder maupun tersier saya dengan berlebihan karena dengan menulis saya berkesempatan memperoleh gadget terbaru semisal handphone, laptop bahkan tiket seminar seharga Rp 1.2 juta? Yang kalaupun diminta untuk membelinya saya pasti menolak, haha. 

Satu hal yang menarik ialah pada November silam ketika tulisan saya di blog memperoleh juara 3 (baca: disini) dalam kompetisi yang diadakan oleh Kementerian. Hal tersebut membuat saya berkesempatan berjumpa (bahkan bersalaman!) dengan ibu menteri di atas panggung. Saya menyadari kemudian bahwa menulis ternyata mampu menghantarkan saya pada pengalaman yang sangat berharga karena saya bisa berkesempatan berjumpa dengan orang-orang luar biasa.

Penganugerahan penghargaan oleh Ibu Menteri Susi P di atas panggung (dok: pribadi)
Belum cukup sampai disini, saya kembali menjumpai tulisan blog saya dijadikan referensi oleh seorang mahasiswa Doktoral untuk Disertasinya. Wow! Betapa saya terharu dibuatnya (baca: disini). Saat ini pun pekerjaan yang saya lakukan tidak terlepas dari tulis menulis. Saya menyelesaikan laporan pekerjaan dan merampungkan hasil penelitian dengan menulis. Tentunya proses menulis tersebut disesuaikan dengan kaidah penulisannya masing-masing.

Menulis bagi saya ibarat terapi, baik itu menulis ilmiah maupun menulis kreatif. Saya semacam menemukan relaksasi diri ketika melakoninya. Menulis memberikan saya berbagai kemudahan sehingga saya meyakininya suatu saat dapat menjadi alternatif profesi. Sama halnya dengan Bukalapak, suatu e-commerce yang juga turut serta memberikan ragam kemudahan kepada para pelanggannya.


Guna menunjang hobi menulis yang saya jalani tentunya saya perlu menyiapkan amunisi yang dibutuhkan dalam mendukung hobi menulis yang saya miliki. Hal yang terpenting ialah: Pulsa! Ya, saya membutuhkan pulsa untuk paket data dan berkomunikasi. Untunglah, Bukalapak telah menyediakan fasilitas tersebut tentunya dengan harga yang jauuuuh lebih murah!

dok: app play store Bukalapak
Proses pemesanan dan pembayarannya pun mudah sekali! Saya telah menginstal aplikasi Bukalapak via android play store dan menggunakannya untuk pemesanan pulsa. Berikut langkah-langkahnya. 

Langkah 1. Isi data pembeli

dok: app play store Bukalapak
Langkah 2. Pilih nominal pulsa yang diinginkan. Saya memilih pulsa Rp 100 ribu

dok: app play store Bukalapak
Langkah 3. Pilih provider

dok: app play store Bukalapak
Langkah 4. Pilih metode pembayaran. Saya memilih transfer bank melalui bank BNI

dok: app play store Bukalapak
Langkah 5. Periksa kembali data dan informasi serta jumlah nominal pembayaran dan nomor rekening yang akan dituju

dok: app play store Bukalapak
Selang beberapa menit info detail tagihan dikirimkan via sms, email dan dapat dicek langsung di aplikasi/laman Bukalapak

dok: pribadi

dok: app play store Bukalapak
Setelah melakukan proses pembayaran maka pulsa pun langsung diterima dan pemberitahuan bahwa transaksi telah berhasil dikirimkan via sms dan email. Layanan Bukalapak sangat memuaskan! 

dok: pribadi
dok: pribadi
Pada akhirnya, pertanyaan apakah tulisan saya sudah cukup menginspirasi? Entah! Yang pasti saya akan terus menulis, menulis dan menulis. Selama hayat masih dikandung badan dan ide serta inspirasi saya masih memaksa untuk keluar dari dalam pikiran maka dengan begitu tulisan saya akan tetap tertuang di atas secarik kertas maupun laman online. Sama halnya seperti HIJUP yang menjadi inspirasi bagi banyak wanita untuk merawat dan menghidup passion yang dimiliki, saya juga ingin melakukan hal yang sama.


Saya tidak ragu untuk menulis karena berdasarkan keyakinan yang saya anut, anjuran menulis memang telah tertera di dalam kitab suci. Allah swt dalam kitab suci Al Qur’an tidak hanya memerintahkan kita membaca (Iqra) melainkan juga menulis. Sebagaimana dijelaskan dalam ayat di bawah ini:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis...” (QS. Al Baqarah:282) 
Jadi, bagi para wanita diluar sana, janganlah ragu dan asahlah terus apapun hobimu serta jadikan sesuatu yang berguna bagi banyak orang. Tetaplah berusaha menginspirasi sekelilingmu. Semoga bermanfaat. 

Cat: tulisan dikusertakan dalam Kompetisi Blog Inspirasi Wanita 2016 oleh Hijup dan Bukalapak

dok: hijup.com

Komentar