Kamis, 28 September 2017

Dear, Perempuan Sehat dan Hebat Indonesia: Yuk, Deteksi Dini!

Mari sejenak menengok data persentase usia menikah para perempuan Indonesia. Berdasar data, sebagian besar perempuan di Indonesia menikah pada rentang usia 19-24 tahun. Namun, ada 11,21 persen perempuan yang menikah di bawah usia 15 tahun. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan sebanyak 44 persen perempuan Indonesia menikah pada rentang usia 19-24 tahun. Selanjutnya 23,03 persen menikah pada usia 17-18 tahun, dan 13,07 persen di atas 25 tahun. Pasalnya, BKKBN sendiri telah menetapkan batasan usia ideal pernikahan 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun untuk pria. 

dok: databoks.katadata.co.id

Nah, lantas yang menarik disini dan dirasa perlu mendapat perhatian khusus ialah mereka yang menjadi bagian dari besaran 11,21 persen perempuan yang menikah di bawah usia 15 tahun. Jujur saja, saya pribadi pada usia tersebut masih disibukkan dengan tugas sekolah, kegiatan organisasi/ekstrakurikuler, kegiatan kerohanian, dan kegiatan akademik lainnya. Belum terbersit pikiran untuk berumahtangga, merawat suami dan anak-anak.

Tentu saja hal tersebut dipengaruhi oleh multi aspek mulai dari keadaan sosial, ekonomi, lingkungan dan lain sebagainya. Tapi, penting juga dikaitkan dengan kesehatan mengingat di usia yang terbilang masih sangat dini tersebut upaya kesadaran diri terhadap kesehatan terkadang terlupakan. Apalagi bila keadaan lingkungan, sosial, pendidikan yang kurang mendukung baik berupa sosialisasi maupun pelatihan.

Emang apa sih bahayanya?

Kanker! Bukan, bukan kantong kering tapi kanker serviks. Semua perempuan Indonesia patut mengetahui bahwa kanker serviks merupakan keganasan yang menyerang leher rahim atau serviks, yaitu bagian terendah dari rahim yang menonjol ke puncak liang vagina. Kanker serviks terjadi karena infeksi virus bernama Human Papilloma Virus (HPV) yang berhasil masuk ke dalam area kewanitaan. Penyakit kanker serviks ini berlangsung dalam beberapa tahapan, yang dimulai dari masa tanpa gejala, keputihan, perdarahan, dan rasa nyeri yang sering dianggap sebagai hal yang biasa saja, karena bisa disebabkan oleh hal yang lain. 

Penting untuk diketahui bahwa kanker serviks menular melalui KONTAK SEKSUAL. Risiko seorang wanita mengidap kanker serviks juga akan meningkat apabila wanita tersebut menikah dan melakukan hubungan seksual diantaranya pada usia belia (< 20 tahun). Dan pentingnya lagi untuk diketahui bahwa kanker serviks tidak menunjukkan gejala di awal! 

Sayangnya saat kita terlambat mengetahui gejala-gejala itu muncul, tingkat kesembuhannya sudah sangat kecil. Padahal, kanker serviks adalah salah satu jenis kanker yang paling bisa dicegah dan disembuhkan dibandingkan dengan semua jenis kanker, asalkan diketahui sejak stadium awal. Oleh sebab itu, skrining sebagai pencegahan menjadi hal penting untuk dilakukan sejak dini. Skrining atau deteksi dini memang lebih baik dilakukan sebelum munculnya gejala, sehingga dapat segera ditangani dan peluang kesembuhannya masih tinggi. Beberapa metode skrining kanker serviks yang saat ini dikenal, yaitu Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA); Pemeriksaan Sitologi (Pap Smear); dan Pemeriksaan HPV-DNA.

Nah, bagi mereka yang sudah pernah berhubungan seksual, pemeriksaan dini perlu dilakukan secara rutin. Khususnya bagi mereka berusia < 21 tahun, skrining dengan Pap Smear dilakukan 3 tahun setelah hubungan seksual pertama. Apabila hasilnya normal, selanjutnya dilakukan setahun sekali. Segera lakukan skrining secara rutin untuk deteksi dini kanker serviks. Semakin dini terdeteksi, semakin tinggi pula peluang sembuhnya.

“Yes, I survived cancer. But that doesn’t define me!”. Saya teringat perkataan Debra Jarvis di forum TEDX pada 2014 silam. Debra bekerja di rumah sakit hampir 30 tahun lamanya sebagai seorang rohaniawan sekaligus “cancer survivor”. Ya, dia tidak hanya memberi penghiburan dan memperjuangkan kanker untuk para pasien, pun dirinya sendiri. Saya rasa Debra layak menjadi representasi sosok perempuan hebat yang mengajak khususnya para perempuan lainnya agar hidup sehat dan melakukan deteksi dini guna pencegahan kanker sebelum semuanya terlambat.

Berkenaan dengan hal tersebut permasalahan mendasarnya ialah tentang perspektif. Berdasarkan data, persepsi dan pemahaman masyarakat Indonesia mengenai persentase anggaran kesehatan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dengan kondisi riilnya mengalami disparitas yang cukup timpang dan tergolong yang tertinggi di dunia. 

dok: databoks.katadata.co.id
Sebuah indeks mengenai bahaya persepsi atau Perils of Perception yang disusun oleh Ipsos MORI, sebuah lembaga riset pasar yang berbasis di Inggris dan Irlandia menyebutkan bahwa warga Indonesia berasumsi anggaran kesehatan sebesar 39 persen dari PDB. Kenyataannya, anggaran kesehatan Indonesia hanya sebesar 3 persen dari pendapatan negara. Selisih 36 persen antara asumsi dan kenyataan warga Indonesia ini paling besar dibanding negara lainnya. Riset ini menemukan banyak masyarakat dunia yang memiliki persepsi yang salah mengenai lingkungan sosialnya. Pada akhirnya, persepsi yang salah ini akan membawa dampak bahaya apabila dibawa ke ranah kebijakan publik. Oleh karenanya berhentilah berasumsi dan segera PERIKSA! 

Ya, memeriksakan diri kaitannya dengan kesehatan merupakan suatu keharusan. Mengingat kematian yang diantaranya diakibatkan oleh penyakit kanker cukup tinggi terjadi di Indonesia. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kematian yang disebabkan oleh penyakit tersebut di Indonesia mencapai 23,1 persen dan berada di posisi 4 dari 10 negara ASEAN. Angka ini berarti juga lebih tinggi dari rata-rata dunia yang hanya mencapai 19,4 persen. Bahkan kanker serviks menjadi penyebab terbanyak kedua penyakit kanker pada wanita. Hal ini diduga disebabkan oleh kurangnya pemahaman hidup sehat, gaya hidup yang kurang sehat, serta layanan kesehatan yang kurang memadai. 

dok: databoks.katadata.co.id
Satu hal yang terpenting adalah mendidik diri sendiri untuk selalu berperilaku hidup sehat. Selain pencegahan, perlu dilakukan langkah-langkah deteksi dini dengan pap smear dan IVA (inspeksi visual dengan aplikasi asam asetat), yang sebaiknya dilakukan secara rutin setahun sekali oleh wanita yang aktif secara seksual. Kalau dicurigai adanya indikasi positif kanker serviks, diagnosa dapat diperkuat dengan melakukan tes dan pemeriksaan sehingga dapat ditangani secara tuntas. Intinya sih, kesadaran dan peduli terutama pada diri sendiri. Pahami dan sadari bahwa deteksi dini merupakan kunci keberhasilan pengobatan. Ayo, Lindungi Leher Rahim Anda!


Tips: 

Laboratorium Klinik Prodia mengusung misi “Untuk Diagnosa Lebih Baik” sedang menyelenggarakan Program Deteksi Dini Kanker Seviks Prodia – BPJS Kesehatan 2017. Jadi, laboratorium klinik Prodia bekerjasama dengan BPJS Kesehatan mengadakan kegiatan pemeriksaan Pap Smear GRATIS bagi peserta aktif BPJS Kesehatan selama periode April – November 2017 dengan beberapa ketentuan. Silahkan kunjungi laman laboratorium klinik Prodia terdekat di kota Anda atau cek link www.prodia.co.id. So, let's check up!

dok: prodia.co.id/id
Referensi: 
Ket: artikel diikutsertakan dalam Prodia Blog Competition 2017

dok: prodia.co.id/id

2 komentar:

  1. Hihi...iyah kebanyakan plesetin kanker jadi kanker kering 😂
    Miris yah...masih banyak nikah usia dini dan bisa saja menimbulkan penyakit kanker serviks 😢

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba buat guyon hehe. Sebenarnya pernikahan usia dini yang dibarengi dengan pemahaman yg mumpuni bisa saja menjadi salah satu alternatif pencegahan terhadap penyakit kanker serviks, Trims sudah mampir :)

      Hapus