JAKARTA LEARNING CENTER: UPAYA STRATEGI OPTIMALISASI PEMBELAJARAN E-LEARNING GUNA PENINGKATAN BUDAYA MUTU PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR YANG INKLUSIF DI ERA DIGITAL

Pendahuluan

Berdasarkan data tahun 2016, jumlah sekolah di Indonesia mencapai 297.368 unit. Sekolah Dasar (SD) merupakan jenjang pendidikan dengan jumlah sekolah terbanyak, yakni mencapai 147.000 unit. Namun, untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) hanya mencapai 37.000 unit sehingga satu sekolah tingkat pertama terkadang memiliki lebih dari 5 ruang untuk tiap tingkatan kelas. Sedangkan untuk jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) cukup merata dengan jumlah masing-masing mencapai 12.000 unit.

dok: databoks.katadata.co.id
Semisal di Provinsi DKI Jakarta, jumlah sekolah paling banyak di DKI Jakarta adalah di tingkat Sekolah Dasar (SD), yakni mencapai 2.950 sekolah pada tahun ajaran 2014/2015. Untuk meningkatkan mutu pendidikan pemerintah daerah Provinsi DKI Jakarta harus menambah dan memperbaiki sarana serta prasarana sekolah agar rasio jumlah siswa per kelas semakin ideal.

dok: databoks.katadata.co.id
Sedangkan apabila dilihat dari jumlah kelas, maka jumlah kelas Sekolah Dasar (SD) di Provinsi DKI Jakarta merupakan yang paling banyak dibandingkan dengan tingkat pendidikan lainnya. Menurut data Dinas Pendidikan DKI Jakarta, jumlah kelas Sekolah Dasar (SD) mencapai 25.742 kelas dari total 52.609 kelas, atau hampir separuh kelas adalah untuk peserta didik Sekolah Dasar (SD). Jumlah siswa di Provinsi DKI Jakarta pada tahun ajaran 2014/2015 berjumlah 1,56 juta murid dan yang paling banyak adalah di tingkat Sekolah Dasar (SD) dengan jumlah murid sebanyak 821.360 orang.

dok: databoks.katadata.co.id
Sayangnya, menurut data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, jumlah Sekolah Dasar (SD) ini belum semuanya memenuhi standar minimal bagi operasional pendidikan. Untuk itu pemerintah pusat bekerja sama dengan pemerintah daerah akan melakukan revitalisasi sekolah-sekolah yang sudah ada, baik sekolah negeri maupun sekolah swasta. Termasuk untuk daerah perbatasan, akan mendapatkan perlakuan khusus dan penanganan khusus.

Permasalahan terkait standar minimal bagi operasional pendidikan ini dibuktikan dengan data bahwa lebih dari 76 persen kelas tingkat Sekolah Dasar (SD) rusak pada tahun ajaran 2015/2016. Sekitar 65,2 persen mengalami kerusakan ringan hingga sedang serta 10,94 persen mengalami kerusakan berat hingga total. Jadi hanya 23,85 persen kelas yang dalam keadaan baik. 

dok: databoks.katadata.co.id
Di satu sisi, tidak hanya keadaan kelas di tingkat Sekolah Dasar (SD) yang patut mendapat perhatian melainkan juga terkait dengan daya saing digital di Indonesia yang tergolong masih rendah. Daya saing digital Indonesia masuk dalam kategori rendah karena masih minim investasi untuk pengembangan sumber daya manusia (SDM) di bidang teknologi digital. Hal ini terlihat dalam laporan IMD World Digital Competitiveness 2017, Indonesia berada di peringkat 59 dengan skor 44,225 (Skor tertinggi 100) dari 63 ekonomi dunia yang disurvei. Indonesia hanya unggul dari Ukraina, Mongolia, Peru dan Venezuela.

dok: databoks.katadata.co.id
Menurut Arturo Bris selaku Direktur IMD World Competitiveness Centre, rendahnya skor daya saing digital negara-negara tersebut karena memiliki peringkat yang rendah dalam hal talenta serta tidak berinvestasi untuk melakukan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mereka miliki. Untuk pertama kalinya IMD World Competitiveness pada 2017 mengeluarkan laporan tentang daya saing digital. Pemeringkat ini merupakan indikator kemampuan suatu negara dalam mengadopsi dan mengeksplorasi teknologi digital yang bertujuan pada transformasi.

Pembahasan

Laporan Potret Pendidikan Indonesia tahun 2016 menyebutkan bahwa jumlah murid tingkat Sekolah Dasar (SD) mencapai 25,89 juta anak tahun ajaran 2015/2016. Adapun jumlah guru mencapai 1,8 juta dengan ruang untuk belajar sebanyak 1 juta kelas. Sehingga rasio murid terhadap kelas mencapai 14:1, sedangkan rasio murid terhadap kelas 25:1. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2017, pemerintah mempertahankan anggaran pendidikan sebesar 20 persen atau sekitar Rp 400 triliun. 

Angka Partisipasi Kasar (APK) siswa terhadap jumlah penduduk usia sekolah pada jenjang Pendidikan Sekolah Dasar (SD) mencapai 108 persen sehingga menjadi yang tertinggi dibandingkan dengan jenjang pendikan lainnya. Jumlah siswa Sekolah Dasar (SD) pada Tahun Ajaran 2015/2016 mencapai 29,57 juta sedangkan jumlah populasi anak usia 7-12 tahun sebenarnya hanya 27,38 juta. Angka partisipasi hingga melebihi 100 persen ini disebakan oleh banyaknya anak usia di bawah usia 7 tahun yang sudah masuk Sekolah Dasar (SD) serta anak-anak usia di atas 12 tahun yang masih belajar di tingkat Sekolah Dasar (SD).

dok: databoks.katadata.co.id
Provinsi DKI Jakarta misalnya, ternyata lebih dari separuh siswa di Provinsi DKI Jakarta adalah murid Sekolah Dasar (SD). Menurut data Badan Pusat Statistik, jumlah siswa Sekolah Dasar (SD) mencapai 821.360 murid pada tahun ajaran 2014/2015. Jumlah ini merupakan yang terbanyak dibandingkan dengan tingkat lainnya. 

dok: databoks.katadata.co.id
Berkenaan dengan hal tersebut, Presiden Joko Widodo menginstruksikan untuk melakukan reorientasi pendidikan dan pelatihan khususnya di bidang vokasi ke arah demand driven. Terutama terkait dengan kurikulum dan materi pembelajaram. Peran internet lantas menjadi salah satu aspek yang cukup krusial di era digital saat ini. Pemanfaatan internet dapat menjadi salah satu strategi peningkatan budaya mutu pendidikan khususnya mutu Sekolah Dasar (SD) di tanah air diantaranya melalui optimalisasi pembelajaran e-learning di Sekolah Dasar (SD).

Pada tahun 2014, saya tergabung dalam tim Project untuk sebuah platform bernama Jakarta Learning Center yang merupakan sumber edukasi non formal berbasis online sebagai upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat. Platform pembelajaran e-learning ini bertujuan menyediakan materi berkualitas untuk mendukung kehidupan sosial dan bermasyarakat pada umumnya dan para peserta didik pada khususnya terutama para siswa siswi Sekolah Dasar (SD).


Jakarta Learning Center seakan menjadi wadah yang menyediakan konten pembelajaran secara e-learning yang tidak hanya berkualitas melainkan juga inklusif karena dapat diakses oleh semua orang. Materi berkualitas yang disajikan pun beragam dan mampu menjangkau berbagai kalangan usia, pendidikan maupun jenis kelamin. Platform Jakarta Learning Center ini sekiranya dapat menjadi salah satu strategi peningkatan budaya mutu pendidikan khususnya bagi para murid Sekolah Dasar (SD) melalui pengoptimalan pembelajaran e-learning bila diterapkan dan disinkonkan dengan program pembelajaran di tingkat Sekolah Dasar (SD).

Penutup

Pada intinya, upaya penerapan strategi dan peningkatan optimalisasi pembelajaran e-learning diantaranya melalui platform Jakarta Learning Center diharapkan akan mampu berkontribusi terhadap peningkatan budaya mutu pendidikan Sekolah Dasar (SD) yang inklusif dan berkelanjutan di era digital. Melalui penyajian materi diantaranya yang dibagi per kategori bidang, usia, dan pendidikan tentu akan memudahkan dalam pembelajaran. 

Materi-materi berkualitas yang ada disajikan dengan tampilan yang menarik baik secara infografis maupun audio visual sehingga menarik perhatian dan minat dari anak didik. Adapun materi yang disajikan diantaranya ialah misalnya: Pengertian dan Pemahaman Pancasila; 5 Langkah Pantau Petik Nyamuk di Rumah; Tips Memilih Jajanan Sehat di Sekolah; Apa Itu Demam Berdarah; 8 Tips Mencegah DBD; Enaknya Makan Siang; dan Yuk, Sarapan Pagi!


Materi yang disajikan diupayakan sederhana namun mengena dan terkait dengan kehidupan sehari-hari. Tampilan konten yang menarik dan substansi materi yang berkualitas diharapkan akan mampu diterima dengan baik dan mudah oleh para murid Sekolah Dasar (SD).

Di satu sisi, selain memperhatikan dan menyiapkan strategi guna meningkatkan budaya mutu pendidikan khususnya Sekolah Dasar (SD) diantaranya melalui optimalisasi pembelajaran e-learning. Segi kualitas pengajar dalam hal ini para Guru Sekolah Dasar (SD) juga perlu menjadi perhatian serius pemerintah. Berdasarkan data, Guru dengan pengalaman 15 tahun mengajar di Indonesia, termasuk salah satu profesi dengan nominal gaji paling rendah di dunia. Mengutip data dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), besarnya gaji yang diterima oleh guru Sekolah Dasar (SD) di Indonesia per tahun adalah US$ 1.974.

dok: databoks.katadata.co.id
Guru dengan pengalaman 15 tahun dan mendapat gaji paling tinggi adalah di Luksemburg dengan jumlah US$ 98.788. Pada 2013, Luksemburg tercatat merupakan salah satu negara terkaya di dunia setelah Qatar dengan PDB per kapita US$ 79 ribu, sedang PDB per Kapita Indonesia adalah US$ 3.700. Perhitungan gaji ini sudah merupakan penghasilan kotor tahunan yang diterima oleh guru sebelum pajak. Angka yang dirilis OECD ini juga sudah termasuk memperhitungkan besarnya tunjangan kesehatan, asuransi dan biaya lain-lain yang diterima.

Temuan lain yang dipublikasikan pada 2014 ini adalah gaji guru ini jumlahnya akan meningkat seiring dengan naiknya tingkat sekolah tempat seorang guru mengajar. Sebagai contoh di Belgia, Denmark, Finlandia, dan Indonesia, guru dengan pengalaman yang sama akan menerima penghasilan 25 persen lebih tinggi dibanding guru yang mengajar di sekolah tingkat lebih rendah. Dalam artian Guru Sekolah Dasar (SD) di Indonesia terbilang memiliki penghasilan yang lebih rendah dibandingkan dengan Guru Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas.

Referensi: 

Cat: Tulisan diikutsertakan dalam Lomba Penulisan Artikel Ilmiah Sekolah Dasar Tahun 2017

Komentar

  1. age bandarq dan agen domino99 terbesar dan terpopuler saat ini dengan bonus yang menarik dan membuka kesempatan menang dengan mudah hanya di
    HondaQQ
    GaleriQQ
    SahabatQQ

    BalasHapus

Posting Komentar